Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:202.4k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Ketika Kesempatan Itu Kembali

Menjelang malam, Rida akhirnya tiba di rumah. Begitu masuk, ia langsung melihat Risa yang sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca sesuatu di tablet.

Mendengar suara langkah kaki mendekat, Risa mengangkat wajah. "Mama udah pulang?"

"Iya." Rida meletakkan tasnya di sofa. Namun bukannya langsung beristirahat, ia justru duduk di samping putrinya dengan ekspresi yang terlihat seperti menyimpan sesuatu.

Risa memerhatikannya. "Kenapa, Ma?"

Rida tersenyum tipis. "Mama tadi ketemu beberapa istri prajurit di acara Persit."

"Terus?" tanya Risa merasa ada yang ingin disampaikan ibunya.

"Kamu tahu siapa yang mereka bicarakan?" Ekspresi Rida terlihat serius.

Risa menggeleng, tapi penasaran.

"Levia."

Satu kata yang diucapkan Rida itu, membuat tangan Risa yang sedang memegang tablet perlahan turun ke pangkuan. "Levia?" ulang Risa pelan.

Rida mengangguk. "Mama cukup kaget melihatnya."

"Dia kenapa?" tanya Risa berusaha terdengar biasa.

"Dia berubah," jawab Rida. "Berat badannya sudah turun banyak. Sekarang sekitar delapan puluh empat kilogram, tapi karena dia rutin olahraga, tubuhnya terlihat jauh lebih proporsional."

Risa terdiam, dadanya terasa tak nyaman mendengar cerita ibunya. Tangannya tanpa sadar menggenggam tabletnya lebih erat.

"Dia juga sudah punya perusahaan fashion sendiri. Namanya Brenda," lanjut Rida.

"Perusahaan?" Mata Risa melebar.

"Iya." Rida mengangguk. "Ayahnya yang membantu memulainya. Katanya Levia sendiri yang mendesain produknya."

Risa meletakkan tabletnya di meja. "Aku gak tahu soal itu."

"Memang. Dia sekarang kelihatannya sibuk sama kehidupannya sendiri." Rida menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tatapannya berubah serius. "Dan ada satu hal lagi yang menurut Mama menarik."

Risa menoleh cepat. "Apa?"

"Beberapa orang tadi membicarakan pernikahannya sama Vandra," ujar Rida membuat Risa langsung diam.

Rida memerhatikan perubahan wajah putrinya. "Dulu semua orang tahu Levia sangat mengejar Vandra. Tapi sekarang dia sudah gak kayak gitu."

Mata Risa sedikit berbinar. "Mereka masih mau cerai?"

"Katanya begitu," jawab Rida. "Levia gak lagi kelihatan keberatan kalau denger soal perceraian."

Risa menundukkan kepalanya. Tak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkannya.

Rida tersenyum kecil. "Mama bahkan mendengar ada yang mengatakan kalau Vandra bakal rugi kalau ceraiin Levia."

Risa mengangkat wajah. "Kenapa?"

"Karena sekarang Levia udah mandiri, punya perusahaan, dan banyak berubah." Rida kemudian menatap putrinya cukup lama. "Dan Mama jadi berpikir..."

Risa sudah bisa menebak arah pembicaraan itu. "Mama."

"Kenapa?"

"Jangan mulai," ucap Risa. Ia benar-benar tak ingin ibunya melanjutkan kalimat yang kemungkinan tidak akan ia suka.

Rida tertawa kecil. "Mama belum ngomong apa-apa."

Risa mengembuskan napas kasar. "Tapi wajah Mama sudah mengatakan semuanya."

Rida akhirnya terkekeh. "Baiklah." Ia mengambil segelas air di meja, lalu berkata santai, "Tapi kalau Levia dan Vandra bener-bener cerai..."

Risa tidak menjawab.

"Vandra itu kapten muda yang punya prestasi," ujar Rida. "Kariernya bagus, masa depannya juga jelas. Menurut Mama, laki-laki seperti dia memang banyak yang menginginkan."

Rida menggenggam tangan putrinya. "Dan kalau ada kesempatan bagi anak Mama untuk menjadi istrinya, kenapa harus Mama abaikan?"

Risa mengalihkan pandangannya ke arah jendela. "Aku gak tahu... Kak Vandra masih punya perasaan buat aku apa gak."

Meski Vandra tidak menyukai Levia, tetapi sejak menikah, pria itu menjaga jarak darinya. Bahkan dari awal Vandra di Lebanon, pesan-pesan Risa hanya dijawab singkat. Saat ia menelpon, Vandra pun buru-buru mengakhiri panggilan dengan alasan ada yang harus ia kerjakan.

