Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalam diri
“Lah!..” Ila terkejut, gadis itu tidak tahu kondisi sebenarnya Lelaki itu. “Kamu kenapa, aku belom nyerang loh”
Ila seketika panik –padahal rautnya sudah serius barusan. Fio terkapar satu langkah di depannya, dia benar-benar kehilangan tenaga. Mau bicara saja tenggorokannya terasa sakit sekali.
Ila mendekat ingin membantu, nyaris direngkuh_
Namun, lagi-lagi lawannya yang lain tiba, Ila bisa meresponnya.
“BAJINGANNN!!!!” Itu teriakan Drawen.
Serangan palu dadakan, akan mengenai Ila.
BOOOOOMMMHH!!!
Kali ini, jalan raya bak di bom. Daya hancur dampak benda tersebut jauh lebih besar. Getaran yang dihasilkan berhasil menghancurkan kaca-kaca bangunan. Debu-debu melesak, pecahan batu terpental.
Namun, tetap saja. Ila jauh lebih cepat, dia telah berpindah. Lima meter di depan Drawen. Tangan gadis itu menyilang di dadanya. “Huft..”
Drawen tersengal, serangan sekejut apapun, gadis di depannya masih bisa menghindar. Hampir putus asa, tapi tekadnya sudah mengeras, kini dia mengaktifkan mode akselerasi. Terbantu teknologi dari Nilam, seluruh tubuhnya terlapisi butiran-butiran kecil robot mikro yang membentuk sebuah armor kokoh, bak plat baja namun fleksibel. Juga palunya, benda besar itu tampak lebih gelap. Kawanan logam mengkilap juga menyelimuti semua bagiannya.
Ila kembali berhembus ringan. “Kau juga gak capek, tuan?”
Belum selesai, beberapa detik kemudian satu orang lagi datang. Nilam, dia sama terselimuti kawanan logam seperti Drawen. Sekarang wajah pria itu tertutup topeng –juga dari mikroorganisme yang sama. Dia sedang menaiki ombak logam hitam yang akan dikendalikan penuh olehnya.
Fio dibawa oleh ombak tersebut menjauh dari area.
“Kau tidak akan selamat sekarang, nona” Sergah Nilam sembari memberi kode menggunakan tangannya.
Di detik itu, cairan logam merambat cepat mengincar Ila melalui aspal, Drawen melesat dari tempat berdirinya, puluhan duri logam juga ditembakkan untuk mengiringi terjangan Drawen.
Sekali gelombang, tiga serangan langsung, itupun dari arah yang menutup celah di depan Ila.
Gadis itu berhasil menjauh ke belakang. Gedung-gedung terusik, organisme mekanik bergiliran gemuruh menghantam jalan, duri-duri berakhir menghantam tembok, jalan mulai berantakan tergerus ombak.
Belum selesai.
Sebongkah logam yang tampak terpental dari gelombang meluncur ke arahnya. Ila mengangkat tangan untuk menepis. Namun sebelum tersentuh, bongkahan itu terbelah—Drawen menerobos keluar dari dalamnya.
Palu besar terayun mudah, terlihat ringan.
TANGGG!!! Ila bahkan belum sempat mengubah ekspresi. Kepala palu itu lebih dulu menghantam penuh tubuhnya. Dua detik tiba di langit. Darah berguguran turun.
CTARRRRZZTT!!!!! Kilatan biru berkedip-kedip di sepanjang tubuh Ila. Tersambar, tapi bukan petir. Itu ledakan lsitrik yang ditanamkan melalui palu drawen. Gawat, jaringan regenerasi di tubuhnya mulai rusak.
Kaku sudah tubuhnya, namun mata gadis itu masih terbuka, pupilnya bergerak, menatap langit gelap. Tubuhnya mulai menurun.
Di bawah, menara robot mikro menaik, sekejap menusuk tubuh gadis itu, dari punggung tembus dada, tubuhnya tertahan. Organisme logam tersebut membungkus Ila, kemudian membentuk balok solid di langit.
Ila tersegel.
Lengang sejenak, membiarkan hujan mengisi suasana. Drawen dan Nilam tersengal, upaya barusan memang tidak rumit atau berat, tapi mode akselerasi tetap menguras tenaga lebih cepat. Sama kasusnya seperti Fio, potensi tubuh dipacu agar keluar batas. Membuat ombak, melapisi Drawen dan dirinya sendiri dengan armor, itu jauh lebih berat dibanding bertarung satu jam lamanya bagi Nilam.
