Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Nadya mengantar Armand memasuki ruang produksi eksklusif yang baru saja rampung direnovasi.

Begitu pintu terbuka, aroma kain baru dan teknologi mesin jahit kelas industri menyambut mereka.

Armand tak bisa menyembunyikan kilatan antusiasme di matanya saat melihat deretan mesin high-speed terbaru yang telah disiapkan sesuai permintaannya.

Tanpa membuang waktu, Armand segera bergerak. Ia mulai menguji coba mesin, memastikan tegangan benang dan kecepatan putarannya pas dengan tangannya.

Kelima asisten barunya mengelilingi Armand, menyimak dengan penuh perhatian saat ia mulai memimpin dengan sangat cekatan.

Armand tidak hanya sekadar menjahit; ia menjelaskan visi desain seragam perusahaan—sebuah perpaduan antara gaya modern yang dinamis namun tetap mempertahankan kesan profesional yang elegan.

Nadya bersandar di bingkai pintu, menatap pemandangan di depannya dengan perasaan takjub.

Ia terpesona melihat suaminya yang dulu tertindas dan kehilangan arah, kini memegang kendali penuh di dunianya sendiri.

Armand tampak begitu dominan, cerdas, dan percaya diri—sosok pemimpin yang sesungguhnya.

Keyakinan Nadya semakin bulat; pria yang di hadapannya kini bukan lagi Armand yang dulu.

Ia adalah pria yang telah bangkit dan siap menaklukkan dunia dengan ketrampilannya.

Setelah beberapa jam tenggelam dalam kesibukan di ruang produksi, Armand akhirnya melepaskan sarung tangan kerjanya dan tersenyum pada timnya, memberikan instruksi terakhir untuk hari itu.

Nadya melangkah mendekat, menyodorkan air mineral kepada suaminya.

"Kerjamu hari ini luar biasa, Mas. Aku benar-benar bangga melihatmu memimpin tim tadi," bisik Nadya dengan nada kagum.

Armand menerima air itu dan meneguknya perlahan, lalu menatap istrinya dengan tatapan hangat.

"Itu semua karena fasilitas yang kamu berikan, Dek. Terima kasih sudah mempercayai Mas."

Nadya tertawa kecil, lalu meraih tangan suaminya.

"Sudah, jangan terlalu formal begitu. Kamu sudah bekerja keras. Ayo, aku ajak kamu makan siang di tempat yang enak. Kita harus merayakan hari pertama kesuksesanmu di kantor ini."

Armand pun mengangguk, lalu dengan lembut merangkul bahu istrinya, berjalan meninggalkan ruang produksi menuju lift yang akan membawa mereka keluar dari hiruk-pikuk pekerjaan sejenak.

Nadya membawa Armand keluar dari hiruk-pikuk gedung kantor menuju sebuah restoran bertema tradisional Jawa yang terletak tidak jauh dari pusat kota.

Restoran itu bernama "Yogyakarta Desa", sebuah tempat yang menawarkan suasana tenang dengan arsitektur joglo kayu yang antik dan dikelilingi taman yang asri.

Begitu mereka melangkah masuk, alunan gamelan lembut menyambut, menciptakan suasana yang jauh berbeda dari suasana kantor yang formal tadi.

Armand tampak terkesan dengan ketenangan tempat itu.

"Tempatnya nyaman sekali, Dek. Berasa kembali ke masa lalu," ujar Armand sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang didominasi ornamen kayu jati.

Mereka memilih duduk di meja dekat jendela yang langsung menghadap ke taman belakang yang teduh.

Sesaat setelah mereka duduk, seorang pelayan yang mengenakan pakaian tradisional datang menghampiri dengan ramah.

"Selamat siang, Ibu dan Bapak. Mari silakan dilihat menunya," ucap pelayan itu sambil meletakkan dua buku menu kayu yang artistik.

Nadya tersenyum, lalu menatap suaminya. "Mas, di sini masakan khas Jogja-nya sangat terkenal. Mas mau pesan apa? Mungkin gudeg, atau ayam goreng laos? Semuanya di sini dimasak dengan resep asli."

Armand membuka menu tersebut dengan antusias.

"Mas rasa ayam goreng laos dengan sambal terasi sepertinya nikmat, Dek. Apalagi kalau ditemani sayur lodeh."

Nadya mengangguk setuju, ia pun memesan menu yang sama untuk mereka berdua, ditambah dengan segelas wedang jahe panas yang pas untuk suasana sejuk restoran tersebut.

