Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti / Penyesalan Keluarga
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.

Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.

Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sergio Mafia Tampan

Mobil hitam berukuran besar itu melambat ketika mendekati sebuah gerbang besi raksasa yang menjulang tinggi, diapit oleh dinding batu hitam bergaya klasik modern. Sistem keamanan di tempat itu benar-benar berada di luar nalar; kamera pengawas tersembunyi di setiap sudut, sensor laser berlapis, serta puluhan penjaga bersenjata lengkap yang siaga. Serena, yang duduk di kursi belakang, sontak menempelkan wajahnya ke kaca jendela. Matanya berbinar-binar kagum, takjub melihat kemegahan arsitektur sekaligus sistem pertahanan yang begitu ketat.

​Beberapa orang bawahan yang berpapasan dengan mobil itu langsung menghentikan langkah dan menunduk hormat dalam-dalam begitu kendaraan melintasi gerbang utama.

​"Wah, gila... Ini mah kayak markas agen rahasia di film-film," puji Serena tanpa ragu, suaranya terdengar begitu santai, seolah ia sedang tamasya alih-alih masuk ke sarang penjahat berbahaya.

​Zayden, yang duduk di kursi depan, melirik lewat spion tengah dan tersenyum tipis. Setelah mobil terparkir rapi di pelataran utama mansion yang luas, Zayden turun lebih dulu lalu membuka pintu belakang untuk Serena. Sementara itu, Calum langsung berbelok arah dan pergi entah ke mana untuk mengurus tugas lain.

​Serena melangkah keluar, mendongak menatap bangunan megah menjulang di hadapannya dengan interior marmer hitam dan lampu gantung kristal raksasa yang terlihat dari balik pintu kaca ganda yang terbuka lebar. Zayden menuntun langkah Serena memasuki lorong utama mansion.

​"Silakan lewat sini, Nona Serena," ujar Zayden dengan senyum ramah yang selalu terpatri di wajahnya.

​Serena berjalan santai di samping Zayden, matanya terus bergerak ke sana kemari mengamati setiap detail kemewahan rumah itu. Ia sama sekali tidak terlihat seperti seorang tahanan atau wanita malang yang akan dijual. Rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa takutnya.

​"Ngomong-ngomong, Zayden... Apa tuanmu itu beneran hobi membunuh bayi?" tanya Serena tiba-tiba tanpa filter, dengan nada berisik dan santai, membuat langkah Zayden hampir tersandung.

​Zayden menoleh, mempertahankan senyumannya yang penuh misteri. "Sebaiknya Nona tanyakan saja langsung pada Tuan jika memang sangat penasaran."

​Serena mendengus pelan, lalu mengerucutkan bibirnya. "Aku takut salah bicara, tahu... Sejujurnya aku ini cuma pengganti kakak tiriku. Keluarga sialan itu dengan sukarela mengorbankan ku cuma karena aku anak haram. Sungguh menyebalkan," gerutu Serena blak-blakan.

​"Saya tahu, Nona," balas Zayden tenang.

​Serena langsung menghentikan langkahnya, menatap Zayden dengan mata terbelalak kaget. "Kamu tahu? Kupikir kalian tidak tahu apa-apa soal pertukaran itu."

​Zayden ikut berhenti, lalu terkekeh pelan. "Jangan meremehkan kami, Nona. Semua latar belakang orang yang dikirim ke sini sudah ada di dalam genggaman kami. Dan ngomong-ngomong... kenapa Nona tidak ketakutan seperti wanita-wanita lain yang biasanya menangis histeris? Nona tahu kan, sebentar lagi Nona seharusnya dikirimkan ke area selatan sebagai pemuas nafsu para penjaga? Bukan sebagai pengantin tetapi budak" ucap Zayden, sengaja memancing reaksi gadis itu dengan nada bicara yang santai.

​Serena mengedikkan bahunya acuh tak acuh. "Entahlah. Aku sebenarnya ya takut sedikit, tapi di sisi lain aku cukup senang di sini. Tempatnya bagus, estetik," jawab Serena dengan alasan ngawur yang sukses membuat Zayden tertegun untuk sekian detik. Gadis ini benar-benar di luar nalar.

​Zayden hanya menggelengkan kepala pelan, tidak bisa menebak apa yang sebenarnya berputar di dalam kepala gadis di depannya ini. Mereka terus berjalan melewati koridor panjang hingga Zayden berhenti di depan sebuah pintu kayu mahoni berukuran besar yang dijaga oleh dua orang pria berbadan kekar. Zayden mengetuk pintu itu dua kali sebelum membukanya lebar-lebar.

​"Tuan, Nona Serena sudah tiba," ucap Zayden sopan.

​Serena melangkah masuk ke dalam ruangan kerja yang luas, bernuansa warna gelap dan elegan. Dan di sanalah ia melihatnya, pria itu berdiri di dekat jendela besar dengan segelas wiski di tangan kanannya.

​Serena seketika terpaku di tempatnya. Napasnya tercekat untuk sepersekian detik.

​Jadi, pria inilah Sergio Maximilian Ziegler?.

​Pria berusia 35 tahun itu mengenakan kemeja hitam berkerah terbuka yang lengannya digulung hingga siku, dengan sempurna mengekspresikan otot-otot lengannya yang kuat, bidang dada yang tegap, serta postur tubuh tinggi menjulang yang memancarkan aura dominasi mutlak. Wajahnya sangat tajam, rahangnya tegas, hidung mancung sempurna, dan sepasang mata kelam yang menatap dingin bagai pemangsa puncak rantai makanan.

