Indonesia
NovelToon NovelToon
Kontrak Naga

Kontrak Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Akademi Sihir / Epik Petualangan
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.

Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.

Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.

Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22 Adu Cepat Dengan Raja Api

Kawah gunung Drakhor kembali bergejolak, inti sihir api yang mereka kira sudah tunduk oleh Eliya, kembali mengamuk. Kael yang tidak memiliki dasar sihir api, mengaktifkan sihir anginnya untuk menghalau rasa panas yang membakar.

Uap belerang menyengat hidung, saat asap dari api yang bergejolak muncul dari kegelapan kawah yang kembali menyala. Kali ini panasnya berkali-kali lipat. Panas seribu derajat dan semakin meningkat lagi.

Rasanya seperti seluruh kulit mereka dipaksa mengelupas oleh udara yang mendidih. Di sekeliling mereka, dinding batu obsidian yang semula telah mati kembali berkilat memantulkan cahaya merah darah dari cairan pekat yang bergolak di dasar bawah sana.

"Kael, kembalilah! Kau hanya akan mati konyol di sini!" ujar Eliya melihat kondisi Kael yang hampir tidak dapat menahan hawa panas yang datang.

"Pergi selamatkan para penduduk. Biarkan mereka berkumpul di satu titik yang aman!" timpal Rayn, perisai api di tubuhnya menyala. Dia tidak apa-apa karena sama-sama api.

"Baik. Aku serahkan ini kepada kalian. Selesaikan dengan cepat!" ucap Kael seraya melesat naik ke permukaan kawah. Ia pergi menyelamatkan penduduk sebelum lahar dingin benar-benar mengamuk.

"Kukira sudah selesai. Ternyata tidak mudah untuk menaklukan api ini," gumam Eliya mengepalkan tangannya, ia melirik tanda mahkota elemen di tangan, hanya empat yang sudah terisi.

"Pantas saja ... ternyata belum terisi," gumamnya lagi diakhiri helaan napasnya yang panjang.

"Api tidak mudah dijinakkan, Nak. Dia ingin melihat tekadmu." Suara Zharvion menggema di alam bawah sadar Eliya. Ia menarik napas dalam-dalam, menatap dasar kawah yang kembali bergejolak.

Rayn melirik gadis itu dari balik bahunya. Jubah sihirnya yang dilapisi elemen api berkibar anggun, sama sekali tidak terpengaruh oleh suhu ekstrem ini. Wajahnya begitu tenang, seolah dia hanya sedang berjalan-jalan di taman kota, bukan melompat ke dalam jantung gunung berapi yang siap meledak.

"Kau tidak akan bisa bertahan di sini, Eliya. Ini bukan dataran badai yang berisi petir, atau Stonheart dengan jantung batunya," ucap Rayn, suaranya terdengar jernih di antara gemuruh magma.

"Ini wilayahku. Mundurlah sebelum kau terpanggang hidup-hidup," katanya dengan penuh keyakinan. Dia tidak mengejek, melainkan mencemaskan keadaan Eliya yang belum menaklukkan inti sihir api.

"Oh?" Eliya mengangkat alis, menahan napas agar paru-parunya tidak terbakar oleh gas beracun. "Kita Buktikan!" katanya pantang mundur.

Tantangannya itu disambut oleh seringai tipis di sudut bibir Rayn. Detik berikutnya, gravitasi seolah kehilangan kendali atas diri mereka, mempercepat jatuhnya tubuh mereka menuju dasar kawah. Namun, alam bawah tanah ini sepertinya tidak menyukai kehadiran dua penyusup itu.

Guncangan hebat melanda seluruh struktur kawah. Lava naik dengan kecepatan luar biasa, memuntahkan gelombang pasang merah menyala yang mengancam akan menelan mereka bulat-bulat.

"Hati-hati!" Rayn berdiri di hadapan Eliya, menjadikannya perisai saat ombak lava itu hendak melahapnya.

