Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.
Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.
"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.
"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.
Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMARAHAN RAJA
Sementara itu Raja Salova sedang bersandar santai di singgasananya sambil menyesap anggur merah, menunggu kabar gembira tentang keberhasilan pasukannya merampas kebun buah milik kediaman Volis.
BRAKKK
Pintu tiba-tiba didobrak dari luar dengan kasar, membuat Raja Salova tersedak anggurnya sendiri dan terbatuk-batuk keras.
"Uhuk! Uhuk! Sialan! Siapa yang berani masuk tanpa izin?!" bentak Raja Salova murka, menyeka mulutnya dengan kasar.
Garel dan beberapa pengawal istana masuk dengan napas terengah-engah dan wajah pucat pasi, gemetar ketakutan saat melihat apa yang sedang didorong masuk ke dalam aula.
Beberapa pengawal lainnya tampak menyeret beberapa peti besar dan karung lusuh yang ditutup kain terpal berlumuran darah segar.
"Salam Y-yang Mulia..." cicit Garel terbata-bata, nyaris tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Raja Salova mengerutkan keningnya, berdiri dari singgasananya dengan perasaan tidak enak yang tiba-tiba merayapi dadanya.
"Ada apa ini, Garel?! Kenapa kalian membawa barang jelek dan bau anyir ke ruanganku?!" tanya Raja Salova dengan nada tinggi, merasa risih.
Glek
Garel menelan ludah kasarnya dengan susah payah, lalu memberi isyarat kepada para pengawal untuk membuka penutup karung tersebut.
SREK
Begitu penutupnya ditarik ke samping, Raja Salova langsung terbelalak lebar, kedua matanya hampir keluar dari tempatnya.
"SIALAN!"
Teriak Raja Salova histeris sambil mundur terhuyung-huyung.
Di dalam peti-peti itu berserakan kepala-kepala prajurit istana yang sudah tak bernyawa, lengkap dengan mayat sang panglima perang yang tubuhnya penuh luka mengerikan.
"I-ini... apa-apaan ini?!" jerit Raja Salova, wajahnya yang tadinya merah kini berubah pucat pasi karena syok.
Garel menundukkan kepalanya sedalam mungkin, tidak berani menatap langsung ke arah raja yang sedang mengamuk.
"Yang Mulia... seluruh pasukan elit yang kita kirim... semuanya tewas dibantai habis," jawab Garel lirih dengan suara bergetar hebat.
"A-APA!"
Raja Salova mencengkeram pegangan singgahasana nya sampai kuku-kuku jari memutih, napasnya naik turun tidak beraturan karena amarah yang kini membakar sekujur tubuhnya.
"Dibantai?! Bagaimana bisa?! Mereka hanya kelurga jendral miskin di wilayah terpencil!" maki Raja Salova dengan suara melengking penuh kemarahan.
"Panglima dan anak pasukan istana yang kita kirim dihabisi dalam waktu singkat, Yang Mulia, bahkan Jendral Liam dan istrinya menitipkan pesan lewat mayat-mayat ini," tambah Garel semakin menciut.
"Pesan apa?! Katakan sekarang!" bentak Raja Salova, matanya melotot tajam menatap Garel.
Glek
Garel menelan ludahnya lagi, merutuki nasibnya karena harus menyampaikan kalimat maut tersebut.
"Jendral Liam bilang...jika Anda berani melangkah masuk ke wilayah Volis lagi, dia sendiri yang akan datang ke istana untuk memenggal kepala Anda..." ucap Garel nyaris tak terdengar, menutup matanya rapat-rapat karena takut terkena amukan raja.
KRAKKK
Gelas piala emas di tangan Raja Salova remuk redam akibat cengkeraman kuat sang raja yang sudah dikuasai amarah luar biasa.
"Jendral sialan! Beraninya dia mengancam seorang Raja?!" teriak Raja Salova murka, menendang meja kecil di depannya hingga hancur.
BRAKK
Pria paruh baya itu mondar-mandir di depan singgasananya, dadanya bergemuruh hebat, matanya menyala-nyala penuh kebencian dan ambisi yang semakin menjadi-jadi.
"Dia pikir karena dia seorang jendral perang, dia bisa bertindak semena-mena di atasku?! Panggil panglima besar pertahanan kerajaan sekarang juga!" perintah Raja Salova menggelegar ke seluruh penjuru ruangan.