Sembari menunggu pesanan datang, Armand menggenggam tangan istrinya di atas meja.

"Dek, terima kasih banyak untuk hari ini. Mas merasa... Mas merasa akhirnya benar-benar hidup kembali. Semua yang Mas alami dulu seakan luntur bersama setiap detik yang Mas lalui bersamamu."

Nadya merasakan hatinya bergetar mendengar ucapan jujur itu.

"Mas, itu adalah hak Mas. Mas tidak perlu berterima kasih, karena seharusnya memang seperti inilah kehidupan Mas yang sebenarnya."

Di tengah suasana yang damai itu, tanpa mereka sadari, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di parkiran restoran.

Dari dalamnya, Sarah turun dengan wajah yang menyembunyikan rencana busuk di balik kacamata hitam yang ia kenakan.

Ia telah membuntuti mobil Nadya sejak mereka meninggalkan kantor tadi, bertekad untuk merusak kebahagiaan yang baru saja mereka bangun.

Ketenangan di restoran "Yogyakarta Desa" seketika terusik.

Saat Nadya dan suaminya mengobrol santai .

Langkah kaki yang tegap namun angkuh terdengar mendekat.

Tanpa permisi, seorang wanita berpakaian modis dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya berdiri tepat di samping meja mereka.

Wanita itu perlahan melepas kacamata hitamnya, menatap Armand dengan sorot mata yang penuh obsesi. Itu Sarah.

Tanpa merasa bersalah sedikit pun, dia menarik kursi kosong di dekat meja mereka dan duduk begitu saja, seolah-olah dia adalah tamu yang memang diundang.

"Luar biasa, Mas Armand," ucap Sarah dengan nada yang dibuat-buat manis.

Dia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya, lalu menatap Armand dari atas ke bawah seolah sedang menilai barang dagangan.

"Aku dengar kamu sekarang jadi kepala produksi di perusahaan Nadya? Penampilanmu... jauh lebih berkelas daripada saat kamu masih jadi 'pembantu' di rumahku dulu."

Armand tertegun. Genggaman tangannya pada sendok seketika mengerat.

Rasa terkejut dan sedikit ketegangan muncul di wajahnya, namun ia tetap berusaha mempertahankan ketenangannya sebagai pria yang kini jauh lebih dewasa.

Nadya, yang awalnya terkejut dengan kehadiran yang tidak diundang itu, segera menegakkan punggungnya.

Tatapannya berubah tajam, seperti elang yang siap melindungi apa yang menjadi miliknya.

Ia tidak membiarkan Sarah merusak momen makan siang mereka semudah itu.

"Siapa yang mengizinkanmu duduk di sini, Sarah?" tanya Nadya dengan suara rendah namun mengintimidasi.

"Dan siapa yang mengizinkanmu bicara pada suamiku?"

Sarah tertawa kecil mendengar teguran itu, suaranya terdengar sumbang dan meremehkan.

Ia melirik Nadya sekilas sebelum kembali menatap Armand dengan tatapan memuja yang menjijikkan.

"Nadya, santai saja. Dia juga mantan suamiku," kata Sarah santai.

Ia melipat kedua tangannya di atas meja. "Ya, memang dia dulu kelihatan seperti gembel... tapi lihat sekarang? Sekali pangeran, tetap pangeran. Dan itu semua karena darah seni yang ada di dalam dirinya, bukan karena kamu, Nadya."

PLAKKK!

Suara tamparan yang sangat nyaring menggema di sudut restoran yang tenang itu.

Seketika suasana di sekitar meja mereka membeku.

Sarah terperanjat, kepalanya teroleh ke samping akibat hantaman yang begitu kuat.

Ia meraba pipinya yang perlahan memerah, lalu menatap Armand dengan mata membelalak tak percaya. Napasnya terengah-engah karena syok.

"Mas... kamu... kamu menampar aku?!" teriak Sarah dengan suara bergetar, memegang pipinya yang panas.

Selama bertahun-tahun menikah, jangankan memukul, membentak saja Armand tidak pernah berani kepadanya.

Armand berdiri perlahan dari kursinya. Tangannya yang tadi mendarat di pipi Sarah sedikit bergetar, bukan karena takut, melainkan karena puncak kemarahan yang sudah bertahun-tahun ia pendam dan akhirnya tumpah hari ini.

Sorot matanya yang biasanya teduh kini menatap Sarah dengan dingin dan tajam tanpa secercah pun rasa iba.

"Seharusnya dari dulu aku menamparmu, Sarah," ucap Armand dengan suara rendah, berat, dan penuh penekanan.

