Maya Maheswari adalah CEO muda, anggun, dan dingin yang memimpin konglomerat terbesar di Indonesia. Sementara Leo, suami yang dinikahinya lewat perjanjian kontrak, hanyalah mantan prajurit berpenampilan santai yang bekerja sebagai pengawal pribadinya. Dianggap sebelah mata oleh keluarga besar Maheswari, Leo selalu diam dan berdiri tegap satu langkah di belakang sang istri.
Namun, di balik sikap tenangnya, Leo menyimpan identitas rahasia sebagai pendiri jaringan keamanan dan intelijen global yang memegang kendali atas data rahasia para elite dunia. Saat intrik pengkhianatan dari dalam perusahaan mulai mengancam nyawa dan takhta Maya, Leo perlahan membuka topengnya. Demi melindungi wanita yang dicintainya, sang pengawal siap mematahkan setiap konspirasi membuktikan pada dunia siapa penguasa sebenarnya di balik bayangan Sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 29
Kalimat itu terucap begitu santai, namun membawa bobot emosional yang teramat dalam. Maya memejamkan matanya sejenak, menikmati kehangatan yang merambat dari jemari Leo hingga ke lubuk hatinya. Di balik deru mesin SUV yang melaju konstan menembus malam Jakarta, seluruh ketegangan yang menumpuk selama berminggu-minggu akhirnya meluruh tanpa sisa.
Mobil taktis itu perlahan keluar dari jalur tol kota dan memasuki kawasan hunian eksklusif di Jakarta Pusat. Gerbang besi berukir megah dari kompleks penthouse milik Maheswari Group terbuka otomatis saat sensor mengenali pelat nomor kendaraan Leo. Penjaga gerbang membungkuk hormat, sama sekali tidak menyadari bahwa mobil yang tampak tenang itu baru saja kembali dari medan pertempuran sengit yang menentukan nasib imperium bisnis terbesar di negara ini.
Leo memarkirkan SUV hitam tersebut di slot khusus garasi pribadi. Ia mematikan mesin, membuat suasana di dalam kabin mendadak hening dan amat personal.
"Kita sudah sampai," ucap Leo pelan.
Ia tidak langsung bergerak membukakan pintu seperti protokol pengawal yang biasanya ia jalankan secara kaku. Sebaliknya, Leo menoleh sepenuhnya ke arah Maya. Sinar temaram dari lampu garasi membiaskan garis wajah tegas suaminya, memperlihatkan sorot mata hitam pekat yang kini dipenuhi kelembutan yang tak terbatas.
Maya membuka matanya, menatap pria di sampingnya itu. "Terima kasih, Leo. Untuk segalanya."
"Tidak perlu berterima kasih lagi," sahut Leo seraya mengulas senyum tipis. Tangannya yang kokoh terangkat, membelai lembut pipi Maya, menghapus sisa jejak lelah yang tersisa di sana. "Mulai detik ini, kamu tidak perlu lagi memikul beban Maheswari Group seorang diri. Apa pun badai yang datang esok hari, kita akan menghadapinya bersama."
Maya mengangguk pelan, menyandarkan pipinya pada telapak tangan Leo. "Ya. Bersama."
Leo melangkah keluar terlebih dahulu, mengambil koper titanium berisi source code Nusantara AI dan tas hitam taktis berisi dokumen kejahatan Helios dari jok belakang. Ia membukakan pintu penumpang untuk Maya, merengkuh pinggang istrinya dengan protektif saat Maya melangkah turun dari mobil. Touch sederhana itu tidak lagi terasa seperti gestur seorang pengawal yang siaga, melainkan seperti perlindungan tulus seorang suami yang sangat mencintai istrinya.
Keduanya berjalan berdampingan menuju lift pribadi yang langsung mengarah ke penthouse lantai teratas. Di dalam lift berdinding kaca yang meluncur naik, Maya menatap pantulan mereka berdua. Leo berdiri tegap di sampingnya, masih mengenakan kemeja putih bergulung lengan yang sedikit berdebu, sementara Maya berdiri anggun dengan blazer korporatnya. Mereka tampak seperti kombinasi sempurna antara kekuatan, kecerdasan, dan kesetiaan yang tak tergoyahkan.
Ketika pintu lift terbuka langsung di lobi Penthouse, keheningan rumah yang mewah menyambut mereka.
Leo meletakkan koper bernilai triliunan rupiah dan tas dokumen penting itu di atas meja kerja utama di ruang tengah. Dua benda itu kini tak lebih dari sekadar berkas hukum yang besok pagi akan meluluhlantakkan sisa-sisa pengikut Hendra dan Konsorsium Helios hingga ke akar-akarnya di pengadilan.
Maya melangkah mendekati meja kaca besar yang menghadap langsung ke hamparan pemandangan lampu-lampu kota Jakarta dari ketinggian lantai lima puluh. Dari tempat ini, Maheswari Tower terlihat menjulang tinggi di kejauhan sebuah simbol kekuasaan yang kini telah sepenuhnya aman di bawah kendalinya.
Leo berjalan mendekat, mengambil posisi berdiri di samping Maya. Tanpa ucapan formalitas apa pun, Leo melingkarkan kedua lengan kokohnya di sekeliling pinggang Maya dari belakang, menarik tubuh hangat istrinya ke dalam dekapan dadanya yang tegap.