“Aku pernah meratakan bukit dengan pukulan itu” Drawen berkata berat. “Mustahil tubuhnya tidak hancur”
Harapannya Ila pecah berhamburan seperti pasir. Pukulan setara dengan dihantam gedung dua lantai.
“Kubusnya aktif. Regenerasinya akan berhenti sebentar lagi” Nilam menambahkan.
Tapi lihat saja.
****
Kejadiannya akan sangat cepat, tapi lama.
Ila tiba-tiba berpindah, jiwanya berada dalam suatu tempat, bukan mimpi ataupun alam kedua. Gadis itu tiba-tiba saja berdiri di sana, di ruang hampa tak berdasar, bertembok. Ya, literally tidak ada benda solid untuk pijakan, namun Ila tampak berdiri tegak. Menginjak sesuatu yang transparan.
Nafas gadis itu menderu berat, berat sekali. Keringat bercucuran deras di lehernya.
Di sini redup, tidak ada sumber cahaya tapi dia masih bisa sedikit melihat. Pakaiannya tidak lagi kaos hitam ringan dan celana training putih. Dia mengenakan baju putih sambung rok memanjang sampai lutut, dia tampak lebih indah sekarang. Bukan karena bertambah cantik, dia sudah cantik. Tapi pakaian itu mengingatkan pada suatu saat gadis itu hidup tanpa masalah.
Di tempat gelap itu, semuanya akan terungkap
“Jangan bohong Ila!” Itu suara Aro.
“Hah?!”. Ila terksima, langsung berlari mencari sumber suara. “Aro?”
Tapi tidak ada siapa-siapa di sana selain dirinya, hanya senyap.
“Ila, anakku sayang” sekarang suara ibunya muncul, dan lagi-lagi tidak bertambah seorangpun di sekitar Ila, walau suaranya tepat di depannya.
“I_ibu!!” Ila berteriak mencari. Menoleh ke segala arah Jantungnya berdetak kencang, hatinya mencelos perih, dia harus menemukannya.
“Maafin ibu ya” kalimat itu terdengar mengecil, termakan suara isakan seorang wanita. “Ibu meninggalkanmu bersama masalah ini”
Ila kembali tertoleh ke sembarang arah, berharap masih bisa melihat ibunya. “Bu?”
Ya rahman, kali ini saja.
“Ibu benar-benar minta maaf” suara Ibu terdengar menjauh.
“Jangan pergi bu!” Ila coba mengejar ke suatu arah, merengek tidak ingin ditinggalkan.
Langkahnya terhenti. Tidak ada sahutan lagi di ruangan kosong itu.
Hening, tenggorokan Ila tercekat.
Air matanya langsung tumpah, membasahi pipi. Dia sangat merindukan ibunya, tapi ibu sudah tiada. Ini mungkin hanya mimpi. “Ibu gak salah kok”
Ila mulai terisak, menangis lirih. Tangisan seseorang yang tidak hanya ditinggal ibunya, tapi lelah menahan luka, tekanan, dan menerima takdir tanpa diberi pesan apapun untuk menguatkan dirinya.
Hening, tempat itu runyam, seakan ikut kelam.
Namun tak lama kemudian suasana terang dengan sendirinya. Tidak ada yang menyorot, tidak ada matahari, Ila sekarang tampak berdiri di tengah ruang hampa yang putih.
“Maaf Ila, terkadang memang dunia tidak selalu mendukung apa yang kita harapkan” Suara Aro terdengar di belakang.
Latar yang abu-abu buru-buru memutih.
“Aro!” Ila memutar tubuh, lantas kembali tercekat. Lelaki itu benar-benar di sana. Namun masih dalam stelan pertama kali mereka bertemu di bis. Masih sarungan.
Ila lega, dia sangat senang jika anak itu datang di kondisi mentalnya saat ini. Pipinya masih teraliri air dari matanya yang merah.
“Aro” Ila tersenyum.
“Eh aku bukan Aro”
Ila tersentak. “HAH?”
Aro di depan balas tersenyum. “Aku hanya salah satu replika data dari program teknologi dalam tubuhmu. Berharap kau bisa tenang, padahal mau ku ceritain sesuatu, eh malah nangis duluan”
“ehh” Ila mengusap air matanya. Mencoba tenang. “Ma-maaf, aku terbawa suasana”
Hening, Aro –replikanya, di depan Ila masih dengan senyumannya. “Tapi aku yakin, Ila. Aro pasti ingin disampingmu saat ini”
Ila sedikit tersipu, menunduk. “Aku juga merasa begitu. Dari mana kau tahu?”
“Soalnya gini Ila, data kalian masih bisa terkoneksi”
Ila terdiam, bingung. “Data?”