Garel langsung mendongak kaget, menatap rajanya dengan panik luar biasa.
"T-tapi Yang Mulia, kalau kita mengerahkan seluruh pasukan kerajaan untuk menyerang Volis, itu sama saja memulai perang besar di dalam negeri sendiri!" cegah Garel nekat, karena tahu tindakan itu adalah bunuh diri.
Raja Salova berhenti melangkah, menoleh tajam ke arah Garel dengan senyuman licik dan mengerikan di bibirnya.
"Perang? Bagus! Justru itu yang aku mau!" geram Raja Salova penuh nafsu darah.
"Aku akan ratakan tanah kediaman Volis sampai tidak tersisa sedikit pun, dan kepala jendral itu akan aku jadikan mainan di singgahasana ku!" ucap Raja Salova tertawa nyaring.
Garel hanya bisa membeku di tempatnya, punggungnya mendadak basah oleh keringat dingin, menyadari bahwa ego sang raja sebentar lagi akan membawa kehancuran besar bagi seluruh kerajaan.
Kembali ke kediaman Volis, suasana malam mulai menyelimuti wilayah itu, kekacauan tadi juga sudah dibersihkan.
Aleta sedang duduk santai di ruang tamu sambil menyesap teh hangatnya, dia sudah membersihkan tubuh nya dan berganti pakaian nya.
Sementara Julian sudah tertidur pulas di kamarnya setelah ditemani cerita oleh ibu tirinya itu.
Liam melangkah masuk ke ruang tamu dengan langkah berat, pria itu juga tampak sudah membersihkan diri nya.
"Marchiones," panggil Liam, menatap Aleta.
"Hem."
Jawab Aleta tanpa melihat ke arah Liam.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Liam, pelan.
"Aku?" tanya Aleta melihat Liam.
"Memang nya aku kenapa? Kamu bisa lihat sendiri aku bagaimana," lanjut Aleta memutar bola matanya malas.
Liam mendengus pelan, lalu menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Aleta, menatap wanita itu dengan lekat.
"Kita harus bergerak selangkah lebih cepat dari pria tua itu, karena aku tahu persis tabiat Raja Salova, itu seperti apa," ucap Liam dengan suara berat dan serius.
Aleta mengangkat sebelah alisnya, meletakkan cangkir tehnya perlahan ke atas meja.
"Maksudmu?" tanya Aleta penasaran.
"Pria tua itu serakah dan egois, dia tidak akan pernah terima dipermalukan seperti tadi siang, kiriman mayat panglimanya pasti membuat dia murka besar dan menyiapkan pasukan gabungan seluruh kerajaan untuk menyerang kita," jelas Liam tanpa mengalihkan pandangannya dari Aleta.
Aleta mendengus pelan, bibirnya menyunggingkan senyuman miring yang terlihat sangat menantang.
"Biarkan saja, kalau perlu kita dulu yang patahkan leher Raja tua bangkak itu," ucap Aleta santai, tanpa rasa takut.
Liam menggelengkan kepalanya pelan, ada rasa kagum sekaligus gemas melihat betapa tenangnya wanita di depannya ini.
"Kau ini ya... nyalimu benar-benar besar sekali, Marchiones," ucap Liam menggeleng-gelengkan kepala.
"Tentu saja, kalau aku penakut, mungkin aku sudah mati sejak aku terbangun di tubuh wanita bodoh ini," jawab Aleta, di dalam hati nya.
Liam menyandarkan punggungnya di kursi, menatap lurus ke dalam mata elang Aleta yang memancarkan ketegasan luar biasa.
"Aku cukup penasaran, apa rencana seorang Jendral hebat sepertimu? Menyerah dan mencium kaki raja tua itu?" sindir Aleta tajam.
Liam mendengus dingin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang berbahaya.
"Menyerah tidak ada di kamus hidupku, Aleta," ucap Liam penuh penekanan.
"Kalau begitu, kenapa kita harus pusing?" lanjut Aleta tersenyum penuh misteri.
Liam menyipitkan matanya, mengamati gerak-gerik istrinya yang sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar.
"Apa maksudmu?" tanya Liam penasaran.
"Kamu akan tahu nanti," jawab Aleta, tersenyum miring.