Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 : PERJALANAN KE YOGYAKARTA DAN KENANGAN YANG MENGHANTUI
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Pagi-pagi sekali, saat matahari baru saja muncul di ufuk timur dengan sinar keemasan yang hangat, siswa-siswa SMA Negeri 1 Kabupaten sudah berkumpul di halaman sekolah dengan tas ransel di punggung dan senyum lebar di wajah. Tiga bus besar berwarna putih terparkir rapi di halaman, mesinnya sudah menyala siap membawa mereka dalam perjalanan panjang menuju Yogyakarta. Suasana sangat meriah dengan tawa dan canda siswa yang saling bercerita tentang rencana mereka selama study tour. Ada yang membawa kamera, ada yang membawa makanan ringan, dan ada yang sudah tidak sabar untuk segera berangkat.
Rangga datang lebih awal dari yang lain, sebelum fajar benar-benar menyingsing. Ia ingin membantu guru-guru mempersiapkan segala sesuatu untuk perjalanan. Dengan sigap dan tanpa diminta, ia mengangkat kotak-kotak makanan ringan ke dalam bagasi bus, menata botol-botol air mineral dengan rapi, dan memeriksa perlengkapan P3K untuk memastikan semuanya lengkap. Keringat mulai bercucuran di dahinya, tetapi ia tidak berhenti bekerja.
"Rangga, kau sungguh anak yang baik," kata Pak Heru yang melihat kerajinan Rangga dari kejauhan. Wajahnya tersenyum bangga. "Selalu siap membantu tanpa diminta. Tidak banyak siswa yang seperti kau."
Rangga tersenyum sambil menyeka keringat di dahinya. "Tidak ada salahnya membantu, Pak. Lagipula, saya senang bisa berguna. Perjalanan ini akan panjang, dan saya ingin memastikan semuanya siap."
Setelah semua persiapan selesai, para siswa mulai naik ke bus satu per satu dengan tertib. Rangga memilih kursi dekat jendela di bus paling depan, dengan Anisa di sampingnya dan Bram di kursi di depannya. Fajar dan Gilang duduk di belakang mereka, sudah asyik bercanda dan tertawa. Suasana di dalam bus sangat meriah, penuh dengan nyanyian dan tawa yang menggema di sepanjang perjalanan.
"Rangga, kau tahu lagu ini?" tanya Bram sambil mulai bersenandung dengan semangat. Ia bahkan mulai menggoyangkan kepalanya mengikuti irama. "Ayo kita nyanyi bareng! Ini perjalanan panjang, kita harus menghibur diri!"
Bram memulai lagu pop yang sedang hits di radio, suaranya yang cukup merdu membuat beberapa siswa lain ikut bernyanyi. Lagu demi lagu berganti, menciptakan suasana yang hangat dan menyenangkan. Rangga awalnya hanya tersenyum mendengarkan, tetapi Anisa menarik tangannya dengan semangat. "Ayo, Rangga! Kau juga harus ikut bernyanyi! Ini perjalanan yang menyenangkan, kita harus menikmatinya bersama!"
Rangga akhirnya ikut bernyanyi. Suaranya yang merdu dan penuh perasaan membuat beberapa siswa terkejut dan bertepuk tangan kagum. "Wah, Rangga! Ternyata kau bisa bernyanyi juga!" seru seorang siswa dari kursi depan dengan mata membelalak. "Kau menyembunyikan bakatmu selama ini!"
"Aku hanya ikut-ikutan," kata Rangga dengan malu, pipinya merona.
Perjalanan terus berlanjut dengan nyanyian dan cerita. Beberapa siswa bahkan berdiri dan menari di lorong bus yang sempit, membuat suasana semakin meriah dan penuh tawa. Namun, semakin jauh bus melaju meninggalkan kota kecamatan yang sudah mereka kenal, Rangga mulai terdiam. Matanya menatap ke luar jendela, melihat pemandangan yang berganti dari sawah hijau yang membentang luas menjadi perkotaan yang semakin padat dengan gedung-gedung tinggi dan jalanan yang macet.
Bus memasuki wilayah Yogyakarta. Gedung-gedung tinggi mulai terlihat di kejauhan, jalanan semakin ramai dengan kendaraan bermotor, dan suasana kota yang sibuk mulai terasa. Rangga merasakan dadanya sesak seperti ada sesuatu yang menekan. Ia teringat pada masa kecilnya, pada saat ia masih tinggal di kota besar bersama orang tuanya di istana kaca yang megah. Kenangan itu terasa begitu jauh, tetapi juga begitu dekat dan nyata.
"Rangga, kau baik-baik saja?" tanya Anisa yang melihat ekspresi Rangga berubah drastis. Wajahnya yang tadinya ceria kini tampak pucat dan tegang, keringat dingin mulai mengalir di dahinya.
Rangga tidak menjawab. Matanya tetap menatap ke luar jendela, tetapi pandangannya kosong, tidak fokus pada apa pun. Ia teringat pada malam pembunuhan itu—wajah ayah dan ibunya yang terbujur kaku di lantai marmer putih yang berlumuran darah merah pekat, darah yang mengalir seperti sungai kecil di antara sela-sela ubin, pria botak berkacamata hitam yang mengarahkan pistol ke dahinya dengan senyum sinis, dan suara yang memerintahkan untuk membuangnya di hutan. Semua itu masih tersimpan jelas di ingatannya, seperti luka yang tidak pernah benar-benar sembuh, seperti film yang diputar berulang-ulang setiap malam.
