Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehangatan Di Ujung Senja

Kehangatan Di Ujung Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:33.8k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.

​Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.

Akankah Alfa bisa menemukan Senja?

Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adik Ipar

Langkah kaki Alfa mengalun pelan menelusuri koridor lantai lima puluh, mengantar Senja menuju ruangan barunya. Ruangan megah dengan dinding kaca tempered melengkung yang menyajikan pemandangan lanskap ibu kota itu kini resmi menjadi wilayah Senja.

Bagi Senja, ruangan baru ini sejatinya adalah penjara baru baginya. Sebuah sangkar emas yang dirancang khusus untuk mengikatnya dalam rantai bisnis keluarga. Namun, jika dulu sangkar di bawah cengkeraman Papanya terasa seperti penjara gelap gulita yang dingin dan penuh duri, mungkin sangkar sekarang sedikit berbeda. Di sini, setidaknya Senja bisa melihat setitik cahaya yang menerobos masuk dari sedikit celah yang mulai terbuka.

"Ini ruanganmu, Senja. Kalau ada fasilitas atau interior yang perlu diubah, katakan saja!" Ujar Alfa seraya membukakan pintu untuknya.

"Terima kasih, Mas. Ini sudah lebih dari cukup." Balas Senja dengan senyum tipisnya yang biasa.

Setelah memastikan Senja menyatu dengan lingkungan barunya, Alfa berpamitan dan kembali ke ruangannya sendiri yang berada di ujung koridor lain. Mereka berdua mulai menyatukan diri dalam tumpukan dokumen ekspansi perusahaan dan jadwal rapat yang padat.

Tak terasa, jarum jam merayap cepat menuju pukul dua belas siang. Saat jam makan siang tiba, atmosfer profesional itu mendadak berganti menjadi tekanan tak kasat mata. Sebagai pengantin baru dari dua konglomerat besar yang baru saja mengikat janji, mereka tentu saja harus terlihat keluar bersama demi menjaga citra di mata publik dan karyawan.

Namun, kendala besar menghadang. Alfa menatap layar ponselnya yang baru saja menyalakan notifikasi pesan singkat dari Suster Weni. Kondisi Dila memerlukan perhatian dan Alfa harus bergegas melihat kekasihnya itu ke rumah sakit.

Alfa mulai dilanda dilema yang teramat sangat. Pria itu berdiri kaku di depan meja kerja Senja. Jika mereka terlihat keluar kantor secara terpisah di hari pertama bekerja, hal itu dipastikan akan memicu gosip dan rumor liar di kalangan media online.

Publik akan mencium bau ketidakharmonisan dari pasangan yang baru menikah sehari namun sudah bergerak sendiri-sendiri.

Melihat raut wajah Alfa yang serba salah dan penuh keraguan, Senja dengan sigap mengambil keputusan.

"Aku akan ikut pergi dari kantor bersamamu, Mas" Potong Senja memecah keraguan Alfa.

Alfa menatapnya terkejut.

"Tapi Senja, aku harus...."

"Aku tahu. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit untuk menemui Dila" Lanjut Senja tenang sembari merapikan tas tangannya.

"Tapi tenang saja, aku akan mencari tempat lain di sekitar sana dan tidak akan mengganggu kalian. Kehadiranku keluar bersamamu dari gedung ini hanya untuk membuat orang-orang tidak curiga."

Alfa terpaku. Rasa bersalah dan rasa terima kasih berkecamuk hebat di dalam dadanya.

"Terima kasih, Senja..." Bisiknya lirih.

Mobil yang dikendarai Alfa menurunkan Senja di depan sebuah kafe bergaya vintage yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari area rumah sakit tempat Dila dirawat.

Senja memilih masuk ke dalam kafe tersebut seorang diri. Sebelum menginjakkan kaki di dalam ruang kafe, ia memasang kacamata hitam berbingkai besar dan masker kain gelap untuk menutupi separuh wajah cantiknya. Ia sengaja tak ingin dikenali oleh siapa pun.

Menariknya, hari ini Senja pergi benar-benar seorang diri. Ia tidak lagi diikuti oleh Meimei, asisten pribadinya yang sebenarnya adalah mata-mata kepercayaan Papanya.

Senja berhasil membatasi pergerakan Meimei dengan alasan cerdik bahwa Alfa merasa tidak nyaman jika ada asisten pribadi yang terus mengekor di kehidupan pribadi mereka.