"Mama juga gak bisa nebak," kata Rida kemudian. "Tapi kalau mereka beneran cerai, kamu bisa deketin dia lagi." Ia mengusap rambut putrinya. "Mama ingin melihat anak Mama mendapatkan laki-laki yang menurut Mama baik."

Rida tersenyum. "Apalagi Vandra bukan cuma kapten. Dia punya prestasi, disiplin, dan berasal dari keluarga yang baik dan terpandang. Siapa yang gak mau punya menantu kayak gitu?"

Bibir Risa melengkung tipis. "Mama ngomong seolah-olah Kapten Vandra itu hadiah."

"Ya bukan begitu." Rida tertawa. "Tapi kalau laki-laki berkualitas ada di depan mata, masa Mama pura-pura gak lihat?"

Risa menggeleng sambil tersenyum. Namun setelah beberapa detik, senyumnya perlahan menghilang. "Ma..."

"Hm?"

Risa terlihat khawatir. "Kalau Kak Vandra memang sudah berubah pikiran tentang Levia gimana?"

Rida tidak langsung menjawab. Ia sendiri teringat wajah Levia sore tadi. Perempuan itu tidak lagi menunjukkan sedikit pun kegelisahan ketika nama Vandra disebut. Bahkan ketika ditanya soal perceraian, jawabannya begitu tenang. Justru itulah yang membuat Rida merasa ada sesuatu yang berubah.

"Kalau begitu..." Rida tersenyum tipis. "Kita lihat saja ketika Vandra pulang nanti. Kalau dia masih mau sama Levia, Mama gak bakal ikut campur. Tapi kalau..."

"Kalau apa?" tanya Risa cepat.

"Kalau dia sudah gak mau sama Levia lagi," lanjut Rida, "dan perceraian itu benar-benar terjadi, kamu jangan sia-siain kesempatan itu."

Risa terdiam. Entah kenapa, nama Vandra yang tak pernah benar-benar bisa ia lupakan kembali memenuhi pikirannya.

"Harusnya Kak Vandra nikah sama aku," Risa terlihat kesal. "Semua gagal karena Levia."

"Kalau begitu," ujar Rida. "...saat ada kesempatan kamu harus maju."

***

Sore itu, sebuah mobil berhenti di depan rumah Ratih. Levia turun sambil membawa dua kotak besar yang dibungkus rapi.

Ratih yang sedang menyiram tanaman di halaman langsung menoleh. "Via?"

Levia tersenyum. "Ibu."

Ratih segera menghampiri. "Kok gak bilang mau datang?"

"Kalau bilang nanti Ibu repot nyiapin macem-macem." Levia terkekeh. "Aku cuma mau mampir."

Ratih memerhatikan kotak yang dibawa Levia. "Itu apa?"

levia mengangkat kotak itu. "Hadiah."

"Hadiah?" tanya Ratih penasaran.

Levia mengangguk. "Buka nanti aja."

Ratih penasaran, tetapi membiarkan menantunya membawa kotak itu masuk ke ruang keluarga.

Setelah duduk, Levia menyerahkan salah satu kotak kepada Ratih. "Ini buat Ibu."

Ratih membukanya perlahan. Begitu tutup kotak terangkat, matanya langsung membesar. Di dalamnya terdapat sebuah blouse dengan potongan elegan dan warna lembut. Jahitannya rapi, detail pada bagian kerah dan lengannya terlihat sederhana tetapi berkelas.

"Ini..."

"Aku yang desain," sahut Levia.

Ratih menyentuh kainnya. "Kamu sendiri yang buat?"

"Iya, Bu," jawab Levia. "Desainnya aku yang buat. Untuk jahitannya dibantu tim."

Ratih tersenyum lebar. "Bagus banget. Makasih, Via."

"Sama-sama, Bu," sahut Levia. 'Aku pikir Ibu cocok pakai model kayak gini."

Ratih langsung mengangkat blouse itu ke tubuhnya. "Benarkah?"

"Iya."

Ratih tertawa kecil. "Kalau begitu nanti Ibu coba."

Levia merasa puas. "Ada satu lagi." Ia mengambil kotak kedua. "Ini untuk Vandra."

Ratih yang semula tersenyum langsung terdiam.

Levia membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat kemeja pria dengan desain sederhana, tetapi potongannya terlihat elegan. "Aku buat ukurannya sama seperti yang ada di ingatanku."

Ratih menatap kemeja tersebut beberapa detik. "Kamu masih mikirin Vandra?"

Levia mengangkat wajah.

Ratih buru-buru menambahkan. "Bukan begitu maksud Ibu."