Ia juga teringat pada rumahnya yang dulu—istana kaca yang megah dengan kolam renang berbentuk kupu-kupu dan taman yang luas. Ia tidak tahu bagaimana keadaan rumah itu sekarang. Apakah masih berdiri? Apakah sudah dijual oleh orang-orang jahat yang membunuh orang tuanya? Apakah ada orang lain yang tinggal di sana sekarang? Rasa penasaran dan ketakutan bercampur aduk di dalam hatinya seperti badai yang tidak bisa ia kendalikan.
Yang paling menakutkan adalah pikiran bahwa pembunuh orang tuanya mungkin masih ada di kota ini. Mereka mungkin melihatnya di bus, mengenalinya meskipun ia sudah tumbuh dewasa, dan mencoba menyelesaikan apa yang belum selesai dulu. Rangga merasakan ketakutan yang luar biasa, ketakutan yang membuat tubuhnya gemetar hebat dan keringat dingin mengalir deras di sekujur tubuhnya.
"Rangga!" Anisa memegang tangannya dengan erat, berusaha menarik perhatiannya dari lamunan yang mencekam. "Kau tidak baik-baik saja. Ada apa? Ceritakan padaku. Jangan sembunyikan dariku."
Rangga menatap Anisa, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya dan akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Anisa... aku takut. Aku teringat pada malam itu... saat orang tuaku dibunuh. Kami tinggal di kota besar seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana keadaan rumahku sekarang. Dan aku takut... takut pembunuh orang tuaku melihatku. Mereka mungkin tahu bahwa aku masih hidup. Mereka mungkin akan mencoba membunuhku lagi. Aku merasa seperti anak kecil yang tidak berdaya."
Anisa memeluk Rangga erat-erat, merasakan getaran tubuhnya yang gemetar hebat seperti daun yang tertiup angin kencang. "Rangga, dengarkan aku. Kau tidak sendirian. Aku di sini. Bram di sini. Teman-teman kita di sini. Tidak ada yang akan menyakitimu selama kami ada di sampingmu. Kami akan melindungimu."
"Aku takut, Anisa," bisik Rangga, suaranya pecah dan nyaris tidak terdengar. "Aku tidak bisa melupakan malam itu. Setiap kali aku melihat kota besar, aku selalu teringat pada darah, pada tembakan, pada rasa takut yang luar biasa. Aku merasa seperti anak kecil yang tidak berdaya, yang tidak bisa berbuat apa-apa."
Anisa mengusap rambut Rangga dengan lembut, gerakannya penuh kasih sayang. "Rangga, masa lalu memang menyakitkan. Aku tahu itu. Tapi kau tidak bisa membiarkan masa lalu menghancurkan masa depanmu. Kau telah melewati semua itu dengan kepala tegak. Kau telah tumbuh menjadi orang yang kuat dan baik. Dan kau memiliki kami—teman-teman yang mencintaimu dan akan selalu melindungimu."
"Tapi bagaimana jika mereka menemukanku?" tanya Rangga dengan suara bergetar, matanya masih basah. "Bagaimana jika mereka tahu aku masih hidup?"
"Kau tidak sendirian," kata Anisa dengan tegas dan penuh keyakinan. "Kami akan melindungimu. Dan kau tidak perlu takut lagi. Kau sudah dewasa. Kau bisa melindungi dirimu sendiri. Tapi ingatlah, Rangga, ada masa depan yang harus kau gapai. Ada mimpi-mimpi yang harus kau raih. Kau tidak bisa membiarkan ketakutan menghentikanmu. Nenek di desa menunggumu pulang dengan senyum. Aku juga menunggumu untuk terus melangkah maju."
Bram yang mendengar percakapan mereka dari kursi di depan juga ikut berbicara, menoleh ke belakang dengan mata penuh keyakinan. "Rangga, aku tahu bagaimana rasanya takut. Aku juga pernah merasa takut sepanjang waktu, takut pada ayahku, takut pada dunia. Tapi kau mengajariku bahwa kita bisa memilih untuk tidak hidup dalam ketakutan. Kita bisa memilih untuk menjadi lebih kuat. Dan aku percaya kau bisa melewati ini. Kau orang terkuat yang aku kenal."
Rangga menatap Bram dan Anisa, air mata mengalir di pipinya tetapi kali ini ada senyum tipis di wajahnya. "Kalian benar. Aku tidak bisa terus hidup dalam ketakutan. Aku harus kuat. Untuk diriku sendiri, untuk Nenek, dan untuk kalian semua."
"Kau sudah kuat, Rangga," kata Anisa sambil tersenyum. "Kau hanya perlu mengingatnya. Dan aku akan selalu ada di sini untuk mengingatkanmu."
Bus terus melaju menuju tujuan pertama mereka—Candi Borobudur. Rangga memandangi pemandangan di luar jendela. Ia melihat sawah-sawah hijau yang terbentang luas, gunung-gunung yang menjulang tinggi dengan kabut tipis di puncaknya, dan langit biru yang cerah tanpa awan. Perlahan, rasa takutnya mulai mereda, digantikan oleh ketenangan yang perlahan menyusup ke dalam hatinya.
"Aku akan melupakan ketakutanku," bisik Rangga pada dirinya sendiri. "Aku akan menikmati perjalanan ini. Aku akan belajar banyak hal baru. Dan ketika aku kembali, aku akan menjadi orang yang lebih kuat."
Anisa menggenggam tangannya erat. "Aku akan selalu ada untukmu, Rangga. Apa pun yang terjadi."
Rangga tersenyum, merasakan kehangatan yang selalu ia dapatkan dari Anisa. Ia tahu bahwa meskipun masa lalu penuh dengan luka dan kenangan pahit, masa depannya masih cerah. Dan ia akan terus melangkah maju, tidak peduli seberapa sulitnya, dengan orang-orang yang ia cintai di sampingnya.
---
[Bersambung...]
---