Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.
Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.
Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.
Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Monisha Affan 06.
Cuaca sore ini sedang mendung-mendung nya dimana saat bel sekolah sudah berbunyi, separuh siswa dan siswi nampak terburu-buru ke gerbang utama untuk segera pulang ke rumah, separuhnya terlihat pergi ke tempat bimbel nya masing-masing.
Hanya saja separuh siswa yang ada eskul dan kegiatan sekolah memilih bertahan di sekolah ini. Terlebih saat Affan sebagai ketua OSIS, sudah berhasil mengumpulkan anggota nya untuk berkumpul.
Sementara Mona yang melihat itu nampak tersenyum tipis, sebelum ia memberi tahu ke Affan kalau ia akan pulang telat, lagi pula sebagai murid yang bebas tanpa aktivitas sekolah membuat nya pergi bersama Andin untuk main padel di pusat kota.
Hujan yang awalnya terlihat kecil, kini menjadi besar. Bahkan disertai badai petir yang terus menyambar.
Sehingga Affan mengakhiri pertemuan nya dengan para anggota OSIS untuk segera pulang ke rumah sebelum jalanan akan banjir dan berakhir terjebak di dalam nya.
Affan membuka hp cuma untuk melihat jam, dimana terlihat jam setengah enam sore, hanya saja saat melihat jam di hp nya, terlihat juga ada notifikasi pesan WhatsApp dari Mona yang satu jam lalu ia kirim.
Mona mengirim pesan kalau ia sedang main dengan Andin, serta memberi tahu pulang ke rumah mungkin agak terlambat karena mau mampir dulu ke Gramedia.
Tapi mendengar bagaimana ganas nya petir menyambar serta deras nya hujan saat turun, Affan sedikit menaruh rasa khawatir pada Mona. Terlebih ia pergi ke sekolah pakai ojek online. Karena sepeda motor Mona yang biasa dipakai sehari-hari ke sekolah sudah di ambil alih oleh ibunya untuk berpergian jika tak memungkinkan memakai mobil.
Sebagai ganti sepeda motor Mona yang di ambil. Mama Anggun meminta Affan untuk antar Mona ke sekolah, serta menjemput nya jika pulang sekolah.
Tapi sampai detik ini Affan tidak sama sekali menuruti keinginan mama mertuanya, sebab ada perjanjian yang terikat diantara mereka.
Keterdiaman Affan seketika buyar saat hp di genggaman nya berdering. Praktis, Affan mengangkat sambungan telepon dari kontak bernama 'istri nyebelin'
"Hallo" Affan memulai obrolan di balik sambungan telepon itu.
"Tolong jemput saya si di perempatan jalan layang, saya diturunin ojol karena salah cantumin alamat tujuan. Uang saya di minta penuh. Saya takut sendirian, saya takut petir, saya takut. ARGHHHH!!" Keluh Mona dengan tangis nya yang terdengar histeris. Sementara ia berteriak karena terdengar ada petir yang menyambar sangat kerasa disana.,
Secara, Affan langsung panik sendiri. "Kamu kamu tunggu disana okey, saya akan kesana!"
Sambungan telepon itu kemudian ditutup oleh Affan untuk melihat lokasi yang dikirim oleh Mona, melihat nama jalan pahlawan saja sudah tahu tempat nya dimana. Sebab, jalan itu menjadi jalan alternatif menuju pulang ke rumah kalau terjadi kemacetan parah.
Bahkan saat anggota OSIS terlihat tenang menunggu hujan menjadi reda. Justru sang ketua tiba-tiba ngibrit menerjang badai petir di tengah lapang menuju ke parkiran sekolah.
Membuat anggota OSIS yang melihat tingkah laku tidak biasa dari ketuanya menjadi saling memandang untuk bertanya-tanya.
Tidak hanya sekumpulan anggota OSIS yang meneduh di dekat kantin sekolahan, murid yang meneduh di area masjid dekat gerbang pertama pun terlihat heran saat melihat ketua OSIS itu sudah mengendarai motor dengan kecemasan menerjang ganas nya badai petir di atas derasnya air hujan.
Karena mengendarai motornya ngebut, Affan datang lima belas menit dari sekolah menuju ke tempat Mona berada.
Affan turun dari motor, lalu berlari ke posisi Mona yang terlihat carut marut di halte seorang diri. Seragam sekolah yang basah kuyup, kedua tangan sibuk memeluk dirinya sendiri karena menggigil kedinginan. Lalu ia berteriak saat petir ganas itu kembali menyambar. Praktis, Mona kembali menangis dan terus memanggil nama mamanya.
Yang dipanggil mamanya, justru yang datang suaminya. "Kamu baik-baik saja?" Kata Affan yang kemudian duduk di samping Mona.
Mona yang mendengar suara dari suami nya langsung menoleh, saat petir itu kembali menyambar, justru gadis itu semena-mena mengungkung perut Affan sebagai tempat berlindung nya. "Saya takut petir"
"Andin kemana? Kenapa kamu bisa nyasar disini?"
"Sudah dijemput pacarnya, saya naik ojol tapi salah cantumin alamat tujuan. Mamang ojol nya merasa sudah mengantar saya di sesuai titik antar. Saya mau minta antar ke rumah tapi langsung ditolak" Jawab Mona seraya menangis histeris.
Affan menghela nafas sejenak, sebelum ia membawa Mona pulang ke rumah.
Sampai rumah, Mona langsung dituntun oleh Affan masuk ke dalamnya, Karena tau jadwal kebersihan rumah hari ini milik Affan, Mona enggan masuk ke dalam karena takut lantai itu kotor. Tapi Affan justru terus menuntun nya dan enggak peduli dengan ocehan gadis itu.
Affan memberi kehangatan untuk Mona lewat handuk yang tiba-tiba dililitkan di kedua pundak mungil nya, bahkan Affan meminta Mona untuk mandi air hangat di balik shower.
Di dalam kamar mandi sana, Mona tiba-tiba terdiam seraya mempertanyakan tentang perasaan lain yang tiba-tiba datang tanpa permisi. Dan itu Mona tidak tahu itu apa.
Sementara dari posisi Affan tiba-tiba pergi ke apotek setelah menyentuh tangan Mona yang sudah panas.
Butuh waktu dua puluh menit untuk Affan kembali lagi ke rumah. Ia membawa obat penurun demam yang barusan dibelinya. Sementara itu Mona sudah berganti pakaian tebal karena badan nya terasa dingin.
Di balik selimut, Mona berdoa kalau ia tidak jatuh sakit. Sebab ia baru saja bersin dengan mata yang mulai berkunang-kunang.
"Affan...." Mona memanggil suaminya, namun Affan engga menyahuti nya.
Mona tidak tahu apa yang dilakukan suami nya, dipikirannya mungkin saja Affan sedang ngepel lantai yang basah.
Tapi itu salah pemikiran, sebab Affan yang tiba-tiba datang ke kamar Mona membawa bubur gosong serta obat pereda nyeri yang di bawanya.
Mona terkekeh ketika melihat bubur buatan Affan gosong. Namun gadis itu tetap memakan nya dibalik tangan Affan yang kini sedang menyuapinya.
Karena sudah pilek parah, bubur gosong itu seakan tidak terasa hingga di telan begitu saja oleh Mona.
"Habis makan minum obatnya, terus kamu langsung tidur jangan begadang. Malam ini saya akan tidur di kamar ini untuk mantau kamu." Kata Affan.
Mona tersenyum penuh arti, lalu mengangguk paham. "Iya" Jawabnya singkat.
......................
...****************...
To be continue,
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan