Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".
Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.
Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.
*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*
Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Kencan Sate
Kirana keluar sebelum pria itu melihat senyum kecil yang gagal ia tahan.
Dua hari kemudian, senyum itu kembali muncul saat layar ponselnya menyala.
Saya akan menjemput pukul enam.
Kirana mengetik balasan, menghapusnya, lalu mengetik lagi.
Untuk apa?
Jawaban Arya masuk nyaris seketika.
Mengganti utang dengan cara lain.
Nggak mau.
Baik. Kalau begitu, sebagai kompensasi karena saya memberi tugas tambahan yang terlalu banyak.
Kirana mendengus.
Itu terdengar sama saja.
Makan malam. Tempat umum. Kamu boleh pulang kapan saja.
Jempol Kirana menggantung di atas layar. Ia tahu pilihan paling aman adalah menolak. Namun ia juga ingat susu hangat, diskusi analisis yang membuatnya lupa waktu, dan cara Arya berhenti di jarak sejengkal hanya karena belum mendengar persetujuan.
Jam enam. Jangan terlambat, ketiknya.
Balasan yang datang hanya satu kata.
Siap.
***
“Lo yakin mau pergi sama Winda?” tanya Winda dari sofa apartemen.
Kirana yang sedang memasang anting berhenti. “Maksud lo?”
“Karena setahu gue, Winda itu gue. Dan gue sedang di sini, pakai masker wajah, nonton drama.”
“Gue cuma bilang ke Mama pergi sama teman.”
“Teman tinggi, ganteng, dan punya aura direktur?”
Kirana meraih tas kecil. “Gue pergi makan.”
“Sama siapa?”
Bel pintu berbunyi.
Winda berdiri lebih cepat daripada Kirana. Ia berlari ke pintu, mengintip melalui layar interkom, lalu menutup mulut dengan kedua tangan.
“Demi apa? Prof. Arya!”
“Pelan.” Kirana menarik lengannya. “Tetangga bisa dengar.”
“Kalian benar-benar ada apa-apa!”
“Nggak ada. Dia cuma...” Kirana mencari istilah yang tidak terdengar gila. “Bayar kompensasi tugas.”
“Kompensasinya pakai makan malam?”
Bel berbunyi lagi.
“Nanti gue jelasin.” Kirana membuka pintu sebelum Winda sempat menahannya.
Arya berdiri di luar dengan kemeja hitam tanpa dasi. Tatapannya menyapu gaun rajut sederhana Kirana, lalu berhenti di wajahnya.
“Kamu cantik.”
Dua kata. Tidak berlebihan. Justru itu yang membuat pipi Kirana panas.
Winda menyembulkan kepala dari balik pintu. “Prof, tolong dipulangkan sebelum tengah malam.”
“Win!”
Arya tidak tampak terkejut. “Pukul sepuluh.”
“Saya pegang janji Prof.”
Kirana mendorong kepala sahabatnya masuk, lalu menutup pintu. Dari balik daun pintu terdengar tawa Winda.
“Dia akan mengirim pesan setiap tiga puluh menit,” kata Kirana.
“Bagus.” Arya berjalan di sampingnya menuju lift. “Berarti ada orang yang memastikan saya menjaga janji.”
Jawaban itu lagi-lagi terlalu masuk akal untuk dilawan.
Kirana menduga Arya akan membawanya ke restoran mewah di pusat kota. Ternyata mobil berhenti di tepi sebuah kawasan kuliner malam yang ramai. Asap sate melayang di bawah lampu tenda. Suara pengamen bercampur dengan denting piring dan teriakan pedagang.
“Prof makan di sini?” tanya Kirana.
“Saya makan makanan.”
“Saya kira orang seperti Prof cuma makan di tempat yang menunya nggak pakai harga.”
Arya memandangnya. “Orang seperti saya itu seperti apa?”
Kirana hampir menjawab direktur. Ia teringat ucapan Winda dan aura aneh yang selalu mengelilingi Arya. Mobil mahal, jadwal rapat, kemeja yang terlihat dibuat khusus.
“Dosen yang terlalu rapi,” jawabnya aman.
Mereka duduk di bangku plastik dekat gerobak sate. Penjual menghampiri dengan buku catatan kecil.
“Dua sate ayam, Pak,” kata Arya. “Yang satu tanpa daun ketumbar, sausnya jangan terlalu pedas. Wortelnya juga tidak usah.”
Kirana menoleh. “Sejak kapan sate pakai wortel?”
“Untuk acar.”
