Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.
Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.
Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.
Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.
Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan Ringan
Setelah pagi itu berlalu, Aurora masih belum bisa melepaskan segala belenggu yang bersemayam di benaknya. Bahkan setelah meninggalkan meja makan seusai sarapan, Aurora masih membawa segala pikirannya itu hingga ke taman belakang mansion. Lokasi kesukaannya untuk kembali menjadi Aurora yang tenang.
Taman belakang adalah persinggahan terbaiknya. Hanya ada Aurora dan bunga-bunga indah bermekaran memenuhi taman. Di sana Aurora memilih menghabiskan waktunya. Udara masih terasa sejuk membawa semilir aroma bunga yang wangi. Wanita itu menyukainya seperti sebuah candu yang sulit untuk ditinggalkan.
Ketenangan jiwanya perlahan bersemi. Nyatanya alam adalah tujuan paling ampuh untuk dijadikan pelarian sementara.
Sengaja dengan kaki telanjang Aurora berjalan perlahan di antara tanaman mawar yang tertata rapi. Dengan telapak kakinya menyentuh permukaan tanah yang dingin, bunga-bunga bergerak pelan ditiup angin seolah sedang memberi penghiburan terhadap perasaan Aurora yang sedang gelisah.
Namun walau demikian, Aurora tetap tidak mampu mengelak soal pikirannya yang masih tertinggal pada percakapannya dengan Rozen tadi pagi.
"Menurutlah. Kulakukan ini karena aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu."
Kalimat sederhana itu terus berputar di kepala Aurora dan mengisi perasaan sepihaknya.
Aurora menghela napas. Semakin hari semakin sulit baginya membedakan mana perhatian Rozen sebagai seorang suami yang bertanggung jawab dan mana perhatian yang lahir dari sesuatu yang lebih dalam. Aurora tahu bahwa suaminya belum pernah mengatakan bahwa pria itu mencintainya.
Tetapi sayangnya hati memang tidak selalu membutuhkan pengakuan untuk berharap.
Bibirnya pada akhirnya hanya bisa tersenyum kecil.
"Jangan selalu berharap, Aurora. Atau hatimu akan terluka." Dalam bisik sendu, Aurora menegur dirinya sendiri.
Pada sebuah bangku taman, Aurora memilih untuk duduk setelah berjalan-jalan sebentar hingga membuat perasaannya menjadi sedikit lebih lega. Dan untuk beberapa saat, Aurora hanya diam sembari menikmati ketenangan.
Setidaknya sampai suara langkah kaki terdengar dari arah belakang.
Dengan cepat Aurora menoleh dan mendapati Christon berdiri beberapa meter darinya. Aurora tidak mengatakan apapun. Wanita yang mengenakan gaun soft pink itu hanya tersenyum sekilas.
"Sendirian?" ucap Christon, orang kepercayaan Rozen.
Aurora mengangguk. "Ya. Begitulah."
Pria berpakaian rapi berwarna hitam itu tersenyum tipis. "Aku kira Nona Aurora masih tidur."
"Aku sudah bangun sejak pagi." Aurora membalas dengan lembut, tanpa melepaskan senyuman dari bibir ranumnya.
Beberapa saat berlalu dengan mereka terdiam. Mungkin karena canggung dan terlalu sunyi di taman belakang pada saat itu. Dan para pelayan pun belum terlihat untuk membersihkan taman.
Namun anehnya, kecanggungan itu tidak lagi terasa seberat sebelumnya. Aurora memang tidak terlalu dekat dengan Christon sejak menjadi istri Rozen. Bahkan pertemuan-pertemuan tidak disengaja sering menimbulkan canggung yang begitu sulit dihindari. Namun, seiring berjalannya waktu, baik Aurora maupun Christon, mereka telah belajar untuk menerima kehadiran masing-masing. Aurora sebagai istri Rozen, dan Christon sebagai orang kepercayaan Rozen. Mereka berdua adalah dua manusia yang telah memiliki ikatan erat dengan sang pewaris Salvadore.
Christon kemudian duduk di ujung bangku. Sementara Aurora di ujung sebelahnya. Harus ada yang memulai percakapan, dan orang itu adalah Christon.
