Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:5
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9

Luka yang Sembuh Semalam

Suara Yuliana menjadi hal pertama yang didengar Ratri ketika kesadarannya kembali.

"Kalau bukan karena saya, mungkin sekarang dia sudah dibawa ke kamar jenazah. Empat miliar itu bahkan tidak sebanding dengan nyawanya."

Ratri membuka mata perlahan.

Cahaya pagi menembus celah tirai. Yuliana duduk di sofa sambil menunjukkan notifikasi transfer kepada Wira. Kotak beludru merah tergeletak di pangkuannya, masih tertutup.

Wira berdiri dekat pintu dengan wajah lebih dingin daripada dinding rumah sakit.

"Nyai sudah sadar."

Yuliana langsung menyimpan telepon dan berlari ke sisi ranjang. "Ratri! Syukurlah. Tante hampir mati ketakutan. Untung Tante membawa pusaka ibumu dan bersedia membantu."

Ratri menatap kotak merah itu. "Apa yang Anda lakukan?"

"Menyelamatkanmu, tentu saja. Orang-orangmu membayar Rp 4 miliar sebagai ganti pusaka dan darah Tante."

"Kami tidak pernah memakai darah atau isi kotak itu," potong Wira. "Kotaknya bahkan tidak masuk ruang tindakan."

Yuliana menoleh tajam. "Dokter tidak mengerti cara pusaka bekerja. Cukup dibawa dekat Ratri, dayanya sudah terasa."

"Kalau begitu, kenapa minta empat miliar?"

"Karena itu milik keluarga saya."

Ratri menutup mata lagi. Kepalanya tidak sakit. Yang membuatnya berdenyut justru suara Yuliana.

"Keluar."

"Kamu bicara kepada siapa?"

"Kalian berdua. Saya ingin tidur."

Wira langsung membuka pintu. Yuliana masih hendak menjelaskan jasanya, tetapi Ratri mengangkat satu tangan tanpa melihatnya.

"Kalau saya harus mendengar angka empat miliar sekali lagi, uang itu akan menjadi biaya pemakaman Anda."

Yuliana memeluk tas dan kotaknya. "Baru sadar sudah mengancam orang tua. Tidak tahu terima kasih."

Ia pergi sambil mengomel.

Wira menunggu di ambang pintu. "Nyai yakin saya juga harus keluar?"

"Cari pengirim uang itu."

"Sedang dilacak. Rekening pengirim melewati beberapa lapis sistem pembayaran. Nama akhirnya tertutup."

"Kalau begitu jangan berdiri di sini."

"Baik, Nyai."

Setelah pintu tertutup, Ratri menyentuh bagian belakang kepalanya.

Jemarinya tidak menemukan perban tebal yang ia duga. Hanya ada selembar kasa tipis. Ia menariknya perlahan.

Kulit di bawah rambutnya rata.

Tidak ada luka terbuka.

Tidak ada jahitan.

Bahkan tidak ada kerak darah.

Ratri menekan tempat yang semalam menghantam sudut meja. Tidak sakit.

Ia menekan tombol panggil.

Dokter jaga datang bersama seorang perawat. Begitu melihat kasa di tangan pasien, ia mendekat dengan wajah khawatir.

"Jangan melepas penutup luka sendiri."

"Lukanya di mana?"

Dokter memisahkan rambutnya, lalu diam.

"Ini tidak mungkin."

"Kalimat itu tidak membantu."

"Semalam lukanya masih aktif. Kami tidak menjahit karena tepinya terus mengeluarkan darah."

Ratri turun dari ranjang. "Lakukan CT kepala lagi."

"Anda masih harus beristirahat."

"CT dulu. Istirahat setelah saya tahu apa yang terjadi."

Pemeriksaan dilakukan satu jam kemudian. Dokter membandingkan gambar semalam dan pagi itu berkali-kali.

Pada hasil pertama terlihat pembengkakan jaringan dan tanda trauma. Pada hasil baru, tidak ada jejak cedera.

"Mesinnya bermasalah?" tanya Ratri.

"Kami mengulangnya dua kali dengan alat berbeda. Hasilnya sama."

Dokter melepas kacamata dan mengusap wajah. "Semalam kami berjuang sampai hampir pukul tiga hanya untuk mempertahankan tekanan darah Anda. Pagi ini kepala Anda seperti tidak pernah terluka. Saya tidak punya penjelasan medis."

Ratri memandangi dua lembar gambar itu.

Ini bukan pertama kali.

Bertahun-tahun lalu, ia pernah terluka parah dan kehilangan kesadaran selama tiga hari. Ketika bangun, seluruh luka di tubuhnya menutup tanpa bekas. Saat itu Eyang Suryo hanya berkata bahwa ada utang hidup yang belum ia pahami.