“Prof ingat saya nggak makan itu?”
“Kamu memisahkan wortel dan daun ketumbar dari nasi goreng di pesawat.”
“Prof lihat saya di pesawat?”
Arya menuangkan air mineral ke gelas. “Kita pulang dari Singapura dengan penerbangan yang sama.”
“Kenapa nggak menyapa?”
“Kamu memakai topi, masker, dan tidur menghadap jendela seperti buronan.”
Kirana menutup wajah sebentar. “Memalukan.”
“Menggemaskan.”
“Jangan bilang begitu.”
“Kenapa?”
“Karena...” Kirana menurunkan tangan. “Aneh.”
“Kamu belum terbiasa.”
“Dan saya nggak berniat membiasakan diri.”
Arya menyerahkan gelas kepadanya. “Kita lihat nanti.”
Sate datang dalam kepulan aroma arang dan bumbu kacang. Kirana mencicipi satu potong, lalu tanpa sadar mengeluarkan suara puas.
“Enak?” tanya Arya.
“Lumayan.”
“Kamu menghabiskan satu tusuk dalam sepuluh detik.”
“Saya lapar.”
“Karena makan siangmu cuma roti.”
Kirana meletakkan tusuk sate. “Prof pasang kamera pengawas di sekitar saya?”
“Saya lewat kantin saat kamu makan.”
“Kampus ini tiba-tiba kecil sekali.”
“Saya sudah bilang.”
Seorang anak penjual tisu menghampiri meja mereka. Arya membeli seluruh bungkus yang dibawanya tanpa menawar, tetapi tidak menunjukkan sikap pamer. Ia hanya meminta anak itu pulang sebelum terlalu malam.
Kirana memperhatikannya menyimpan tisu di samping kursi.
“Kenapa lihat saya begitu?” tanya Arya.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu baru menemukan sesuatu yang tidak sesuai prasangkamu?”
“Saya kira Prof akan menyuruh Rian membeli seluruh gerobaknya.”
Arya mengangkat alis. “Kamu tahu nama Rian?”
“Waktu di mobil, Prof menyebutnya.”
“Kamu mengingat hal-hal tentang saya.”
“Jangan geer.”
Arya tersenyum. Malam itu Kirana melihat sisi dirinya yang jarang muncul di kampus. Pria itu tetap sedikit bicara, tetapi mendengarkan setiap kali Kirana menceritakan dosen yang suka mengganti tenggat atau Winda yang membantu usaha ibunya demi cicilan rumah keluarga. Ia tidak memotong, tidak memeriksa ponsel, bahkan membiarkan dua panggilan Rian lewat sebelum mengirim pesan singkat bahwa ia sedang tidak bisa diganggu.
“Boleh saya tanya sesuatu?” kata Kirana saat piring mereka hampir kosong.
“Tanya.”
“Malam itu, kenapa Prof menolong saya?”
Arya meletakkan tusuk sate. “Kamu terlihat takut.”
“Banyak orang akan pura-pura nggak lihat.”
“Saya bukan banyak orang.”
“Lalu kenapa membawa saya ke kamar?”
Tatapan Arya tidak menghindar. “Saya berniat mengantar kamu ke kamar dan pergi. Kamu menahan saya.”
Ingatan tentang jemarinya yang mengait sabuk Arya membuat wajah Kirana terbakar. “Saya nggak ingat semuanya.”
“Saya ingat.”
“Semuanya?”
“Setiap kata.”
Kirana menunduk pada saus kacang di piring. “Saya takut sudah melakukan sesuatu yang...”
“Yang tidak kamu inginkan?” Arya menyelesaikan dengan hati-hati.
Kirana mengangguk kecil.
“Saya bertanya setiap kali kamu ragu. Kamu menjawab. Ketika kamu bilang berhenti, saya berhenti.” Suara Arya tidak lagi mengandung godaan. “Kalau ada bagian yang membuatmu tidak nyaman, katakan. Saya tidak akan membantah ingatanmu atau perasaanmu.”
Simpul yang sejak enam minggu lalu bersarang di dada Kirana perlahan mengendur. Ia memang mengingat Arya berhenti. Mengingat dirinya sendiri yang menarik pria itu kembali, sadar pada keputusan meski seluruh tubuhnya kacau.
“Saya malu,” akunya.
“Karena memilih saya?”
“Karena besoknya saya takut sekali.”
“Jadi kamu membayar saya.”
Kirana meringis. “Itu keputusan paling bodoh dalam hidup saya.”
“Bukan yang paling buruk.”
