Pernikahan megapahit antara Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo dan Lilianne Prameswari Djojodiningrat murni dirancang demi menyatukan kerajaan bisnis dua keluarga old money. Tanpa cinta, Arya yang dingin dan angkuh memandang ikatan ini sebatas transaksi bisnis, sementara Lilianne tumbuh sebagai putri manja yang impulsif dan gemar berfoya-foya. Tinggal di bawah satu atap justru menyulut perang dingin dan benturan ego antara tradisi serta kebebasan. Namun, saat intrik korporasi mulai mengancam dinasti mereka, Arya dan Lilianne terpaksa bersatu, perlahan meruntuhkan tembok gengsi dan membuka hati satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33
***
Dua bulan melaju cepat, membawa perubahan alami pada bentuk tubuh sang permaisuri. Di balik gaun maternity haute couture berwarna champagne gold yang membalut tubuh indahnya, perut Lilianne kini tampak membuncit halus secara nyata. Garis kurvanya tak lagi dapat disembunyikan—memancarkan aura keanggunan seorang ibu muda dari klan bangsawan tertinggi. Kehamilan yang kini menginjak usia trimester kedua itu pun membawa kejutan luar biasa tatkala pemeriksaan USG privat terakhir mengonfirmasi bahwa ada dua detak jantung kecil yang berdenyut aktif di dalam kandungan Lilianne. Mereka dikaruniai bayi kembar.
Malam itu, kediaman utama klan Soerjoatmodjo disulap menjadi ballroom megah yang dipenuhi pendar lampu kristal gantung dan alunan musik klasik yang lembut. Jamuan makan malam privat antar dua klan paling berkuasa Soerjoatmodjo dan Djojodiningrat digelar atas perintah mutlak Arya Sena. Usai melewati bulan-bulan penuh kerahasiaan dan rentetan mual hebat yang menguras stamina sang istri, Arya merasa inilah saatnya mengumumkan kebenaran mutlak tersebut ke hadapan publik internal klan, sekaligus membungkam segala rumor liar media luar yang sempat menyudutkan rumah tangga mereka.
Di tengah hall utama yang dipenuhi para elite bisnis dan kerabat bangsawan senior, Arya berdiri tegap di samping Lilianne. Jemari tegap sang Presdir melingkar posesif di pinggang istrinya, tak membiarkan jarak satu inci pun tercipta di antara mereka.
Arya mengangkat cangkir kristalnya, menarik perhatian seluruh hadirin. Suara baritonnya menggelegar tenang namun sarat aura dominasi yang tak terbantahkan.
"Terima kasih atas kehadiran seluruh keluarga besar malam ini," ujar Arya tegas, matanya melirik hangat ke arah Lilianne yang berdiri anggun di sisinya. "Malam ini, selain merayakan penguatan aliansi bisnis dinasti kita, saya ingin menyampaikan sebuah kabar berharga. Saya dan permaisuri saya, Lilianne Prameswari Soerjoatmodjo , sedang menantikan kehadiran dua calon penerus penerus utama aliansi Soerjoatmodjo dan Djojodiningrat."
Gemuruh helaan napas terkejut dan tepuk tangan meriah seketika memecah keheningan hall. Raden Ajeng Gayatri tampak mengusap sudut matanya dengan sapu tangan sutra, diliputi sukacita tak terkira tatkala mengetahui menantunya mengandung anak kembar. Sementara di sudut lain, Gabriel dan Rafael menyunggingkan senyum bangga seraya menatap Arya dengan tatapan peringatan halus khas kakak protektif.
"Siapa pun di luar sana yang mencoba menghembuskan spekulasi murah atau mengganggu ketenangan istri saya," sambung Arya dengan nada dingin yang menembus tulang, "akan berhadapan langsung dengan seluruh kekuatan armada bisnis dan nama besar Soerjoatmodjo."
Beberapa saat kemudian, acara berlanjut ke sesi ramah tamah yang lebih santai. Arya terpaksa bergeser beberapa meter ke area meja privat untuk menyapa para direktur senior dan rekan bisnis klan. Meski raga suaminya berjarak pendek, netra kelam Arya tetap terkunci secara berkala ke arah sudut sofa beludru tempat Lilianne terduduk.
Lilianne bersandar anggun, menikmati segelas jus buah segar seraya mengusap lembut perutnya yang membuncit halus. Di tengah ketenangan itu, derap langkah teratur dengan aroma wangi yang sangat familier mendekatinya.
Nyonya Eleonor Djojodiningrat—sang ibu kandung yang berdarah murni bangsawan Eropa-Nusantara—melangkah mendekat dengan senyuman hangat yang memancarkan aura maternal yang teramat tenang.
"Lilianne, Sayang..." sapa Eleonor lembut, mendudukkan dirinya tepat di samping sang putri bungsu.
Lilianne menyunggingkan senyum cantiknya. "Mommy... kenapa meninggalkan Daddy di dekat meja anggur?"
Eleonor terkekeh halus seraya meraih jemari lentik Lilianne, mengusapnya dengan kasih sayang mendalam. "Daddy-mu sedang bernostalgia dengan paman-pamanmu. Mommy sengaja ingin berbicara padamu sebentar."
Eleonor menatap lekat-lekat wajah mulus adiknya, lalu matanya bergulir turun menatap perut membuncit Lilianne yang menyembunyikan dua calon cucunya. Helaan napas lega berhembus dari bibir sang ibu.
"Mommy benar-benar bersyukur dan ingin mengucapkan terima kasih padamu, Lili," tutur Eleonor dengan nada suara yang bergetar haru. "Melihatmu sehat, anggun, dan memancarkan pendar bahagia seperti ini... beban di dada Mommy rasanya terangkat sepenuhnya."