Aro sedikit terbahak. “Percaya atau tidak, dalam tubuhmu, Aro, dan adiknya tertanam berbagai teknologi mutakhir”
“Teknologi?!” Ila menatap antusias.
“Ya, meskipun sebenarnya wujud paling sempurna ada dalam dirimu” Aro berjalan ke suatu arah. Sebuah panel hologram muncul di depan lelaki itu. Dia mulai mengetuknya seperti tablet mengambang.
“Lah, kok aku” Ila bergumam.
Di tengah mereka tiba-tiba muncul replika hologram membentuk lima orang, salah satunya Ila. Gadis itu sedikit terkejut.
Pertama, Aro menunjuk seorang wanita.
Ila menyimak, wanita itu tampak seumuran dengan ibunya.
“Ini ibu Aro” Ujar Aro –replika.
Ila mengangguk perlahan, ini instan info.
“Nah, aslinya beliaulah yang menjadi sebuah wadah untuk teknologi ini” Aro melanjutkan. “Jadi ada sebuah teknologi berbasis kecerdasan buatan untuk menambah kemampuan manusia dari dalam tubuh. Dari regenerasi instan, memaksimalkan kekuatan dasar setiap anggota. Hingga dapat meniru sesuatu hanya dengan melihatnya bak kamera”
Ila terlarut dalam penjelasan, sedikit tidak mengerti.
“Setelah ibunya ini menikah, terlahirlah dua anak yang akan menjadi inang lanjutannya. Jadi secara otomatis saat dilahirkan mereka sudah tertanam chip pemicu teknologi ini” Aro menunjuk hologram sendiri dan adiknya.
“Lah, terus aku apa?” Ila memotong.
“Kalau kamu, memang aslinya bukan siapa-siapa. Tapi justru kamulah yang pantas menjadi inangnya. Karena apa? Karena ada suatu kendala yang menghalangi Aro dan adiknya menjadi penerima teknologi ini. Alasan utamanya adalah karena mereka tidak dapat mengumpulkan energi yang sebanding untuk menjalankan program-program teknologi ini. Bayangkan, saat regenerasi saja membutuhkan energi setara tujuh pria dewasa (full tenaga) di pagi hari hanya untuk memulihkan luka di jari yang tergores pisau, ditambah itulah satu-satunya kemampuan dengan penggunaan energi paling minim. Adapun sisanya, jauh lebih besar”
Lengang beberapa saat, Ila coba mencerna kalimat-kalimat barusan.
“Intinya mereka tidak memiliki simpanan energi yang mumpuni untuk teknologi dari ibunya?” gadis itu akhirnya menyimpulkan.
Aro mengangguk. “Bahkan sekelas Ibunya –pengguna asli, tidak dapat menjadi inang yang sempurna karena kendala energi barusan. Beliau hanya bisa berfokus pada satu mode, itu pun harus memiliki strategi agar energi cepat tidak habis. Berbeda halnya tubuhmu yang dapat meregenerasi luka sambil bertarung”
Alis Ila menurun. “Hah? Masa sih?”
“Kamu gak pernah nyoba”.
Ila terkesima, seketika melihat kedua tangannya.
“Dah, gak usah coba disini”Aro menghentikan.
“Serius bisa? Tadi gak bisa loh”
Aro mengkerut serius. “Bisa”
Mata Ila melebar, langsung antusias.
“Coba yok!!”
“GAK!! Cheos nanti”
“Sedikit” Ila memelas.
“Gak Jing!!”
“Ku ancurin nih tempatnya” Ila tersenyum jahil.
Aro terdiam, wajahnya menatap datar. “Data menunjukkan rasa penasaranmu memang menyebalkan”
Ila tertawa kecil. “Kalau bukan ke kamu aku gak bisa”
Aro tambah semu wajahnya, makin menyebalkan saja rasanya menanggapi anak ini. “Untung aku bukan Aro di dunia nyata”
Ila masih menyeringai. “Loh kenapa? Nyatanya Aro tersenyum terus gitu kok”
“Senyum apanya? Prosentase bahagia Aro aja menurun jadi 37% sejak bertemu denganmu” Aro mendelik.
Gadis di depannya tersinggung. Rautnya berubah serius. “Itu karena masalah ini. Lihat saja kalau ini selesai, aku akan membuatnya bahagia”
Aro terbahak, persis tawanya saat pertama kali mendengar Ila membicarakan masalahnya di bis. “Oke, kita lihat nanti”
Lengang, Ila menatap tajam.
