Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 027 - Jatuh

Ketukan pertama datang dari pintu balkon, bukan pintu kamar.

Aku membuka kaca. Gilang berdiri di luar dengan pakaian gelap, satu kaki masih di atas tangga lipat yang disandarkan dari taman samping. Hujan membuat rambutnya menempel di dahi.

"Kau benar-benar datang," bisikku.

"Kau membuka tirai."

"Bagaimana melewati penjaga?"

"Bayu mengalihkan dua orang ke gerbang depan. Kita punya waktu sedikit."

Nama Bayu mengejutkanku, tetapi tidak ada kesempatan bertanya. Gilang masuk, melipat tangga hingga jatuh ke semak, lalu memeriksa pintu kamar.

"Terkunci dari luar."

"Aku tahu."

Dia mengeluarkan kartu akses staf. "Aku juga tahu sistem rumah ini dibangun oleh perusahaan yang sekarang laporannya kubaca setiap hari."

Lampu indikator berubah hijau. Kunci terbuka.

Di lorong, dua penjaga tidak terlihat. Kami berlari menuju tangga utama. Kakiku belum sepenuhnya pulih dari luka lama, tetapi rasa takut membuatku mengabaikan nyeri yang mulai muncul di pergelangan.

"Mobil di mana?"

"Dua ratus meter dari gerbang belakang. Setelah keluar, kita langsung ke apartemen aman. Besok kita urus perlindungan hukum dan tiket London."

"Kau merencanakan semuanya."

"Aku punya tiga hari untuk marah. Marah membuatku sangat teratur."

Kami hampir mencapai bordes ketika alarm pendek berbunyi.

Lampu di koridor berubah merah.

"Berhenti!"

Dua penjaga muncul dari sayap kanan. Gilang mendorongku ke belakang tubuhnya.

"Jangan sentuh dia," katanya.

"Pak Gilang, kami diperintahkan menjaga Nyonya tetap di kamar."

Kata `Nyonya` terdengar seperti borgol baru.

"Dia bukan tahanan."

"Silakan bicara dengan Bos."

"Minggir."

Salah satu penjaga meraih bahu Gilang. Gilang memutar tubuh, melepaskan pegangan tanpa memukul. Penjaga kedua mencoba menutup jalur ke tangga. Aku menyelinap di antara mereka.

"Jangan berkelahi!" seruku. "Aku pergi karena pilihanku sendiri."

Suara mesin mobil terdengar dari halaman depan. Pintu utama terbuka.

Arkana pulang.

Semua orang berhenti sepersekian detik. Arkana berdiri di bawah lampu foyer, masih mengenakan pakaian dari kantor pencatatan. Jasnya hilang, dasi merah pemberianku longgar di leher. Matanya naik dari kartu akses di tangan Gilang menuju diriku.

"Jadi ini alasan tirai dibuka," katanya.

"Jangan mendekat," balasku.

"Kau baru menjadi istriku beberapa jam lalu."

"Di atas kertas yang kautekan ke tanganku."

Arkana menaiki anak tangga pertama. Gilang bergerak turun untuk menghadangnya.

"Dia akan pergi bersamaku," kata Gilang.

"Tanyakan kepadanya apakah aku pernah memberimu hak untuk membawa apa pun dari rumahku."

"Dia bukan milikmu."

"Aku tahu." Tatapan Arkana tidak meninggalkan wajahku. "Tapi dia juga bukan milikmu."

"Benar," kataku. "Aku milik diriku sendiri. Dan aku memilih pergi malam ini."

Rasa sakit melintas di wajah Arkana. Hanya sesaat. Setelah itu bos mafia kembali berdiri di sana.

"Kembali ke kamar. Kita bicara setelah semua orang keluar."

"Tidak."

"Larasati."

"Kau bilang cinta akan duduk di sebelah luka dan menunggu. Ini bukan menunggu. Ini mengurung."

Arkana naik satu anak tangga lagi. Gilang mengangkat tangan, menahan dada Arkana.

Para penjaga langsung menarik Gilang dari belakang.

Semuanya terjadi terlalu cepat.

Gilang berusaha melepaskan diri. Arkana meraih lenganku, bukan dengan keras, tetapi cukup untuk menghentikanku. Aku menarik tubuh menjauh. Seorang penjaga kehilangan keseimbangan dan bahunya menghantamku dari samping.