Lilianne tersenyum tipis, menundukkan kepalanya halus. "Aku baik-baik saja, Mommy. Semua perlakuan di mansion ini sangat luar biasa."
"Mommy tahu," pangkas Eleonor lembut. Jemari ibunya mengusap helai rambut blonde Lilianne. "Walaupun Mommy tahu pernikahan kalian berdua berawal dari keputusan aliansi perjodohan dua keluarga besar, tapi Mommy tidak buta, Lili. Mommy memperhatikan bagaimana Arya menatapmu sepanjang malam ini. Cara dia memegangi pinggangmu, cara matanya selalu mencarimu setiap lima detik... Pria itu mencintaimu dengan tulus, penuh kepatuhan dan pemujaan."
Lilianne terpaku sejenak, binar mata hijaunya bergerak tipis saat mendengar penuturan ibunya.
"Mommy tidak akan pernah memaksa kamu untuk langsung menerima atau menyerahkan seluruh hatimu tanpa sisa," lanjut Eleonor jujur. "Tapi segalanya sudah terjadi, Sayang. Takdir sudah mengikat kalian begitu kuat, apalagi sekarang kamu sedang mengandung bayi kembar. Mereka butuh kehangatan utuh dari kedua orang tuanya."
Lilianne menghembuskan napas pelan, mengusap perutnya secara refleks. "Aku... aku tahu, Mommy. Aku sedang berusaha menata emosiku."
Eleonor menyunggingkan senyuman miring yang sarat akan pesan mendalam. Ia mendekatkan wajahnya sedikit ke arah telinga Lilianne, mengubah nada suaranya menjadi lebih serius namun penuh wejangan khas wanita senior klan bangsawan.
"Dan ini nasihat penting dari Mommy, Lili... Dengarkan baik-baik," bisik Eleonor tegas. "Besok pagi, Mommy dan Daddy akan terbang kembali ke London untuk mengurus beberapa aset. Melihat suamimu yang masih sangat muda, luar biasa tampan, dan memegang kekuasaan finansial yang tak terbatas itu... kamu harus ingat satu hal: di luar sana, ada banyak sekali lebah-lebah liar yang selalu mengincar madu dari pria seperti Arya."
Mata Lilianne membelalak tipis, alis cantiknya bertaut. "Mommy..."
"Jangan memotong Mommy," pangkas Eleonor seraya terkekeh tipis melihat reaksi refleks adiknya. "Mommy tahu kamu sedang dalam kondisi hamil dan sering merasa lelah atau mual. Tapi, kamu tidak boleh sepenuhnya mengabaikan atau menelantarkan suamimu hanya karena alasan itu. Kamu harus tetap memperhatikan dan mengurus Arya secara emosional dan fisik sejauh yang kamu sanggup. Kamu tahu betul apa maksud Mommy, kan?"
Wajah Lilianne seketika memerah jambu drastis! Rona hangat merayap cepat hingga ke ceruk lehernya saat menangkap arah pembicaraan sang ibu mengenai tugas seorang permaisuri dalam menjaga keharmonisan ranjang dan perhatian suaminya.
"M-Mommy... kenapa bicara sejauh itu di tengah acara?!" cicit Lilianne terbata, berusaha mengalihkan pandangannya karena malu yang tak tertahankan.
Eleonor menyunggingkan senyuman puas melihat putrinya yang merona manis. "Mommy bicara fakta, Lili. Pria sekelas Arya Sena sangat berdedikasi dan protektif, tapi dia juga pria dewasa yang membutuhkan perhatian penuh dari istrinya. Jangan biarkan celah sedikit pun terbuka untuk wanita lain mencoba masuk, paham?"
Sebelum Lilianne sempat menyusun kata-kata sanggahan, bayangan tegap terbayang menutupi pendar lampu di atas mereka.
Arya Sena telah kembali. Pria jangkung itu berdiri anggun dengan jas mewahnya, memberikan bungkukan hormat yang amat santun pada ibu mertuanya.
"Mommy Eleonor," sapa Arya dengan suara baritonnya yang tenang. "Apakah Lilianne merepotkan Mommy?"
Eleonor berdiri, menyunggingkan senyuman anggun seraya menepuk pelan bahu kekar menantunya. "Sama sekali tidak, Arya. Kami hanya mengobrolkan sedikit rahasia antar wanita." Eleonor melirik Lilianne yang masih menunduk dengan pipi merona merah. "Jagalah Lilianne baik-baik, Arya. Dia milikmu sepenuhnya."
"Tentu, Mommy. Tanpa diminta pun, seluruh hidup saya adalah milik Lilianne," jawab Arya tanpa ragu sedikit pun, suaranya dipenuhi janji mutlak yang membuat dada Lilianne makin bergemuruh hebat.
Sepeninggal Eleonor yang bergabung kembali dengan kerabat senior, Arya mendudukkan dirinya di samping Lilianne. Jemari tegapnya yang hangat langsung merayap menangkup jemari dingin Lilianne, sementara tangan sebelahnya usap lembut perut membuncit istrinya.
"Kenapa wajahmu begitu merah, Bunga Liliku?" bisik Arya rendah di dekat telinga Lilianne, binar matanya berkilat jahil penuh perhatian. "Apa yang dibisikkan Mommy hingga permaisuriku salah tingkah seperti ini?"
Lilianne melirik suaminya tajam, namun rona merah di pipinya tak sanggup disembunyikan. Nasihat ibunya tentang "lebah-lebah liar" dan tugas mengurus suami mendadak terngiang berulang kali di kepalanya, bertabrakan dengan aura tampan dan tatapan memuja dari pria jangkung di hadapannya ini.
BERSAMBUNG...
i got you 🔥🔥🔥