Indonesia
NovelToon NovelToon
Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Anya menatap sepiring roti panggang di depannya dengan pandangan kosong.

Rasa penasaran tentang suara rintihan di sayap barat semalam masih terus mengganggu pikirannya.

Dia melirik ke arah seorang pelayan muda yang sedang menuangkan teh ke cangkirnya.

Pelayan itu bernama Dina, usianya terlihat tidak jauh berbeda dengan Anya.

"Dina, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" panggil Anya dengan suara yang sangat pelan.

Dina menghentikan gerakannya dan menunduk sopan.

"Tentu saja, Nona Anya."

"Apa yang Anda butuhkan pagi ini?" tanya Dina ramah.

Anya celingukan sebentar untuk memastikan tidak ada Nyonya Martha di sekitar ruang makan.

"Apakah ada anggota keluarga lain yang sedang sakit parah di rumah ini?" tanya Anya hati-hati.

Dina mengerutkan keningnya karena merasa bingung dengan pertanyaan tersebut.

"Setahu saya tidak ada, Nona."

"Tuan Besar memang sedang dalam masa pemulihan, tapi beliau dirawat di rumah sakit luar negeri."

Anya meremas ujung serbet di pangkuannya.

"Lalu siapa yang tinggal di sayap barat rumah ini?" tembak Anya langsung pada intinya.

Prang.

Cangkir teh di tangan Dina hampir saja terjatuh jika pelayan itu tidak segera menangkapnya lagi.

Wajah Dina seketika berubah menjadi seputih kertas.

"Tolong jangan tanyakan hal itu, Nona," bisik Dina dengan suara gemetar hebat.

Dina menengok ke kanan dan ke kiri dengan panik seolah takut ada yang mendengar obrolan mereka.

"Jika Nyonya Martha atau Tuan Leon mendengar Anda bertanya soal itu, kita berdua bisa mati."

Anya mengerutkan keningnya melihat reaksi pelayan muda itu yang terlalu berlebihan.

"Memangnya ada apa di sana sampai semua orang sangat ketakutan?" desak Anya lagi.

Dina menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil meremas nampan di tangannya.

"Saya hanya pelayan baru, saya tidak tahu apa-apa."

"Tapi para pelayan senior bilang, sayap barat adalah tempat Tuan Muda Kenji menyimpan monster."

Anya melebarkan kedua matanya karena terkejut mendengar jawaban tidak masuk akal itu.

Monster.

Sebelum Anya sempat bertanya lebih lanjut, terdengar suara deheman keras dari arah pintu masuk ruang makan.

Ehem.

Nyonya Martha berdiri di sana dengan wajah kaku dan tatapan matanya yang sangat tajam.

"Dina, kenapa kau masih di sini membuang-buang waktu?" tegur Nyonya Martha dingin.

"Dapur utama membutuhkan bantuanmu untuk menyortir bahan makanan sekarang juga."

"B-baik, Nyonya Martha, saya segera ke sana," jawab Dina gagap.

Pelayan muda itu langsung berlari terburu-buru meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi ke arah Anya.

Nyonya Martha berjalan mendekati meja makan dengan langkah kaki yang teratur.

Tap. Tap. Tap.

"Nona Anya, Tuan Muda menelepon dan berpesan agar Anda bersiap-siap nanti sore."

Anya mendongak menatap wanita paruh baya itu dengan perasaan waswas.

"Bersiap-siap untuk apa?" tanya Anya bingung.

"Tuan Muda akan membawa Anda menghadiri sebuah acara pelelangan bawah tanah malam ini."

"Pelelangan bawah tanah?" ulang Anya tidak percaya.

"Ya, dan Tuan Muda ingin Anda tampil sangat sempurna karena banyak petinggi klan lain yang akan hadir."

Nyonya Martha meletakkan sebuah kotak beludru hitam berukuran sedang di atas meja makan.

Klak.

Nyonya Martha membuka kotak itu dan memperlihatkan sebuah kalung berlian yang sangat berkilau.

"Tuan Muda meminta Anda memakai perhiasan ini malam nanti."

Anya menelan ludah melihat ukuran berlian di kalung itu yang pasti harganya bisa untuk membeli satu kompleks perumahannya.

"Baik, aku akan bersiap-siap nanti sore," jawab Anya pasrah.

Waktu berlalu dengan sangat cepat dan langit sore mulai berganti menjadi malam yang gelap.

Anya berdiri di depan cermin kamarnya dengan balutan gaun malam berwarna hitam elegan yang memeluk tubuhnya.

Gaun itu memiliki belahan yang cukup tinggi di bagian paha, membuat pergerakan kakinya menjadi lebih leluasa.

Kalung berlian pemberian Kenji melingkar cantik di leher jenjangnya.

Cklek.

Pintu utama kamarnya terbuka dan Kenji melangkah masuk.

Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan kemeja hitam di bagian dalamnya.

Rambutnya disisir rapi ke belakang, mempertegas garis wajahnya yang tampan namun sangat dingin.

"Kau terlihat pantas memakai gaun itu," puji Kenji singkat tanpa basa-basi.

"Terima kasih, kau juga terlihat sangat rapi malam ini," balas Anya canggung.

Kenji berjalan mendekat dan menyodorkan lengan kirinya seperti biasa.

"Malam ini akan ada banyak ular berbisa di acara pelelangan itu."

"Jangan pernah melepaskan genggaman tanganmu dari lenganku sedetik pun."

"Aku mengerti," jawab Anya sambil menggamit lengan pria itu dengan erat.

[Misi Harian Tersedia: Hadiri pelelangan bawah tanah dan hindari konflik fatal.]

[Tujuan: Menjaga reputasi Tuan Muda Kenji di depan publik.]

[Hadiah: Poin Kecerdasan +3, Poin Stamina +2]

Anya menarik napas panjang saat membaca misi dari sistem yang melayang di udara itu.

Mereka berdua berjalan keluar dari kamar dan segera masuk ke dalam mobil limosin yang sudah menunggu di halaman depan.

Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh lima menit membelah jalanan kota.

Mobil mereka akhirnya berhenti di depan sebuah hotel mewah berbintang lima di pusat kota.

Anya mengira pelelangan bawah tanah akan diadakan di gudang kumuh seperti di film-film yang sering dia tonton.

Ternyata dugaannya sangat salah.

Pintu mobil dibukakan oleh seorang penjaga berseragam rapi.

Klak.

Kenji turun lebih dulu lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Anya keluar dari mobil.

Kamera dari beberapa wartawan lokal langsung memotret kedatangan mereka.

Jepret. Jepret. Jepret.

Anya menyipitkan matanya karena silau terkena lampu kilat kamera tersebut.

"Tersenyum dan terus berjalan," bisik Kenji tepat di telinga Anya.

Anya memaksakan sebuah senyuman manis di bibirnya sambil memeluk lengan Kenji lebih erat.

Mereka berdua berjalan melewati karpet merah menuju pintu masuk aula utama hotel.

Aula itu disulap menjadi ruang pelelangan yang sangat mewah dengan deretan kursi empuk berjejer rapi.

Ratusan pria dan wanita dengan pakaian kelas atas sudah memenuhi ruangan tersebut.

Bau parfum mahal, cerutu, dan anggur berkualitas langsung menyapa indra penciuman Anya.

"Tuan Muda Kenji, suatu kehormatan melihat Anda hadir malam ini."

Seorang pria paruh baya dengan perut buncit menghampiri mereka sambil menjulurkan tangannya.

"Tuan Wijaya, lama tidak berjumpa," balas Kenji membalas jabatan tangan pria itu dengan singkat.

Mata pria bernama Wijaya itu langsung beralih menatap Anya dengan pandangan penuh minat.

"Dan siapa bidadari cantik yang Anda bawa malam ini?"

"Ini Anya, tunanganku," jawab Kenji dengan nada datar namun sangat tegas.

Wijaya melebarkan matanya sedikit karena terkejut mendengar pengakuan tersebut.

"Tunangan? Wah, ini benar-benar berita besar untuk klan Bratadikara."

Kenji hanya tersenyum tipis merespons basa-basi kosong tersebut.

"Permisi, kami harus mencari tempat duduk kami," ucap Kenji memotong pembicaraan.

Kenji membawa Anya berjalan melewati kerumunan tamu lainnya menuju barisan kursi paling depan.

Anya merasa sangat risih karena hampir semua mata menatap ke arahnya dengan pandangan menilai.

"Mereka semua menatapku seperti sedang melihat barang lelang," bisik Anya pelan pada Kenji.

"Abaikan saja mereka, itu hanya tatapan dari orang-orang tua yang terlalu banyak waktu luang."

Mereka akhirnya duduk di kursi VVIP yang telah disediakan khusus untuk keluarga Bratadikara.

Acara pelelangan pun segera dimulai.

Berbagai barang antik, lukisan langka, hingga perhiasan curian dilelang dengan harga yang tidak masuk akal.

Anya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat orang-orang itu menghamburkan uang miliaran rupiah dengan sangat mudah.

"Kau mau sesuatu dari barang-barang rongsokan itu?" tanya Kenji tiba-tiba di tengah acara.

Anya menoleh dan menatap Kenji dengan pandangan ngeri.

"Tidak, terima kasih, perhiasan di leherku ini saja rasanya sudah terlalu berat."

Kenji mendengus pelan mendengar jawaban jujur dari tunangan palsunya itu.

Acara pelelangan akhirnya memasuki waktu istirahat selama tiga puluh menit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!