​Serena yang tadinya membayangkan seorang mafia kejam berwajah tua, menyeramkan, dan bau tembakau langsung menelan ludahnya kelenjar air liur.

"Ya ampun... Ini mafia apa model sampul majalah bisnis?! Kenapa tampan dan seksi sekali?!" batin Serena histeris dalam hati, matanya tanpa sadar mengagumi ciptaan Tuhan di depannya itu.

​Sergio perlahan membalikkan tubuhnya. Iris matanya yang gelap langsung menghujam tajam ke arah Serena. Alih-alih langsung berbicara, Sergio meletakkan gelasnya di atas meja kerja, lalu melangkah pelan mendekati gadis itu.

​Langkah kaki Sergio yang mantap dan berat menggema di ruangan yang sunyi. Ia berdiri tepat di hadapan Serena, membuat Serena harus sedikit mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup mencolok. Sergio tidak langsung mengintimidasi dengan teriakan, sebaliknya, pria itu menyipitkan mata, mengamati Serena dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidik, seolah sedang memindai setiap inci keberadaan gadis di depannya.

​Serena, yang biasanya cuek dan dingin, untuk pertama kalinya merasa sedikit salah tingkah karena tatapan intens itu, namun ia berusaha keras mempertahankan ekspresi tenaganya agar tidak terlihat salah tingkah di hadapan sang mafia.

​Sergio mengamati cara berdiri Serena yang tegak tanpa sedikit pun gemetar, sorot matanya yang jernih, serta ketenangan yang sama sekali tidak lazim ditunjukkan oleh seorang tawanan baru. Wanita-wanita lain yang dibawa ke hadapannya biasanya akan langsung gemetar ketakutan, menangis tersedu-sedu, atau bersujud memohon ampun. Tapi Serena? Gadis itu justru balas menatapnya dengan binar penasaran di matanya, seolah sedang menilai apakah patung di depannya itu asli atau pajangan.

​"Menarik," suara bariton Sergio terdengar rendah, berat, dan begitu seksi, menggetarkan gendang telinga Serena.

"Zayden bilang kamu adalah putri Sebastian yang dikirim ke sini."

​Serena mengerjap, lalu mengangguk kecil. "Betul, Tuan Sergio. Tapi ralat sedikit, saya ini anak buangan yang kebetulan dijadikan tumbal pengganti oleh ayah kandung saya yang pelit itu," koreksi Serena santai tanpa beban.

​Sergio mengangkat sebelah alisnya. Sudut bibirnya yang tipis berkedut tipis, nyaris membentuk sebuah senyuman sinis. Ada sesuatu yang sangat berbeda dari gadis ini. Serena terlihat jauh lebih tenang, unik, dan... cukup manis dengan caranya yang blak-blakan. Tidak ada kepalsuan di wajahnya, tidak ada ketakutan yang dibuat-buat.

​Sergio merasakan secercah ketertarikan yang asing merayap di dalam dadanyaz sebuah ketertarikan langka yang belum pernah ia rasakan kepada wanita manapun selama hidupnya di dunia gelap ini.

​"Kamu tidak takut padaku, Serena?" tanya Sergio pelan, sengaja mendekatkan wajahnya sedikit, hingga aroma maskulin dan wangi cedarwood yang kuat menguar menusuk indra penciuman gadis itu.

​Serena mendongak, menatap langsung ke dalam mata kelam Sergio yang menghipnotis. Meskipun jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, bukan karena takut, melainkan karena terlalu dekat dengan pria setampan itu, Serena tetap mempertahankan gayanya yang cuek.

​"Awalnya sih kaget karena dibentak-bentak terus di rumah," jawab Serena jujur dengan nada ringan.

"Tapi setelah melihat langsung tuan besar mafia yang konon katanya suka menyiksa bayi ini... yah, rasanya rugi kalau saya harus takut duluan sebelum kenal."

​Zayden yang berdiri di dekat pintu nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar keberanian tingkat dewa yang ditunjukkan oleh Serena di hadapan bos besar mereka.

​Sergio tertegun sejenak, lalu untuk pertama kalinya malam itu, sebuah tawa kecil yang terdengar sangat langka lolos dari bibir sang mafia kejam. Serena Amaryllis benar-benar wanita paling tidak biasa yang pernah menginjakan kaki di mansionnya.

Bersambung...

1
Ita Putri
kasihan nasib Callum setelah ini....jangan terlalu kejam hukum Callum nya sergio
It's me Ri🥕: Kayaknya bakalan di bunbun dehh🙏😭
total 1 replies
Mia Camelia
seru banget ngliat tingkah polos serena🤭
Mia Camelia
sergio bisa lembut juga 🤭
Dessy Rinda
klo serenanya jago nela diri sm nembak keren kak thor🤭😁🙏
Dessy Rinda: siiippp
total 2 replies
Mia Camelia
mampir thor🤭
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔
Dessy Rinda: semangat nulisnya kk thor,semoga di berikan ide2 cemerlang sehat2 ya kak💪👍
total 2 replies
Sumawita
saya suka dengan cerita nya bagus bangett 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!