Saat membuka matanya, Clarissa Wilson tidak mengingat, kapan dia telah menikah dengan Stephen Sylvester, lelaki yang sudah lama ia suka.
Clarissa ingat, kalau ia baru saja menyatakan rasa sukanya pada Stephen, di acara kelulusan Sekolah mereka, tapi.. kenapa tiba-tiba saat membuka mata, ia sudah memiliki seorang putri berusia lima tahun bersama Stephen?
Apa yang sebenarnya terjadi? Clarissa merasa ada yang ia lewatkan, begitu ia terjatuh saat ingin memeluk Stephen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 14.
"Aurora, Mama temani kamu bermain, ya?"
Clarissa berlari masuk ke dalam rumah dengan wajahnya yang terlihat begitu gembira.
Thomas terlihat tidak senang melihat Clarissa yang berlari masuk ke dalam rumah, "Coba kamu pikir! demi si Ethan itu, setahun dia tidak pulang! sekarang dia tiba-tiba datang terlihat seperti tidak bersalah! trik apa lagi yang sedang dia buat!!"
Dengan wajah yang terlihat sangat marah, Thomas memandang istrinya saat mengeluarkan rasa kesalnya pada Clarissa.
"Sudahlah! dalam satu tahun ini, sudah beberapa kali kamu diam-diam menguntitnya! kamu sudah lihat sendiri, kalau putrimu itu tidak membuat ulah, kali ini setidaknya satu kali lagi percayalah padanya!"
Thomas terdiam mendengar apa yang dikatakan istrinya, dan ia pun tidak mengatakan apa pun lagi untuk menumpahkan rasa marahnya pada Clarissa.
Sekitar dua jam kemudian.
Clarissa tersenyum memandang putrinya yang sedang bermain menyusun puzzle, sembari tangannya mengelus kepala putrinya itu dengan lembut.
Aurora diam saja sembari bermain membiarkan Ibunya mengelus kepalanya, lalu merapikan anak rambut yang tergerai di keningnya.
Thomas yang baru saja selesai masak, meletakkan wadah hasil masakannya ke atas meja makan.
"Aurora, mari sini makan!" panggilnya kemudian sembari melepaskan apron nya.
"Ayo makan, nak!" Clarissa meraih tangan Aurora, dan menuntunnya ke meja makan, lalu menaikkan Aurora untuk duduk di atas kursi makan.
Rebecca dan Thomas memperhatikan apa yang dilakukan Clarissa kepada Aurora, dan mereka hanya bisa termangu saja melihat sikap lembut Clarissa kepada Aurora.
"Aurora, putri kecil Mama, Mama suapi kamu makan, ya?"
Clarissa menyendok sayur hasil masakan Ayahnya, dan menaruhnya ke atas piring Aurora, lalu kemudian ia menyuap Aurora.
Aurora membuka mulutnya menerima suapan Clarissa, dan Thomas serta Rebecca tidak percaya melihat perubahan putri mereka, yang begitu lembut mengurus cucu mereka.
"Makan lauk juga, ya?" Clarissa menyendok sepotong daging ayam, dan menyuapkannya ke mulut Aurora.
"Ma, aku datang menjemput Aurora!" terdengar suara Stephen masuk ke dalam rumah.
Daging yang disuapkan Clarissa ke dalam mulut Aurora, tiba-tiba terjatuh dari mulut Aurora begitu mendengar suara Ayahnya.
Sendok yang dipegang Clarissa juga ikut terjatuh ke lantai rumah.
Prang!!
Aurora pun seketika menangis telah menjatuhkan daging itu, karena ia spontan takut dimarahi Clarissa seperti biasanya.
"Huaaaa.... !!"
Stephen yang masuk melangkah ke ruang dapur makan, sontak terkejut melihat Aurora yang tiba-tiba menangis, dan melihat Clarissa duduk di dekat Aurora.
Ia pun menghambur ke arah putrinya dengan panik, "Aurora!!"
Tangannya dengan cepat menyingkirkan tangan Clarissa, yang tengah membersihkan noda bumbu pada pakaian Aurora.
"Apa yang kamu lakukan! menyingkir!!" sentak Stephen, lalu dengan cemas melihat keadaan putrinya itu, "Apa kamu baik-baik saja, nak? coba Papa periksa!"
Clarissa yang di dorong Stephen dengan kasar, berdiri di belakang Stephen dengan wajah yang terlihat cemas, karena merasa tidak menyakiti Aurora sama sekali.
Aurora masih menangis tidak menjawab Stephen, membuat Stephen menjadi marah, lalu bangkit dari berjongkoknya memandang Clarissa dengan sorot mata yang begitu marah.
"Clarissa! sudah ku katakan padamu! jangan dekati Aurora!!!"
Clarissa nyaris menangis mendengar suara bentakan Stephen.
Ia terlihat begitu gugup, berdiri diam seperti biasa ia lakukan, kalau sedang dimarahi saat ia berusia delapan belas tahun.
"A.. aku, aku hanya ingin menyuapi Aurora, dan mau membersihkan noda di baju Aurora, dan mengambil lauk yang terjatuh ke lantai!" jawab Clarissa menjelaskan, kalau ia sama sekali tidak memukul Aurora.
"Stephen, memang benar lauk yang akan disuapkan Clarissa tidak sengaja terjatuh ke lantai! sepertinya Clarissa ingin memperbaiki sikapnya, dan ingin berubah! tadi dia sangat baik pada Aurora!" Rebecca ikut menjelaskan kepada Stephen.
"Iya, benar!" Thomas ikut menimpali.
Clarissa melihat ke arah orang tuanya, menjelaskan tentang perubahan sikapnya pada Stephen, yang sama sekali ia merasa tidak pernah melakukannya.
Bersambung.........
ihhh gemesss deh kenapa gk saling jujur gtu. atau komunikasi kek bir gk salah paham... 😭
memang benar sekertaris nya ettan berbohong.baru aj mulai baikan udah mau salah paham lagi...