Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Hadiah Istimewa, Bulan Madu di Swiss, dan Oleh-Oleh Penuh Tawa
l
Suasana ruang makan di kediaman utama keluarga Dirgantara pagi itu terasa sangat hangat. Cahaya matahari pagi menerobos masuk lewat dinding kaca besar, memantul di atas meja makan bertatap marmer yang dipenuhi hidangan sarapan kelas atas. Exel duduk tegap mengenakan kemeja kasualnya, sementara Alexa yang duduk di sampingnya sibuk mengunyah roti panggang cokelat dengan pipi tembamnya yang mengembung menggemaskan.
Di ujung meja, Maria Dirgantara dan Hendra Dirgantara saling melempar senyuman penuh arti. Maria merogoh tas tangannya, mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna keemasan dan meletakkannya di tengah meja, tepat di depan Exel dan Alexa.
"Ini hadiah tambahan dari Mama dan Papa untuk ulang tahun Alexa," ujar Maria seraya terkekeh pelan.
Alexa mengeripkan matanya polos, menghentikan kunyahannya. "E-eh? Hadiah lagi, Ma? Padahal kemarin kan udah banyak banget..."
Exel meraih amplop tersebut dan membukanya. Di dalamnya terselip dua buah tiket penerbangan kelas utama tujuan Zermatt, Swiss, lengkap dengan reservasi resor mewah bernuansa chalet kayu di kaki Pegunungan Alps.
"Bulan madu privat ke Swiss selama empat hari," sambung Papa Hendra seraya menyesap kopi hitamnya. "Berhubung Alexa sedang libur tengah semester dan Exel sudah menyelesaikan audit internal perusahaannya, tidak ada alasan untuk menolak."
Alexa melotot sempurna dengan suara cemprengnya yang refleks melengking, "SWISS?! YANG ADA SALJU DAN PEGUNUNGAN ES ITU, MA?!"
"Iya, Sayang," goda Maria seraya menaik-turunkan alisnya penuh arti. "Dan ingat pesan Mama ya, Exel... Jangan cuma menikmati pemandangan salju di luar kamar. Manfaatkan udara dingin di sana untuk menghangatkan diri. Mama dan Papa sudah tidak sabar mau menimang Exel Junior secepatnya!"
Uhuk!
Alexa yang baru saja menenggak jus jeruknya seketika tersedak hebat! Pipi tembamnya langsung berubah warna menjadi merah padam bagaikan kepiting rebus.
Exel cepat-cepat menepuk pelan punggung istrinya seraya memberikan air putih, walau rona merah tipis ikut muncul di ujung telinga sang CEO. "Mama... jangan bicara sembarangan di depan Alexa."
"Lho, Mama kan cuma bicara kenyataan!" tawa Maria pecah menggema di ruang makan, diikuti kekehan hangat dari Papa Hendra.
Sebelum keberangkatan mereka malam itu, Exel mengajak Alexa ke balkon kamar utama apartemen mereka. Di bawah paparan sinar rembulan yang lembut, Exel menarik tangan mungil Alexa. Pria itu merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam berukuran kecil.
Ketika tutup kotak itu terbelah, sebuah kalung berlian murni berkilau indah diterpa cahaya bulan. Di tengah liontin berlian tersebut, terukir indah dua huruf kapital bersambung: 'E & A'.
"Ini hadiah khusus dari Mas," bisik Exel rendah, tatapan mata cokelat gelapnya memancarkan kelembutan yang sangat pekat.
Alexa menahan napasnya, memandangi liontin bernisial nama mereka yang amat memukau. "Mas Exel... ini indah banget..."
Exel melangkah ke belakang Alexa, menyingkap rambut bergelombang istrinya ke samping, lalu memasangkan kalung berlian itu di leher jenjang Alexa secara halus. Exel menunduk, mendaratkan satu ciuman hangat di tengkuk Alexa, membuat bulu kuduk gadis mungil itu meremang.
"Inisial kita akan selalu ada di dada kirimu," bisik Exel di telinga Alexa. "Sebagai pengingat bahwa kamu adalah milikku, dan aku milikmu seutuhnya."
Alexa memutar tubuhnya, merangkul pinggang tegap suaminya kencang-kencang seraya menyembunyikan wajah panasnya di dada Exel. "Makasih banyak ya, Mas Suami ganteng..."
Penerbangan belasan jam berlalu. Zermatt menyambut mereka dengan hamparan salju putih yang memukau dan pemandangan megah Gunung Matterhorn yang menjulang tinggi di langit biru.
Di dalam unit resor privat mereka yang berdinding kayu hangat dengan perapian yang menyala meliuk-liuk, suasana malam di tengah pegunungan salju terasa sangat tenang dan romantis. Salju perlahan turun di luar jendela kaca besar, menciptakan isolasi sempurna dari dunia luar.
