Indonesia
NovelToon NovelToon
Mnemosynes Blood Mate

Mnemosynes Blood Mate

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 3]

"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)

"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)

"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)

"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)

Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.

Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.

Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Serangan Singa Betina

Dia di sini! Berani-beraninya makhluk astral sialan itu masuk dan menyusup ke rumah semegah ini?! batin Elisa dirasuki amarah yang membara seketika.

Melalui celah jendela koridor, mata cokelat gelapnya menangkap sesosok pemuda yang berjalan dengan langkah santai nan angkuh menuju ke area halaman belakang kastil yang dipenuhi rumput hijau.

Dengan api dendam yang berkobar bebas di dalam dadanya, Elisa mengabaikan petunjuk pelayan. Ia berjalan mengendap-ngendap penuh amarah, mengikuti ke mana arah perginya pemuda itu.

Di halaman belakang yang sepi, si pemuda tampak sangat menikmati harinya. Ia merebahkan tubuh jangkungnya di atas kursi lipat santai, mengenakan sebuah kacamata hitam, dan menyelonjorkan kakinya yang panjang seolah-olah seluruh dunia ini adalah properti miliknya sendiri.

"Rasakan ini, makhluk astral sialan!" geram Elisa dengan suara tertahan.

Tanpa memberikan aba-aba atau peringatan apa pun, Elisa menerjang maju ke depan bak singa betina. Dengan gerakan nekat, ia melompat dan naik ke atas perut pemuda itu, mendudukinya dengan paksa, lalu mulai menjambak rambut hitamnya, menampar, bahkan mencakar habis-pipinya hingga meninggalkan bekas guratan memerah.

Plak! Plak!

Aduh! Hei! Apa-apaan ini?! Lepaskan aku, Sialan!" pemuda itu mengaduh syok dengan suara baritonnya yang meninggi.

Ia benar-benar tidak siap dan tidak pernah menyangka akan menerima serangan fisik brutal dari seorang "singa betina" cantik yang tiba-tiba mengamuk dan menunggangi tubuhnya di siang bolong.

Pemuda itu bergerak cepat. Menggunakan kekuatannya, ia berhasil mencekal kedua pergelangan tangan Elisa dengan hanya menggunakan satu tangan kekarnya yang kuat, lalu menyentakkan kepalanya dengan kasar hingga kacamata hitamnya terlempar lepas ke atas rumput.

Deg.

Elisa mendadak mematung di tempat. Napasnya tertahan di tenggorokan.

Sepasang manik mata pemuda di bawahnya ini berwarna hitam pekat, jernih, dan dipenuhi oleh kilat kenakalan yang membara—sangat berbeda dengan manik mata biru safir murni atau merah predator milik Jonah Salvatore, kakak keduanya yang telah menyerang Elisa di hutan cemara tadi. Meskipun struktur wajah, pahatan rahang, dan ketampanan mereka berdua benar-benar mirip bak pinang dibelah dua, aura pemuda di bawah tubuhnya saat ini jauh lebih energik, liar, dan... nakal.

"Kau..." suara Elisa tercekat. Sebuah realita memalukan menghantam kepalanya. Ia salah sasaran.

Pemuda yang kini berada di bawah kungkungannya ini adalah Josiah Salvatore, si bungsu dari tiga bersaudara yang tubuhnya didominasi oleh darah murni bangsa Vampir.

Josiah menggeram kesal sembari mengusap pipi mulusnya yang terasa perih akibat terkena cakaran kuku Elisa.

Namun, pada detik berikutnya, sorot mata hitam pekatnya berubah drastis. Ia menatap lekat-lekat sosok Elisa yang duduk di atas perutnya—memandangnya dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan sebuah tatapan "lapar" yang menggoda dan intens.

Hidungnya mengendus dalam-dalam aroma manis yang menguar dari tubuh gadis itu. Aroma Mate darah murni yang sangat langka dan sakral.

"Wah, wah... kejutan manis apa yang sedang mendarat di atas tubuhku saat ini?"

Josiah menyeringai lebar, memperlihatkan sepasang taring kecilnya yang menawan, memancarkan pesona playboy kelas atasnya yang terkenal kejam di kalangan gadis-gadis kota.

"Aku baru saja berniat bangun tidur siang, dan tiba-tiba ada seorang gadis cantik yang langsung menunggangiku? Agresif sekali caramu menyapaku, ya, Sayang."

"Lepaskan aku, dasar makhluk mesum!"

Elisa meronta kuat-kuat, seluruh wajahnya kini memerah padam akibat perpaduan antara rasa malu yang luar biasa dan amarah yang tersisa.