“Apa yang paling buruk?”
“Pergi tanpa meninggalkan nomor.”
Kirana tertawa sebelum sempat menahannya. Arya memandang wajahnya seolah suara itu hadiah yang lebih mahal daripada makan malam.
“Prof selalu begini kalau mengejar perempuan?”
Senyum Arya memudar, digantikan keseriusan yang aneh. “Saya sudah bilang. Tidak ada perempuan lain.”
“Sulit dipercaya.”
“Saya juga sulit percaya pada apa yang terjadi saat bertemu kamu.”
“Maksudnya?”
Arya diam sesaat. Jarinya mengetuk meja satu kali, seperti sedang memilih berapa banyak rahasia yang boleh keluar.
“Belum waktunya,” katanya akhirnya.
Kirana ingin mendesak, tetapi cara Arya menatapnya membuat pertanyaan itu tertahan. Ada sesuatu yang besar di balik kalimat tersebut, sesuatu yang belum siap diberikan pria itu.
Untuk malam ini, Kirana membiarkannya tinggal sebagai misteri.
Setelah makan, mereka berjalan melewati deretan kios minuman. Kirana berhenti setengah detik di depan gambar boba stroberi.
Arya langsung berbelok. “Satu boba stroberi.”
“Saya nggak bilang mau.”
“Matamu bilang.”
“Mata saya nggak bisa ngomong.”
“Mata kamu paling jujur.”
Penjual perempuan muda menyerahkan gelas sambil tersenyum pada Arya. “Untuk pacarnya, Kak?”
Kirana buru-buru menjawab, “Bukan.”
Arya menjawab pada saat yang sama, “Belum.”
Penjual itu tertawa kecil. Kirana mencubit lengan Arya begitu mereka menjauh.
Otot di balik kemejanya keras. Kirana segera menarik tangan, tetapi Arya sudah menangkap pergelangannya. Genggamannya hangat dan longgar, cukup mudah untuk dilepas.
“Kenapa belum?” tanya Kirana.
“Karena kamu masih suka lari.”
“Saya bahkan belum bilang suka.”
“Kamu datang malam ini.”
“Karena makanan gratis.”
“Tentu.”
Ia melepaskan pergelangan Kirana, tetapi selama berjalan kembali ke mobil, jarak bahu mereka tidak pernah lebih dari beberapa senti.
Di dalam mobil, Kirana membaca pesan Winda yang ketujuh.
Masih hidup?
Kirana mengirim foto gelas boba.
Sangat hidup.
Jawaban Winda datang bersama deretan emoji mata.
JADI KENCAN BENERAN?
Kirana mematikan layar.
“Winda?”
“Dia cerewet.”
“Tapi dia menjaga kamu.”
“Iya.” Kirana mengisap boba terakhir dari sedotan. “Kami sama-sama menjaga.”
Arya menyalakan mesin, tetapi tidak langsung menjalankan mobil. Tatapannya jatuh ke sudut bibir Kirana.
“Diam,” katanya.
“Kenapa?”
“Ada boba.”
Kirana mengusap sisi kanan mulut. “Sudah?”
“Bukan di sana.”
Ia mencoba sisi kiri. Arya menangkap pergelangan tangannya, lalu melepaskannya perlahan ke pangkuan.
“Saya bersihkan.”
Jantung Kirana mulai memukul terlalu cepat. “Pakai tisu.”
“Tisunya di belakang.”
“Bisa ambil.”
“Bisa.” Arya tidak bergerak. “Tapi saya ingin cara lain.”
Kirana menatap matanya. Tidak ada meja dosen, tidak ada nilai, tidak ada pintu yang menghalangi. Hanya kabin remang, suara kendaraan dari kejauhan, dan pilihan yang sepenuhnya berada di tangannya.
Arya menunggu.
“Kalau saya bilang tidak?”
“Saya antar kamu pulang.”
“Kalau saya bilang iya?”
Suara Arya menjadi lebih rendah. “Saya cium kamu.”
Panas menjalar ke leher Kirana. Ia seharusnya memalingkan wajah. Sebaliknya, jemarinya mencengkeram sedikit kain kemeja Arya.
“Sekali,” bisiknya.
Tatapan Arya menggelap.
“Sekali,” ia menyetujui.
Tangannya naik ke rahang Kirana, hangat dan hati-hati. Ia memberi satu detik terakhir untuk mundur.
Kirana justru mendekat.
Lalu bibir Arya menyentuh sisa rasa stroberi di sudut bibirnya.