Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Yang Menjaga dari Kegelapan

Baskara berdiri di ujung lorong yang tidak terjangkau cahaya ruang tunggu.

Dari tempat itu ia bisa melihat pintu ruang tindakan tanpa terlihat oleh Wira ataupun Yuliana. Jas yang dipakainya masih sama seperti saat meninggalkan rumah, tetapi kancing manset kirinya sudah terbuka.

Panji datang tanpa suara.

"Transfer sudah diterima, Ndoro."

"Saya tahu."

"Perempuan itu meminta angka yang sama persis. Tidak ada waktu menyelidiki lebih dulu."

"Uang bisa dicari lagi."

Panji melirik pintu merah di ujung lorong. "Kotak yang dibawa Yuliana palsu. Orang kita sudah memeriksa foto dan jejak energinya. Tidak ada daya pusaka di dalamnya."

"Saya juga tahu."

"Lalu kenapa tetap dibayar?"

Baskara tidak menjawab.

Di ruang tunggu, Yuliana sedang tersenyum kepada layar ponselnya. Uang itu tidak membeli pusaka atau darah. Uang itu membeli waktu agar perempuan tersebut tidak pergi dan menciptakan keributan lain saat Ratri berada di ujung hidup.

Selain itu, Baskara ingin semua orang yang menjadikan nyawa Ratri sebagai barang dagangan merasa aman lebih dulu.

Orang yang merasa aman lebih mudah menunjukkan seluruh kejahatannya.

"Tim dari sana terus menghubungi," kata Panji. "Upacara penetapan tidak bisa ditunda tanpa batas. Para sesepuh sudah berkumpul."

"Biarkan mereka menunggu."

"Ndoro sudah menundanya tiga kali."

Baskara menoleh. "Apakah ada yang lebih penting daripada dia?"

Panji menundukkan kepala. "Tidak."

Seharusnya dua tahun lagi Baskara berdiri di hadapan para pemegang garis keraton dan menerima tahap terakhir wahyu keprabon. Kekuasaan yang melekat pada wahyu itu bukan sekadar gelar. Ia mengikat jaringan keluarga tua, kepentingan negara, dan orang-orang yang bahkan tidak dikenal publik.

Malam ini, semua itu menunggu di tempat lain.

Baskara justru berada di lorong rumah sakit, bersembunyi dari istrinya sendiri.

Ia tidak bisa muncul terang-terangan. Kepulangannya di rumah Adiningrat sudah menyalakan terlalu banyak mata. Selama tiga tahun, ia memutus hubungan, menghilangkan jejak, dan membiarkan dunia menganggapnya mati agar musuh-musuh yang mengincar orang di sisinya tidak menemukan Ratri sebagai sasaran berikutnya.

Sekali saja identitas aslinya terbuka, setiap orang yang mendekatinya akan membawa bahaya.

Namun, menjauh ternyata tidak membuat Ratri aman.

Hanya membuatnya menghadapi semuanya sendirian.

Lampu ruang tindakan masih merah. Jam di dinding menunjukkan pukul dua lewat dua puluh.

Baskara menutup mata.

Sejak kecil, waskita datang kepadanya tanpa diminta. Nasib orang lain muncul sebagai serpihan yang sulit dibantah. Ia melihat kecelakaan sebelum kendaraan bergerak. Ia mengetahui pengkhianatan sebelum pelaku menyusun kebohongan. Dalam batas sekitar satu tahun, dunia jarang mampu menyembunyikan sesuatu darinya.

Namun, masa depan Ratri selalu kosong.

Tidak gelap. Tidak buram.

Kosong.

Seolah perempuan itu tidak memiliki hari berikutnya untuk dilihat.

Tiga bulan lalu, kehampaan tersebut semakin dekat. Baskara menghentikan seluruh persiapan, meninggalkan orang-orang yang menunggu wahyu keprabon, lalu kembali ke Jakarta lebih cepat daripada rencana.

Ia terlambat beberapa jam saja, dan malam ini Ratri hampir mati di depan matanya.

Rasa nyeri menusuk dada Baskara.

Tangannya menekan tulang dada. Itu bukan penyakitnya. Ikatan sukma di antara mereka sedang menarik rasa sakit Ratri melewati jarak dan dinding.

Denyutnya melemah.

Satu kali.

Berhenti terlalu lama.

Lalu berdetak lagi.

"Ndoro?" Panji maju.

Baskara mengangkat tangan, menyuruhnya diam.

Ia memusatkan seluruh kesadaran pada ikatan itu. Di balik suara langkah perawat dan bunyi roda tandu, ia menemukan detak tipis Ratri seperti nyala lampu minyak diterpa angin.

Jangan padam.

