Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.
Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.
Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Gagal Miskin, Nyamuk Ganas, dan Pemilik Baru Kedai Mbah Uti
Pukul dua dini hari di Penginapan 'Sinar Terang', sebuah losmen melati kelas bawah yang terletak persis di seberang alun-alun kecamatan.
Plak!
"Mati kau, vampir sialan!" umpat Raka Narendra untuk yang kedua puluh kalinya malam itu.
Asisten eksekutif berpenghasilan miliaran rupiah itu kini duduk bersila di atas kasur kapuk yang keras dan berbau apek. Ia hanya mengenakan kaus kutang putih dan celana pendek kolor bermotif batik murah yang dibelinya di pasar malam tadi sore. Tangan kanannya memegang raket nyamuk elektronik yang terus mengeluarkan bunyi bzzzt setiap kali menyambar kawanan serangga yang berdengung di telinganya.
"Bos, aku bersumpah, nyamuk di desa ini ukurannya sebesar helikopter!" keluh Raka histeris, menatap punggung bosnya dengan tatapan nyaris menangis. "Dan kasur ini... astaga, ini kasur atau papan penggilasan cucian?! Tulang rusukku rasanya mau patah semua! Kita pulang saja, ya? Kita tidur di hotel bintang lima di kota sebelah, besok pagi kita ke sini lagi. Bagaimana?"
Di ambang jendela kayu yang keropos, Arga Danendra berdiri mematung.
Pria raksasa itu mengenakan kaus hitam polos yang dibeli Raka di lapak obralan. Ia sama sekali tidak memedulikan gigitan nyamuk atau kasur yang keras. Mata elangnya yang tajam menembus kegelapan malam, menatap lurus ke arah sebuah ruko sederhana di seberang alun-alun.
Kedai Roti Mbah Uti.
Arga melihat lampu kecil di bagian dapur kedai itu menyala. Siluet seorang gadis mungil terlihat bergerak mondar-mandir di balik jendela kaca buram. Itu Senja. Gadis itu sudah bangun jam dua pagi untuk mulai menguleni adonan roti dan memanaskan oven tradisional yang masih menggunakan kayu bakar.
Dada Arga terasa sesak melihatnya.
"Dia bekerja terlalu keras," gumam Arga dengan suara serak, tangannya mencengkeram kusen jendela hingga kayu rapuh itu berderit. "Asap kayu bakar itu akan merusak paru-parunya. Dan dia harus mengangkat karung tepung terigu seberat dua puluh lima kilo sendirian karena nenek itu sudah terlalu tua."
Raka meletakkan raket nyamuknya, menghela napas panjang melihat tingkat keputusasaan bosnya.
"Lalu Bos mau bagaimana? Tadi siang kau bilang sendiri ingin membuang hartamu dan menjadi pria miskin untuk meluluhkan hatinya," sahut Raka sinis, mengusap bekas gigitan nyamuk di lengannya. "Kalau kau pria miskin, kau hanya bisa diam melihat gadis yang kau cintai bekerja keras. Itulah realita orang kere, Bos. Selamat datang di dunia nyata."
Arga mengertakkan rahangnya. Insting CEO dan insting predator pelindungnya memberontak hebat.
Selama tujuh tahun ia membangun kerajaan bisnis Danendra Group, tujuannya hanya satu: agar ia tidak pernah lagi merasa tak berdaya. Dan kini, melihat wanitanya harus banting tulang di jam dua pagi sementara ia memiliki triliunan rupiah di rekeningnya yang membeku, membuat kewarasan Arga nyaris putus.
"Aku tidak bisa membiarkannya seperti ini," geram Arga pelan, memutar tubuhnya menghadap Raka dengan mata yang menyala tajam.
"Raka. Besok pagi-pagi sekali, hubungi notaris rahasia kita. Aku ingin kau membeli kedai roti itu beserta seluruh tanah dan bangunannya. Beli tunai."
Raka yang baru saja hendak membaringkan punggungnya, seketika terduduk tegak seolah baru saja disambar petir. Mulut asisten itu menganga lebar.
"A-Apa?! Beli kedainya?!" Raka menepuk jidatnya dengan putus asa. "Bos! Kau baru bertahan menjadi orang miskin selama tepat dua belas jam! Dua belas jam! Dan sekarang kau sudah mau main beli real estate di pelosok desa?! Kau ini niat jadi gembel atau jadi mafia tanah?!"