Alexa berdiri di dekat perapian mengenakan gaun tidur sutra berwarna putih yang dihadiahkan oleh ibunya. Angin dingin yang berhembus samar di luar membuat tubuh mungilnya sedikit bergoyang.
Dari arah belakang, sepasang lengan tegap merengkuh pinggangnya kencang. Exel, yang hanya mengenakan celana kain dan kemeja santai yang tak terkancing penuh, menyandarkan dagunya di bahu miring Alexa. Bau harum parfum masculine woody bercampur aroma hangat tubuhnya memenuhi indra penciuman Alexa.
"Dingin, hm?" bisik Exel dengan suara serak khasnya yang sangat seksi.
Alexa berbalik di dalam dekapan Exel, menatap mata cokelat gelap suaminya yang kini meredup hangat, memancarkan gairah dan cinta mati yang tak lagi ditutupi oleh benteng apa pun.
"Mas Exel..." cicit Alexa pelan, napasnya sedikit memburu saat jemari tegap Exel mengelus pelan garis rahangnya.
"Malam ini... tidak ada gangguan kantor, tidak ada sekolah, dan tidak ada rumor jahat," ujar Exel rendah, menatap lurus ke dalam manik mata bulat istrinya. "Hanya ada aku dan kamu, Alexa."
Exel menunduk, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang amat dalam, hangat, dan menuntut. Ciuman itu membakar seluruh rasa dingin yang menyelimuti kamar. Alexa memejamkan matanya rapat-rapt, melingkarkan kedua tangan mungilnya di leher tegap suaminya, membalas pasrah kepemilikan Exel.
Pria bertubuh 185 cm itu menggendong tubuh mungil Alexa secara halus, membawanya ke atas ranjang king size berdinding kayu yang diselimuti bulu empuk di depan perapian. Di bawah paparan cahaya nyala api perapian yang menari-nari dan sapuan salju di luar jendela, dua insan yang telah terikat janji suci itu menyatukan cinta, jiwa, dan raga mereka sepenuhnya dalam kehangatan malam pertama bulan madu yang sempurna dan tak terlupakan.
Hari terakhir di Swiss sebelum kembali ke Indonesia dimanfaatkan mereka untuk berbelanja oleh-oleh di kawasan pertokoan klasik kota Zurich.
Exel yang mengandeng erat jemari mungil Alexa melangkah masuk ke dalam butik cokelat dan jam tangan mewah. Sang CEO memilihkan beberapa kotak cokelat eksklusif khas Swiss serta setelan syal wol berkualitas tinggi untuk Mama Maria dan Papa Hendra. Tak lupa, Exel juga membelikan sebuah jam tangan kulit edisi terbatas untuk Achmad—sebagai apresiasi atas kerja keras asisten pribadinya menjaga perusahaan selama ia berlibur.
Sementara itu, Alexa sibuk setengah mati di toko suvenir dan kue tradisional. Gadis mungil itu membelikan satu set kain syal hangat untuk Mama Sarah dan Papa Surya, serta memborong berbagai jenis camilan cokelat, gantungan kunci berbentuk lonceng sapi khas Alps, dan miniature snow globe untuk Rin, Safi, dan Melati.
"Mas Exel! Ini cokelat rasanya ada sepuluh varian!" seru Alexa heboh seraya menyodorkan kantong belanjaannya. "Safi pasti suka banget yang rasa hazelnut!"
Exel terkekeh pelan, mengacak-acak rambut istrinya penuh gemas seraya menyambar seluruh kantong belanjaan Alexa agar istrinya tidak kelelahan membawa barang berat. "Iya, Sayang. Beli saja semuanya yang kamu mau."
Minggu siang, mobil Rolls-Royce hitam milik Exel akhirnya memasuki pelataran kediaman utama keluarga Dirgantara seusai menjemput mereka dari bandara.
Namun, begitu pintu utama rumah megah itu terbuka, Alexa dibuat terkejut sekaligus gembira. Di ruang keluarga utama yang luas, ternyata tidak hanya ada orang tua Exel, melainkan keluarga besar Alexa—Mama Sarah dan Papa Surya—juga sedang berkumpul di sana sambil menikmati teh hangat!
"Mama! Papa!" jerit Alexa gembira seraya berlari kecil dan memeluk ibunya hangat.
"Aduh, anak Mama sudah pulang dari Swiss!" tawa Sarah mengelus pipi tembam putrinya yang tampak makin segar dan berisi.
Exel melangkah masuk dengan tegap, menyalami kedua pasang orang tuanya dengan penuh rasa hormat. "Selamat siang, Pa, Ma."
