Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 31
“Hah …!” Argono terperangah, bibir melongo, detak jantung kian tak beraturan.
“Jangan bilang kau benar-benar tak bisa berkuda, Bung,” seru Anne, tangan kecilnya dengan gemulai menyingsingkan kain jarik, mengelus kepala temon sebentar sebelum loncat ke punggungnya. “Ayo jalan.”
Argono berulang kali meneguk ludah demi menyegarkan tenggorokan terasa tercekat, tangan lebar dengan otot menonjol mengusap wajah kasar, kepalanya sedikit menunduk, menutupi senyum samar di sudut bibir.
‘Tak kira betulan diajak naik satu kuda. Ndak kebayang piye rasanya … kulit ee pasti alus, terus pinggang yang ramping itu, rasanya pas di pelukanku,’ batinnya berandai-andai sampai tak sadar Anne telah berada di sebelahnya.
“Kau membayangkan apa? Pupu ku yang mulus atau—”
“N-ndak, Mbak … hanya ragu, sudah lama tak naik kuda,” cepat-cepat Argono menyergah, wajah rupawannya memberanikan diri mendongak, menatap gadis ayu begitu luwes di atas punggung kuda.
“Naiklah temon, dia lebih terbiasa dengan orang asing dibanding kliwon.” Anne turun dari punggung kuda kesayangannya, menyodorkan tali kekang pada tangan berkeringat Argono lalu berjalan menghampiri kliwon yang asik mencari rumput.
“Bawa dia berlari pelan saja, Temon. Dia sahabatku, tak biasa berkuda,” di tepuknya kembali kepala temon, lalu berpindah mengusap kepala kliwon. “Kowe suda siap lari sama Anne?”
Seperti mengerti dengan ucapan Anne, kliwon seketika meringkik, dua kaki depannya terangkat tinggi.
Anne terbahak seketika hingga gigi putih mengkilap bak mutiara nya terlihat, menambah ayu wajah alami bebas dari polesan bedak karungan dan gincu.
Melihat itu, Argono diam-diam mengulas senyum kagum, mata setajam elang nya melunak, berganti binar yang sulit dijabarkan. Debar memelan, hangat menyusup liar menyentuh titik sensitif yang membuat senyumnya enggan pudar. Tanpa melepas pandang ia naik ke punggung temon, berlari kecil mengikuti sang pemilik yang sudah lebih dulu melaju.
Keduanya berjalan beriringan tanpa ada yang membuka suara, sama-sama menikmati segar aroma dedaunan dan sepoi angin dan nyanyian serangga hutan.
Memasuki perkampungan warga, alis tebal Argono mengerut, bibir sedikit terbuka melihat betapa banyak orang seolah menyambut kedatangan mereka berdua.
Anak-anak kecil berlarian di pinggir jalan, ibu-ibu muda tengah berkegiatan harian meninggalkan pekerjaannya, sejenak menghadap jalan, menunduk sopan. Bisa dilihatnya bagaimana Anne tersenyum hangat sambil melambaikan tangan.
“Kau sepertinya sangat dihormati di perkampungan ini?” celetuknya, tak lagi mampu menahan rasa penasaran mengganggu pikiran.
“Begitulah,” sahut Anne santai.
Mereka terus melaju membelah perkampungan warga hingga sampai pada bangunan luas berada sedikit di pinggiran desa.
Dahi Argono mengernyit, tatapannya menyapu beberapa orang sibuk mengumpulkan dedaunan kering, lalu berpindah pada gadis sudah turun dari kudanya.
“Tempat apa ini, Mbak?” Ia melempar tanya seraya ikut turun dari punggung temon.
“Peternakan domba,” sahut Anne, singkat.
Ia kemudian berjalan pelan, menyapa para pekerja, tangan halus mengelus beberapa kepala domba yang melongok dari kandangnya.
“Kau mau coba memelihara beberapa? Kalau mau, pilihlah, nanti pekerjaku akan mengantarnya ke rumahmu,” ujar Anne tanpa menoleh pada pemuda masih menatap kagum ke arahnya.
“I-ini semua milikmu?” seru Argono, langkahnya mengikuti kemanapun Anne pergi.
“Baru sebagian, sebagian lagi berada di rumah-rumah penduduk desa, sebagian ada di rumah ku, ada juga di desa Lereng Gunung, kampung ibuku,” sahut Anne. “Pilihlah beberapa ekor, atau kalau kau suka kuda, di sana juga ada.”
Anne menunjuk kandang kuda berada di sisi belakang tempat yang dulunya adalah rumah kelahirannya—Joglo Punjer.
Argono semakin terperangah, bibir tak henti berdecak, pikiran menerka-nerka seberapa kaya sebenarnya orang tuanya dulu.
Menangkap gelagat takjub pada wajah Argono, sudut bibir Anne terangkat, ujung mata melirik sekilas sebelum kembali berjalan menyusuri kandang domba.