Sebuah alasan berkelas yang membuat Prasetya tak bisa berkutik, sekaligus memberi Senja sedikit napas kebebasan dari pengawasan ketat sang ayah.

Senja memilih sudut paling sepi di bagian belakang kafe, terlindungi oleh rimbunnya tanaman hias indoor. Ia memesan segelas cappuccino hangat dan menikmati makan siangnya dalam keheningan yang menenangkan.

Sampai akhirnya, sebuah bayangan tinggi melintas dan mendekati mejanya. Seorang pria berpakaian santai dengan hoodie hitam longgar yang tudungnya ditarik hingga menutupi sebagian kepala berdiri di samping meja Senja.

Pria itu sengaja berpenampilan demikian agar tak memancing perhatian publik di tempat umum, persis seperti Senja yang memakai kacamata hitam dan masker saat masuk tadi.

Senja menghentikan usapan jemarinya di atas cangkir, sedikit terkejut saat pria itu secara lancang mengambil posisi duduk di hadapannya.

"Hai, Kakak Ipar..." Sapa pria itu. Bibirnya terangkat, mengulas senyum miring yang penuh penekanan.

Senja melepas kacamata hitamnya pelan. Matanya membelalak tipis begitu mengenali sosok di depannya. Pria itu adalah Ares, adik kandung Alfa, alias adik iparnya sendiri.

Senja sempat mengernyitkan dahi mendengar nada suara dan gaya bicara Ares yang terkesan sangat santai dan sedikit nakal. Saat pertemuan keluarga di restoran mewah untuk membahas rencana perjodohan waktu itu, Senja mengira

Ares adalah tipe pria muda yang pendiam, dingin, dan acuh tak acuh. Pasalnya, sepanjang acara makan malam itu Ares hanya duduk membisu sembari fokus menatap layar ponselnya.

"Hai" Jawab Senja kaku, mencoba menguasai keterkejutannya.

"Boleh duduk di sini?" Tanya pria yang usianya dua tahun lebih muda di bawah Senja itu, meski tubuhnya sudah lebih dulu santai bersandar di kursi.

"Tentu" Sahut Senja santun.

Ares menyandarkan punggungnya, menatap Senja dengan binar mata yang penuh rasa ingin tahu.

"Kenapa di sini sendiri? Di mana kakakku?"

Senja menyedot minumannya pelan, merangkai kata.

"Dia..."

"Dia menemui kekasihnya itu?" Potong Ares cepat tanpa ragu-ragu.

Senja tertegun, matanya menatap Ares lurus-lurus.

"Kamu tahu?"

"Sudah tidak heran lagi" Sahut Ares terkekeh sinis, menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Dia memang selalu mementingkan wanitanya itu dibanding apa pun di dunia ini."

"Keadaannya drop lagi, Ares" Sela Senja mencoba meluruskan, memberikan alasan objektif atas tindakan suaminya.

Ares mendengus pelan, tatapan matanya seolah begitu jengah.

"Akan terus seperti itu kalau dia tidak secepatnya mendapatkan donor ginjal yang cocok. Tapi... apa Kakak Ipar tidak keberatan karena suamimu pergi menemui kekasihnya di hari pertama kalian bekerja?"

Senja mengulas senyum tipis yang amat tenang, tidak ada raut terluka sedikit pun di wajahnya.

"Kamu tahu sendiri kami menikah karena apa, kan? Jadi... kenapa aku harus keberatan?"

Ares terdiam sejenak. Kedua alisnya terangkat tinggi, memancarkan rasa kagum yang tak tertutupi atas ketenangan wanita di hadapannya.

"Wooww... aku sungguh tidak menyangka wanita sepintar dirimu punya pikiran seluas dan sesantai itu" Puji Ares terkagum-kagum.

Dibandingkan dengan Alfa yang cenderung kaku, berjarak, dan selalu dibayangi rasa bersalah, gaya interaksi Ares terasa jauh lebih santai dan menyenangkan.

"Terima kasih atas pujiannya" Balas Senja elegan. Namun kemudian, ia menatap Ares dengan pandangan sedikit terganggu.

"Dan tolong... jangan panggil aku seperti itu. Itu... terdengar sangat tidak nyaman di telingaku. Panggil saja namaku."

Ares terkekeh pelan, senyum miring kembali terukir di wajah tampannya saat ia memajukan tubuhnya mendekati meja Senja. Tatapan matanya mendadak berubah tajam, penuh kilat intimasi yang sulit diartikan.

