Valencia Florence mengira penderitaannya telah usai setelah palu hakim meresmikan perceraiannya dengan Julian Edgar. Namun, sebuah fenomena misterius justru melempar jiwanya melakukan time travel kembali ke tiga tahun lalu—tepat di tahun kedua pernikahan mereka yang dingin.
Kembali menjadi Nyonya Edgar berarti Valencia harus mengulang fajar pernikahan tanpa cinta. Dia kembali menghadapi Julian, suami sedingin es yang menguburnya dalam kemewahan finansial dan fasilitas jet pribadi, namun memperlakukannya tak lebih dari sekadar pajangan rumah. Valencia sadar diri, dia hanyalah pengantin pengganti untuk mendiang saudara kembarnya, Gracia Florence, yang tewas menjelang pernikahan. Di kesempatan kedua ini, Valencia bersumpah tidak akan lagi mengemis cinta yang tidak pernah ada. Dia akan menjalani sisa waktu pernikahan ini dengan caranya sendiri, bersiap untuk pergi sebelum hatinya hancur untuk kedua kalinya.
#by_Parkha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGULANG LUKA Bab 10: Bayangan di Kamar Remang
...MENGULANG LUKA...
Bab 10: Bayangan di Kamar Remang
Lampu depan sedan hitam milik Julian mati tepat di seberang jalan, berjarak beberapa meter dari jendela kaca studio lukis sewaan di sudut kota. Dari balik kaca mobil yang gelap, Julian duduk dalam keheningan yang mencekik. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam studio yang terang benderang.
Di dalam sana, tidak ada Lucas Frederick. Hanya ada Valencia sendirian, mengenakan apron kain yang terkena noda cat, sedang berdiri dengan konsentrasi penuh menggoreskan kuas pada kanvas besar. Wajah wanita itu tampak begitu tenang, bebas, dan bersinar—sebuah pemandangan yang tidak pernah Julian lihat selama dua tahun pernikahan mereka.
Kepalan tangan Julian di atas kemudi mengencang. Ada denyut asing di dadanya melihat betapa bahagianya Valencia tanpa kehadiran dirinya. Namun, bukannya melangkah turun dan menghampiri istrinya, gengsi Julian yang melangit justru menahannya. Seorang Julian Edgar tidak akan merendahkan dirinya dengan mendobrak studio lukis hanya demi membuktikan rasa curiganya.
"Jalan. Pulang ke mansion," perintah Julian dingin pada sopirnya. Dia memilih mundur, menyimpan amarah yang semakin membakar dadanya untuk diluapkan di tempat yang seharusnya.
...
Malam makin larut ketika mobil Valencia akhirnya berhenti di garasi mansion. Rumah megah itu sudah sepi dan gelap. Valencia melangkah santai menuju lantai dua, mengusap lehernya yang pegal setelah berjam-jam berkutat dengan cat minyak.
Begitu sampai di depan pintu kamar utamanya, Valencia mendorong pintu kayu berat itu. Kamar dalam keadaan gelap gulita, hanya menyisakan temaram sinar bulan dari celah gorden. Tanpa curiga, Valencia melangkah masuk dan menjangkau sakelar di samping pintu untuk menyalakan lampu.
Begitu cahaya putih terang mendadak memenuhi ruangan, pandangan Valencia langsung tertuju pada sosok tinggi tegap yang sedang duduk bersedekap di atas sofa kulit di sudut kamar.
"Anji—"
Valencia hampir saja mengumpat kasar, refleks menghentikan kalimatnya tepat di ujung lidah sembari mengelus dadanya yang berdebar hebat karena terkejut. Sepasang matanya membelalak menatap Julian yang masih mengenakan kemeja kerjanya, menatapnya dengan raut wajah dingin dan menusuk.
"Bahasa yang sangat tidak anggun untuk seorang Nyonya Edgar," potong Julian tajam sebelum Valencia sempat menyelesaikan umpatannya. Suara baritonnya rendah, sarat akan sarkasme yang pekat.
Valencia menguasai keterkejutannya dengan cepat. Dia mengatur napas, menatap pria yang seharusnya berada di Prancis itu dengan dahi berkerut. "Tuan Edgar? Bukankah Anda seharusnya berada di Prancis untuk tiga bulan ke depan? Kenapa duduk di dalam kamar gelap seperti hantu?"
Julian berdiri perlahan, memangkas jarak di antara mereka dengan langkah lambat yang intimidatif. Matanya menyapu penampilan Valencia dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Harusnya aku yang bertanya, Valencia. Jam berapa ini? Kau keluyuran sampai larut malam, membiarkan suamimu pulang ke rumah yang kosong, lalu bertindak seolah-olah kau bebas melakukan apa saja saat suamimu tidak ada... menemui pria lain."
"Saya bekerja di studio lukis saya, Tuan Edgar. Dan lagipula, Anda tidak memberi kabar akan pulang hari ini," balas Valencia tenang, melangkah melewati Julian begitu saja menuju meja rias untuk meletakkan tasnya. Sikap acuh tak acuh itu membuat rahang Julian makin mengeras.
"Bekerja? Apa uang yang kuberikan masih kurang?" Julian terkekeh sinis, berbalik menatap punggung Valencia. "Atau sedang sibuk bertukar senyum dengan rival bisnisku di galeri seni? Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan selama aku pergi?"
Valencia menghentikan gerakannya. Dia berbalik, menatap Julian dengan tatapan jernih tanpa rasa takut sedikit pun. Dia langsung paham bagaimana pria dingin ini bisa tahu tentang pertemuannya dengan Lucas.
"Anda memata-matai saya?" Valencia menyunggingkan senyum tipis yang sangat provokatif. "Saya tidak tahu kalau seorang Julian Edgar yang terhormat sampai harus menyewa orang hanya untuk mengawasi setiap pergerakan istrinya."
"Jangan ber-ilusi, Valencia!" potong Julian cepat dengan nada tinggi, menolak keras tuduhan terselubung itu. "Aku melakukan ini karena tidak ingin namaku tercemar oleh kelakuan murahanmu! Kau masih istri sahku, dan aku tidak akan membiarkanmu membuat malu keluarga Edgar dengan menempel pada pria lain!"
Tuduhan 'murahan' itu seharusnya menyakiti hati Valencia seperti di kehidupan lamanya. Namun kini, Valencia justru merasa kasihan melihat pria bertubuh 190 cm di depannya ini yang begitu panik menutup-nutupi rasa cemburunya dengan amarah yang konyol.
"Kalau begitu, jaga saja nama baik Anda yang agung itu, Tuan Edgar," jawab Valencia santai, lalu berjalan tenang menuju kamar mandi. "Karena mulai besok, saya akan semakin sibuk di luar."
"Valencia!" panggil Julian dengan nada mengancam, namun pintu kamar mandi sudah tertutup rapat dan terkunci dari dalam, meninggalkan Julian yang berdiri sendirian di kamar dengan napas memburu dan kekalahan yang telak.