Sukma mereka telah terhubung jauh sebelum Ratri mengenal arti sumpah darah yang pernah mereka buat. Selama Baskara masih berada di dunia ini, ia tidak akan membiarkan garis hidup perempuan itu putus tanpa perlawanan.

Nyeri di dadanya bertambah. Wajahnya kehilangan warna.

Di ruang tindakan, bunyi monitor yang sempat cepat perlahan kembali teratur.

Panji memperhatikan perubahan itu dengan mata merah. "Ndoro tidak bisa terus memakai diri sendiri untuk menahannya."

"Saya belum melakukan apa-apa."

"Saya mengenal wajah Anda setelah menyambung sukma."

Baskara membuka mata. "Jaga ucapanmu."

Panji diam.

Pukul tiga kurang beberapa menit, dokter keluar. Wira langsung berdiri dari kursinya.

"Bagaimana kondisinya?"

"Perdarahan mulai terkendali. Tekanan darahnya naik perlahan. Kami belum bisa menjelaskan perubahan mendadak ini, tetapi untuk sementara dia melewati fase paling berbahaya."

Lutut Wira nyaris kehilangan tenaga. Ia menutup wajah sesaat, lalu mengucapkan syukur pelan.

Yuliana menyela, "Berarti pusaka saya bekerja. Uangnya tidak sia-sia, kan?"

Dokter memandangnya datar. Kotak merah itu bahkan belum pernah dibawa masuk.

Baskara mendengar semuanya dari kegelapan.

"Bayar seluruh biaya rawat melalui rekening yayasan," katanya kepada Panji. "Jangan gunakan nama saya atau Nardi Group. Pastikan kamar Ratri dijaga dua orang perempuan dan tidak ada yang memberikan obat, ramuan, atau pusaka tanpa persetujuan dokter serta Wira."

"Termasuk Yuliana?"

"Terutama dia. Ambil gambar kotak merahnya, lalu biarkan tetap di tangannya. Saya ingin tahu berapa lama dia mempertahankan kebohongan setelah menerima uang."

Panji mencatat perintah. "Wira mulai mencari jejak kendaraan dan orang-orang kita sejak meninggalkan rumah. Dia menjalankan perintah Nyai Ratri untuk menyelidiki Anda."

"Biarkan."

"Kalau dia sampai menemukan Nardi Group?"

"Dia tidak akan menemukannya sebelum saya mengizinkan."

"Haruskah saya menyiapkan jejak lain?"

Baskara memandang bayangannya sendiri di kaca lorong. Setelan mahal, pengawal terlatih, dan satu telepon kepada pejabat tinggi sudah cukup menunjukkan bahwa dirinya bukan lelaki biasa. Ratri terlalu cerdas untuk menerima kebohongan yang dibuat sempurna.

"Beri dia fakta kecil," katanya. "Bahwa saya pulang tanpa jabatan resmi, tidak membawa aset atas nama pribadi, dan akan tinggal di rumah Adiningrat. Jangan sentuh orang-orangnya."

Panji memahami maksud itu. Ratri akan menemukan seorang suami yang tampak tidak punya pekerjaan, tidak memiliki rekening mencolok, dan bergantung pada nama keluarga. Semua itu benar di atas kertas.

Kebenaran yang paling berguna memang bukan kebohongan.

Hanya bagian yang sengaja tidak lengkap.

"Ndoro tidak mau masuk?" tanya Panji. "Sekarang keadaannya stabil. Anda bisa melihatnya sebentar."

"Dia tidak ingin melihat saya."

"Dia sedang tidak sadar."

"Justru karena itu saya tidak berhak mengambil kesempatan."

Panji menatap punggung tuannya. Orang yang bisa membuat petinggi negara menunggu itu tidak berani melangkah ke kamar istrinya sendiri.

"Bagaimana kalau kondisinya turun lagi?"

Baskara menempelkan dua jari ke pergelangan tangannya sendiri, merasakan denyut yang bukan hanya miliknya.

"Tidak malam ini."

"Waskita Ndoro melihatnya?"

"Tidak."

Jawaban itu terdengar lebih berat daripada ketakutan.

"Saya hanya bisa merasakan jantungnya."

Lampu merah di atas pintu akhirnya padam.

Baskara menunggu sampai Ratri dipindahkan ke ruang rawat, sampai Wira mengikuti tandu, dan sampai lorong kembali sepi.

Barulah ia berbalik.

Di balik manset terbuka, bekas-bekas luka lama di pergelangan tangannya terlihat pucat.

Tiga tahun menjaga dari kegelapan belum cukup untuk membuat Ratri berhenti membencinya.

Namun, selama jantung perempuan itu masih berdetak, Baskara sanggup menanggung kebencian tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!