Ratri tidak pernah mendapatkan jawaban lebih jauh.

Kini keajaiban yang sama terjadi tepat pada malam Baskara pulang.

Kebetulan?

Ratri tidak percaya pada kebetulan.

Ia meminta salinan kedua hasil CT, menandatangani penolakan rawat inap, lalu meninggalkan rumah sakit sebelum tengah hari. Wira berusaha membujuknya, tetapi satu tatapan membuat lelaki itu berhenti.

"Ke Kantor Hukum Sinar Sentosa," perintah Ratri.

"Nyai baru sadar beberapa jam."

"Justru karena itu orang-orang yang berharap saya mati perlu melihat saya berjalan."

***

Kabar bahwa Ratri masuk rumah sakit telah sampai ke kantor lebih cepat daripada mobilnya.

Di ruang rapat lantai atas, beberapa pemegang saham minoritas sedang menuntut pembagian kendali sementara. Suara mereka lenyap ketika pintu lift terbuka dan Ratri berjalan keluar dengan setelan putih bersih.

Mbak Lia menyambutnya. "Bu Ratri, kami tidak menyangka Anda datang."

"Itu sebabnya saya datang."

Seorang pemegang saham yang tadi paling keras langsung merapikan jas. "Kami hanya mendiskusikan rencana darurat. Tidak ada keputusan apa pun."

"Bagus. Berarti tidak ada yang perlu dibatalkan."

Satu per satu mereka mencari alasan pergi. Dalam dua menit, ruang rapat kosong.

Ratri baru hendak memasuki ruang kerjanya ketika melihat seorang staf administrasi keluar sambil memeluk tumpukan berkas. Wajah perempuan itu pucat dan langkahnya terlalu cepat.

"Berhenti."

Staf itu membeku.

"Berkas apa?"

"Bahan pelatihan, Bu."

"Letakkan di meja."

"Saya diminta mengantarnya ke bawah."

Ratri mengambil tumpukan itu. Di antara dokumen biasa terselip akta pengalihan saham dengan tanda tangan yang menyerupai miliknya.

Delapan puluh persen kepemilikan Kantor Hukum Sinar Sentosa akan berpindah kepada Bimo jika Ratri meninggal atau dinyatakan tidak cakap.

Tinggal cap notaris yang belum lengkap.

"Mbak Lia, nonaktifkan akses staf ini dan simpan rekaman lift serta ruang arsip."

"Baik, Bu."

Staf itu mulai menangis. "Saya hanya disuruh."

"Sampaikan nama orang yang menyuruh kepada penyidik nanti. Sekarang keluar."

Ratri meletakkan akta palsu di meja kerjanya.

"Wira, bawa Anin ke sini."

Anindya tiba satu jam kemudian. Wajahnya tegang ketika dokumen tersebut dilempar ke meja di depannya.

"Saya belum mati," kata Ratri. "Kau sudah mau memberikan perusahaan saya kepada Bimo?"

"Aku tidak memberikan apa-apa."

"Tanda tangan saya dipalsukan memakai berkas yang hanya bisa diakses keluarga."

Anin mengangkat dagu. "Bimo lebih mampu mengurus perusahaan. Dia pewaris Adiningrat, dan setelah tahun baru dia akan menikahiku. Saham itu tetap jatuh kepada keluarga sendiri."

"Keluarga?"

"Kau mendapatkan semuanya setelah menikah dengan Mas Baskara. Wajar kalau perusahaan kembali ke pihak suami."

Ratri menatap adik tirinya. "Semalam kau yang memberikan kartu akses kepada Bimo?"

Anin terdiam.

Keheningan itu sudah menjadi jawaban.

"Kau tahu dia masuk ke kamar saya."

"Aku pikir dia cuma mau bicara."

"Dia membius minuman saya dan memukul kepala saya."

Anin memalingkan wajah. "Tapi kau masih hidup. Semua orang juga tahu hidupmu tidak akan lama. Daripada perusahaan ini kacau setelah kau mati, lebih baik dikembalikan kepada keluarga Adiningrat sejak sekarang."

Udara di ruang kerja seolah berhenti.

Ratri menggeser akta palsu itu kembali ke dalam map.

"Wira, bawa dia keluar. Mulai hari ini, jangan biarkan Anin bertemu Bimo."

Anin berdiri. "Kau tidak bisa mengatur hidupku!"

"Kalau saya menemukan kau berhubungan dengan keluarga Adiningrat lagi," kata Ratri, "saya patahkan kakimu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!