Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasir Berbisik dan Istana Karang Terlarang
Celah Tengkorak perlahan memudar di belakang langkah kuda-kuda sihir milik Tim Vanguard. Di hadapan mereka kini terhampar gurun pasir berwarna merah membara yang membentang tanpa batas, beradu langsung dengan langit jingga pekat yang diselimuti kabut mineral tipis. Panas bumi yang membakar mengepul dari balik rekahan tanah cadas, menciptakan bayangan fatamorgana yang menipu pandangan mata di sepanjang horizon.
Kubah sihir Celestial Breeze yang dipasang oleh Monica terus memancarkan pendaran emas sejuk, membentengi kelima anggota tim dari hawa panas ekstrem dan serbuk Miasma beracun yang terbawa angin gurun. Monica melangkah anggun di barisan depan. Kuncir kuda rambut hitamnya berayun perlahan seirama dengan langkah mandiri kuda sihirnya. Tongkat safirnya berpendar lembut, memandu arah navigasi tim di tengah medan yang melumpuhkan kompas sihir biasa.
"Suhu udara di sini benar-benar menyiksa," gumam Reno seraya mengusap pelipisnya yang basah oleh keringat. Meski Zirah Aegis of the Iron Titan miliknya telah dilengkapi sistem pendingin sihir ringan, sengatan terik matahari gurun tetap menembus celah-celah pelat besi zirahnya. "Bagaimana bisa Ordo Umbra membangun markas di tanah semati ini?"
"Tanah mati justru tempat bersembunyi paling sempurna, Reno," sahut Danis dingin dari balik jubah hitamnya. Pemuda bayangan itu bergerak paling ringan di antara mereka, matanya terus memindai bukit-bukit pasir merah yang bergelombang di sekitar mereka. "Tidak ada hukum kerajaan, tidak ada patroli penjaga, dan Miasma alami gurun ini menyamarkan aura sihir hitam milik mereka."
Kazuma melambatkan kuda sihirnya hingga sejajar dengan Monica.
Tangannya memegang perkamen peta kuno yang tintanya terus berubah warna saat terpapar radiasi pasir merah.
"Monica, menurut catatanku, dua puluh mil dari Celah Tengkorak terdapat reruntuhan peradaban kuno bernama Oasis Karang Hitam," jelas Kazuma seraya menunjuk sebuah simbol melingkar di petanya. "Jika Malakor menempatkan garis pertahanan sekundernya di gurun ini, reruntuhan itu adalah satu-satunya lokasi yang memiliki sumber energi bawah tanah untuk menyokong ribuan pasukannya."
"Reruntuhan itu sasaran utama kita," jawab Monica tegas. Sepasang mata birunya menatap lurus ke depan, memancarkan kepemimpinan yang makin matang. "Kita rebut Oasis Karang Hitam untuk dijadikan pangkalan terdepan Pasukan Ekspedisi Grandoria sebelum melanjutkan serangan ke benteng utama Malakor."
Namun, belum sempat Kazuma menjawab, angin gurun yang tadinya berembus perlahan mendadak berhenti total. Keheningan yang janggal melingkupi padang pasir merah tersebut.
Ssssshhhh... Ssssshhhh...
Suara bisikan halus, parau, dan berulang-ulang mulai bergema dari dalam butiran pasir di bawah kaki mereka. Bisikan itu tidak berasal dari telinga, melainkan terngiang langsung di dalam pikiran masing-masing anggota tim, mengalunkan mantra hipnotis kuno yang sarat akan keputusasaan dan ilusi.
"Hati-hati!" seru Elena seraya menarik tali busurnya dan mengaitkan anak panah cahaya. "Itu sihir ilusi... Pasir Berbisik!"
"Jangan dengarkan suara itu!" perintah Monica keras. "Celestial Sanctum: Mental Barrier!"
Pendaran emas dari tongkat Monica menguat, menciptakan gelombang getaran frekuensi tinggi yang memotong rantai sihir ilusi di udara. Suara bisikan dalam kepala mereka mendadak terputus seketika.
Tetapi ancaman sesungguhnya baru saja dimulai. Di sekeliling mereka, pasir merah meletus di puluhan titik berbeda.
Dari balik reruntuhan bukit kapur, bermunculan prajurit-prajurit tengkorak berzirah tembaga yang digerakkan oleh Miasma hitam—Prajurit Sand-Golem Ordo Umbra! Tak kurang dari lima puluh prajurit pasir bangkit serempak, menggenggam tombak dan pedang berlapis racun gurun.
Dari barisan belakang monster-monster tersebut, sesosok pria berkerudung merah dengan topeng tengkorak besi melayang naik ke udara. Pria itu memegang tongkat gading yang diuncitkan kristal darah.
"Selamat datang di kuburan kalian, Tim Vanguard!" teriak pria berkerudung merah itu dengan suara melengking penuh kemenangan. "Aku adalah Komandan Varkas dari Barisan Merah Ordo Umbra! Pasir Gurun Tengkorak ini akan menjadi tempat kalian membusuk!"
Reno tertawa kecil, menghentakkan perisai besinya hingga lantai pasir bergetar hebat. "Cuma lima puluh prajurit tengkorak? Komandan Varkas, kau pasti belum mendengar apa yang kami lakukan pada Naga Hitam di Grandoria!"
"Elena, Kazuma, lumpuhkan perapal sihir di udara! Danis, amankan garis samping! Reno, bersamaku hantam barisan depan!" perintah Monica penuh wibawa.
"SIAP!" seru keempat sahabatnya serempak.
Semburan api keemasan Hellfire Phoenix milik Kazuma meletus membakar udara gurun, disusul hujan anak panah cahaya Elena yang membelah kegelapan kabut pasir. Pertempuran sengit di wilayah terlarang.