"Aku dengar Rozen menyuruhmu tidak pergi sendirian."
Aurora menoleh dengan tatapan seakan bertanya, "Bagaimana kamu tahu?"
"Dia memberitahumu?" tanya Aurora pada akhirnya.
Christon di ujung bangku tersenyum lalu menggeleng, "Rozen tidak perlu memberitahuku."
"Lalu?” Aurora masih menanti penjelasan.
"Kalau Rozen mulai protektif, semua orang akan langsung mengetahuinya."
Aurora terdiam karena tidak menduga akan mendengar jawaban seperti itu. Protektif?
"D-Dia tidak protektif."
"Benarkah?" Christon menimpali dengan nada gurauan
Christon mengangkat alis sementara Aurora tertunduk menahan rasa malunya. Aurora tidak menjawab namun pipinya sudah memerah dengan semburan hangat menjalar di sekujur wajahnya.
Christon memperhatikannya sebentar sebelum akhirnya tersenyum. Pria itu paham dengan apa yang Aurora alami. Menikah hanya sebagai pengantin pengganti tentu tidak sesederhana itu. Terlebih lagi jika menyangkut soal perasaan. Christon mengerti bahwa Aurora sedang berdiri di situasi yang sulit untuk wanita itu kendalikan. Menikah dengan pria yang belum dikenal secara tiba-tiba pasti akan membuat bingung tentang perhatian-perhatian yang mungkin secara tidak sengaja Rozen perlihatkan dan disalah artikan oleh Aurora.
"Sepertinya Nona Aurora sendiri tidak yakin."
Nyaris saja Aurora hendak membalas, tetapi suara langkah seseorang dari kejauhan membuat wanita itu urung.
Ternyata seorang pelayan yang berjalan cepat menuju mansion, membawa sebuah amplop hitam di tangannya.
Christon menjadi curiga, terlebih lagi dengan amplop itu. Dengan segera pria itu bangkit berdiri, lantas berpamitan kepada Aurora.
Aurora menjadi turut dilanda curiga setelah menyaksikan bagaimana Christon bereaksi baru saja. Namun Aurora tidak berkata apa-apa. Ia menahan dirinya dan segala bentuk kegelisahan yang sejak kemarin menerpanya.
...***...
Sepeninggalan Christon dari taman belakang, pria itu sedang menuju ke ruangan Rozen. Sementara di ruang kerja Rozen, amplop tersebut telah berada di atas meja. Tidak ada nama pengirim bahkan tidak ada alamat. Satu-satunya tanda dari si pengirim hanya sebuah simbol kecil tercetak pada bagian depan.
Rozen menatap simbol itu cukup lama sebelum membukanya. Sorot matanya penuh selidik tentang simbol yang cukup dikenalnya itu.
Setelah amplop dibuka, dari dalamnya hanya keluar satu lembar kertas dengan permukaan yang bertuliskan: "Kau seharusnya membatalkan pernikahan itu."
Rahang Rozen seketika mengeras sebelum membaca baris berikutnya.
"Isabella pergi karena dia tahu bahwa kau tidak pernah benar-benar menginginkannya."
Lalu pada kalimat terakhir berhasil menohok dadanya. Perasaan nyeri yang tiba-tiba hadir, namun tidak Rozen mengerti, ketika nama istrinya disebut.
"Jangan ulangi kesalahan yang sama dengan Aurora."
Rozen menatap kertas itu tanpa ekspresi. Namun sorot matanya berubah. Bentuk yang diartikan bukan sebagai ketakutan, melainkan amarah.
Terlebih lagi dengan fakta bahwa seseorang sedang mengawasinya secara terang-terangan. Dan orang itu mengetahui terlalu banyak tentang kehidupan pribadinya.
Rozen meremas kertas tersebut hingga pada kuku jarinya kehilangan rona hingga memutih sempurna.
"Siapa yang mengirimmu?"
Pada kesunyian ruang kerjanya, Rozen berucap walau tanpa ada yang akan menjawabnya.
...***...
Pada waktu yang sama dan di tempat yang lain, Isabella menerima kabar melalui sebuah pesan di ponselnya yang berisi: "Pesan sudah sampai kepada Rozen."
