"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran baru
Dua minggu setelah pengumuman merger, kehidupan kantor perlahan kembali normal, meski dengan beberapa perubahan struktur yang mulai diterapkan bertahap. Rain dan Kenzo tetap memimpin tim gabungan mereka, kini dengan tanggung jawab yang lebih besar sebagai model percontohan kolaborasi lintas divisi di seluruh perusahaan.
Suatu pagi, Rain dipanggil mendadak oleh HRD perusahaan hasil merger, membuat dia sedikit gugup sepanjang perjalanan menuju ruangan HRD di lantai sepuluh.
"Selamat pagi, Rain," sapa Bu Lestari, Kepala HRD yang baru, dengan senyum ramah. "Duduk dulu."
"Selamat pagi, Bu," jawab Rain, duduk dengan sedikit tegang, tidak yakin apa yang akan dibicarakan.
"Kami di manajemen sangat terkesan dengan kinerja kamu selama proyek merger kemarin," Bu Lestari memulai, membuka map di depannya. "Karena itu, kami punya tawaran menarik buat kamu."
"Tawaran apa, Bu?" tanya Rain, mulai penasaran.
"Perusahaan hasil merger berencana membuka kantor cabang baru di Surabaya, sebagai pusat operasional untuk wilayah timur Indonesia," jelas Bu Lestari. "Kami membutuhkan seseorang dengan rekam jejak kuat untuk memimpin divisi Marketing di cabang baru itu sebagai Senior Marketing Manager, dengan tanggung jawab yang jauh lebih besar dari posisi kamu sekarang."
Rain merasa jantungnya berdebar kencang mendengar tawaran itu. Ini adalah kesempatan besar yang mungkin tidak akan datang dua kali, promosi signifikan, tanggung jawab lebih besar, gaji yang tentunya juga meningkat pesat.
"Ini kesempatan luar biasa, Bu," kata Rain, mencoba menyembunyikan gejolak emosi yang bercampur aduk dalam dirinya. "Boleh saya minta waktu untuk mempertimbangkan?"
"Tentu saja," jawab Bu Lestari mengerti. "Kami beri waktu dua minggu untuk kamu memutuskan. Tapi saya harap kamu mempertimbangkan ini dengan serius, Rain. Kesempatan seperti ini nggak datang setiap hari."
---
Sepanjang sisa hari itu, pikiran Rain dipenuhi dengan pertimbangan yang rumit. Di satu sisi, ini adalah puncak dari semua kerja keras yang selama ini dia perjuangkan sejak awal karier bukti nyata bahwa perjuangannya membiayai kuliah sendiri, bekerja dari posisi terbawah, semuanya membuahkan hasil yang luar biasa.
Namun di sisi lain, ada Kenzo hubungan yang baru saja mereka bangun dengan susah payah, melewati berbagai rintangan mulai dari perbedaan latar belakang, restu keluarga, hingga godaan dari luar seperti Aurel. Pindah ke Surabaya berarti jarak jauh yang akan menguji hubungan mereka dengan cara yang sama sekali berbeda.
Sore itu, Rain memutuskan untuk bercerita ke Tiyu terlebih dahulu, mencari pendapat orang yang paling dia percaya selain Kenzo sendiri.
"Kak, ini kesempatan besar banget," kata Tiyu, matanya berbinar mendengar cerita kakaknya. "Kakak harus ambil ini."
"Tapi gimana sama Kenzo, Tiyu? Gimana sama kamu juga, yang masih di sini nyelesain skripsi?" Rain bertanya, dilema yang jelas terlihat di wajahnya.
"Kak, aku udah gede. Sebentar lagi lulus, bisa cari kerja sendiri," Tiyu menjawab dengan bijak, jauh lebih dewasa dari usianya. "Kakak udah berkorban banyak banget buat aku selama ini. Sekarang giliran Kakak yang harus mikirin kesempatan Kakak sendiri."
"Tapi kalau aku pindah, hubungan aku sama Kenzoa"
"Kak," Tiyu memotong, menatap kakaknya serius. "Kalau hubungan itu beneran kuat, jarak nggak akan jadi masalah besar. Malah, ini bisa jadi ujian yang ngebuktiin, seberapa kuat sebenarnya hubungan kalian."