"Ini bukan pamer kekuasaan, Raka!" bantah Arga keras kepala. Pria arogan itu selalu punya ribuan alasan pembenaran. "Ini namanya... subsidi operasional secara anonim. Lakukan secara rahasia. Jangan gunakan nama Danendra Group."
Raka memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. "Bos... kalau Senja tahu kedai itu dibeli oleh 'pemilik baru' yang misterius, dia akan langsung deja vu! Ingat kejadian di Kedai Harum Manis Jakarta? Modusmu ini basi, Bos! Dia itu gadis pintar, dia pasti langsung curiga kalau itu ulahmu!"
"Maka pastikan dia tidak tahu!" potong Arga mutlak, melangkah mendekati Raka dengan aura intimidasi yang membuat asisten itu langsung kicep.
"Beri Mbah Uti tawaran yang tidak masuk akal tingginya, dengan syarat Mbah Uti tetap bertindak sebagai pemilik di depan Senja. Berikan dana hibah untuk membeli oven listrik industri dan mesin pengaduk adonan otomatis. Dan yang paling penting... aku ingin gaji Senja dinaikkan tiga kali lipat, dan dia tidak boleh lagi mengangkat barang yang beratnya lebih dari dua kilogram!"
Raka menatap bosnya dengan pandangan takjub sekaligus ngeri. "Tidak boleh mengangkat barang lebih dari dua kilogram? Bos, kau pikir dia sedang hamil muda?! Lama-lama kau menyuruhku membayarnya hanya untuk bernapas di kedai itu!"
"Lakukan saja, Raka, atau kuikat kau di pohon beringin alun-alun itu untuk jadi santapan nyamuk," ancam Arga dengan tatapan mematikan.
Raka menelan ludah, langsung memberikan hormat ala militer. "Siap, Bos! Besok pagi hamba akan menjelma menjadi malaikat donatur bersarung batik!"
Arga kembali menatap ke luar jendela. Ia tahu ini melanggar janjinya sendiri untuk melepaskan hartanya. Namun, melihat punggung kecil Senja yang kelelahan, ego Arga kalah telak. Biarlah ia dianggap tidak konsisten, biarlah ia gagal menjadi gembel, asalkan bidadarinya tidak perlu menyiksa diri dengan asap kayu bakar dan karung tepung sialan itu.
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menyinari kecamatan kecil tersebut.
Senja sedang menyapu halaman depan kedai saat sebuah mobil Avanza silver berhenti di seberang jalan. Seorang pria mengenakan kemeja batik yang kedodoran dan kacamata hitam turun dari mobil, membawa sebuah koper hitam. Itu Raka.
Tentu saja, Senja tidak mengenalinya, karena Raka telah menyamar habis-habisan dan memakai kumis palsu yang dibelinya dari pasar malam.
"Permisi, Mbah..." Raka menghampiri Mbah Uti yang sedang menjemur kerupuk di samping kedai. Ia melirik Senja sekilas dengan panik, lalu buru-buru menarik lengan Mbah Uti agak menjauh.
Setengah jam kemudian, Mbah Uti kembali ke dalam kedai dengan wajah pucat pasi dan tangan yang bergetar memeluk sebuah buku tabungan baru.
"Mbah? Mbah Uti kenapa? Sakit?" tanya Senja cemas, buru-buru meletakkan sapunya dan memapah wanita tua itu duduk di kursi kayu.
"N-Nduk Senja... Mbah nggak lagi mimpi kan, Nduk?" Mbah Uti menatap Senja dengan mata berkaca-kaca. "Bapak yang tadi... dia bilang dia perwakilan dari seorang dermawan anonim dari Jakarta. Dermawan itu sangat menyukai resep roti sobek Mbah yang dulu pernah dia makan waktu kecil..."
Mbah Uti menceritakan semuanya dengan napas terengah-engah.
Pemilik baru itu tidak hanya membeli tanah dan ruko ini dengan harga tiga miliar rupiah—harga yang gila untuk ukuran desa—tetapi juga memberikan dana renovasi dan mesin-mesin canggih. Syaratnya hanya satu: Mbah Uti tetap menjadi manajer, kedai tidak boleh tutup, dan pelayan bernama Senja harus dipertahankan namun tugasnya dikurangi.
