Indonesia
NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

Bau minyak mesin, belerang, dan aroma khas tembaga panas memenuhi ruangan bawah tanah yang remang-remang itu. Di atas meja kerja yang dipenuhi tumpukan sirkuit terbengkalai, lampu minyak menyala berkedip-kedip, melemparkan bayangan panjang yang menari di dinding kayu yang basah oleh embun beku.

Ren duduk di tepi ranjang darurat, menarik napas dalam-dalam perlahan. Perban acak-acakan yang melilit dadanya terasa menekan kulitnya yang mulai pulih. Berkat regenerasi pasif dari The Core Engine di dalam tubuhnya, luka robek akibat cakar Alpha Frost-Hound berangsur menutup, meninggalkan rasa gatal yang menusuk setiap kali ia menggerakkan otot-otot badannya.

Di sisi lain meja, Leo—pemuda berambut biru dengan noda arang yang masih melekat di pipinya—sedang sibuk membuat sebuah modul kabel kecil. Percikan api oranye berpijar terang setiap kali ujung besi panas itu menyentuh timah, mengeluarkan desis halus yang memecah kesunyian malam di Zona Industri Tua.

"Jadi," ucap Leo tanpa mengalihkan pandangannya dari sirkuit di tangannya, suaranya terdengar santai namun menyimpan rasa ingin tahu yang besar. "Kau bilang keretamu hancur tapi masih ada di Stasiun Periferi No. 4? Kau yakin benda berkarat itu masih bisa disebut sebagai kereta?"

Ren mendongak, menatap pemuda itu dengan sorot mata yang tetap tenang. "Benda itu masih punya rangka. Dan sekarang, ia punya inti yang baru."

Leo berhenti seketika. Ia meletakkan alatnya di atas meja, lalu berbalik menatap Ren lekat-lekat. Seringai tipis tersungging di bibirnya. "Baiklah, Kapten Ren. Sebelum kita melangkah lebih jauh dan membuatku mempertaruhkan nyawa untuk merakit senjata-senjata canggih yang kau minta, ada satu hal syarat dariku."

Ren menyipitkan matanya. "Syarat?"

"Tunjukkan padaku keretamu itu," kata Leo, matanya berbinar dengan kilau antusiasme yang aneh—pancaran khas dari seorang mekanik jenius yang melihat mainan langka. "Kalau bentuknya benar-benar jelek dan memalukan, aku berhak mundur kapan saja."

Tiga jam kemudian, di bawah naungan badai salju pagi yang mulai mereda di Stasiun Periferi No. 4, Leo berdiri terpaku di hadapan Vanguard Carriage (Mk. 1).

Pemuda berambut biru itu terdiam seribu bahasa. Matanya menelusuri setiap jengkal bodi gerbong yang baru saja dirakit oleh Ren semalam suntuk. Permukaan gerbong itu tampak compang-camping; lempengan baja tambal sulam di las kasar tanpa aturan estetika, pipa pembuangan uapnya bengkok, dan jendela kaca depannya diganti dengan pelat logam tipis berlubang intip. Dari luar, benda itu sama sekali tidak pantas disebut sebagai lokomotif masa depan. Benda itu terlihat persis seperti apa yang dipikirkan orang: tumpukan sampah besi rongsokan yang disatukan oleh keputusasaan.

Namun, alih-alih tertawa atau mencemooh seperti yang dibayangkan Ren, ekspresi di wajah Leo perlahan-lahan berubah.

Ia melangkah mendekat, telapak tangannya yang bersarung kain usang meraba pelan permukaan baja gerbong yang dingin. Ia bisa merasakan getaran halus yang konstan—sebuah getaran hidup yang terpancar dari dalam inti gerbong, berdenyut selaras dengan sirkuit tersembunyi yang dihubungkan oleh Ren.

"Astaga..." bisik Leo pelan, nyaris seperti orang yang sedang merapal doa. "Ini... ini benar-benar gila."

Leo berputar mengelilingi gerbong itu, jemarinya menyentuh setiap sambungan las yang kasar. Sebagai seorang mekanik buangan yang pernah melihat berbagai jenis kereta lapis baja mewah milik Korporasi Aether—kereta-kereta berteknologi tinggi dengan pelindung termal mutakhir dan persenjataan plasma otomatis—ia tahu betul bagaimana rupa sebuah mesin yang sempurna di atas kertas. Kereta-kereta korporasi itu memang megah, berkilau, dan mahal.

Tetapi saat Leo meletakkan telinganya dekat ke dinding baja gerbong rongsokan milik Ren, ia merasakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia temukan pada kereta-kereta mewah buatan pabrik korporasi: Jiwa.

Kereta-kereta korporasi itu hampa. Mereka hanya digerakkan oleh bahan bakar fosil dan algoritma dingin tanpa emosi. Sebaliknya, gerbong rongsokan di hadapannya ini berdenyut dengan kepedihan, kemarahan, dan tekad baja yang membara untuk terus hidup di tengah dunia yang membeku. Kereta ini memiliki roh. Dan bagi seorang mekanik sejati yang mencintai mesin bukan karena bentuknya, melainkan karena fungsi dan detak jantungnya, itu adalah mahakarya yang jauh lebih indah daripada berlian mana pun di dunia atas.

Leo menarik napas panjang, lalu tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.

"Kau tahu, Ren?" kata Leo sambil menoleh ke arah Ren yang berdiri di dekat pintu palka. "Secara teknis, kereta ini adalah tumpukan sampah paling buruk yang pernah kulihat seumur hidupku. Sambungan lasmu berantakan, sistem hidroliknya hampir sekarat, dan rasio beratnya tidak seimbang."

Ren tidak bergeming, menunggu kelanjutan kalimat pemuda itu.