"Bukan karena aku menyesal pernah menikah denganmu, tapi agar kamu sadar bahwa harga diriku tidak pernah bisa diinjak-injak lagi, dulu maupun sekarang."

Nadya duduk terpaku sejenak, menatap punggung suaminya dengan dada yang bergemuruh.

Rasa bangga, terkejut, dan terharu berburuk menjadi satu. Armand yang dulunya selalu mengalah dan menelan mentah-mentah segala penghinaan, kini berdiri gagah sebagai pria yang melindungi kehormatan diri dan istrinya.

Beberapa pengunjung restoran mulai menoleh ke arah meja mereka, berbisik-bisik melihat keributan yang terjadi.

Sarah, yang merasa harga dirinya hancur lebur di hadapan mantan suaminya sendiri, menggigit bibirnya hingga pucat, matanya berkaca-kaca menahan amarah dan rasa malu yang luar biasa.

Sarah tertegun hebat, napasnya memburu tidak beraturan.

Air mata amarah dan rasa malu bercampur menjadi satu di pelupuk matanya.

Ia menatap Armand, berharap menemukan secercah keraguan atau rasa bersalah di mata pria itu, namun yang ada hanyalah dinding es yang tak tertembus.

Dengan suara yang bergetar karena emosi, Armand melontarkan kalimat penutup yang mutlak dan mematikan.

"Pergi dari sini dan jangan ganggu keluargaku. Istriku hanya Nadya."

Kata-kata itu meluncur dengan tegas, menghancurkan sisa-sisa keangkuhan Sarah seketika.

Di hadapan tatapan tajam para pengunjung restoran yang mulai memperhatikan mereka, Sarah tidak punya lagi alasan untuk bertahan. Harga dirinya telah runtuh berkeping-keping di tempat yang sama sekali tidak ia duga.

Dengan tangan yang masih gemetar memegangi pipinya yang memerah, Sarah menyambar kacamata hitamnya di atas meja.

Ia bangkit dari kursi dengan kasar, menatap Nadya dan Armand bergantian dengan kilatan kebencian yang mendalam, lalu berbalik dan melangkah pergi tergesa-gesa meninggalkan restoran dengan menanggung malu yang luar biasa.

Sepeninggal Sarah, suasana di meja itu berangsur-angsur kembali sunyi.

Armand menarik napas dalam-dalam, perlahan melepaskan ketegangan yang mencengkeram sekujur tubuhnya, lalu kembali duduk di kursi.

Ia menatap Nadya, sedikit cemas kalau-kalau tindakannya tadi dianggap terlalu kasar atau mempermalukan.

Namun, Nadya justru tersenyum. Senyuman yang begitu tulus, penuh dengan kebanggaan dan rasa cinta yang teramat dalam.

Nadya mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam jemari Armand yang masih sedikit bergetar.

"Terima kasih, Mas," bisik Nadya lembut, matanya berbinar hangat. "Kamu baru saja membuktikan kalau kamu adalah pelindung terbaik di dunia ini buat aku."

Armand membalas genggaman tangan istrinya, senyuman lega akhirnya terukir di wajahnya.

Badai kecil itu telah berlalu, meninggalkan ikatan di antara mereka yang jauh lebih kuat dan tak tergoyahkan.

Pesanan makanan mereka pun akhirnya tiba, mengembalikan kehangatan siang itu untuk merayakan babak baru kehidupan mereka yang sesungguhnya.

1
Muft Smoker
semoga semua bnr2 berakhir ,,
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
Wayan Suryani
gampang banget nyuliknya TDK masuk akal
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
konflik udh mulai kerasa nii ,,
Muft Smoker
itu laa kalo rasa dendam Dan iri udh berkerak di hati ,,
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,
makin penasaran ma kelanjutan ny
Muft Smoker
Sarah memilih lawan yg salah ,,
Muft Smoker
jgn sampai km terpengaruh arman ,, kalo gx nnti aq slepet km pake nuklir ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
Ceuk kuring mah Sarah geus meunang 2 milyar rupiah, mimitian usaha, ulah miceunan sagalana tanpa alesan, usahakeun ngatur hirup anjeun sangkan leuwih hade,
Muft Smoker
dulu Armand km tukar dg uang 2 miliar ,, skrang dg tdk tau malu ny km ingin mengambil ny kembali krn melihat Armand sudah berbeda ,,
Muft Smoker
mak ma ank sama aj ,,
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
Muft Smoker
awas aja nnti liat si Armand udh sukses ,, ente minta balik lgi ,,
,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!