Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Remaja Berisik: Pangeran Dingin Bisa Dengar Suara Hatiku!

Transmigrasi Si Remaja Berisik: Pangeran Dingin Bisa Dengar Suara Hatiku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Fantasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: heldahell

Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.

Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!

Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)

Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9: Barista jamu dadakan dan uji klinis Ter-Absurd istana

Mendengar Xie Jian sudah kembali di balik pintu, Pangeran Mo Cheng baru saja hendak menyuruhnya masuk. Namun, perhatian sang pangeran mendadak teralihkan sepenuhnya oleh pergerakan Xie Yufei.

Mumpung dugaan "dukun sakti" sudah dia tepis sebagai kebetulan kosmik, jiwa petualang Yufei langsung meronta-ronta. Matanya menatap botol kecap kuno dan jeruk nipis di depannya dengan binar-binar penuh tekad.

(Wah, mumpung bahannya lengkap dan Mas Jenderal lagi batuk-batuk lucu begini, ini saatnya gue berbakti sebagai calon istri idaman... eh, maksudnya sebagai rakyat yang budiman! Mari kita tunjukkan sihir pengobatan modern warisan turun-temurun dari emak gue!) batin Yufei berapi-api.

Tanpa memedulikan tata krama putri bangsawan yang seharusnya duduk anggun menunggu dilayani, Yufei langsung menyingsingkan lengan gaun sutra merah mudanya yang lebar sampai ke siku.

Prak!

Dengan gerakan mantap, dia mengambil pisau kecil pemotong buah yang ada di meja giok. Pangeran Mo Cheng yang melihat hal itu langsung menegang, tangannya refleks bersiap menahan gerakan Yufei jika gadis itu berniat melakukan hal berbahaya. Namun, ketegangan sang pangeran langsung buyar ketika melihat apa yang dilakukan Yufei berikutnya.

Yufei membelah jeruk nipis menjadi dua bagian dengan presisi anak IPA saat praktikum biologi. Di dalam kepalanya, suara Yufei mendadak berubah menjadi narator video tutorial memasak di media sosial:

(Halo guys, hari ini kita bakal bikin ramuan pereda batuk legendaris. Pertama-tama, peras jeruk nipis lokal pilihan ke dalam cangkir giok kosong. Pastikan bijinya gak ikut masuk ya, nanti ketelen Mas Jenderal terus tumbuh pohon jeruk di perutnya, kan gak lucu.)

Uhuk!

Pangeran Mo Cheng yang sedang menahan napas hampir saja menyemburkan sisa teh di mulutnya. "Tumbuh pohon jeruk di dalam perut? Logika konyol macam apa itu?!"

Belum selesai rasa heran sang pangeran, Yufei dengan santainya meraih botol keramik berisi kecap kuno kental tersebut. Dia menuangkannya ke dalam perasan jeruk nipis dengan estimasi yang sangat matang.

(Kemudian, tambahkan kecap manis secukupnya. Jangan kebanyakan, nanti diabetes, jangan kedikitan juga nanti rasanya kecut banget kayak muka saingan politik bokap gue. Nah, setelah itu diaduk rata sampai warnanya berubah jadi cokelat gelap estetik. Oke, ramuan obat batuk pusaka siap disajikan!)

Yufei meletakkan pisau buah, merapikan kembali lengan bajunya, lalu mengangkat cangkir giok itu dengan kedua tangannya. Dia memasang kembali senyum porselennya yang paling manis, lembut, dan penuh keanggunan luar biasa.

"Yang Mulia Pangeran Mo Cheng," ucap Yufei dengan suara mendayu-dayu yang sangat patuh. "Hamba melihat Anda terus-menerus terbatuk sejak perjamuan teh tadi. Hamba merasa sangat cemas. Ini adalah ramuan obat tradisional yang hamba pelajari dari... kitab kuno rahasia. Khasiatnya sangat cepat untuk melegakan tenggorokan yang gatal. Sudikah Yang Mulia mencobanya?"

Di luar, Yufei tampak seperti seorang gadis setia yang tulus mengkhawatirkan kesehatan sang pangeran. Namun di dalam hatinya, jeritan batin Yufei justru terdengar seperti seorang penjual obat jalanan yang sedang melakukan pemaksaan:

(Ayo dong Mas Jenderal, diminum! Ini ramuan sakti mandraguna. Rasanya emang agak nano-nano asem, manis, asin dikit, tapi dijamin tokcer! Lu musti cobain uji klinis pertama di dunia kuno ini. Kalau lu gak minum, mubazir banget ini jeruk istana sama kecap premium!)

Pangeran Mo Cheng menatap cairan cokelat pekat di dalam cangkir giok itu dengan pandangan yang teramat ragu. Seumur hidupnya, dia hanya meminum obat yang diracik oleh tabib istana dengan resep herbal yang jelas. Cairan hitam kecokelatan ini sama sekali tidak meyakinkan.

Namun, melihat binar mata Yufei yang begitu penuh harapan dan mendengar desakan batinnya yang luar biasa berisik, Pangeran Mo Cheng entah mengapa tidak tega untuk menolak. Perlahan, dia menerima cangkir tersebut.

Tepat di saat Pangeran Mo Cheng mengangkat cangkir itu ke bibirnya, pintu paviliun yang sedari tadi diketuk akhirnya terbuka sedikit. Xie Jian yang sudah tidak sabaran karena urusan militer ini sangat penting, langsung melongokkan kepalanya ke dalam.

"Melapor Yang Mulia, hamba..." Kalimat Xie Jian langsung terputus di tenggorokan. Matanya membelalak melihat adiknya berdiri dengan lengan baju yang masih agak berantakan, sementara Pangeran Mo Cheng bersiap meminum cairan hitam misterius dari cangkir Yufei.

Di dalam ruangan, batin Yufei langsung menyapa kakaknya dengan heboh:

(Eh, Kakak Xie Jian udah balik! Pas banget, pas banget! Kakak lihat deh, Mas Jenderal lagi mau minum jamu buatan gue. Tontonin gais, ini dia momen first impression Mas Jenderal nyobain kearifan lokal dunia modern!)

Xie Jian seketika pucat pasi. Sebagai kakak yang tahu betul isi kepala adiknya, dia ingin sekali berteriak: Yang Mulia Pangeran, jangan diminum! Itu racun sekte mana lagi yang dia bikin?!

Namun, semuanya sudah terlambat. Pangeran Mo Cheng, demi menjaga harga dirinya dan entah mengapa ingin membuktikan perkataan Yufei, langsung meneguk cairan asam-manis-kental itu dalam satu tegukan mantap.

Glek.

Seluruh ruangan mendadak hening seketika. Yufei menahan napas menanti reaksi, sementara Xie Jian sudah bersiap memanggil tabib istana jika pangeran junjungannya tiba-tiba kejang-kejang di lantai.

1
paijo londo
🤣🤣🤣🤣🤣🤦🤦🤦🤦kocak....kocak
paijo londo
🤭🤭🤭yeee pangeran mo Cheng salah tingkah tuh
Siskasuryaningsih
bagus thor, tapi jangan terlalu lebay iya thor, mcam novel mu yg lalu
heldahell: novelku yg mana ya kak? apa udah ku hapus ya?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!