“Oke, oke. Aku gak bakal debatin hal gak jelas kayak gini. Karena waktuku terbatas juga aku akan langsung memberitahu kenapa kau cocok menjadi inang” Aro kembali serius.
Ila masih terdiam. Dia sepertinya sebel dituding –tentang 37%, oleh replika Aro barusan.
“Semua itu bermula karena kamu juga adalah wadah dari…” Aro terhenti.
“Wadah apa lagi?!” Alis Ila menurun.
“Apaya.. Semacam entitas lain, manusia menyebutnya Jin. Jin leluhur yang ingin menguasai dirimu. Entah alasannya apa, tapi alih-alih kau dikuasai, –setelah Ibunya Aro akhirnya terpaksa memberikan kuasa penuh atas kekuatan teknologi ini pada dirimu, jin itu jadi tidak bisa mengusik tubuhmu lagi. Nah, uniknya di sini. Sebenarnya jin itu sering kali berupaya mengambil alih tubuhmu, tapi justru sistem teknologi berhasil mengcounter dan berbalik mengkonversi kekuatannya ikut dalam program teknologi ini. Jadi itulah alasan kenapa pada kondisi tertentu, kau merasakan ada energi yang masuk”
Ila terhening lagi, dia agak kesulitan memahami gagasan barusan. “Aku, punya jin…. Pas mau ambil alih tubuh… malah justru berbalik mengambil alih kekuatannya?” Gadis itu coba mengeja.
Aro mengangguk.
“Emang kekuatannya apa?”. Ila bertanya?
“Aslinya banyak. Tapi yang bisa diaplikasikan dalam bentuk teknologi hanya kekuatan ‘akses’ pada energi dari alam unsur. Kenapa ku bilang akses? Karena selain jin ini bisa menyerap energi tak kasat mata dari alam, dia bisa menggerakan energi tak kasat mata itu layaknya angin, bahkan kalau memang niat, dia bisa memanifestasikan energi barusan menjadi elemen yang nyata. Tapi itu terlalu naif dan bertentangan dengan norma yang ada, karena akan berhubungan dengan kekuatan keyakinan”
Ila terenyak lagi, kebingungan.
Aro berhembus. Waktunya sisa beberapa menit lagi. “Besok-besok sering baca buku, ya. Biar terbiasa berbicara denganku. Pertemuan kita bukan kali ini saja loh”
Ila tersentak, sempat-sempatnya dia mengejek. “Gak usah begayaan dah… kalo aku mati kamu juga mati kok”
“Siapa peduli” Aro tersenyum jahil. “Tapi kau pasti sadar kan? Ada energi yang menyentuh? Kamu juga sering menggunakannya untuk mendeteksi serangan dengan instan. Nah! Itu aslinya kekuatan jin dalam tubuhmu, tapi teknologi di dalamnya justru merenggut, dan ditiru, bahkan menyempurnakan kekuatan tersebut agar fleksibel dengan tubuhmu”
Ila tidak langsung membalas.
Hening sejenak.
“Paham Gak!” Aro membentak.
“Paham-paham, astaga!” Ila terbuyarkan.
Hening lagi, saling tatap. Tapi Ila akhirnya menemukan ide.
“Eh aku boleh nanya tentang Aro gak”
“Boleh, asal jangan aneh-aneh”
Ila menyeringai lebar. “Aro pasti suka sama aku ya?”
Replika Aro menepuk dahi. “Kepedean kamu, dia itu tidak pernah berpikir kesana, bentuk pembelaannya selama bersamamu cuma unsur simpati belaka. Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu, ada sifat Aro yang menurutku kurang baik buat dia sendiri tapi baik buat kamu saat ini”
“Apa itu” Ila penasaran.
“Dia Haus Validasi”
“Oh…” Ila sudah sangat familiar dengan istilah tersebut.
“Kau melihat sendiri, bukan? Aro sampe mau mempertaruhkan nyawa sendiri buat kamu loh!! Dia mau suatu saat kamu membalasnya dengan rinci”
Ila kembali terenyak, hatinya tersentuh lembut kali ini. Tak apa, dia merasa memang pantas untuk membalasnya. “Jelas aku akan membalasnya”
“Jadi paham kan? Kenapa ini baik buat kamu”
Ila menagguk.
“Pas! Waktuku habis, selamat bertarung lagi!!”
Ila tereksima. “Lah, masa belom selesai di luar?”
“Belum, aslinya kamu hampir mati. Tapi tubuhmu berhasil bertahan dalam perangkapnya Nilam”
JIEEEPPPP!!!!!
Semuanya lenyap seperti TV yang dimatikan.