"Gimana liburannya, Exel? Udah ada tanda-tanda pesanannya Mama diproses?" goda Maria langsung menyenggol lengan putranya seraya tertawa lebar.
Alexa yang mendengar hal itu seketika bersembunyi di balik lengan baju Exel, wajahnya kembali membara merah padam!
"Ma..." tegur Exel kaku, walau senyuman tipis tak mampu ditahannya. "Alexa mau panggil teman-temannya ke sini untuk membagikan oleh-oleh."
Exel menoleh menatap Alexa. "Boleh kan, Mas?" tanya Alexa mengedip-kedipkan matanya polos.
"Tentu saja boleh, Sayang. panggil saja sahabat-sahabatmu ke rumah ini," izin Exel penuh kelembutan.
Satu jam kemudian, keriuhan anak sekolah seketika memenuhi area ruang tamu kediaman utama. Rin, Safi, dan Melati baru saja tiba setelah mendapat pesan darurat dari Alexa.
"AIYO! ALEXA! KAU DAH BALIK DARI SWISS!" jerit Safi heboh begitu melihat Alexa melangkah keluar dari arah koridor bawa dua kantong besar suvenir.
"Oleh-olehnya mana Nyonya Dirgantara?!" seru Rin tak kalah heboh.
"Ini banyak banget!" Alexa meletakkan kantong-kantong itu di atas meja kaca seraya membagikan suvenir satu per satu. "Ini syal hangat buat Melati, ini snow globe buat Rin, dan ini cokelat hazelnut melimpah khusus buat Safi!"
"Wahhh! Cokelat Swiss betul-betul ni!" mata Safi berbinar-binar memandangi kotak cokelat mewahnya. "Terima kasih banyak, Alexa! Kau memang sahabat paling baik lah!"
Di saat yang bersamaan, Achmad melangkah masuk ke ruang tamu membawa dokumen laporan pasca-bulan madu untuk Exel. Achmad mengenakan kemeja santai berwarna maroon yang membuatnya tampak sangat gagah.
"Permisi... Ada paket oleh-oleh buat asisten pribadi yang paling berdedikasi tidak di sini?" goda Achmad seraya menyeringai santai.
Exel yang berdiri di dekat tangga melayangkan sebuah kotak jam tangan mewah ke arah Achmad, yang ditangkap dengan sigap oleh Achmad.
"Waduh! Jam tangan Swiss edisi terbatas! Makasih banyak, Bos Exel!" seru Achmad gembira.
Namun, saat Achmad memutar tubuhnya untuk menyapa para gadis, mata Achmad yang biasanya dipenuhi binar jenaka mendadak terkunci lurus pada sosok Safi.
Safi sedang duduk di sofa seraya mencoba syal wol tipis berwarna krem di lehernya, tersenyum manis seraya menggigit potongan cokelat Swiss. Cahaya siang memantul di wajah polosnya, memancarkan pesona khas Melayu yang sangat hangat.
Achmad membeku di tempatnya. Pria dewasa itu berdiri mematung di dekat meja, mencuri-curi pandang ke arah Safi tanpa berkedip satu detik pun. Senyuman kagum yang teramat dalam dan manis terukir alami di bibir Achmad.
Dari sudut sofa, Rin dan Melati yang menyadari aksi pencurian pandang itu saling menyenggol lengan kencang-kencang seraya menahan tawa.
"Psst! Lihat tuh, Safi..." bisik Rin menyenggol pinggang Safi. "Paman Achmad ngeliatin kamu sampai gak kedip dari tadi."
Safi tersentak kaget, refleks mendongak. Saat matanya bertabrakan langsung dengan tatapan dalam milik Achmad, Achmad bukannya memalingkan wajah, melainkan justru memberikan senyuman paling hangat seraya mengedipkan satu matanya manis ke arah Safi!
Deg!
Wajah manis Safi seketika membara merah padam bagaikan tomat matang! Gadis itu cepat-cepat menundukkan kepalanya, pura-pura sibuk membaca kemasan cokelat untuk menutupi detak jantungnya yang mendadak bergolak kencang tak karuan.
Alexa yang melihat momen manis itu terkekeh cempreng seraya mendekati Exel dan merangkul lengan tegap suaminya. Exel menunduk menatap istri mungilnya, menyunggingkan senyum tipis seraya merangkul pinggang Alexa kencang.
Di tengah kehangatan kumpul keluarga besar, gelak tawa para sahabat, dan benih-benih cinta yang kian bermekaran antara Achmad dan Safi, kebahagiaan sejati kini menyelimuti kehidupan Exel dan Alexa—sebuah benteng cinta yang kian kokoh dan tak tergoyahkan oleh apa pun.