Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.

bagaimana ceritanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. DSKKR

Mau tak mau Fandi menurut pada ibunya ditambah lagi karena dia sangat lapar dan baru kali ini dia kenyang.

"Kenyang.." Ucap Fandi lalu bersendawa.

"Gimana ndi? Kamu sudah dapat kerjaan hari ini?"

"Sudah bu, Fandi mulai besok kerja"

"Wah, jadi apa mas? Di studio mana tuh?" Sahut Intan.

"Bukan studio.. di proyek pembangunan kantor" Ucap Fandi melirik intan.

"Hah.. Jadi kuli? Kok jadi kuli sih mas? Kan kecil bayaran nya" Ucap Intan dengan meremehkan.

"Tau apa kamu ntan. Itu aja yang penting dapat kerja." Ucap Fandi membentak.

"Kalau mas jadi kuli terus nanti kapan intan kuliah lagi bisa-bisa 10 tahun lagi. Keburu lumutan" sinis Intan.

"Kamu seharusnya juga cari kerja sendiri, bayar kuliah kamu sendiri. Katanya ipk nya paling tinggi, jangan-jangan hasil joki." Ucap Fandi.

"Sembarangan kamu mas. Itu kan kewajiban mas buat biayai aku juga."

"Sudah-sudah ya ampun... Diam.." Ucap Ibu Ratna.

Akhirnya kakak beradik itu pun diam, memilih masuk ke bilik kamar mereka istirahat masing-masing.

Keesokan harinya,

"Bu.. Fandi berangkat ya" ucap Fandi pada ibunya.

"Iya ndi.. bawa uang yang banyak ndi"

"Iya.."

Fandi pun mulai melangkah keluar rumah dan berjalan kaki menuju ke tempat kontruksi bangunan kemarin. Sesampai sana, Fandi langsung mendekati mandor lalu mandor pun memerintah Fandi untuk mulai bekerja.

Fandi bekerja dengan semangat, walaupun badan nya sekarang semakin kurus, dia dengan semangat mencangkul dan mencampur semen. Hingga di waktu istirahat, Fandi di dekati oleh 2 orang pekerja.

"Anak baru ya?"

"Eh iya pak. Salam kenal, saya fandi"

"Ya.. kerja saja yang semangat, nikmati pekerjaan mu." Ucap orang lain lagi.

"Iya pak." Jawab Fandi singkat.

Di rumah, Ibu Ratna sedang mencuci baju. Kini ia tidak takut lagi akan tampilan rumah tua itu. Kini rumah yang milik orang dan awalnya mereka takuti berubah jadi rumah yang mereka klaim sendiri. Mulai terang-terangan bu ratna menjemur pakaian, memasak, hingga merubah apa yang ada di rumah itu. Hingga suatu ketika, ketika Ibu Ratna sedang tidur siang, di luar rumah datang seseorang yang berjalan mendekat ke rumah yang mereka tempati.

"Loh kok ada jemuran di luar? Gimana sih katanya di jual. Kenapa masih ada orang yang tinggal disini" Ucap orang itu lalu dia memotret dan menelpon seseorang.

"Halo.. ada apa ya pak Kiran?" Ucap Orang yang ditelpon itu.

"Pak.. saya kan sudah lunas beli rumah anda, kenapa waktu saya mau bersih-bersih malah di rumah ini masih tinggal orang lain?"

"Hah orang lain? Tidak pak, rumah saya sudah kosong 4 tahun, tidak ada yang tinggal disitu."

"Tidak Pak, sekarang rumah ini sudah bersih dan ada yang jemur pakaian juga di depan rumah nih lihat sendiri."

"Ya ampun pak.. kok ada orang sih. Tapi benar pak saya cuma jual ke bapak. Saya enggak tau siapa itu yang tinggal di rumah saya."

"Pokoknya saya tidak mau tau pak. Kalau memang sudah ada yang nempatin, sekarang bapak kembalikan saja uang saya." Ucap orang yang memotret itu.

"Pak sungguh saya berkata jujur pak. Yang tenang pak, saya selesaikan masalah ini. Nanti sore saya dengan anak buah saya ke lokasi buat cari tau"

"Baiklah,"

Selepas menelpon, orang itu berjalan menjauh dari rumah itu, di belokan ke kanan, orang itu bertabrakan dengan Intan.

"Eh.. maaf mbak.." Ucap orang itu ikut memunguti belanjaan intan.

"Jalan pakai mata dong pak. Mahal tau ini.. jadi jatuh deh.. huh gimana sih"

"Maaf mba saya engga sengaja."

"Huh.. ya sudah.. buang-buang waktu saja"

Namun Akhirnya mereka pun lanjut berjalan ke arah masing-masing.

Di tempat kontruksi bangunan, Fandi terus bekerja walaupun dada nya seperti sesak. Hingga sore harinya, mandor pun mengumpulkan mereka.

"Ini upah kalian hari ini. " Ucap Mandor dengan satu persatu memberi pekerja bangunan upah hak mereka.

"Terimakasih pak"

"Iya sama-sama.. oh ya sekarang hingga malam ada yang bersedia bantu saya?" Ucap mandor itu.

"Bantu apa pak?"

