Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Tangisan di Pemukiman Kumuh
Langkah kaki Rendy terasa berat menyusuri gang-gang sempit pemukiman kumuh di pinggiran kota. Bau sampah dan genangan air hujan menyambutnya, sangat bertolak belakang dengan kemewahan restoran Le Grand yang baru saja ia tinggalkan. Rasa sakit di jarinya yang memar akibat diinjak Danang masih berdenyut, tetapi rasa cemas di dadanya jauh lebih menyiksa.
Ibunyanya sedang sakit sakaratul maut di kontrakan mereka, dan Rendy belum bisa membawa obat yang dibutuhkan karena gajinya dipotong habis oleh Manajer Hendra.
Namun, begitu Rendy membelok di ujung gang menuju kontrakan nomor 12, matanya membelalak.
Di depan pintu rumahnya yang lapuk, kardus-kardus pakaian, kasur tipis yang sudah robek, dan perkakas dapur miliknya berserakan di tanah yang basah. Beberapa barang bahkan rusak pecah akibat dilempar sembarangan.
"Ibu!" teriak Rendy histeris.
Ia berlari mendekati seorang wanita tua kurus yang sedang duduk bersandar di dinding luar, batuk-batuk hebat sembari memegangi dadanya.
Kain sarungnya kotor terkena lumpur.
"Rendy... kamu sudah pulang, Nak?" suara Bu Asnah—ibu Rendy—terdengar amat lemah, nyaris tenggelam oleh suara batuknya.
"Ibu! Kenapa barang-barang kita di luar?!"
Rendy berlutut, merengkuh tubuh ibunya yang gemetar dingin. Tangannya yang memar gemetar hebat saat mengusap punggung sang ibu.
"Baguslah kamu sudah pulang, Rendy!"
Seorang pria paruh baya bertubuh tambun—Ibu Pemilik Kontrakan—keluar dari pintu dengan tangan bersedekap di dada. Di belakangnya, berdiri dua pria berbadan tegap berpakaian serba hitam dengan tato di lengan mereka.
"Pak RT! Kenapa Bapak melempar barang-barang kami?!" bentak Rendy, matanya memerah menahan murka. "Saya kan sudah janji akan bayar tunggakan sewa begitu dapat gaji malam ini!"
"Gaji apa?! Saya tahu kamu baru saja dipecat dari Le Grand!" cibir Pak RT tanpa empati. "Lagi pula, bukan cuma masalah tunggakan sewa dua bulan.
Ada orang besar yang menyewa dua orang preman ini buat memastikan kamu dan ibumu angkat kaki dari sini malam ini juga!"
Rendy menatap dua pria berbadan tegap di belakang Pak RT. Salah satu dari mereka maju, lalu terkekeh sinis.
"Bos kami, Tuan Danang, menitip pesan buat kamu,
Pelayan Miskin," ujar preman itu sambil meludah ke tanah. "Dia bilang, orang miskin lagak kaya kayak kamu nggak pantas tinggal di tempat yang agak layak. Jadi, mending kamu tidur di kolong jembatan sama ibumu yang penyakitan itu!"
Danang!
Nama itu bergema berulang kali di kepala Rendy bagaikan hantaman godam. Pria itu tidak hanya mempermalukannya di restoran, tetapi juga tega mengusik ibunya yang sedang sekarat hingga mengusir mereka ke jalanan.
"Kalian... benar-benar iblis!" geram Rendy. Ia berdiri, mengepalkan kedua tangannya, siap melayangkan pukulan pada preman itu meski tahu ia kalah jumlah.
"Rendy, jangan, Nak... jangan cari keributan," bisik ibunya lemah dari bawah, memegang ujung celana Rendy yang masih bernoda anggur merah. "Ibu tidak apa-apa... kita cari tempat lain saja..."
"Nggak bisa, Bu! Mereka sudah keterlaluan!" air mata frustrasi menetes di pipi Rendy. Ia merasa begitu tidak berguna karena tidak bisa melindungi ibunya sendiri hanya karena ia tak punya uang dan kekuasaan.
Preman itu tertawa melihat keputusasaan Rendy.
"Halah, mau sok jagoan? Pergi dari sini sebelum kami hajar kamu dan ibumu!"
Rendy merengkuh tubuh ibunya erat-erat di tengah rintik hujan yang mulai turun menembus pakaian mereka. Rasa dingin menusuk hingga ke tulang, tetapi rasa terbakar di dadanya jauh lebih hebat. Ia menunduk, menatap jam tangan murah di pergelangan tangannya.
Jarum detik berputar pelan.
11, 10, 9, 8...
"Ayo angkat kaki, Cepat!" seru preman itu sembari menendang kardus pakaian ibu Rendy hingga isinya berhamburan ke dalam genangan air kotor.
3, 2, 1...
00:00.
Bzzzt! Bzzzt!
Tepat saat jarum jam menunjuk angka 12 malam, ponsel tua di saku celana Rendy berdering nyaring. Deringan itu begitu nyaring di tengah heningnya malam yang diguyur hujan.
Rendy merogoh sakunya dengan tangan gemetar, lalu menggeser layar ponsel murahnya yang retak. Suara berat seorang pria tua yang sangat berwibawa langsung terdengar dari balik telepon.
"Tiga tahun penyamaranmu telah berakhir, Rendy
Adhitama. Kakek sudah melihat semuanya. Kamu telah lulus ujian kesabaran dan kerendahan hati."
Rendy menahan napasnya.
"Kakek..."
"Mulai detik ini, kekuasaan penuh atas Adhitama
Group—seluruh aset, armada, dan pengaruh hukum di negara ini—resmi berada di tanganmu.
Pengawalmu sudah sampai di ujung gang."
Belum sempat Rendy membalas, dari arah jalan utama di luar gang sempit itu, terdengar deru mesin mobil yang sangat besar dan halus. Cahaya lampu tembak yang sangat terang tiba-tiba menerangi gang kumuh yang gelap itu, menyilaukan mata Pak
RT dan kedua preman yang tadinya tersenyum picik.
Lima buah mobil sedan hitam Rolls-Royce mengkilap berhenti berjejer rapi di mulut gang, menghentikan seluruh rintik hujan dengan aura dominasi yang mengerikan.