Bersamaan dengan itu, dinding-dinding batu retak. Monster magma muncul dari dalam cairan kental tersebut, makhluk-makhluk tanpa bentuk pasti, bermata api, dan melolongkan suara kelaparan.

"Monster magma? Aku tidak menyangka akan bertemu dengan makhluk seperti ini," ujar Rayn menatap berpasang-pasang mata api yang bermunculan dari dasar kawah.

Rayn tidak membuang waktu. Sebagai pewaris takhta, gerakannya begitu efisien dan penuh wibawa. Rayn mengeluarkan api merah keemasan. Elegan. Kuat. Sekelas raja. Eliya memperhatikan sembari menyusun strategi dan mengamati keadaan.

Kobaran api Rayn membentuk lingkaran proteksi yang membelah aliran lava yang mendekat, bahkan membuat monster magma yang menghadang langsung meleleh kembali menjadi cairan tak berdaya. Energi apinya murni, begitu pekat hingga menundukkan elemen api liar di sekitarnya.

Sementara Eliya? Bagaimana? Ia tahu aku tidak bisa bersaing dalam hal kemurnian elemen api dengan putra jenius Ignis itu. Jadi, ia harus menggunakan seluruh isi otaknya dan setiap trik yang dia punya.

Eliya tidak tinggal diam, dia mulai memakai elemen air untuk membuat perisai uap. Begitu gelembung air bertekanan tinggi yang dia ciptakan berbenturan dengan udara panas, ketukan uap putih pekat langsung meledak, menciptakan dinding isolasi termal yang melindunginya dari radiasi panas ekstrem.

"Tidak buruk," ujar Rayn menoleh pada Eliya. Gadis itu hanya diam, tidak menjawab.

Monster magma mencoba menerkam dari sisi kiri, tetapi Eliya segera menghentakkan kaki, memanipulasi elemen tanah untuk membuat pijakan dari tonjolan batu obsidian yang kokoh di dinding kawah. Ia melompat dari satu pijakan ke pijakan lain dengan lincah.

Rayn menatap dengan penuh kekaguman. Sungguh tidak menyangka, putri terbuang yang lemah, kini menjadi sosok yang paling ditakuti.

Kepulan gas belerang pekat mencoba mengurung jalannya, Eliya melepaskan percikan instan. Ia mengarahkan elemen petir untuk meledakkan gas beracun itu dalam serangkaian ledakan terkendali.

Ledakan itu tidak hanya membersihkan udara di depannya, tetapi juga memberikan daya dorong tambahan yang membuat tubuhnya melesat maju, menyalip beberapa monster yang mencoba mengepung.

Mereka berdua saling kejar-mengejar di antara hujan percikan lava dan reruntuhan batu. Rayn melesat bagai komet emas, sementara Eliya bergerak zigzag memanfaatkan kombinasi tiga elemen yang kacau, tapi tetap efektif. Gerakan mereka begitu cepat hingga gesekan udara memicu suara mendengung yang memekakkan telinga.

"Di sana!" Eliya menunjuk tempat pijakan terakhir.

Mereka melesat dengan cepat dan kaki keduanya mendarat di dataran batu terakhir yang mengapung tepat di atas pusat pusaran. Mereka berdua sampai ke inti sihir api secara bersamaan.

"Ternyata yang sebelumnya hanyalah umpan. Inilah inti sihir api yang sesungguhnya," ucap Eliya sembari menatap dan menganalisa bola api di depannya.

"Inti sihir api berupa bola api raksasa yang berteriak. Wujudnya berdenyut tak keruan, memancarkan gelombang kejut psikologis yang membuat kepala berdenyut menyakitkan. Suara teriakannya terdengar seperti jutaan jiwa yang terjebak dalam siksaan abadi. Bola api inilah yang menahan seluruh keseimbangan magis tempat ini, dan siapa pun yang menguasainya akan memegang kendali atas seluruh gunung."

Suara Zharvion menggaung di dalam pikiran Eliya. Menyulut tekad di dalam diri gadis kecil itu.

Rayn mengambil satu langkah tegas di depan Eliya, mengulurkan tangan kanannya yang sudah diselimuti oleh sarung tangan pelindung berlambang kerajaan Valoris.

"Menyingkirlah! Ini adalah tugasku sebagai Putra Ignis. Kekuatan ini hanya bisa diredam oleh darah bangsawan api sepertiku," katanya jumawa.

Eliya turut melangkah maju, mensejajarkan posisinya, lalu tanpa ragu menepis tangan Rayn hingga arah jangkauannya meleset.

Rayn menatapnya tajam, matanya berkilat marah. "Apa yang kau lakukan? Kau bisa mati!" Dia berteriak histeris.

Eliya tidak peduli, matanya menatap lurus ke arah bola api yang mengamuk, lalu beralih menatap Rayn dengan senyum miring.

"Di dunia lamaku, ini dinamakan manajemen krisis. Tidak ada senioritas atau apapun itu. Siapa yang cepat, dia yang akan menyelesaikan masalah," ucap Eliya dengan yakin.

Tanpa menunggu jawaban Rayn, Eliya mengalirkan seluruh energi gabungan air dan petir ke telapak tangannya, bersiap meredam amukan sang inti dengan caranya sendiri.

Boom!

1
Agus Tina
Baguus
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Agus Tina
Tinggal buka kedok siapa itu Sherina, apa alasan dia meracuni Eliya sehingga kekuatan sihirnya tidak muncul saat usia 17 tahun. siapa yg membantu Sherina
..
Aisy Hilyah: hehehe bener
total 2 replies
Swety
💪💪
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Elin Erliana
imajinasi yg luar biasa
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Yue Li MZy
Membayangkan betapa ngerj nya di dalam sana,Mana suhu lava dan magma ny panas nya sampai membuat tubuh manusia terbakar dan hangus 😲😲
Aisy Hilyah: Bener banget itu
total 1 replies
Yue Li MZy
keserakahan Seraphina akan menyebabkan kehancuran dirinya,dan lord Ignis menyesal pun ga ada gunanya.ayooo Aurel balaskan dendam mu 🤭🤭
Aisy Hilyah: Bener banget
total 1 replies
Agus Tina
🤍🤍🤍
Dwi Setyaningrum
masak kalah lg sih..kalau kalah tamat dong ya ga thor 😁
Aisy Hilyah: ehehehe betul
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
jd deg degan nih..
Aisy Hilyah: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
semangat eliya💪jdlah lbh kuat utk mengalahkan kegelapan
Aisy Hilyah: siap! semangat pasti bisa
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
waduh jgn mati dong msk pemeran utama mati Jadi apa nanti dunia kalau dikuasai dg kegelapan🤔
Aisy Hilyah: ehehe tidak tenang saja
total 1 replies
Agus Tina
Eliya, semoga kali berhasil
Aisy Hilyah: pasti berhasil
total 1 replies
Agus Tina
Jangan lama upnya y thor ...
Aisy Hilyah: bismillah insya Allah diusahakan
total 1 replies
Agus Tina
Bagus Eliya bongkar juga kejahatan mereka yg telah membuangmu juga kejahatan Seraphina yg telh meracunimu dulu
Dwi Setyaningrum
elemennya berarti sdh 7 kan ya🤔apa msh kurang 1🤔
Aisy Hilyah: Baru enam belum tujuh
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
ikut tegang juga..bayangin betapa panasnya lava dan magma gunung bisa melelehkan apa saja apalg ini hanya kulit manusia bisa jd bubur nih😁
Aisy Hilyah: Bener bener banget
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
eliya yg blm punya elemen api ya..🤔
Aisy Hilyah: betul
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
kalau wajahnya sdh ada dimana2 kenapa ga nyamar saja sih jdnya ga kehambat utk menuju pencarian mahkota/elemen lainnya🤔
Aisy Hilyah: iya ya. mereka cuma nutupin pake jubah
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
waow taktik yg cerdas..kerennn..👏👏
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
hadir thor...
Aisy Hilyah: terimakasih sudah hadir kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!