"Urus orang.. ada yang nempatin rumah saya. Padahal engga pernah ada konfirmasi atau pembayaran apapun. Ada yang bersedia? Kalau iya akan saya beri upah setara satu hari kerja kalian." Ucap mandor lagi.

Ucapan mandor itu seketika membuat Fandi membelalak. Dia teringat pada tempat tinggal nya dan keluarga nya. Namun fandi berulang kali mencoba meneguhkan diri bahwa rumah yang mandor nya maksud bukanlah rumah yang dia tempati.

"Emm pak.. jauh tidak rumah nya?" Tanya Fandi dengan jantung dag dig dug cepat.

"Tidak dekat itu di sekitar perumahan yang sepi, rumah itu masuk gang dalam pekarangan.

Jawaban itu membuat Jantung fandi berdegup sangat kencang. Dia tidak tau harus melakukan apa.

"Wah saya pak bersedia" Ucap semua pekerja kecuali fandi.

"Ya yang bersedia masuk saja ke mobil bak ya. Cepat cepat.."

Semua pekerja masuk ke mobil bak kecuali Fandi. "Sudah semua? Sampai sana bantu saya usir orang didalam dan keluarkan semua barang nya ya."

"Siap pak.."

Mobil pun melaju menjauh dari posisi Fandi. Hati nya masih was was mengenai itu. Fandi merogoh saku nya lalu menelpon ibu nya.

"Bu.. ibu.. Ibu.. sekarang ibu sebaiknya pergi sebentar dari rumah itu bu. Ada pemilik rumah itu yang mau kesitu buat ngusir kita." Ucap Fandi Panik.

"Apa yang kamu katakan ndi. Engga ada tuh.." Ucap Ibu.

"Orang-orang itu lagi kesitu bu.. percaya sama Fandi bu.. cepat beresin semua barang kita, terus pergi dari situ dulu bu.. Fandi masih dijalan bu, mungkin orang-orang itu sampai dulu bentar lagi. Cepat bu.." Ucap Fandi terburu-buru.

Ibu Ratna yang mendengar Fandi panik pun ikutan panik, dia membangunkan intan yang sedang tertidur namun intan tidak percaya perkataan ibunya.

Alhasil waktu kabur pun terbuang karena berdebat dengan intan.

Suara gedoran pintu terdengar di telpon, Fandi berusaha berlari kencang ketika mendengar jeritan ibu dan adiknya.

"Aaaaa.. siapa kalian.. " Teriak Ibu Ratna.

"Heh.. kalian siapa hah kenapa rumah ku bisa di tinggali oleh kalian! Pergi sana pergi.. Enak sekali tinggal gratisan di rumah orang." Ucap Mandor pada Intan dan Ibu Ratna.

"Hey memang nya kamu betul pemilik rumah ini hah! Bisa saja ngaku ngaku." Ucap Intan ngeyel.

"Ehh berani kamu ya! Lihat? Ini sertifikat asli tanah ini dan rumah ini. Kalian gembel yang hanya ingin fasilitas gratis ya.. Semua nya usir mereka, keluarkan barang-barang kecuali sofa, tv, meja.."

Semua pekerja bangunan menggenggam paksa lalu menyeret ibu ratna dan intan ke luar rumah. Lalu barang-barang mereka pun tak lupa di lempar.

Bu Ratna hanya bisa menangis, sementara Intan memungut baju-baju dan barang milik nya dan ibu nya dalam koper serta kardus.

"Cuh.. dasar pengemis" Ucap salah satu pekerja.

"Dengar! Jangan pernah kalian masuk ke rumah ini lagi ya! Atau kalian akan ku bawa ke kantor polisi. Dengar tidak!" Teriak mandor itu pada Ibu ratna dan intan.

"Bos, ada barang-barang laki-laki.."

"Cuhh.. Kalian ternyata jadikan rumah ini jadi tempat ngew*? Cihh.. kalian ternyata pelac*r ahaha.."

Ada seorang pekerja yang mendekati intan dan hendak merperkos* nya namun Mandor menghentikan nya. Dan mengusir intan dan Bu ratna pergi menjauh.

Fandi yang sudah sampai di pintu depan pekarangan pun hanya bisa melihat ibu dan adiknya di hina dan di caci maki. Fandi melangkah mundur ketika mandor dan pekerja itu mengusir intan dan ibu nya hingga mereka berbelok dan melihat Fandi, Dia pun langsung menyuruh ibu nya dan adiknya diam lalu menyuruh mereka mengikuti nya untuk segera menjauh dari kompleks itu.

"Kenapa kamu cuma ngumpet ndi.. enggak bantuin ibu sama intan" Cerocos Ibu ratna pada fandi.

"Nanti Fandi jelasin bu.. tolong ikut fandi dulu.."

Mereka pun ikut dengan Fandi menjauh hingga mereka berada di belakang sekolah dasar. Di sana ada sebuah kantin yang kalau malam sudah tutup. Mereka masuk dan duduk di dalam kantin itu.

"Apaan sih mas! Laki-laki cemen banget. Tadi intan hampir di perkos* tau nggak!"

"Diam dulu kamu ntan. Kita disini dulu sampai mereka pergi" Ucap Fandi.

~Bersambung~

1
Heny
Sdh pergi baru nyesal
Heny
Sudah sukses lupa daratan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!