“Aku sebenarnya sedikit kewalahan mengurus ini semua, apalagi saat mendekati musim panen begini, hampir-hampir tak ada waktu untuk menyandarkan kepala,” ujarnya, air muka semula berseri berubah muram, tarikan napas terdengar berat.
“Apa tak ada pekerja yang bisa kau percayakan untuk membantumu?” tanya Argono, entah keberanian dari mana, langkahnya telah sejajar dengan Anne.
“Sejauh ini hanya kang Dasim yang bisa dipercaya.” Anne menoleh pelan, wajah ayu nya mengulas senyum tipis. “Ayo kita pindah tempat.”
“Kemana lagi?” balas Argono.
“Melihat sawah dan kebun tembakau tinggalan bapak kandungku,” ucap Anne.
Argono tak menjawab, hanya mengikuti gadis begitu anggun dalam melangkah dan menyapa para pekerja, jauh berbeda dengan yang ditemuinya pertama kali di kantor desa.
Derap kaki kuda pun kembali mengisi jalanan kampung, lagi-lagi Argono dibuat heran dengan sambutan penduduk desa saat mereka melintas di depannya. Tak hanya sapaan ramah, anggukan sopan, beberapa orang dengan sengaja berlari ke pinggir jalan hanya sekedar memanggil nama Anne dengan sebutan—Ndoro Ayu.
“Kita melanjutkan dengan jalan kaki menuju gubuk itu,” tunjuk Anne pada gubuk berada di bukit sedikit lebih tinggi menghadap hamparan sawah luas juga perkebunan tembakau di lereng-lerengnya.
“Sawah dan perkebunan ini bisa dibilang semua milikku, luasnya hampir lima puluh hektar, perkebunan itu juga, kalau di total, mungkin ada tiga puluhan hektar. Semua tinggalan bapak kandungku.” Anne membuka cerita sambil mendudukkan bokongnya di lantai gubuk, satu tangan mengeluarkan kretek terselip pada lipatan jarik.
“Rokok,” tawarnya pada Argono yang berdiri mematung di sebelahnya.
Pemuda seperti terhipnotis itu menarik satu batang kretek, menyulutnya lalu turut duduk di sebelah gadis yang menatap hampa daun-daun padi mulai menguning bulirnya.
“Bapakmu berarti dulunya adalah juragan paling kaya di desa ini, warisannya saja begitu luas,” ucap Argono di sela-sela hembusan asap tipis yang keluar dari bibirnya.
“Begitulah, sayangnya harta berlimpah membuatnya terlena, lupa pada kewajiban, memilih gila dengan gundik pinggir jalan. Meninggalkan anak tak berdosa dengan cacat bawaan,” sahut Anne.
Alis tebal Argono mengerut, netranya langsung menelisik tubuh Anne.
“Bukan aku, tapi anak gundik itu,” decak Anne, bibir ranumnya mengulas senyum tipis. “Dia seumuran dengan ku, laki-laki, Damar namanya. Setengah luas sawah ini sebenarnya miliknya, aku hanya membantu mengelola. Kata ibu, meskipun Damar terlahir dari hubungan yang tak sah, dia juga anak bapakku, punya hak sama atas harta peninggalannya juga, jadi ibu membaginya menjadi dua. Aku dengar, ada anak lain lagi selain kami, tapi entah dimana, sampai sekarang tak jelas keberadaannya.”
Anne sengaja mengatakan fakta, ingin melihat bagaimana tanggapan dari pemuda telah diketahui latar belakangnya. Ia kemudian kembali melanjutkan.
“Seandainya anak gundik kedua itu datang, mungkin sawah ini sepenuhnya akan ku berikan padanya. Sejujurnya hatiku tak ikhlas merawat ini semua, luka yang diberi pria itu tak sebanding dengan segala kemewahan yang dia tinggalkan.”
Argono seketika tersedak ludahnya sendiri, tubuh mendadak kaku. Ucapan Anne menghantam telak ulu hati, pikiran dipenuhi kebimbangan antara mempercayai kata-kata gadis memasang wajah muram, atau dendam sang ibu yang selama bertahun terpatri dalam hati.
Pemuda masih bermain dengan pikirannya sendiri itu tersentak kecil saat tangan halus Anne menepuk bahu tegapnya, bibir tergagap, manik bersorot tajam berkedip cepat.
“Hei ….”
Bersambung
apakah vampire nya bakallan bangkitt
aku pencett sesuaii mandattt yooww🙏
jgn2 pakde broto berucap
istrine ruslii jadi teman penghangatt kasmaan donkk 🤣
ngertio ngunuu
di potong habisss burunge kasman sama pak dokter dlu
di kasih racun ibu mu wae langsung ditenggak kog,
mana punya pendapat km gono
spy argono paham ,harta yg di incar nya
padahal itu jebakan terselubung
marni cuma mau memperalat nya saja
demi mengeruk kekayaan kartijo
anne dgn gamblang menjelaskan ke kamu argono , fakta nyata yang tertimbun doktrin busuk mbok mu Dewe
siapa yg nyulikk marni
kasman uduu kuii