Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Anak Kesayangan Mafia Kejam Dan Sadis

Transmigrasi Menjadi Anak Kesayangan Mafia Kejam Dan Sadis

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Mafia / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Maya dikhianati, difitnah, dan dibunuh oleh anak angkat yang direbut kasih sayang serta hartanya. Saat keluarganya sadar dan meminta maaf, semuanya sudah terlambat.

Namun Maya terbangun sebagai Chelsea putri kesayangan seorang penguasa yang ditakuti. Di kehidupan baru ini, ia dicintai dan dilindungi sepenuh hati. Musuh masih mengancam, tapi Maya tidak lagi lemah. Dengan pengalaman masa lalu dan kekuatan yang baru, ia bangkit untuk melawan kejahatan dan melindungi keluarga barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Ketakutan Dan Kedatangan Yang Ditakuti

Bab 27

Sejak surat ancaman itu datang suasana di dalam rumah berubah menjadi lebih tenang namun juga lebih tegang dari sebelumnya. Tidak ada yang berbicara keras tidak ada yang tertawa lepas dan tidak ada yang pergi ke mana pun tanpa ditemani orang lain. Setiap pintu dan jendela diperiksa berulang kali sebelum dikunci rapat setiap malam. Lampu di halaman depan dan belakang tetap menyala terang sepanjang malam agar setiap sudut rumah terlihat jelas dan tidak ada tempat gelap yang bisa digunakan orang untuk bersembunyi. Orang orang yang menjaga rumah juga ditambah jumlahnya dan mereka berjaga bergantian sepanjang waktu agar tidak ada satu pun saat di mana rumah ini ditinggalkan tanpa pengawasan. Semua orang tahu bahwa bahaya itu tidak lagi datang secara diam diam menyembunyikan wajahnya di balik senyum manis dan air mata palsu. Kali ini bahaya itu datang secara terang terangan dengan niat yang jelas dan tekad yang kuat untuk menghancurkan segala sesuatu yang ada di hadapannya.

Malam itu hujan turun dengan sangat deras sekali. Angin bertiup kencang menerpa jendela jendela rumah membuat suara yang berisik dan menakutkan seolah olah ada orang yang terus menerus mengetuk mengetuk kaca dengan kekuatan penuh. Petir menyambar sesekali menyinari seluruh ruangan dalam sekejap cahaya putih yang menyilaukan lalu kembali gelap gulita seketika disusul suara guntur yang menggelegar hingga membuat lantai rumah ikut bergetar. Aku duduk di tepi tempat tidurku menatap ke luar jendela yang tertutup rapat sambil memeluk diriku sendiri karena udara malam itu terasa sangat dingin dan lembap. Hatiku berdegup tidak tenang sejak matahari terbenam tadi. Entah mengapa ada perasaan gelisah yang terus merayap di dalam dada seolah olah sesuatu yang buruk akan terjadi malam ini juga sesuatu yang besar dan menakutkan yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun.

Aku bangkit dari dudukku dan berjalan keluar dari kamarku. Aku berjalan menyusuri lorong yang panjang dan sunyi menuju ruang tengah di mana seluruh keluargaku berkumpul malam itu seperti yang sudah kami sepakati sejak menerima surat ancaman itu. Tidak ada yang tidur di kamar masing-masing malam ini. Semua orang memilih berkumpul di satu tempat agar jika sesuatu terjadi kami tetap bersama dan tidak ada yang terpisah sendirian di tempat yang sepi. Saat aku sampai di ruang tengah aku melihat Ayah dan ketiga kakaknya sedang berdiri di dekat jendela yang menghadap ke halaman depan sambil berbicara dengan suara yang rendah namun terdengar tegas. Ibu berdiri tidak jauh dari mereka sambil sesekali mengusap matanya yang sembab dan menatap ke arah pintu utama dengan tatapan yang penuh kekhawatiran. Saat melihatku datang Ibu segera melangkah mendekat dan menggenggam tanganku erat sekali seolah olah ia takut jika melepaskanku sedikit saja aku akan menghilang begitu saja dari hadapannya.

Ayah menoleh ke arahku lalu berkata dengan suara yang tenang namun penuh peringatan sebaiknya kau duduk di dekat kami Maya. Malam ini cuacanya buruk sekali dan orang yang berniat jahat sering kali memanfaatkan kegelapan dan suara hujan untuk menyembunyikan kedatangan mereka. Kami tidak boleh lengah sedetik pun. Aku mengangguk dan duduk di samping Ibu sambil tetap menggenggam tangannya yang terasa dingin dan sedikit gemetar. Kakak Arka mendekat ke arahku lalu berbisik pelan di telingaku jangan takut Maya. Selama kami masih bernapas tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuh rambutmu sedikit pun. Mereka harus melangkahi mayat kami dulu sebelum menyakitimu. Mendengar kata kata itu hatiku terasa hangat sekaligus terasa sesak karena rasa haru yang mendalam. Dulu aku pernah berharap mendengar kata kata itu dari mereka namun saat itu tidak ada yang mau mendengarkan suaraku. Kini saat semuanya sudah terlambat dan bahaya benar benar berdiri di depan mata mereka baru menyadari betapa berartinya kehadiranku di tengah tengah keluarga ini.