"Oh, maaf kalau membuatmu tidak nyaman, Kakak Ip... emmm maksudku, Kak Sen...ja" Bisik Ares pelan, mengeja nama Senja dengan nada suara yang amat dalam dan provokatif.

"Hmmm!"

Sebuah deheman berfrekuensi berat dan dingin tiba-tiba memotong percakapan mereka dari belakang. Suara bariton yang teramat akrab itu mengejutkan Senja dan Ares secara bersamaan.

Senja dan Ares mendongak serentak.

1
Nar Sih
sperti nya kmu mulai jatuh cinta dgn alfa senja
Nar Sih
dari perhatiaan alfa ke senja seperti psng suami istri yang saling mencintai pdhl ...mungkin hnya sbts tangung jwb alfa
Ari Atik
pengen nya alfa merasa kehilangan senja..
biar dia tau perasaan .yg sesungguhnya ...
juwita
kasihan senja jatuh cinta sm suami sendiri tp di hatinya ada cwek lain😭😭😭
mery harwati
Ada kopi online bwt author agar membuka rahasia, apakah orang tua Senja tau bahwa Alfa masih berhubungan dengan Dila meski Alfa sudah menikah sah dengan Senja
Karena bisa jadi nanti pelarian Senja dalam pernikahan ada campur tangan orang tua Senja karena Senja diabaikan oleh Alfa
Agnezz: makanya Senja dan Alfa harus tahan2 diri aja dulu Suatu saat mereka jadi pimpinan dan pemilik perusahaan. Ayah2 mereka sudah tertalu tua dan sakit2an, suatu saat akan menyerahkan perusahaan pada mereka
total 3 replies
mery harwati
Sebentar² aq jadi berpikir tentang pernikahan antara Senja & Alfa memang sudah disetujui oleh kedua orang tua mereka, tapi soal Alfa yang masih merawat Dila & "menelantarkan" Senja sebagai istri sah, diketahui tidak oleh orang tua Senja? Sebab selama episode ini hanya ayah Alfa yang keras menentang hubungan Alfa & Dila, andaikan orang tua Senja bahwa Alfa punya kekasih Dila & tetep menjodohkan Senja dengan Alfa, brati memang Senja benar² sendiri hidupnya ditengah kemewahan, tapi seandainya orang tua Senja tak tau bahwa Alfa masih berhubungan dengan Dila dan Alfa menyakiti Senja, waahh harusnya orang tua Senja menyembunyikan Senja dari Alfa & keluarganya 🤔💪
Agnezz: mungkin karena Senja mulai jatuh cinta pada Alfa dan dalam pandangan Senja, hati.Alfa sudah terkunci pada Dila. Tujuan awal.Senja mau menikah adalah pernikahannya menjadi jembatan menuju kebebasannya. Senja audah bosan terlalu dituntut dan disetir ayahnya. yah memang Senja KESEPIAN. orang tuanya hanya menjadikan Senja sebagai alat.
total 3 replies
Agnezz
Alfa emang cowok yg penuh kasih sayang dan perhatian. Dia tidak bisa berdiam diri kalo orang lain sakit. Pantas sangat mengkhawatirkan Dila karena dia sepeduli itu.Hati2 Senja jangan sampai jatuh cinta.
Agnezz
Untung yg jadi istri Senja, coba kalo wanita lain yg gak terima Alfa masih berhubungan dan memikirkan Dila. bisa dibejek-bejek kamu Alfa.
Agnezz
"Jangan merasa sendirian lagi Senja" berati Alfa paham kalo Senja kesepian.
" Selama kita bersama, aku akan selalu ada disini menemanimu." Jangan terlalu umbar janji Alfa. saat masih bersama sebagai suami istri, dihatimu masih ada Dila.
Hanima
lanjuttt
Cahaya
senja😍
Cahaya
lanjutttt
Hanima
Lari lah jauh2 senja
Inara Khimar
saran ku lari senja lari yang jauh
Ikaaa1605
😍
Cahaya
masihh spi ini blm pada hadir
Sastri Dalila
🤗
Nar Sih
semoga badai nya cpt pergi dan kalian sgra kmbli sampai daratan lgi
Umfaiq
baru kali ni ada CEO bodoh ga ketulungan
Ass Yfa
dan Senjapun tak ada dlm masadepan Alfa..sesakit itu yg Senja...tak ada deorangpun yg tulus menyanyangimu..bahkan suami sendiri😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!