Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Rumah besar Wijaya mulai sepi setelah serangan media mereda. Adrian berhasil menenangkan beberapa investor, tetapi kerusakan reputasi sudah terlanjur terjadi. Perusahaan masih berjuang untuk bertahan, dan setiap hari terasa seperti pertempuran baru. Namun di tengah semua kekacauan itu, Adeline tidak pernah berhenti mendengarkan.
Suatu pagi, Adrian memutuskan untuk membawa Adeline ke kantor pusat Wijaya Corporation. Dia merasa putrinya akan lebih aman bersamanya daripada di rumah yang terus dijaga ketat oleh keamanan. Adeline senang bisa pergi bersama ayahnya. Gadis kecil itu berjalan bergandengan tangan dengan Adrian melewati lorong-lorong kantor yang megah. Karyawan-karyawan menatap mereka dengan tataran heran dan bisik-bisik.
Di ruang direktur, Adrian meminta Adeline duduk di sudut ruangan sambil menggambar di buku sketsa yang selalu dia bawa. "Ayah akan rapat sebentar, Sayang. Kamu tunggu di sini, ya. Jangan pergi ke mana-mana."
Adeline mengangguk patuh. Dia duduk di kursi empuk di sudut ruangan dan mulai menggambar dengan tenang. Tetapi telinga batinnya tetap terbuka lebar, menangkap setiap suara hati yang lewat di sekitarnya.
Beberapa orang masuk dan keluar dari ruang direktur untuk berbicara dengan Adrian. Adeline mendengar suara-suara hati mereka, sebagian besar berisi kekhawatiran tentang masa depan perusahaan. Tidak ada yang mencurigakan, sampai seorang pria bernama Hadi masuk.
Hadi adalah asisten pribadi Adrian yang sudah bekerja selama lima tahun. Pria itu selalu terlihat rapi dan profesional. Dia membawa beberapa dokumen dan berbicara dengan Adrian tentang jadwal pertemuan berikutnya. Suaranya tenang dan matanya menatap Adrian dengan penuh rasa hormat.
Tetapi ketika Hadi berbalik untuk pergi, Adeline mendengar sesuatu. Suara hati Hadi berbicara dengan sangat jelas, seperti seseorang yang sedang menikmati kemenangan yang tidak diketahui orang lain.
Semuanya berjalan sesuai rencana. Adrian tidak tahu apa-apa tentang laporan keuangan yang aku manipulasi. Begitu audit dilakukan, dia akan kehilangan segalanya. Dan Victor akan memberiku imbalan yang sangat besar.
Adeline menegang. Tangannya yang memegang pensil warna berhenti bergerak. Gadis kecil itu menatap Hadi yang sedang berjalan keluar ruangan. Pria itu tampak begitu setia dan dapat dipercaya. Tetapi suara hatinya mengatakan sesuatu yang sama sekali berbeda.
"Ayah," bisik Adeline, menarik lengan ayahnya. "Paman Hadi. Dia ... dia jahat."
Adrian yang sedang sibuk dengan dokumen, menatap putrinya dengan bingung. "Apa maksudmu, Sayang?"
Adeline menceritakan semua yang dia dengar dari suara hati Hadi. Tentang manipulasi laporan keuangan, tentang audit yang akan menghancurkan perusahaan, dan tentang imbalan yang dijanjikan Victor.
Adrian terdiam. Wajahnya berubah pucat. Hadi adalah orang kepercayaannya, orang yang selalu ada di sisinya setiap hari. Jika Hadi benar-benar mengkhianatinya, maka semua yang dia bangun selama ini bisa hancur dalam sekejap.
"Ayah, percayalah padaku," kata Adeline dengan mata berkaca-kaca. "Aku mendengarnya dengan jelas. Paman Hadi berbohong pada Ayah."
Adrian menggenggam tangan putrinya erat. "Ayah percaya padamu, Sayang. Tapi kita harus berhati-hati. Jika Hadi tahu bahwa kita curiga, dia mungkin akan menghancurkan semua bukti."
Sore itu, Adrian segera menghubungi Daniel dan menceritakan semua yang Adeline dengar. Daniel datang ke kantor dengan cepat dan mereka berdua mulai menyelidiki Hadi secara diam-diam.
"Kita harus memeriksa semua laporan keuangan yang Hadi tangani," kata Daniel dengan suara serius. "Jika dia memang memanipulasi data, pasti ada jejak yang bisa kita temukan."
Adrian mengangguk. "Tapi kita harus melakukannya tanpa sepengetahuannya. Jika dia tahu kita mencurigainya, dia mungkin akan melarikan diri atau menghancurkan bukti."