Tiba tiba terdengar suara yang sangat keras dari arah gerbang depan rumah. Suara pintu besi yang didorong dengan kekuatan penuh hingga terbuka lebar dan menghantam tembok pembatas dengan bunyi yang menggelegar yang terdengar jelas bahkan di tengah suara hujan dan guntur yang saling bersahut sahutan. Seluruh ruangan menjadi hening seketika. Semua orang saling berpandangan dengan wajah yang berubah pucat namun tidak ada yang berteriak atau lari ketakutan. Ayah mengangkat tangannya memberi isyarat agar tetap tenang. Kakak Arka dan Kakak Dika segera melangkah mendekat ke arah jendela untuk melihat ke luar sementara Kakak Rizky berdiri di dekat pintu ruangan menjaga agar tidak ada yang bisa masuk dari arah belakang secara tiba tiba.

Dari arah halaman depan terdengar suara langkah kaki yang berat dan teratur mendekat ke arah pintu utama rumah. Suara itu terdengar jelas meskipun tertutup oleh suara hujan yang deras seolah olah orang yang melangkah itu sengaja membuat suara agar kami tahu bahwa mereka sudah datang. Tidak ada yang bersembunyi tidak ada yang menyusup diam diam. Mereka datang secara terang terangan persis seperti yang mereka tulis di dalam surat ancaman itu. Mereka tidak lagi menyembunyikan wajah atau niat jahat mereka. Mereka datang untuk menyelesaikan semuanya di tempat ini malam ini juga.

Kakak Arka berbalik dengan wajah yang serius dan tegang. Mereka datang. Banyak orang. Di depan ada Vanessa dan seorang pria yang bertubuh besar dan tegap yang berdiri di sampingnya. Itu pasti pemimpin kelompok itu. Mereka datang berdua mendahului orang orang yang lain. Ayah mengangguk perlahan lalu berkata dengan suara yang tegas dan lantang biarkan mereka masuk. Jangan ada yang bersembunyi di balik pintu tertutup. Jika mereka ingin menyelesaikan semuanya di hadapan kita maka biarlah semuanya selesai di sini secara terang terangan. Kita tidak takut menghadapi mereka karena kita berdiri di atas kebenaran.

Suara ketukan yang keras terdengar di pintu utama rumah. Bunyi ketukan itu pelan namun berat dan penuh ancaman seolah olah satu ketukan saja sudah cukup untuk meruntuhkan pintu itu hingga hancur berkeping keping. Ayah melangkah maju membuka pintu rumah itu perlahan lebar lebar. Angin basah dan udara dingin segera menyapu masuk ke dalam ruangan membawa serta bau hujan dan bau sesuatu yang tajam dan menakutkan. Di ambang pintu berdiri sosok Vanessa yang basah kuyup oleh air hujan dengan rambut yang berantakan menempel di wajahnya namun matanya tetap bersinar terang penuh kebencian dan kemarahan yang tidak pernah pudar sedikit pun. Di sampingnya berdiri seorang pria bertubuh besar dan tinggi dengan wajah yang penuh bekas luka tua yang melintang di pipi dan dahinya. Matanya tajam dan dingin menatap ke dalam ruangan seolah olah ia sedang menilai seberapa besar ketakutan yang ada di dalam hati kami semua.

Vanessa melangkah masuk terlebih dahulu tanpa menunggu dipersilakan. Ia berdiri tepat di tengah pintu basah mengalirkan air di lantai rumah kami namun ia tidak peduli sedikit pun. Matanya menatap tajam lurus ke arahku yang berdiri tidak jauh dari sana. Ia tersenyum senyum yang tidak menyentuh matanya senyum yang penuh kebencian dan kepuasan seolah olah ia sudah memenangkan segala sesuatu yang diperebutkan di antara kami. Lalu ia berbicara dengan suara yang terdengar pelan namun jelas terdengar di seluruh ruangan itu. Akhirnya kita bertemu lagi Maya. Kau pikir kau bisa melarikan diri dari kami selamanya? Kau pikir dengan merusak rencana kami dan menyebarkan berita ke mana mana kau sudah menang? Katanya ia menunjuk ke arah luar rumah di mana suara kendaraan dan langkah kaki mulai terdengar semakin banyak dan semakin mendekat. Tidak ada yang bisa lari dari kami. Di luar sana sudah dikelilingi oleh orang orangku. Tidak ada jalan keluar lain selain jalan yang ada di depan matamu ini.