Leo menyeringai lebar, matanya memancarkan kilau api semangat yang berkobar. "Tapi... jiwanya luar biasa. Aku belum pernah melihat mesin rongsokan yang menolak mati separah ini. Kalau aku tambahkan modul kompresor uap di bagian bawah dan merakit ulang sirkuit energinya, benda ini tidak hanya akan berjalan... ia akan menjadi monster besi yang meremajakan mimpi-mimpiku."

Mendengar itu, sudut bibir Ren sedikit terangkat—sebuah senyuman tipis yang sangat jarang ia tunjukkan sejak hari malapetaka itu merenggut adiknya.

"Selamat datang di kru," ucap Ren singkat.

"Tentu saja," balas Leo sambil menepuk dadanya sendiri dengan bangga. "Tapi ingat, perjanjian kita tetap berlaku. Aku tidak bergabung hanya untuk membantumu balas dendam atau meruntuhkan tirani korporasi yang membosankan itu."

Ren mengerutkan keningnya tipis. "Lalu, apa alasanmu?"

Leo mengangkat bahu, menyeringai lebar dengan gaya khasnya yang tengil. "Impianku sederhana, kawan. Aku ingin merakit senjata-senjata paling mematikan yang pernah ada, melintasi seluruh rel di bawah tanah dan permukaan es ini, dan... berkeliling dunia untuk menemui para wanita cantik dari berbagai pulau dan stasiun terpencil! Bayangkan betapa kerennya jika kereta tempur kita—berhenti di stasiun baru, lalu para gadis terpesona melihat mekanik jenius sepertiku turun dari kabin lokomotif!"

Ren tertegun sejenak, menatap pemuda berambut biru itu dengan tatapan datar yang menyiratkan kebingungan sekaligus ketidakpercayaan. Orang ini benar-benar tidak punya urat rasa takut, batin Ren. Di tengah dunia yang sedang sekarat dan dihantui oleh teror korporasi, impian pemuda itu justru terdengar konyol dan tidak masuk akal.

Namun, justru ketidakwarasan itulah yang membuat Ren merasa kehadiran Leo di sisinya adalah keputusan yang tepat.

"Terserah apa katamu," gerutu Ren pendek, lalu berbalik menaiki tangga palka gerbong. "Masuklah. Kita punya banyak pekerjaan sebelum fajar berakhir."

Leo mengikuti dari belakang, melangkah masuk ke dalam perut gerbong yang kini resmi dideklarasikan sebagai Gerbong Mesin & Workshop (Carriage No. 1). Begitu pintu palka tertutup rapat, menahan deru angin badai salju di luar, Leo langsung meletakkan kotak perkakasnya di atas meja kerja darurat. Matanya langsung berbinar-binar saat ia melihat sisa-sisa komponen plasma dan kabel konduktor yang dikumpulkan Ren dari pos jaga musuh sebelumnya.

"Baiklah!" seru Leo antusias, jemarinya bergerak lincah membongkar kotak perkakasnya. "Karena kau sudah menyediakan bahan dasarnya, aku akan mulai merakit senjata pertahanan jarak jauh kita. Sebuah meriam kejut elektromagnetik portabel yang bisa dipasang di atap gerbong. Mundurlah sedikit, Kapten, biarkan tangan dingin seorang jenius bekerja!"

Selama berjam-jam berikutnya, suara hantaman kunci inggris, percikan api las, dan dentingan logam berpadu di dalam gerbong kecil itu. Ren memperhatikan bagaimana Leo bekerja dengan kecepatan dan ketelitian yang luar biasa. Meskipun sikapnya urakan dan penuh canda, setiap gerakan tangan pemuda itu menunjukkan penguasaan teknologi mekanik yang jauh melampaui standar pemulung Zona Periferi.

Seiring berjalannya waktu, sebuah meriam mini bermoncong laras ganda dengan lilitan kawat tembaga di sekelilingnya mulai terbentuk di atas meja kerja. Leo menyeringai puas, memasang modul baterai plasma terakhir ke bagian belakang senjata tersebut.

"Selesai!" umum Leo bangga, mengangkat meriam portabel itu dengan kedua tangannya. "Ku kenalkan padamu: The Spark-Viper. Senjata ini bisa melumpuhkan sistem kelistrikan kendaraan lapis baja musuh dari jarak dua ratus meter."

Ren mengangguk, mengakui keahlian pemuda di hadapannya. Ia mengulurkan tangan untuk mengambil alih senjata tersebut guna diuji coba.

Namun, tepat saat jari Ren menyentuh gagang besi Spark-Viper, suara dengung mekanis yang sangat aneh mendadak berderit pelan dari bawah lantai gerbong.

Bukan suara angin badai. Bukan pula suara mesin diesel biasa.

Itu adalah suara getaran frekuensi rendah yang sangat kuat—suara roda baja besar berbobot ribuan ton yang bergesekan dengan rel utama stasiun tepat di bawah tempat mereka berpijak, disertai kedipan lampu merah menyala yang tiba-tiba memenuhi seluruh ruangan gerbong.

Sistem di dalam kepala Ren mendadak menyala terang, memancarkan teks peringatan darurat berukuran besar yang berkedip tanpa henti dengan warna merah darah yang menyilaukan:

[PERINGATAN MUTLAK: Deteksi Anomali Penyusupan di Perimeter Sektor 4!]

[Identifikasi Target: Pasukan Khusus Korporasi Aether - Unit Penghancur Rel (The Rail-Breakers).]

[Peringatan Kritis: Kereta Terdeteksi Terkunci oleh Sistem Pelacak Musuh. Jarak Target: 50 Meter dan Terus Mendekat!]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!