Indonesia
NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Menakar Ternak, Menakar Hati

Kemarau yang datang terlalu cepat tidak memberi Laras waktu untuk menikmati meja barunya.

Selama empat hari berikutnya, ia berpindah dari kandang sapi ke kandang kambing, lalu ke tempat penampungan unggas. Setiap hewan diperiksa kondisi tubuhnya, selaput mata, pola makan, riwayat sakit, dan kebutuhan airnya. Santi mencatat angka, Wati membantu pemeriksaan, sedangkan Pak Yohanes menunjukkan kebiasaan setiap kelompok ternak.

"Sapi bunting ini tidak boleh berjalan sampai sumber air jauh," kata Laras sambil memberi tanda merah pada nomor telinganya. "Pindahkan ke kandang dekat sumur. Yang menyusui masuk kelompok prioritas kedua."

"Kalau pejantan?" tanya Wati.

"Yang sehat bisa menerima ransum pemeliharaan, tetapi jangan langsung dipotong banyak. Perubahan mendadak membuat rumen terganggu. Kita kurangi bertahap sambil mengganti sebagian hijauan dengan bahan berserat yang aman."

Ia menimbang beberapa kambing dengan pita ukur, lalu membandingkan hasilnya dengan catatan bulan lalu. Ternak yang baru pulih dari PMK kehilangan lebih banyak bobot daripada dugaan. Dua ekor mulai menunjukkan dehidrasi ringan.

Wati menyentuh lipatan kulit salah satunya. "Kembalinya lambat."

"Benar. Pisahkan dan beri larutan elektrolit sesuai takaran. Periksa juga mulutnya. Kalau luka lama membuatnya enggan makan, pakan harus dilunakkan."

Pada hari kelima, dinding ruang kerja penuh tabel berwarna. Merah untuk ternak paling rentan, kuning untuk pengawasan, hijau untuk kelompok sehat. Laras membagi penggembalaan menjadi beberapa giliran agar padang tidak habis sekaligus. Air dijatah berdasarkan kebutuhan, bukan dibagi rata. Jerami dan dedak harus dirotasi agar stok lama tidak berjamur.

Pak Sutrisno membaca rancangan itu lama sekali. "Berapa lama persediaan kita bertahan?"

"Kalau tidak ada tambahan, dua puluh tiga hari. Dengan pengurangan bertahap dan pemanfaatan daun legum yang sudah diperiksa, mungkin tiga puluh satu hari. Tetapi itu belum cukup bila hujan terlambat lebih dari sebulan."

"Apa yang harus dicari?"

"Sumber air cadangan, kontrak hijauan dari daerah yang masih aman, dan bahan samping pertanian yang tidak tercemar. Kita juga perlu memperkuat atap serta membuat saluran. Kemarau panjang sering diikuti angin keras. Kalau hujan tiba mendadak, tanah kering tidak menyerap air dan kandang bisa kebanjiran."

Pak Yohanes mengangguk. "Saya pernah melihat banjir kecil setelah kemarau. Airnya lewat begitu saja seperti mengalir di atas batu."

Laras menyusun rencana dalam lima bagian: pengelompokan ternak, pengaturan air, persediaan pakan, pencegahan penyakit, dan penguatan kandang. Setiap bagian memiliki penanggung jawab serta waktu pemeriksaan.

Drh. Hutomo datang menjelang siang membawa dua permintaan kunjungan desa. Ia berdiri di depan tabel sambil mengangkat alis.

"Baru beberapa hari, Puskeswan sudah mendapat tiga telepon yang meminta Bu Laras secara khusus. Sekarang peternakan juga tidak mau melepasnya."

Pak Sutrisno tersenyum. "Kami menemukan beliau lebih dulu."

"Kalau begitu rawat baik-baik. Saya pinjam besok pagi untuk kunjungan."

Wati segera mengangkat tangan. "Saya ikut."

Seusai drh. Hutomo pergi, Wati menyerahkan buku catatan kepada Laras. Halamannya penuh tulisan kecil dan gambar posisi pemeriksaan.

"Bu Laras, saya tahu Ibu bilang kita rekan. Tetapi boleh saya tetap belajar seperti murid? Di kampus saya menghafal banyak teori. Baru setelah mengikuti Ibu, saya mengerti bagaimana memilih tindakan saat alat terbatas."

"Belajarlah, tetapi jangan meniru tanpa bertanya," jawab Laras. "Kondisi setiap hewan berbeda. Kalau suatu hari penilaianmu lebih baik daripada saya, kamu wajib membantah."