"Mesum? Kau yang melompat dan naik ke atas perutku duluan tanpa izin, Sayang," Josiah terkekeh geli, suara tawa seraknya terdengar sangat energik di telinga Elisa.

Bukannya melepaskan, Josiah justru semakin mempererat cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Elisa, sengaja menarik tubuh gadis itu ke bawah agar jarak wajah mereka mengikis hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.

"Kau... sedang mencari kakak keduaku, Jonah, ya? Kasihan sekali gadis manis ini. Si dingin Jonah pasti sudah menakut-nakutimu di hutan tadi sampai kau salah menyerang orang tampan seperti aku."

"Jadi... kalian kembar?! Cepat lepaskan tanganmu sekarang juga, atau aku akan—"

"Atau apa? Kau mau menciumku sebagai permintaan maaf?" potong Josiah cepat, memberikan satu kedipan mata menggoda yang mematikan.

"Harus kuakui, bau manis dari tubuhmu benar-benar membuat insting vampirku bergejolak gila. Kau... adalah milikku yang tertulis di takdir kuno itu, kan?"

Elisa tercengang, otaknya mendadak macet. "Apa maksudmu dengan milikmu?! Aku bahkan tidak mengenali siapa kau, Brengsek!"

"Namaku Josiah Salvatore. Ingat dan ukir baik-baik nama itu di dalam kepalamu, karena mulai hari ini sampai keabadian nanti, kau tidak akan pernah bisa lepas dariku," bisik Josiah tepat di depan daun telinga Elisa, mengembuskan hawa dingin yang seketika membuat seluruh bulu kuduk gadis itu meremang hebat.

Tiba-tiba saja, suara ketukan langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat dari arah koridor dalam menuju halaman belakang.

"Elisa? Kau di mana? Kenapa lama sekali di kamar mandi?" suara Scarlett memanggil dengan nada mencari.

Elisa panik setengah mati di posisinya. Jika Scarlett sampai melihatnya dalam posisi seambigu dan seintim ini di atas tubuh Josiah, habislah sudah harga dirinya sebagai wanita.

"Cepat lepaskan aku, Josiah! Dasar laki-laki breng—"

"Josiah! Hentikan tindakan konyolmu itu!"

Suara bariton yang sarat akan ketegasan mutlak tiba-tiba menggelegar dari arah teras belakang kastil. Scarlett berdiri di sana dengan sepasang mata ungu yang berkilat memberikan peringatan keras.

"Apa yang sedang kau lakukan pada tamu kehormatan keluargaku?"

Josiah tertawa kecil tanpa dosa, sambil akhirnya melonggarkan cekalan tangannya dan membiarkan Elisa bangkit berdiri dengan tubuh gemetar dan wajah sewarna tomat rebus.

"Aku tidak melakukan apa-apa padanya, Scar. Teman barumu ini yang tiba-tiba melompat dan menyerangku di atas kursi layaknya singa betina yang sedang kelaparan," ujar Josiah santai sembari mengedipkan sebelah matanya pada Elisa.

Scarlett melangkah mendekat, menatap kakak sepupunya itu dengan helaan napas panjang yang sarat akan rasa jengkel.

"Elisa, mohon maafkan kelakuan buruknya. Josiah memang sering datang berkunjung ke kastil ini sesuka hatinya. Dia adalah sepupuku, anak kandung dari Paman Justin Salvatore."

Elisa tertegun di tempatnya berpijak.

Sepupu? Jadi... makhluk-makhluk berbahaya yang ia temui hari ini adalah bagian dari keluarga penguasa yang memiliki kastil megah ini?

"Dia... sepupumu?" tanya Elisa tak percaya.

"Sayangnya, kenyataannya memang begitu," jawab Scarlett pendek dan sarkas.

Ia kemudian memutar tubuhnya, menatap lekat pada Josiah. "Di mana kedua kakak kandungmu? Bukankah Paman Justin bilang kalian bertiga akan datang bersama hari ini untuk menghadiri rapat yayasan?"

"Si sulung Jonas yang angkuh dan menyebalkan itu mungkin masih sibuk memacu motor sport hitamnya di jalanan kota," jawab Josiah santai sembari bangkit berdiri dari kursi lipat dan merapikan kaus putihnya yang sempat kusut akibat amukan Elisa.

"Kalau Jonah... entahlah, dia tadi mendadak meminta diturunkan di sekitar hutan cemara pinggiran kota. Katanya... dia ingin mencari sedikit 'cemilan segar'."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!