Mendengar cerita itu, darah Senja berdesir dingin.
Dermawan misterius dari Jakarta? Membeli kedai? Menaikkan gaji dan meringankan bebanku?
Mata Senja membelalak. Rasa mual tiba-tiba menyergap perutnya. Skema ini terlalu mirip. Terlalu identik dengan apa yang terjadi di Kedai Harum Manis sebulan yang lalu!
Tangan Senja mengepal kuat. Arga Danendra... dasar pria keras kepala! Kau pikir aku bodoh?! Kau berjanji untuk pergi, tapi kau malah membelinya lagi?!
Kemarahan Senja memuncak. Gadis itu melepaskan celemeknya, bersiap untuk berlari keluar kedai, mencari pria brengsek itu dan meneriakinya habis-habisan. Ia akan menolak semua ini. Ia akan pindah ke desa lain hari ini juga jika perlu!
Namun, sebelum langkah pertama Senja menyentuh pintu keluar, suara lonceng kedai berbunyi bergemerincing.
Kring!
"Permisi, Mbah..."
Suara bariton yang sangat berat, serak, dan penuh dengan kerendahan hati itu menghentikan langkah Senja secara instan.
Di ambang pintu, berdiri Arga Danendra.
Namun, penampilan pria itu sukses membuat Senja mematung tak percaya.
Tidak ada kemeja sutra hitam. Tidak ada aura membunuh yang arogan. Tidak ada sepatu kulit mengilap jutaan rupiah.
Arga Danendra—CEO penguasa ibu kota yang kemarin mematahkan tangan orang dalam sekali kedip—kini berdiri mengenakan kemeja biru kotak-kotak usang yang harganya lima puluh ribu rupiah di pasar malam. Kemeja yang dulu dibelikan oleh Senja. Di kakinya, ia mengenakan sandal jepit karet berwarna hijau. Rambutnya sengaja disisir ke bawah, menutupi dahinya, membuat kesan tajam di mata elangnya memudar, digantikan oleh sorot mata seekor anjing besar yang tersesat dan memelas.
Senja menganga. Amarah yang tadi memuncak hingga ke ubun-ubun, kini mendadak tersendat oleh pemandangan yang sangat tidak masuk akal ini.
A-Apa yang sedang dia lakukan dengan pakaian itu?! batin Senja menjerit panik dan kebingungan.
Arga sama sekali tidak menatap Senja. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, melangkah mendekati Mbah Uti dengan sangat sopan, lalu membungkukkan badannya—sebuah gerakan yang tidak pernah dilakukan Arga Danendra seumur hidupnya, bahkan di depan presiden sekalipun.
"Permisi, Mbah," ucap Arga dengan nada merendah yang sangat menghayati peran. "Nama saya Arga. Saya seorang pengangguran yang sedang mencari kerja. Tadi saya dengar dari warung depan, kedai Mbah baru saja mendapat suntikan dana dan akan membeli mesin oven baru."
Mbah Uti, yang tidak tahu apa-apa tentang hubungan masa lalu Arga dan Senja, menatap pria raksasa di depannya ini dengan pandangan takjub.
"I-Iya, Mas Arga. Benar sekali," jawab Mbah Uti ramah. "Masnya cari kerja?"
"Benar, Mbah," Arga memasang wajah paling melas yang bisa ia buat. Ia melirik Senja dari sudut matanya, melihat wajah gadis itu memerah karena menahan amarah bercampur syok.
"Saya bersedia melakukan apa saja, Mbah. Saya bisa mengangkat karung tepung. Saya bisa menggosok wajan hitam. Saya bisa mengepel lantai kedai sampai mengilap. Saya juga bisa dipekerjakan sebagai petugas keamanan untuk menjaga kedai ini—dan menjaga mbak pelayan di sana—dari orang jahat," ucap Arga penuh penekanan di akhir kalimat, menyindir Senja secara terang-terangan.
Senja nyaris tersedak ludahnya sendiri. Menjaga pelayan dari orang jahat?! Kau-lah orang jahatnya, Tuan Arga! jerit Senja dalam hati.