Levia justru terkekeh. "Aku cuma membuatnya sebagai hadiah. Kalau dia gak mau pakai, ya sudah. Kan gak enak, aku udah ngasih Ibu beberapa kali tapi gak ngasih dia."

Ratih menghela napas. "Via..."

"Hm?"

Ratih meletakkan kemeja itu di pangkuannya. "Ibu mau tanya sesuatu."

Levia mengangguk. "Apa?"

"Selama Vandra di Lebanon..."

 

...✨“Mencintai seseorang tidak selalu berarti harus terus mengejarnya. Ada kalanya cinta berubah menjadi doa, sementara hidup terus berjalan dengan atau tanpa dirinya.”...

...“Kesempatan bisa datang ketika seseorang melepaskan, tetapi kesempatan tidak pernah menjamin bahwa hati yang ingin kau dapatkan masih berada di tempat yang sama.”...

...“Jarak memang bisa memisahkan dua orang, tetapi terkadang justru dari kejauhan seseorang baru menyadari siapa yang selama ini selalu ada di sisinya.”✨...

.

To be continued

1
kymlove...
cuma up. 1 part aja nih Thor?!!!!
Mundri Astuti
ga ngotak si klo punya obsesi .... kan papamu jadi terseret ...percuma punya gelar dokter ...
abimasta
ayo para hakim siapa yang akan kalian bela seorang jendralkah atau si kapten
No Nong
thorr dekdegan tau gak di bab ini, langsung bab selanjutnya yok thorr, semangat 💪😍
lin sya
baru muncul thor up lgi
Anitha
Bagus Van kamu punya bukti yang lebih kuat lagi di saat pertemuan dengan Pramono,bukti sudah jelas apa masih mau mencari celah untuk membela si Risa....

Pak Hakim pasti adilkaan jelas Levia dan Vandra itu korban mereka...
berharap si Risa dan Bapaknya juga ikut di Penjara termasuk si Ninis
Ma Em
Semoga Risa dan Ninis tdk bisa bebas dari hukum yg menjerat nya , walaupun bapak nya Risa seorang jenderal tapi yg bersalah tetap hrs dihukum .
Ass Yfa
ternyata Vandra merekam semua pembicaraannya dgn sang jendral
abimasta
hohoho sang jendral akan tau tidak semua bisa ditekan dengan jabatan
anonim
Ceritanya bagus dan menarik untuk diikut sampai tuntas membacanya
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Septi Wijaya
vandra berani membawa bukti krusial... ga espek bakaln rekam pembicaraan dengan Pramono... smart👍
Wega Luna
itu senjata yg pas buat keluarga pelakor ,nama jabatan di grepek sampai halus👍
Puji Hastuti
duh gimana kelanjutannya ya,gak sabar liat Risa dinyatakan bersalah
lin sya
smga dgn adanya bukti, ninis, risa dan promono dpt karma, klo dpt karma hukum sprti dimasukin penjara bsa bikin ninis dan risa tmbah sadar gk ya, sedangkan pramono mngkin ya, jabatannya terancam didpn publik, menyalahgunakan kekuasaan utk putri tersayang pdhl sbntar lgi end
Mundri Astuti
cakep vandra...biar kicep tu jendral ma anaknya...katanya dokter...tapi bisa berbuat kriminal cuma gara" suka sama laki org
anonim
Gultom senang putrinya sekarang mau mengenal dan bahkan membantu pekerjaannya.

Levia mengutarakan keinginannya menjadi desainer.

Gultom yang semula bingung dengan keinginan putrinya, begitu melihat beberapa desain yang dibuat Levia - rasa kagumnya tak bisa disembunyikan.

Gultom memuji desain yang dibuat Levia.

Ayahnya menawarin Levia buat perusahaan fasion kecil dulu.

Levia tentu terkejut mendengar itu.
anonim
Levia bisa bantu Ayahnya menghitung pemasukan dan pengeluaran. Barang masuk dan keluar juga.

Ayahnya heran Levia mau bantuin pekerjaannya.

Dulu Levia tidak pernah tertarik. Dia bilang juga heran. Sekarang ingin tahu.

Levia yang sekarang jelas pinter, Levia yang dulu pinternya mengejar orang yang tidak peduli padanya 😄.

Ayahnya semakin heran tapi juga kagum pada Levia. Semua dikoreksi sama Levia.

Sampai Ayahnya bertanya Levia belajar dari mana?
Kadek Sri
lanjut
Anitha
Vandra modus tidur minta peluk-pelukan biar Levia fesh besok padahal itu akal-akalannya Vandra biar bisa meluk Via🤣
Kadek Sri
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!