Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Setelah Lima Tahun
Jantung Vino berdesir hebat. Kata-kata polos dari mulut anak perempuan berusia delapan tahun di hadapannya seolah menahan detak waktu di dalam kafe tersebut. Sorot mata jernih Keyra menatapnya tanpa canggung sedikit pun, menantikan jawaban dari sosok pria dewasa yang kini berlutut di depannya.
"Keyra!"
Suara panggungan lembut yang sedikit cemas memecah keheningan. Evita yang baru saja selesai membayar di kasir bergegas mendekat. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti begitu melihat siapa sosok pria berjas santai yang sedang berlutut menyejajarkan mata dengan putrinya.
Vino perlahan berdiri, mengibaskan debu di celana kainnya. Pandangan matanya naik, bertubrukan langsung dengan manik mata Evita.
Udara di antara mereka seolah membeku. Lima tahun terhitung sejak perpisahandi Surabaya, dan selama dua tahun terakhir, Vino telah bertransformasi menjadi Principal Architect yang begitu tenang, berwibawa, dan dingin saat menghadapi klien-klien kelas kakap.
Namun, tepat pada detik ini, saat tatapannya mengunci paras anggun Evita, seluruh tameng kedewasaan yang ia bangun dengan susah payah mendadak goyah. Sisi pemuda 18 tahun yang serba salah dan kikuk seketika menyeruak keluar tanpa bisa ia kontrol.
"M-Mbak Vita..." sapa Vino. Suara beratnya yang biasa terdengar mantap di depan klien mendadak berubah sedikit serak dan kaku.
Evita tertegun sejenak, lalu menyunggingkan senyum paling hangat yang pernah Vino lihat seumur hidupnya. "Halo, Vino. Ternyata beneran kamu."
Vino mengaruk tengkuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, sebuah kebiasaan refleks masa lalunya saat merasa gugup luar biasa di depan Evita.
"I-iya, Mbak. Lagi... lagi berdiri di sini," ujar Vino polos. Jawaban yang begitu konyol sampai-sampai Vino sendiri ingin merutuki lidahnya saat itu juga. Mana ada orang rapat bisnis lalu mendeskripsikan dirinya sedang 'lagi berdiri di sini'?
Evita terkekeh pelan. Gelak tawa halus kakak Yunita itu membiaskan rasa canggung yang sempat menggantung. "Kamu kok lucu banget sih, Vin? Katanya Yunita kamu sekarang sudah jadi bos arsitek galak yang wibawanya menakutkan di studio?"
Wajah Vino seketika merona tipis. Aura pimpinan biro arsitektur terpandang di Yogyakarta mendadak menguap entah ke mana, menggantikannya kembali menjadi sosok Vino yang dulu selalu kikuk jika digoda oleh wanita di hadapannya ini.
"Mana ada galak, Mbak," potong Vino seraya membetulkan posisi jam tangan kulitnya dengan gerakan serba salah. "Itu Yunita cuma mengada-ada. Saya... maksudku, aku ini arsitek yang sangat ramah dan berbudi pekerti luhur."
"Saya?" goda Evita seraya memiringkan kepalanya sedikit, menahan tawa. "Bahasa pembawaan rapatmu sama klien korporat tadi masih terbawa ya?"
Vino makin salah tingkah. Ia merogoh saku kemejanya, hendak mengambil kacamata untuk menyembunyikan rasa gugupnya, tetapi justru menjatuhkan pulpen berlogo studionya ke lantai. Dengan sigap Vino membungkuk mengambil pulpen itu, berusaha tetap tampil tenang meski raut wajahnya sudah tidak bisa berbohong.
"Yah, namanya juga penyesuaian, Mbak," sahut Vino seraya menyapukan tangannya ke belakang rambutnya. "Kalau di studio pakainya 'Saya', kalau di depan Mbak Vita kan... matang-matang begini aku tetap Vino yang dulu sering Mbak suruh pindahin manekin."
Evita tidak bisa menahan tawa lepasnya lagi. Sisi kedewasaan Vino yang berusaha dipaksakan tetap berdiri tegak, namun kerap bocor oleh kepolosan masa lalunya, terasa begitu menggemaskan dan menghangatkan hati. Rasa aman yang dulu pernah menghilang kini perlahan merekah kembali di dada Evita.