Rain terdiam, mencerna nasihat bijak dari adiknya sendiri.
---
Malam harinya, Rain akhirnya memberanikan diri menceritakan tawaran itu kepada Kenzo, saat mereka makan malam berdua di apartemen Kenzo.
"Aku dapat tawaran promosi," kata Rain, memulai dengan hati-hati. "Tapi... itu berarti aku harus pindah ke Surabaya."
Kenzo terdiam sejenak, meletakkan sendoknya perlahan. "Promosi apa?"
"Senior Marketing Manager, mimpin cabang baru di sana," jelas Rain. "Ini kesempatan besar, Kenzo. Tapi aku juga takut, ini bakal ngerusak semua yang udah kita bangun."
Kenzo menghela napas panjang, tampak berpikir keras sebelum menjawab. "Kapan kamu harus kasih keputusan?"
"Dua minggu dari sekarang."
Ada keheningan panjang di antara mereka, masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri.
"Rain," Kenzo akhirnya membuka suara, suaranya tenang namun serius. "Aku nggak akan bohong, aku takut kehilangan kamu kalau kamu pindah. Tapi aku juga nggak mau jadi orang yang ngehalangin kesempatan besar dalam karier kamu, cuma karena aku egois pengen kamu terus di dekat aku."
"Jadi menurutmu, aku harus ambil?" tanya Rain, mencoba membaca maksud di balik kalimat itu.
"Aku nggak bisa nentuin itu buat kamu," Kenzo menjawab jujur. "Ini keputusan besar dalam hidup kamu, Rain. Yang bisa aku janjiin, apa pun keputusan kamu, aku akan coba cari cara buat kita tetap bareng-bareng, meski itu berarti jarak jauh untuk sementara waktu."
"Jarak jauh itu berat, Kenzo," Rain mengingatkan, suaranya mulai bergetar.
"Aku tahu," Kenzo mengakui. "Tapi berat bukan berarti mustahil. Kalau kita beneran serius sama hubungan ini, kita bisa cari cara. Video call tiap malam, aku bisa terbang ke Surabaya tiap ada kesempatan, kamu juga bisa pulang tiap ada waktu luang. Ini nggak akan gampang, tapi aku percaya kita bisa lewatin ini kalau kita beneran mau berjuang."
Rain menatap Kenzo lama, merasakan ketulusan yang tersirat dalam setiap kata yang diucapkan. "Kamu beneran rela aku pindah jauh, demi karier aku?"
"Aku rela apa pun, asal itu bikin kamu bahagia dan berkembang," jawab Kenzo tulus. "Aku nggak mau jadi alasan kamu nggak bisa maju, Rain. Kamu udah berjuang terlalu keras buat sampai di titik ini."
---
Malam itu, setelah percakapan panjang dan emosional, Rain merasa lebih tenang meski keputusan besar itu masih menggantung berat di pikirannya. Dia menyadari, apa pun keputusan yang akan dia ambil, dukungan tulus dari Kenzo memberikan kekuatan yang berbeda, bukan tekanan untuk memilih salah satu, melainkan keyakinan bahwa cinta yang sesungguhnya bisa bertahan meski dihadapkan pada tantangan sebesar apa pun.
"Aku butuh waktu buat mikir lebih matang," kata Rain akhirnya, menyandarkan kepalanya ke bahu Kenzo.
"Ambil waktu sebanyak yang kamu butuhin," jawab Kenzo lembut, merangkul Rain erat. "Aku di sini, nungguin keputusan kamu, apa pun itu."
Di tengah kehangatan pelukan itu, Rain merasakan campuran emosi yang rumit, kebanggaan atas pencapaian besar yang ada di depan matanya, ketakutan akan risiko yang mengancam hubungan yang begitu berharga, dan di atas semua itu, rasa syukur memiliki seseorang yang mendukungnya tanpa syarat, apa pun keputusan yang akan dia ambil nantinya.
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...