Kakiku menginjak ujung anak tangga.

Pergelangan yang pernah cedera terlipat.

Lantai menghilang.

Aku mendengar Arkana meneriakkan namaku.

Tubuhku jatuh beberapa anak tangga, berputar, lalu berhenti di bordes bawah. Tidak ada rasa sakit pada detik pertama. Hanya cahaya lampu yang bergetar di atas kepala dan suara orang berlari.

Kemudian nyeri datang sekaligus.

Pergelangan kakiku terasa terbakar. Pinggang dan perutku menegang. Saat mencoba bergerak, hangat yang tidak semestinya menyebar di balik gaun biru.

"Jangan bergerak." Arkana berlutut di sisiku. Kedua tangannya berhenti di udara, takut menyentuh tempat yang salah. "Panggil ambulans. Sekarang."

Gilang menjatuhkan diri di sisi lain. "Laras, lihat aku."

"Kakiku," bisikku.

"Aku di sini."

Arkana menatap noda gelap yang mulai muncul di kain gaunku. Wajahnya kehilangan seluruh warna.

"Kenapa ada darah?"

Tidak seorang pun menjawab.

Aku sendiri tidak tahu.

Ambulans membawa kami ke rumah sakit swasta terdekat. Arkana ikut di dalam, sementara Gilang mengikuti dengan mobil lain. Petugas memasang penyangga pada kaki dan memantau kondisiku. Setiap guncangan jalan membuat perutku kram.

Arkana duduk dekat kepala tandu. Tangannya menggenggam pagar logam, bukan tanganku.

"Aku tidak mendorongmu," katanya berulang kali, mungkin kepada diriku, mungkin kepada dirinya sendiri.

"Aku tahu."

"Aku hanya ingin menghentikanmu."

"Itulah yang membuatku jatuh. Semua orang ingin menghentikanku."

Matanya terpejam.

Di IGD, kami dipisahkan. Perawat memotong bagian bawah gaun agar kaki dapat diperiksa. Dokter memesan pemeriksaan darah, pemindaian, dan evaluasi kandungan setelah mendengar perdarahan serta kram. Pertanyaan terakhirnya membuatku bingung.

"Kapan haid terakhir Anda?"

Aku mencoba menghitung. Hari ulang tahun. Malam hujan. Minggu-minggu kacau setelahnya.

"Saya tidak ingat tepat."

"Ada kemungkinan hamil?"

Jawabanku tertahan.

Arkana dan aku hanya bersama satu malam.

Satu malam ternyata cukup untuk mengubah seluruh dunia, lalu menghancurkannya sebelum kami sadar dunia itu ada.

Beberapa jam kemudian, aku dipindahkan ke kamar rawat. Pergelangan kaki lamaku mengalami cedera kembali, tetapi tidak memerlukan operasi. Dokter memasang penyangga dan melarangku menapak sampai evaluasi lanjutan.

Berita lain tidak dapat ditahan oleh penyangga apa pun.

Dokter duduk di samping ranjang. Arkana berdiri dekat jendela. Gilang baru masuk dan berhenti di pintu.

"Hasil pemeriksaan menunjukkan Anda sempat hamil pada tahap awal," kata dokter dengan suara hati-hati. "Namun kehamilan itu tidak bertahan. Perdarahan saat ini perlu dipantau, tetapi kondisi Anda stabil."

Aku mendengar kata-katanya tanpa memahami susunannya.

"Sempat?" tanyaku.

"Kami turut prihatin."

Tanganku bergerak ke perut yang masih tampak sama seperti kemarin. Tidak ada tanda bahwa seseorang pernah berada di sana. Tidak ada kesempatan untuk tahu, berharap, atau takut.

"Apakah karena jatuh?"

Dokter berhenti sejenak. "Benturan dan stres fisik dapat menjadi bagian dari keadaan yang terjadi, tetapi kehilangan kehamilan awal juga bisa memiliki banyak faktor. Yang penting sekarang adalah memantau perdarahan, nyeri, dan pemulihan Anda. Ini bukan kesalahan Anda."

Bukan kesalahanku.

Kalimat itu tidak menemukan tempat untuk tinggal.

Arkana berbalik menghadap jendela. Bahunya tidak bergerak. Gilang menutup mulut dengan tangan.

