Indonesia
NovelToon NovelToon
ZHOO, SANG PENAKLUK EST

ZHOO, SANG PENAKLUK EST

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: zai_zuk

Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 31, DI HADAPAN RAJA KAEL.

Ibu kota Kaelthira, Kael-Vor, berdiri di atas tebing curam, dikelilingi tembok batu setinggi gunung. Istana Raja Kael bukanlah bangunan yang megah dengan hiasan emas — melainkan benteng yang gelap, kokoh, dan seolah tumbuh dari batu itu sendiri. Di setiap sudut berdiri patung-patung pahlawan kuno, wajahnya keras dan tak tersenyum.

Zhoo dan Arvin didorong masuk ke ruang takhta. Di ujung ruangan yang luas itu, di atas kursi batu yang kasar, duduk Raja Kael.

Ia pria berusia pertengahan lima puluh, rambut hitam yang sudah memutih di pelipis, wajahnya penuh garis ketegasan. Matanya seperti dua batu hitam yang tak bisa ditembus. Di sebelahnya berdiri dua orang pengawal raksasa, dan di sisi lain, seorang penasihat tua yang menatap lantai segan mengangkat wajah.

"Jadi kau yang ingin bertemu denganku," suara Kael berat dan dalam, bergema di seluruh ruangan. Ia tidak berdiri. Bahkan tidak mencondongkan tubuh. "Komandanmu bilang kau membawa pesan tentang Vereon."

Zhoo berlutut sebentar, lalu berdiri kembali — tidak terlalu rendah, tidak pula terlalu tinggi. "Benar, Baginda."

"Katakan. Tapi ketahuilah — jika kata-katamu tidak berharga, kau akan digantung di gerbang kota sebelum matahari terbenam."

"Aku datang untuk memperingatkan," ujar Zhoo tenang. "Raja Vereon sedang menyatukan pasukannya. Dia tidak akan berhenti sebelum seluruh benua Est berada di bawah kakinya. Dia tidak membutuhkan alasan untuk berperang — dia hanya butuh kesempatan. Dan selama kerajaan-kerajaan kita berdiri sendiri-sendiri, dia akan mengalahkan kita satu per satu."

Kael tertawa pendek, suara yang dingin dan tanpa senyum. "Kau pikir aku takut pada Vereon? Pasukanku adalah yang terbaik di benua ini. Prajuritku tidak pernah kalah di tanah sendiri."

"Dan itulah kelemahannya," balas Zhoo cepat. "Kau hanya berpikir tentang tanahmu sendiri. Tapi perang tidak mengenal batas. Jika dia menghancurkan kerajaan sebelahmu, maka besok dia akan berdiri di gerbangmu. Dan saat itu, tidak ada yang akan menolongmu."

Ruangan hening. Pengawal di samping Kael memegang gagang pedang mereka lebih erat. Penasihat tua itu mengangkat wajah sedikit, menatap Zhoo dengan pandangan yang penuh pertimbangan.

"Kau berani sekali," kata Kael pelan, namun suaranya penuh ancaman. "Kau datang ke rumahku, tanpa senjata, tanpa pengikut, dan kau berani memberitahuku bahwa aku lemah?"

"Aku tidak mengatakan kau lemah," jawab Zhoo tegas. "Aku mengatakan kita lemah — selama kita terpisah. Dan itu bukan kelemahanmu saja, itu kelemahan kita semua."

Kael berdiri perlahan. Ia tinggi, bahunya lebar, dan aura kekuasaannya menekan siapa saja yang berdiri di bawahnya. Ia berjalan turun dari takhta, berhenti tepat di depan Zhoo, menatapnya mata ke mata.

"Siapa kau sebenarnya, pemuda?" tanyanya rendah. "Bukan rakyat biasa yang berbicara seperti ini."

"Aku hanya seseorang yang ingin mengakhiri penderitaan yang tak perlu," jawab Zhoo. "Aku tidak meminta tahtamu. Aku tidak meminta tanahmu. Aku hanya meminta satu hal — agar kita berhenti saling bermusuhan sebelum terlambat."

Kael diam cukup lama. Napasnya terdengar berat dan teratur. Lalu ia berbalik perlahan.

"Kau boleh tinggal di istana ini selama tiga hari," katanya tanpa menoleh. "Selama itu, kau bebas berjalan di mana saja, tapi kau tidak boleh meninggalkan wilayah istana. Setelah itu — pergi dari Kaelthira. Dan jangan kembali kecuali kau membawa bukti, bukan sekadar kata-kata."

Zhoo menunduk sedikit. "Terima kasih, Baginda."

Saat mereka berjalan keluar ruangan, Arvin menghela napas panjang seolah baru saja keluar dari air yang membeku. "Kau benar-benar bermain dengan api," bisiknya.

"Api itu belum menyala," jawab Zhoo pelan. "Tapi aku ingin dia tahu — jika dia tidak berhati-hati, api itu akan membakar kita semua."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!