Malam itu, ketika semua karyawan sudah pulang, Adrian, Daniel, dan Adeline tetap berada di kantor. Daniel membuka semua file yang pernah ditangani Hadi dan mulai memeriksanya satu per satu. Adeline duduk di samping mereka, mendengarkan suara hati Hadi dari kejauhan, mencoba menangkap setiap petunjuk yang bisa membantu.
"Aku menemukan sesuatu," kata Daniel tiba-tiba. "Ada beberapa transaksi yang tidak tercatat dengan benar. Dan semua transaksi ini melewati meja Hadi."
Adrian melihat dokumen yang ditunjuk Daniel. Wajahnya semakin gelap saat membaca angka-angka yang mencurigakan. "Ini luar biasa. Dia sudah melakukan ini selama dua tahun terakhir. Dan aku tidak pernah menyadarinya."
Keesokan harinya, Adrian memanggil Hadi ke ruang direktur. Pria itu datang dengan senyum ramah seperti biasa, tetapi wajahnya berubah pucat ketika melihat Daniel dan beberapa berkas yang tergeletak di atas meja.
"Hadi, aku tahu tentang manipulasi laporan keuangan," kata Adrian dengan suara dingin. "Aku tahu semua yang telah kamu lakukan selama dua tahun terakhir."
Hadi mencoba tersenyum. "Pak Adrian, aku tidak mengerti apa maksud Bapak."
"Aku punya bukti," potong Adrian tegas. "Dan aku juga tahu bahwa kamu bekerja untuk Victor. Kamu pikir aku tidak akan pernah tahu, kan?"
Hadi terdiam. Wajahnya memucat dan tangannya mulai gemetar. Dia menatap Adrian, lalu menatap Daniel, dan akhirnya menatap Adeline yang duduk di sudut ruangan. Gadis kecil itu menatapnya dengan mata jernih yang membuatnya merasa tidak nyaman.
"Bagaimana ... bagaimana Bapak tahu?" tanya Hadi dengan suara bergetar.
Adrian tersenyum tipis. "Aku punya seseorang yang bisa mendengar hal-hal yang tidak bisa didengar orang lain. Putriku mendengar semua rencanamu dari dalam hatimu sendiri."
Hadi menatap Adeline dengan tak percaya. "Dia ... dia bisa mendengar pikiran orang?"
"Aku tidak bisa membaca pikiran, Paman Hadi," kata Adeline pelan. "Tapi aku bisa mendengar suara hati yang penuh kebohongan. Dan Paman Hadi memiliki suara yang sangat keras."
Hadi menundukkan kepalanya. Dia tahu bahwa tidak ada gunanya berbohong lagi. "Aku menyesal, Pak Adrian. Aku benar-benar menyesal. Victor menjanjikan uang yang banyak. Aku butuh uang untuk keluarga aku. Aku tidak punya pilihan."
Adrian menghela napas panjang. "Kamu selalu punya pilihan, Hadi. Dan kamu memilih jalan yang salah. Sekarang kamu harus bertanggung jawab atas semua yang telah kamu lakukan."
Polisi dipanggil dan Hadi dibawa pergi. Daniel terus menyelidiki lebih dalam dan menemukan bahwa Hadi hanyalah salah satu bagian dari jaringan pengkhianatan yang lebih besar. Ada beberapa orang lain di dalam perusahaan yang bekerja untuk Victor, membentuk mata rantai yang saling terhubung.
"Kita harus mengungkap semuanya," kata Daniel pada Adrian. "Jika kita hanya menangkap Hadi, yang lain akan tetap bersembunyi dan melanjutkan rencana mereka."
Adrian mengangguk. "Kita akan mengungkap semuanya. Satu per satu. Dan kita akan menggunakan semua bantuan yang kita miliki, termasuk putriku."
Adeline yang mendengar percakapan itu, tersenyum kecil. Dia merasa bangga karena bisa membantu ayahnya. Meskipun usianya masih kecil, dia telah menjadi bagian penting dari perjuangan keluarga melawan kejahatan.
Malam itu, ketika mereka pulang ke rumah besar Wijaya, Adrian memeluk putrinya erat. "Ayah sangat beruntung memilikimu, Sayang. Tanpamu, mungkin kita sudah kehilangan segalanya."
Adeline menempelkan kepalanya di dada ayahnya. "Adeline akan selalu membantu Ayah, apapun yang terjadi. Karena Adeline sayang Ayah."
Di dalam rumah besar itu, keluarga Wijaya mulai melihat secercah harapan. Pengkhianatan Hadi telah terungkap, dan dengan bantuan Adeline, mereka akan mengungkap semua yang lainnya. Perjuangan belum berakhir, tetapi mereka tahu bahwa selama mereka bersama, tidak ada yang bisa mengalahkan mereka.