Dokter menjelaskan tanda bahaya yang harus segera dilaporkan dan rencana pemantauan, lalu memberi kami waktu. Setelah pintu tertutup, keheningan terasa lebih keras daripada alarm mana pun.

Di meja ada gelang pasien dengan namaku dan status pernikahan yang baru berubah pagi itu. Aku membacanya berulang kali. Menikah. Pernah hamil. Kehilangan. Tiga kenyataan itu terjadi dalam satu hari, tetapi tidak satu pun terasa seperti hidupku sendiri.

Aku mencoba membayangkan wajah anak yang bahkan belum memiliki bentuk dalam pikiranku. Apakah matanya akan gelap seperti Arkana? Apakah ia akan menyukai piano atau membenci semua suara keras? Pertanyaan-pertanyaan datang terlambat, setelah tidak ada lagi masa depan yang dapat menjawab.

Tangisku akhirnya pecah. Gilang menunduk di sisi ranjang, sementara Arkana tetap dekat jendela. Tidak satu pun dari mereka berani memelukku. Untuk pertama kalinya, dua lelaki yang selalu berebut hak melindungiku mengerti bahwa ada kehilangan yang tidak dapat dikalahkan dengan kekuatan.

"Aku tidak tahu," kataku.

Arkana masih memandang keluar. "Aku juga."

"Kalau aku tahu, aku tidak akan mencoba turun malam ini."

Dia berbalik. Matanya merah, tetapi kering. "Tapi kau tetap ingin pergi."

"Aku ingin bebas, bukan kehilangan anak kita."

"Bagi tubuhmu, mungkin tidak ada perbedaan antara melarikan diri dan jatuh."

"Jangan menyalahkannya," kata Gilang.

Arkana memandang Gilang untuk pertama kalinya sejak dokter pergi.

Seorang penjaga di pintu berkata, "Bos, Pak Gilang yang membawa Nyonya keluar. Kami berusaha menahan, lalu Nyonya jatuh saat membela beliau."

"Keluar," perintah Arkana.

Penjaga itu pergi.

Gilang mendekati ranjang. "Ini tanggung jawabku. Aku memilih masuk malam ini."

"Aku yang membuka tirai," kataku.

"Laras."

"Jangan mengambil keputusan dariku lagi, termasuk keputusan untuk menanggung kesalahan ini."

Gilang meraih tanganku. Aku membiarkannya karena butuh sesuatu yang hangat untuk memastikan aku belum ikut jatuh ke tempat yang tidak dapat kembali.

Arkana melihat tangan kami.

Wajahnya menjadi kosong.

"Lepaskan dia," katanya kepada Gilang.

"Tidak saat dia membutuhkanku."

Arkana melangkah maju. Aku mendorong tubuh tegak meski perutku nyeri dan mengangkat tangan lain di depan Gilang.

"Jangan sentuh dia."

Arkana berhenti.

Di matanya, aku melihat kesimpulan yang keliru lahir dari semua pemandangan yang benar. Gilang datang membawaku pergi. Aku jatuh saat mencoba mengikutinya. Anak kami hilang. Dan sekarang aku melindungi lelaki lain dari suamiku sendiri.

"Jadi ini pilihanmu," katanya.

"Ini bukan soal memilih dia. Ini soal menghentikan lebih banyak kekerasan."

"Kau selalu punya alasan yang baik untuk berdiri di sisi semua orang kecuali aku."

"Arkana, dengarkan."

Dia mundur satu langkah.

Seluruh kemarahan menghilang dari wajahnya, menyisakan sesuatu yang lebih menakutkan: tidak ada harapan.

"Aku sudah mendengar cukup."

Dia meletakkan salinan dokumen pernikahan di meja samping ranjang. Cincin di jariku terasa dingin.

"Kau bebas," katanya. "Pergi bersama siapa pun yang kauinginkan."

"Aku tidak meminta kebebasan seperti ini."

"Tapi hanya ini yang bisa kuberikan sekarang."

Dia berjalan ke pintu.

Aku memanggil namanya. Arkana berhenti tanpa menoleh.

"Mulai hari ini," katanya, "jangan pernah biarkan aku melihatmu lagi."

Pintu tertutup di belakangnya.

Kali ini tidak ada suara kunci.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!