"Saya tidak minta gaji besar, Mbah," lanjut Arga, melancarkan serangan terakhirnya. "Mbah cukup memberi saya makan siang dua kali sehari, dan mengizinkan saya tidur di gudang belakang bersama tumpukan kayu bakar. Saya sebatang kara, Mbah. Saya tidak punya siapa-siapa."
Kalimat 'sebatang kara' dan 'tidak punya siapa-siapa' yang diucapkan oleh pria dengan kekayaan puluhan triliun rupiah itu membuat urat malu Raka—yang sedang mengintip dari balik pohon seberang jalan—rasanya ingin meledak saking cringe-nya.
Namun, bagi Mbah Uti yang berhati malaikat, cerita itu sangat menyentuh.
"Ya ampun, Gusti... kasihan sekali kamu, Mas," Mbah Uti mengusap air matanya yang mudah menetes. "Kebetulan Mbah memang butuh tenaga laki-laki yang kuat untuk mengangkat karung tepung dua puluh lima kilo. Soalnya Nduk Senja sudah tidak boleh mengangkat barang berat lagi sama bos baru kita."
Senja membelalakkan matanya ngeri. "M-Mbah! Tunggu dulu! Mbah tidak bisa mempekerjakan pria ini!"
Mbah Uti menoleh heran pada Senja. "Loh? Kenapa, Nduk? Kan kasihan dia pengangguran."
"D-Dia... dia itu..." Senja kehabisan kata-kata. Ia tidak mungkin mengatakan pada Mbah Uti bahwa pria berwajah melas ini adalah mafia kejam yang bisa membeli satu kabupaten ini jika ia mau. Terlebih lagi, Senja menyadari satu jebakan maut: jika ia membongkar identitas Arga, maka Mbah Uti akan tahu bahwa 'investor anonim' itu adalah Arga. Dan Mbah Uti pasti akan merasa sangat berhutang budi.
Senja terjebak. Sangkar emas yang dulu ia hancurkan, kini telah bertransformasi menjadi jaring laba-laba raksasa yang sangat halus dan licik.
"Senja? Kamu kenal dengan Mas Arga ini?" tanya Mbah Uti curiga.
Arga menatap Senja dengan senyum tipis yang sangat menyebalkan di mata gadis itu, namun terlihat sangat sopan di mata Mbah Uti.
"Mungkin Mbak Senja merasa pernah melihat saya di jalanan saat saya sedang memungut botol bekas, Mbah," sahut Arga dengan wajah tanpa dosa, mengucapkan kebohongan paling brutal abad ini dengan sangat lancar.
Memungut botol bekas, gundulmu! umpat Senja dalam hati, meremas ujung bajunya menahan diri untuk tidak melempar stoples nastar ke kepala pria itu.
"Ah, begitu," Mbah Uti mengangguk paham. "Ya sudah, Mas Arga. Mulai hari ini Mas Arga kerja di sini. Tugasnya beres-beres, angkat tepung, cuci wajan, dan jagain kedai ya."
"Terima kasih banyak, Mbah," Arga menunduk hormat.
Mbah Uti kemudian beranjak ke belakang untuk membuat teh hangat. Menyisakan Arga dan Senja berdua di ruang depan kedai.
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu.
Begitu Mbah Uti menghilang dari pandangan, raut wajah melas Arga seketika memudar, digantikan oleh tatapan elang yang dalam, intens, dan penuh dengan kerinduan yang membakar. Ia melangkah perlahan mendekati Senja yang berdiri kaku di balik etalase.
"Apa maumu sebenarnya?" desis Senja dengan suara bergetar, memundurkan langkahnya satu sentimeter. "Kau membohongi Mbah Uti. Kau membeli kedai ini diam-diam. Dan sekarang kau memakai kemeja murah ini untuk mengolok-olokku?!"
"Aku tidak mengolok-olokmu," bisik Arga, suaranya kembali berubah menjadi bariton serak yang dulu selalu membuat jantung Senja berdebar gila.
Arga berhenti tepat di seberang etalase kaca, menatap mata bulat yang sedang memancarkan kemarahan bercampur keputusasaan itu.
"Kau bilang kau membenciku karena kebohonganku, karena hartaku, dan karena duniaku yang kejam, kan?" ucap Arga pelan, seolah sedang mengucapkan sebuah sumpah suci.