Wati tersenyum mantap. "Baik, Bu."

Keesokan paginya, kesibukan itu terbukti bukan sekadar pujian. Sebelum Laras selesai memeriksa kelompok sapi kuning, seorang petugas Puskeswan datang dengan motor. Dua kandang kambing di desa pinggir kota mengalami diare setelah pemiliknya mengganti pakan dengan ampas singkong basah.

Laras meminta Pak Yohanes meneruskan penimbangan, lalu berangkat bersama Wati. Di lokasi, ia menemukan ampas disimpan dalam karung tertutup di bawah matahari. Baunya asam menyengat dan permukaannya mulai berlendir.

"Buang semuanya. Jangan diberikan pada ternak lain," katanya. "Bersihkan wadah, pisahkan kambing yang lemah, dan bawa sampel feses ke Puskeswan. Kita harus membedakan gangguan pakan dari infeksi."

Pemilik kandang mengeluh karena ampas itu dibeli murah dalam jumlah besar. Laras tidak memarahinya. Ia menghitung kerugian jika seluruh kambing jatuh sakit, lalu menunjukkan cara menilai bau, warna, dan suhu bahan sebelum dicampurkan ke pakan.

Wati memasang cairan pada kambing yang paling lemah di bawah pengawasan Laras. Saat denyutnya membaik, pemilik kandang mengembuskan napas lega.

"Saya kira murah berarti hemat," katanya.

"Pakan murah hanya berguna kalau aman," jawab Laras. "Mulai sekarang, laporkan perubahan ransum sebelum masalah muncul."

Mereka kembali ke peternakan menjelang sore. Pak Sutrisno telah menunggu dengan laporan sumur, sedangkan drh. Hutomo mengirim pesan meminta hasil sampel. Dalam satu hari, dua tempat benar-benar menarik Laras dari arah berbeda.

Laras pulang setelah langit gelap. Bram belum bisa menjemput karena rapat kesatuan, jadi Pak Yohanes mengantarnya dengan motor peternakan. Begitu tiba, Laras melihat motornya sendiri berada di teras. Rem depan yang kemarin terasa longgar telah dikencangkan, rantainya diberi pelumas, dan tangkinya penuh.

Di meja makan, nasi dan sup jagung masih hangat di bawah tudung saji. Sebuah kertas kecil diletakkan di samping piring.

Makan dulu. Aku pulang setelah rapat.

Tulisan Bram tegak dan singkat, persis seperti orangnya.

Laras tersenyum tanpa sadar. Ia membuka buku pengeluaran dan mencatat harga makan malam berdasarkan perkiraan bahan. Sejak awal mereka sepakat membagi kebutuhan rumah. Bram tidak pernah melanggar aturan itu, tetapi selalu menemukan cara memberi perhatian yang tidak masuk dalam kolom uang.

Ia mengencangkan rem. Ia mengisi bensin. Ia mengingat makanan yang Laras sukai dan tahu kapan ia akan pulang terlambat.

Semua dilakukan tanpa meminta pujian.

Ketika pintu terbuka hampir satu jam kemudian, Laras sedang memindahkan sup ke mangkuk kedua.

"Aku kira kamu sudah makan," kata Bram.

"Sudah sedikit. Sisanya menunggumu."

Bram berhenti sebelum duduk. Tatapan matanya menghangat tipis.

Mereka makan sambil membicarakan pekerjaan. Laras menjelaskan pembagian ternak dan kebutuhan air. Bram tidak mengerti semua istilah, tetapi mendengarkan tanpa memotong. Ia hanya bertanya pada bagian yang menyangkut perjalanan Laras ke desa terpencil.

"Jangan pergi sendirian. Bawa Wati atau petugas setempat."

"Aku tahu."

"Dan periksa motor sebelum berangkat."

"Remnya sudah diperbaiki oleh seseorang yang sangat rajin."

Bram berdeham dan mengambil air minum. Laras menahan tawa.

Malam itu, setelah Bram tidur, Laras kembali membuka tabel ternak di meja kecil dekat jendela. Di luar, rumput di halaman kompleks telah berubah kekuningan. Angin membawa debu yang semakin tebal setiap hari.

Angka-angka dalam buku mengatakan mereka masih punya waktu. Namun dada Laras kembali terasa sempit, sama seperti sebelum mimpi buruk tentang Ratih.

Firasatnya berbisik bahwa kemarau ini bergerak lebih cepat daripada data mana pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!