Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"David?"
David mendongakkan kepalanya, menghentikan suapan dan mengalihkan pandangan dari Mili.
Di samping meja mereka, berdiri seorang wanita bergaun elegan dengan senyum lebar yang tampak akrab.
"David, apa kabar? Tambah tampan kamu," ucap wanita itu penuh antusiasme.
David menautkan alisnya sejenak, mengenali wajah di hadapannya.
"Viska?"
"Iya, aku Viska!" sahut wanita itu terkekeh pelan.
Mili berdehem pelan, memotong percakapan singkat itu seraya menatap wanita asing tersebut dengan pandangan menilai.
Suasana hangat di meja makan itu mendadak berubah sedikit tegang.
David yang menyadari reaksi istrinya langsung menggenggam tangan Mili di atas meja.
"Sayang, ini Viska, teman kampusku dulu."
Viska menatap Mili dari atas ke bawah, lalu melirik genggaman tangan David dengan raut wajah terkejut yang tak berusaha disembunyikannya.
"Lho, kamu sudah menikah? Tapi,.kamu dulu bukannya sama Dinda? Aku masih ingat kamu sangat mencintai Dinda sampai gila-gilaan waktu kuliah," ujar Viska tanpa beban, seolah tak menyadari kalimatnya baru saja menyulut percikan api di antara pasangan itu.
Mili mengambil minumannya saat mendengarnya, menyesap cairan dingin itu perlahan untuk menyembunyikan perubahan raut wajahnya yang mendadak mengeras.
Namun, matanya yang tajam kini menatap David, menuntut penjelasan atas nama asing yang baru saja disebut.
"Silakan kalau mau reunian, aku ke mobil saja," ucap Mili dingin.
Ia segera mengambil tasnya, bangkit dari kursi tanpa memandang David, dan melangkah tegap meninggalkan area restoran menuju mobil.
"Mili, tunggu!" panggil David.
Tanpa memedulikan Viska yang berdiri mematung kebingungan, David langsung bangkit dari kursinya.
Rahaganya mengeras ketat, dipenuhi rasa panik yang jarang sekali mampir di hidupnya.
Ia melempar beberapa lembar uang kertas pecahan besar ke atas meja tanpa menghitungnya.
"David, maaf, aku nggak maksud—"
"Tutup mulutmu," potong David tajam dan dingin, membuat Viska tersentak mundur ketakutan.
Tatapan mata David saat itu begitu mengerikan, seolah siap membunuh siapa saja yang berani mengusik ketenangannya dengan sang istri.
David berlari kecil menyusul langkah cepat Mili. Tepat sebelum tangan Mili menyentuh gagang pintu mobil, David berhasil mencengkeram pergelangan tangan istrinya dengan lembut namun kuat, lalu memutar tubuh Mili hingga menghadapnya.
"Sayang, dengarkan aku dulu," bisik David dengan napas sedikit memburu.
Kedua tangannya langsung menangkup pipi Mili, mengunci pandangan mata istrinya yang kini menatapnya penuh luka dan kecemburuan.
"Nggak ada yang perlu dijelaskan, David. Mantan terindahmu itu sepertinya sangat berkesan sampai temanmu masih ingat betul," celetuk Mili seraya mencoba menepis tangan David dari wajahnya.
David tidak membiarkannya lepas. Ia justru makin mendekatkan tubuh mereka, menyandarkan dahi kokohnya di dahi Mili
"Dinda itu cuma masa lalu mati yang sama sekali nggak penting, Mili. Itu cerita sepuluh tahun lalu sebelum aku tahu apa arti cinta yang sebenarnya," bisik David dengan intonasi dalam dan penuh penekanan.
"Perempuan yang membuatku gila, yang membuatku berlutut, dan yang menguasai seluruh hidupku detik ini cuma kamu. Cuma Mili."
"Bohong," ucap Mili pelan, suara seraknya pecah bersamaan dengan air mata yang menetes mengalir membasahi pipinya.
Melihat linangan air mata itu, dada David terasa dihantam godam berat.
Rasa panik dan protektif yang luar biasa langsung menguasai dirinya.
Tanpa peduli mereka masih berdiri di area parkir, David segera menarik Mili ke dalam dekapannya, merengkuh tubuh gemetar sang istri dengan sangat erat seolah takut kehilangan wanita itu detik ini juga.
"Aku tidak pernah membohongimu, Mili. Demi nyawaku, aku tidak pernah bohong padamu," bisik David penuh intonasi dalam dan intensitas yang pekat.
Ia mendaratkan kecupan-kecupan hangat bertubi-tubi di pelipis, dahi, dan pipi Mili yang basah.
Jemarinya yang kokoh menyapu air mata di wajah Mili dengan sangat lembut.
David menatap tepat ke dalam manik mata Mili yang memerah, mengunci pandangannya agar sang istri bisa melihat kejujuran mutlak di matanya.
"Masa lalu itu sudah mati jauh sebelum aku mengenalmu. Dinda bukan siapa-siapa, Mili. Dia tidak pernah punya arti apa pun dibandingkan dirimu," geram David rendah, suaranya bergetar menahan gejolak emosi.
"Kamu adalah satu-satunya wanita yang bisa buat aku berlutut, satu-satunya wanita yang punya seluruh jiwaku. Jangan pernah ragukan itu, Sayang."
Mili meremas kemeja di dada bidang David, menyandarkan kepalanya yang terasa berat di sana.
Suara detak jantung David yang bergemuruh cepat di balik dadanya menjadi bukti nyata betapa paniknya pria dominan ini saat melihat istrinya terluka.
"Aku cuma takut, David." bisik Mili lirih, menyuarakan rasa terancam yang mendadak muncul di dadanya.