"Maka aku membuang semuanya, Senja. Aku membuang jas kemegahanku. Aku membuang identitasku sebagai CEO. Mulai hari ini, Arga Danendra yang kejam itu sudah mati. Yang berdiri di hadapanmu saat ini hanyalah 'Kak Arga'-mu. Pria miskin yang tidak memiliki apa-apa selain kemeja biru pemberianmu ini, dan sebuah hati yang tidak bisa berhenti berdetak untukmu."
Kata-kata itu meluncur dengan kekuatan emosional yang sangat dahsyat. Senja menelan ludah, dadanya terasa sesak. Pertahanan yang ia bangun dengan susah payah selama sebulan ini, mendadak retak hanya oleh satu tatapan terluka dari mata pria raksasa ini.
"Aku tidak memintamu untuk memaafkanku hari ini," lanjut Arga, mengulurkan tangannya menyentuh ujung jari Senja yang bertumpu di atas kaca. Senja tersentak, namun entah mengapa, tubuhnya menolak untuk menarik tangannya menjauh. Kehangatan dari tangan pria itu terlalu merindukan untuk dilepaskan.
"Aku hanya memintamu untuk mengizinkanku berjuang dari awal. Biarkan aku mencuci piringmu, menyapu lantaimu, dan mengangkat bebanmu," bisik Arga, menatap lurus ke kedalaman jiwa Senja. "Hukumlah aku sesukamu, Senja. Maki aku, siksa aku dengan sikap dinginmu. Tapi kumohon... jangan pernah lagi menyuruhku pergi. Karena jika kau pergi lagi, aku benar-benar akan mati."
[Pesan Author:]
(Saat seorang pria menggunakan kekuasaannya untuk menundukkan dunia, itu adalah hal yang biasa. Namun, ketika seorang pria yang memiliki dunia rela menundukkan harga dirinya, menanggalkan mahkotanya, dan berlutut di atas lantai kotor hanya untuk mendapatkan kembali senyum satu wanita... itu adalah keajaiban cinta yang paling langka.
Arga menyadari bahwa sangkar emas tidak akan pernah bisa menawan hati seekor bidadari. Oleh karena itu, ia menghancurkan sangkar itu dari dalam, membuang kunci kekuasaannya, dan memilih untuk masuk ke dalam sangkar kayu yang sederhana bersama Senja. Pertempuran Arga kali ini bukan lagi menggunakan pedang atau uang, melainkan menggunakan sapu lantai, sabun cuci piring, dan pengorbanan ego yang tak terbatas. Dan bagi Senja, tembok pertahanannya yang kokoh mungkin bisa menahan serangan peluru, namun apakah ia sanggup menahan gempuran ketulusan dari pria yang rela menjadi 'gembel' demi dirinya?)
Matahari menjelang siang di kedai itu. Senja menarik napas panjang, menarik tangannya dari sentuhan Arga, dan membuang muka untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah dan matanya yang berkaca-kaca.
"Oven di belakang perlu dibersihkan dari sisa arang kayu, Tuan Arga," perintah Senja dengan suara sedingin mungkin, mencoba mempertahankan sisa-sisa tembok kebenciannya yang mulai runtuh. "Jika kau benar-benar bekerja di sini, silakan gosok sampai bersih. Dan jangan harap aku akan membantumu."
Arga tersenyum tipis, sebuah senyuman pertama yang nyata setelah satu bulan hidup dalam penderitaan.
"Sesuai perintahmu, Bidadariku," sahut Arga pelan, lalu berbalik melangkah menuju dapur belakang, meninggalkan Senja yang memegang dadanya sendiri, berusaha menenangkan jantungnya yang kembali berdetak dengan ritme yang sangat berbahaya.
Di luar kedai, Raka yang mengintip dari balik pohon beringin menangis haru bercampur merana.
"Hebat, Bos. Luar biasa. Demi cinta, Bosku jadi tukang gosok panci," ratap Raka mengusap air mata imajinernya. "Lalu aku harus apa di desa ini? Jualan cilor di alun-alun?!"
Kisah sang Iblis Korporat yang turun kasta menjadi tukang cuci piring baru saja dimulai, menjanjikan hari-hari yang penuh dengan drama, kelucuan, dan romansa yang akan perlahan menyembuhkan luka di hati sang bidadari.