Isabella dengan ponsel di tangannya membaca pesan itu berulang kali. Memastikan bahwa dirinya tidak salah membaca.
Wajahnya tampak tegang. Dan keadaan itu sudah sangat menjelaskan bahwa pesan itu memang berbunyi demikian.
"Apa yang dilakukannya?"
Adrian yang berdiri di dekat jendela menoleh. "Siapa?"
Isabella menunjukkan layar ponselnya. Mengarahkan layarnya pada Adrian. "Dia mulai memainkan Rozen."
Adrian mengerutkan kening. "Valeria?"
Isabella tidak menjawab namun diam itu sudah Adrian pahami maknanya.
Isabella segera berjalan cepat menuju meja untuk mengambil foto Aurora dan menatap lama pada potret saudari kembarnya. "Kalau dia benar-benar kembali, Aurora akan menjadi sasaran pertama."
Adrian segera mendekati Isabella dan menyentuh lembut pada kedua bahu wanita itu.
"Kita harus segera pergi."
Isabella menggeleng. "Tidak."
"Tapi kita tidak bisa terus berada di sini!" Kali ini Adrian menaikkan sedikit nada suaranya. Bukan berniat untuk membentak wanitanya, tapi karena Adrian sangat mengkhawatirkan keselamatan wanitanya itu.
Isabella menggenggam foto Aurora lebih erat.
"Aku tahu. Tapi sebelum kita pergi, kita harus memastikan Aurora aman.
...***...
Sore menjelang. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Aurora benar-benar menghabiskan waktunya di taman. Dan ketika langit mulai berganti gelap, Aurora akhirnya kembali ke mansion.
Aurora dengan langkah santai melewati lorong menuju kamarnya. Tapi tanpa disengaja, dari sana ia melihat Rozen keluar dari ruang kerja.
Saat itu pandangan mereka bertemu. Aurora seperti biasa akan tersenyum sementara Rozen seperti biasa akan mengangguk. Sebuah interaksi yang masih bertahan hingga saat ini.
Ketika Aurora hendak berjalan melewatinya, Rozen tiba-tiba memanggil.
"Aurora."
Aurora berhenti. Wanita itu menoleh, "Ya?"
Pada posisinya yang berhadapan dengan Aurora, pria itu menatap istrinya beberapa detik sebelum akhirnya melanjutkan bersuara.
"Kalau ingin pergi ke luar mansion, beri tahu aku."
Aurora mengangguk kikuk dan bingung karena selama ini, sejak mereka menikah, Rozen tidak pernah membatasi pergerakannya
"Kenapa tiba-tiba?"
Rozen tidak menjawab. Yang dilakukannya hanya menatap Aurora dengan keadaan tangan yang masih bersarang di dalam sakunya, sedang meremas erat potongan kertas yang baru saja dibacanya di ruang kerja tadi.
Tanpa dikehendaki oleh Rozen, pemikiran tentang pernikahannya telah berubah. Sejak menikahi Aurora, Rozen menyadari bahwa pernikahan ini bukan hanya sekadar urusan perjanjian keluarga semata.
Melainkan tentang keselamatan Aurora. Rozen yakin bahwa seseorang dari masa lalunya mulai mencoba menarik Aurora ke dalam permainan yang seharusnya hanya menjadi urusannya.
Rozen memang menikahi Aurora karena terpaksa. Tapi jika pernikahan itu justru membahayakan wanita yang telah menjadi istrinya, Rozen tidak akan tinggal diam. Rozen akan lawan!
Sementara itu, di balik lindungan tembok kokoh Mansion Salvadore, Aurora dan Rozen tidak menyadari bahwa sebuah mobil hitam berhenti dan terparkir di seberang jalan.
Di dalamnya, seseorang sedang memandang ke arah mansion. Pada genggaman tangannya memegang sehelai foto lama yang menampilkan sosok Rozen di sana. Kemudian ia memperlihatkan senyumnya dengan penuh misteri
"Tenang, Rozen sayang."
Tatapan orang itu begitu dingin, memandangi dengan intens potret Rozen di tangannya.
Aku hanya mengingatkanmu tentang siapa yang sebenarnya lebih pantas berdiri di sisimu."
...^^^***^^^...