Pria yang berdiri di samping Vanessa melangkah maju sedikit lalu menatap Ayah dengan tatapan yang penuh amarah dan penghinaan. Suaranya terdengar berat dan kasar seolah olah ada batu yang bergesekan di dalam tenggorokannya. Selama puluhan tahun aku menunggu hari ini. Selama puluhan tahun aku bersembunyi di dalam kegelapan menyusun rencana demi menghancurkan segala sesuatu yang kau miliki. Hampir saja aku berhasil. Jika tidak ada gadis kecil ini yang ikut campur segala sesuatu pasti sudah menjadi milikku sekarang. Namun tidak apa apa. Hari ini semuanya akan berakhir. Kau keluargamu dan segala kebanggaanmu akan hancur malam ini juga di tanganku sendiri.

Ayah berdiri tegak di tempatnya tanpa mundur selangkah pun. Ia menatap pria itu dengan tenang dan berkata dengan suara yang mantap dan berwibawa Kau salah menyangka kekuatan kami. Kami tidak takut kehilangan harta atau rumah ini. Yang kami miliki adalah kebenaran dan kasih sayang. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa kau ambil dari kami dengan cara apa pun. Dan kau juga salah satu hal. Kau tidak sendirian. Kami sudah memberi tahu pihak berwenang tentang kedatanganmu. Mereka sedang dalam perjalanan ke sini sekarang juga. Kau pikir kami akan duduk diam menunggu kau datang tanpa bersiap sama sekali?

Mendengar kata kata itu wajah pria itu berubah menjadi gelap namun ia tidak tampak takut sedikit pun. Ia justru tertawa terbahak bahak suara tawanya yang kasar dan menakutkan bergema di dalam ruangan itu berbaur dengan suara guntur yang kembali menyambar di luar. Kau pikir aku tidak tahu itu? Aku sengaja memberi mereka waktu untuk datang. Biarlah semua orang tahu bahwa aku tidak takut menghadapi siapa pun. Namun sebelum mereka tiba kau dan keluargamu harus menjawab segala kesalahan yang kau lakukan di masa lalu. Ia melangkah maju lagi seolah olah hendak melangkah masuk sepenuhnya ke dalam ruangan. Di belakangnya terlihat bayangan bayangan orang orang lain yang mulai muncul dari kegelapan di luar pintu bergerak perlahan mendekat ke arah rumah.

Saat itulah aku menyadari bahwa pertarungan terakhir yang kami tunggu tunggu akhirnya benar benar datang. Tidak ada lagi kebohongan tidak ada lagi penyamaran dan tidak ada lagi kesempatan untuk berdamai. Di hadapan kami berdiri kejahatan dalam wujud yang nyata dengan wajah yang penuh kebencian dan niat yang membara. Namun di sampingku berdiri keluargaku yang kini bersatu padu tidak ada yang terpisah tidak ada yang saling menyalahkan dan tidak ada yang meninggalkan siapa pun sendirian. Aku menggenggam tangan Ibu yang berdiri di sampingku lebih erat lagi lalu menatap lurus ke arah mata Vanessa yang tidak pernah berhenti menatapku dengan tatapan yang penuh kebencian. Aku tidak takut padamu Vanessa. Aku tidak pernah merasa bersalah atas apa pun yang kau tuduhkan kepadaku. Dan kebenaran akan selalu berdiri di pihak yang benar tidak peduli seberapa gelap malam ini.

Vanessa tidak menjawab dengan kata kata. Ia hanya menatapku dalam diam dengan senyum yang perlahan lenyap dari wajahnya digantikan oleh tatapan yang tajam dan dingin seolah olah saat itu juga ia sedang berjanji dalam hati bahwa salah satu dari kami berdua tidak akan keluar dari rumah ini dalam keadaan hidup. Malam itu hujan terus turun dengan deras seolah olah langit ikut menangis meratapi pertarungan yang tak terelakkan ini. Di dalam rumah yang penuh cahaya lampu itu kami berdiri bersatu menghadapi kegelapan yang berdiri di ambang pintu. Dan di sanalah kami berdiri menunggu dengan tenang apa pun yang akan terjadi selanjutnya karena kami tahu bahwa selama kami tetap berdiri bersama tidak ada kekuatan apa pun yang bisa benar benar mengalahkan kami.

 Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!