Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Bulan
Ayunan kayu latihan meluncur deras dari sisi kanan, mengincar rusuk Galih dengan kecepatan yang biasanya sudah lebih dari cukup untuk menjatuhkannya seketika. Namun kali ini tubuhnya bergerak lebih dulu, memutar pinggang dan menekuk lutut tepat pada momen yang pas, membuat kayu itu hanya menyapu udara kosong beberapa senti dari kulitnya. Suara desing kayu yang lewat di dekat telinganya terasa familiar, sesuatu yang dulu selalu membuatnya panik namun kini justru membantunya menghitung jarak. Galih mendarat ringan di atas tanah dengan kuda-kuda kokoh, napasnya memburu namun kakinya tidak lagi goyah seperti dulu.
Halaman belakang rumah panggung itu sudah menjadi saksi bisu perjuangannya selama hampir seratus hari terakhir. Tanahnya yang dulu rata kini berlubang kecil di sana-sini, bekas jatuh bangun tak terhitung jumlahnya. Batang kayu latihan di tengah lapangan penuh sayatan baru, sebagian bahkan sudah diganti karena terlalu rusak dihajar pukulan yang perlahan makin bertenaga. Keringat dan air mata yang pernah tumpah di tanah itu sudah lama mengering, digantikan oleh otot-otot yang mulai terbentuk di lengan dan kaki Galih.
Tiga bulan bukan waktu yang singkat. Luka-luka yang dulu membuatnya menangis kesakitan kini berubah menjadi bekas samar yang nyaris tak terasa lagi. Ia sudah hafal setiap sudut halaman ini, setiap gundukan tanah yang bisa membuatnya tersandung, setiap sudut bayangan pohon yang bisa dimanfaatkan untuk mengecoh lawan. Bahkan cara ia bernapas saat bergerak sudah jauh berbeda, lebih teratur, lebih hemat tenaga, hasil dari ratusan kali jatuh bangun yang dulu terasa seperti hukuman tanpa akhir.
Sekar berdiri beberapa langkah darinya, memutar bilah parangnya sekali sebelum melancarkan kombinasi serangan lanjutan, gerakan yang biasanya cukup untuk merobohkan Galih dalam hitungan detik sejak bulan pertama latihan mereka. Kali ini serangannya datang bertubi-tubi, kiri, kanan, bawah, atas, tanpa jeda sedikit pun, dirancang untuk membingungkan lawan yang belum terbiasa membaca pola. Peluh sudah membasahi dahinya sendiri, tanda bahwa gadis itu pun mengeluarkan tenaga lebih dari biasanya untuk menguji batas kemampuan Galih yang terus berkembang.
Namun mata Galih tidak lagi panik seperti dulu.
Ia memusatkan perhatian pada otot bahu Sekar, memperhatikan bagaimana bahu kirinya sedikit turun sesaat sebelum ayunan dari arah kanan, bagaimana pijakan kakinya bergeser tipis sebelum melancarkan tebasan rendah. Angin yang tercipta dari setiap ayunan kayu juga memberi petunjuk, desiran halus yang bisa ia rasakan di kulitnya sepersekian detik sebelum benturan terjadi.
Galih menepis serangan pertama dengan lengan bawahnya yang sudah lebih kuat, membelokkan arah kayu itu tanpa harus menghindar penuh. Serangan kedua ia elakkan dengan langkah kecil ke samping, cukup untuk membuat ujung kayu hanya menyerempet lengan bajunya. Serangan ketiga, yang biasanya selalu berhasil mengenainya telak, kali ini berhasil ia tepis dengan lengannya sendiri, meski rasa nyeri masih menjalar dari benturan itu. Ia meringis sedikit namun tidak mundur, kakinya tetap kokoh menapak di tanah seolah tubuhnya sendiri sudah lebih dulu tahu cara bertahan sebelum otaknya sempat memerintah.
Sekar berhenti mendadak, tangan yang memegang kayu latihan tergantung di sisi tubuhnya. Ia menatap Galih dengan ekspresi yang jarang sekali muncul selama tiga bulan terakhir, bukan lagi tatapan meremehkan atau kekesalan yang biasa menyertai setiap sesi latihan mereka.