"Tidak ada yang perlu kamu takuti," potong David tegas seraya menangkup kembali kedua pipi Mili dan mencium bibir istrinya dengan dalam, menyalurkan rasa kepemilikan mutlak yang tak tergoyahkan.
"Aku milikmu, Mili. Dulu, sekarang, dan sampai akhir hayatku."
"Kalau perlu belah dadaku ini agar kamu bisa melihat sendiri siapa satu-satunya nama yang ada di dalam sini," pangkas David dengan nada penuh keputusasaan dan dominasi yang liar.
Matanya berkilat tajam, menatap Mili seolah siap membuktikan kata-katanya detik itu juga.
Sebelum David bertindak lebih jauh dalam keadaannya yang emosional, Mili menyela dan langsung memeluk tubuh suaminya dengan erat.
Ia menyandarkan wajahnya di dada bidang David, mendengarkan detak jantung pria itu yang terpacu cepat karena rasa takut akan kehilangan.
"Aku percaya." bisik Mili pelan di balik dekapan David.
Namun detik berikutnya, Mili menguraikan pelukannya sedikit.
Ia mendongak, menatap manik mata David dengan tatapan yang mendadak sangat dingin dan penuh ketegasan—sebuah ancaman nyata yang tak pernah David duga akan keluar dari bibir istrinya.
"Tapi jika ada wanita lain, aku pergi dan kamu tidak akan pernah menemukan aku lagi. Dan mungkin, saat kamu berhasil menemukanku, kamu hanya akan bertemu dengan batu nisanku."
Kata-kata itu menghantam dada David bagaikan hantaman es yang membekukan darahnya.
Senyum, kehangatan, dan aura dominannya seketika sirna, berganti dengan kepanikan luar biasa.
Wajah David memucat. Kalimat Mili bukan sekadar gertakan; ia tahu persis betapa nekatnya Mili jika sudah terdesak.
"Jangan pernah katakan hal gila itu lagi, Mili!" bentak David dengan suara bergetar keras.
Ia mencengkeram kedua bahu Mili, menatapnya dengan raut wajah yang dipenuhi ketakutan mutlak.
"Kamu tidak boleh pergi ke mana pun, dan kamu tidak akan pernah mati meninggalkanku! Aku akan membunuh siapa saja yang mencoba menghalangi kita, bahkan jika itu masa laluku sendiri!"
David menarik Mili kembali ke dalam dekapannya secara posesi dan sangat protektif, meremas tubuh istrinya seolah ingin menyatukan wanita itu ke dalam dirinya agar tak akan pernah bisa lepas.
"Aku milikmu, Mili. Jangan pernah bicara soal kematian lagi. Aku bisa gila kalau sampai kehilanganmu," bisik David serak di ceruk leher Mili, menahan gejolak emosi yang membakar dadanya.
"David, kalau misal ada lelaki lain yang mencintai aku, bagaimana?" tanya Mili pelan, menatap suaminya dengan binar mata polos yang memancing provokasi halus.
Tubuh David yang tadinya baru saja sedikit rileks mendadak membeku.
Pegangannya di pinggang Mili mengencang seketika, begitu kuat hingga seolah ingin meremukkan tulang-tulang di sana.
Suasana hangat di sekitar area parkir itu mendadak menguap, berganti dengan aura kejam dan pekat yang mencekam.
David melangkah mundur satu tapak, memangkas jarak pandang mereka.
Wajah tampannya mengeras bagai pahatan batu granit.
Tatapan matanya yang tadi penuh kelembutan kini berubah menjadi tatapan dingin, gelap, dan sarat akan ancaman pembunuhan yang amat nyata.
Tidak ada sedikit pun raut kepalsuan atau keraguan di sana.
"Maka pria itu tidak akan pernah bisa melihat matahari esok hari, Mili," jawab David dengan suara rendah yang terdengar seperti bisikan kematian dari kedalaman neraka.
"Aku akan memotong kedua tangannya jika dia berani menyentuhmu, mencongkel matanya jika dia berani menatapmu, dan memastikan namanya terhapus dari dunia ini tanpa meninggalkan jejak."
David mendekatkan wajahnya, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. Napas panasnya berhembus menampar kulit Mili.
"Kamu adalah milikku. Jiwa, raga, dan seluruh napasmu hanya boleh menjadi milik David Hermawan. Tidak akan ada pria mana pun yang selamat jika berani mendamba milikku," lanjut David dengan penekanan yang lambat dan sangat dominan.
Mili menelan salivanya, merasakan bulu kuduknya berdiri berdiri mendengar janji kelam suaminya.
Namun bukannya takut, kejujuran mengerikan itu justru memberi rasa aman yang aneh di hatinya. Pria ini memang gila, tapi kegilaan itu hanya tertuju padanya.
Mili akhirnya melepaskan napas panjang, mencoba memecahkan ketegangan ekstrem yang diciptakan David.
Ia mengelus rahang tegas suaminya yang masih tegang, lalu menyunggingkan senyum tipis tanpa dosa.
"Sekarang ayo kita cari makan lagi, aku masih lapar," ucap Mili santai, seolah baru saja menanyakan hal biasa.
Perubahan sikap Mili yang begitu cepat membuat aura kegelapan David goyah seketika.
Pria itu menghembuskan napas kasar, menyadari bahwa istrinya baru saja berhasil mempermainkan emosinya.
Tatapan dinginnya perlahan luntur, berganti dengan kekehan rendah yang sarat akan rasa gemas yang luar biasa.
"Kamu benar-benar pandai membuatku gila, Sayang," geram David seraya mengacak rambut Mili gemas, lalu mencium bibir merah itu dengan gigitan kecil sebelum membukakan pintu mobil untuk sang ratu.