Keyra yang berdiri di antara mereka memandangi ibunya dan Vino bergantian dengan mata berbinar-binar. Anak kecil itu menggapai ujung kemeja Vino, menariknya pelan.
"Om..." panggil Keyra jernih.
Vino seketika berlutut kembali, mengalihkan seluruh perhatiannya pada sang anak dengan penuh kelembutan. "Iya, Cantik? Ada apa?"
"Om ini... teman lamanya Mama ya?" tanya Keyra polos. "Kok Mama ketawa terus dari tadi? Padahal kata Pak Hendra, Mama itu susah bikin ketawa."
Mendengar nama 'Pak Hendra' disebut, sorot mata Vino sempat menajam sekejap secara naluriah, namun ia dengan cepat menguasai emosinya agar tidak menakuti anak kecil di depannya.
"Bukan cuma teman, Keyra," jawab Vino seraya tersenyum hangat, menatap langsung ke mata anak itu. "Om ini... orang yang dulu selalu siap dipanggil kalau Mamamu butuh bantuan. Keyra sudah besar ya sekarang, pintar banget."
Keyra mengamati garis rahang dan senyum Vino dari dekat. Ingatan anak-anaknya yang tajam mulai merangkai potongan gambar.
"Ah! Keyra tahu!" seru anak perempuan itu riang. "Om ini yang fotonya ada di dalam kertas majalah yang suka dilihat Mama malam-malam kan? Yang ada gambar rumah kayu di atas gunung!"
Kali ini giliran pipi Evita yang memerah. Wanita itu dengan cepat berdehem pelan seraya membuang muka ke samping, berusaha menutupi rasa malu karena rahasia kecilnya dibongkar polos oleh sang putri.
Vino melirik Evita dengan sudut matanya, menyunggingkan senyum jahat penuh kemenangan yang khas. Rasa gugupnya perlahan meluruh, berganti dengan kehangatan jiwa yang tiada tara.
Vino kembali memandang Keyra dengan penuh rasa hormat. Ia tahu betul batas dan etika. Ia tidak ingin terburu-buru, tidak pula ingin memaksakan keadaan dengan bertindak impulsif.
"Keyra," tutur Vino lembut tanpa menyentuh fisik sang anak secara mendadak. "Om Vino sekarang lagi ada urusan proyek sebentar di Surabaya. Tapi... kalau Mama mengizinkan, kapan-kapan boleh nggak Om Vino ajak Keyra main? Kita bisa menggambar rumah boneka bersama, atau mewarnai gambar kastil di taman."
Mata Keyra berbinar seketika. "Beneran, Om? Om bisa gambar kastil yang ada lampunya?"
"Bisa banget. Om kan arsitek," sahut Vino bangga, membocorkan sedikit kepolosannya lagi.
Keyra menoleh mendongak menatap ibunya dengan tatapan memohon. "Boleh kan, Ma? Keyra mau main sama Om Vino!"
Evita menatap ke dalam manik mata Vino. Di sana, tidak ada lagi rasa keputusasaan dari pemuda 18 tahun yang terpaksa pergi. Yang ada hanyalah penghormatan, kesabaran, dan kesiapan seorang pria dewasa yang sudi menunggu hingga seluruh luka dan batas di antara mereka benar-benar siap untuk diruntuhkan.
Evita mengangguk pelan, menyunggingkan senyum terindahnya. "Boleh, Sayang. Nanti kalau Om Vino tidak sibuk dengan studio mewahnya di Jogja, kita atur waktu main bersama."
Vino berdiri tegap kembali. Dada pria itu terasa begitu lapang. Ia tidak mengajak Evita dan Keyra makan malam hari ini, ia tahu ada proses dan masa pemulihan yang harus dilalui tanpa tergesa-gesa.
"Terima kasih, Mbak Vita," bisik Vino tulus dengan nada suara yang kembali matang dan berwibawa. "Aku pegang izinnya ya."
Evita mengangguk pelan. "Hati-hati di jalan, Vino."
Saat Evita menuntun jemari kecil Keyra melangkah keluar dari kafe, Vino berdiri di dekat meja kayu, menatap punggung dua wanita itu hingga menghilang di balik pintu kaca. Di dalam dadanya, Arvino tahu bahwa takdir tidak pernah benar-benar menghapus rasa cinta, takdir hanya menundanya sampai ia cukup dewasa untuk menjaganya dengan sempurna.
btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