Untuk pertama kalinya, gadis itu terdiam cukup lama, seolah sedang mencerna apa yang baru saja terjadi di depan matanya.
"Kau baru saja menepis kombinasi ketiga," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya, kehilangan nada tajam yang selalu menyertai setiap kalimatnya selama ini.
Galih terengah-engah, mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Aku... aku juga tidak menyangka bisa melakukannya."
Sekar menurunkan kayu latihannya sepenuhnya, melangkah mendekat sambil memperhatikan Galih dari ujung kepala sampai kaki, seperti sedang menilai ulang sesuatu yang selama ini ia anggap sudah pasti. Ada jeda cukup panjang sebelum ia akhirnya membuka mulut lagi, seolah mencari kata yang tepat untuk sesuatu yang belum pernah ia ucapkan sebelumnya.
"Berapa lama kau bisa bertahan tadi tanpa jatuh?" tanyanya, nada suaranya jauh lebih lembut dari biasanya, kehilangan sengatan sinis yang biasa mewarnai setiap pertanyaannya.
"Tidak tahu. Aku cuma... melihat gerakanmu. Bahu kirimu turun sedikit sebelum kau menyerang dari kanan," jawab Galih jujur, masih berusaha menstabilkan napasnya yang memburu.
Alis Sekar terangkat sedikit, jelas terkejut mendengar jawaban itu. Tidak banyak pemburu pemula yang mampu membaca kebiasaan gerak lawan secepat itu, apalagi seseorang yang tiga bulan lalu bahkan tidak bisa mengepalkan tangan dengan benar.
"Lenganmu masih lecet," katanya lagi, kali ini matanya turun ke arah lengan Galih yang memerah bekas benturan barusan. "Kau tidak apa-apa?"
Galih menggeleng, meski rasa perih itu masih terasa jelas. "Cuma lecet biasa. Sudah kebal rasanya."
Sekar tidak langsung menjawab. Ia berdiri diam sejenak, memandangi halaman yang penuh jejak latihan mereka selama tiga bulan terakhir, seolah baru menyadari betapa jauh perjalanan yang sudah dilalui pemuda di hadapannya. Dari sosok lemah yang bahkan kesulitan berdiri tegak setelah memukul batang kayu, kini menjadi seseorang yang mampu membaca pola serangannya sendiri. Ia teringat hari-hari pertama, bagaimana Galih terjungkal hanya karena mencoba melangkah, bagaimana ia sendiri sempat berpikir pemuda itu tidak akan pernah bisa diselamatkan dari kelemahannya.
"Kau sudah banyak berubah," gumamnya, lebih seperti bicara pada diri sendiri daripada pada Galih.
Galih tersenyum kecil, meski tubuhnya masih terasa remuk redam. "Itu karena gurunya galak."
Untuk sesaat, sesuatu yang jarang muncul di wajah Sekar hampir terlihat, sebuah senyuman tipis yang cepat-cepat ia sembunyikan dengan membuang muka ke arah lain. Namun Galih sempat melihatnya, cukup jelas untuk membuat dadanya berdegup dengan cara yang aneh, sesuatu yang berbeda dari rasa sakit atau lelah yang selama ini mendominasi setiap sesi latihan mereka. Ia menyimpan momen kecil itu dalam-dalam, seolah takut kehangatan langka itu akan menghilang begitu ia berkedip.
"Istirahat dulu," kata Sekar, suaranya kembali ke nada biasa meski masih menyisakan sedikit kehangatan yang tidak biasa. "Besok kita lanjutkan lagi."
Galih mengangguk, duduk perlahan di tanah berdebu sambil memandangi punggung Sekar yang berjalan menjauh menuju sumur belakang. Kehangatan asing itu masih terasa di dadanya, ganjil namun tidak sepenuhnya tidak menyenangkan, sesuatu yang membuatnya percaya bahwa mungkin tiga bulan penuh siksaan ini akhirnya mulai membuahkan hasil yang lebih dari sekadar tubuh yang lebih kuat. Ia menatap kedua telapak tangannya sendiri, kini dipenuhi kapalan kecil dan bekas luka yang sudah mengering, jejak nyata dari perjalanan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak terdampar di dunia asing ini, ia merasa mungkin, hanya mungkin, dirinya bisa benar-benar bertahan di sini.