Indonesia
NovelToon NovelToon
AKU MILIKMU

AKU MILIKMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENYUSUL

Siang harinya, bus yang disediakan pihak kampus untuk membawa mereka akhirnya tiba di pos gerbang masuk kawasan hutan. Semua peserta dan panitia pun turun satu per satu, lalu berkumpul di halaman pos pemeriksaan yang menjadi pintu masuk utama menuju kawasan hutan lindung sekaligus jalur pendakian gunung. Udara di sana terasa jauh lebih segar dan sejuk dibandingkan di kota, namun hal itu sama sekali tidak mampu menyentuh hati Kristin yang sejak tadi pagi tampak murung dan tak bersemangat. Sepanjang perjalanan di dalam bus, pikiran Kristin terus tertuju pada satu nama—Kak Doni. Ia terus membayangkan bagaimana kondisi pemuda itu saat ini, seberapa parah luka yang dideritanya, dan siapa yang kini merawatnya. Hatinya semakin tidak tenang ketika teringat satu hal penting: Kak Doni tinggal sendirian di rumahnya. Tidak ada keluarga atau kerabat yang tinggal bersamanya. Jika memang benar ia terluka cukup parah, siapa yang akan membantunya? Siapa yang akan menyuapinya makan atau sekadar mengganti perban di kepalanya? Semua pertanyaan itu berputar tanpa henti di kepala Kristin, membuat dadanya terasa sesak dan berat.

Cintya yang sedari tadi duduk di sebelah Kristin tentu saja menyadari perubahan sikap dan raut wajah sahabatnya itu. Ia melihat betapa seringnya Kristin menunduk dan menghela napas panjang, matanya yang indah kini tampak sayu dan berkaca-kaca seakan air mata siap menetes kapan saja. Melihat hal itu, Cintya pun berbisik pelan sambil menepuk lembut punggung tangan Kristin yang terasa dingin.

"Jangan terlalu dipikirkan, ya..." ucap Cintya lembut. "Tidak ada hal buruk yang akan terjadi pada Kak Doni. Percayalah, dia itu lelaki yang kuat. Dia tidak akan menyerah begitu saja hanya karena satu kecelakaan."

Kristin menoleh perlahan, menatap wajah Cintya dengan tatapan yang masih menyimpan kekhawatiran mendalam. "Kenapa kau bisa berkata begitu?" tanyanya pelan, suaranya terdengar rapuh. "Kau tidak tahu seberapa parah luka yang ia derita. Bagaimana jika..."

Cintya segera menyela dengan senyum yang berusaha menenangkan. "Dengar, umumnya orang yang memiliki sifat seperti Kak Doni tumbuh dan hidup di lingkungan yang keras. Sejak dulu dia pasti sudah diajarkan untuk tidak mudah menyerah, tidak mudah jatuh, dan selalu berdiri tegak meski keadaan sedang sulit sekalipun. Apalagi hanya untuk kecelakaan yang dialaminya. Aku yakin Kak Doni akan segera pulih dan kembali seperti sedia kala."

Mendengar penuturan Cintya yang penuh keyakinan itu, hati Kristin terasa sedikit lebih tenang. Meski begitu, rasa khawatir dan rasa bersalah yang mendalam masih menyelimuti hatinya. Ia tersenyum tipis kepada Cintya, lalu berkata dengan suara lembut, "Terima kasih... Terima kasih sudah menyemangatiku."

Namun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Kristin tetap tidak bisa menghilangkan rasa bersalah itu. Ia terus memendam perasaan itu sendirian, membiarkan rasa khawatir dan penyesalan mengisi setiap ruang di hatinya yang sepi. Andai saja saat itu ia tidak bersikap keras kepala, andai saja ia mau mendengar penjelasan Kak Doni, mungkin hal buruk seperti ini tidak akan pernah terjadi. Pikiran itu terus menghantui benaknya tanpa henti.

Sementara itu, Kevin yang ditunjuk sebagai pengganti Doni memimpin jalannya kegiatan hari itu. Dengan teliti dan penuh tanggung jawab, Kevin mengurus segala urusan administrasi di pos masuk hutan, mulai dari pendaftaran nama peserta, pencatatan jumlah barang bawaan, hingga memastikan jumlah seluruh anggota rombongan sesuai dengan daftar nama yang tercatat. Setelah semua urusan selesai dan izin masuk telah di tangan, Kevin memberi aba-aba agar seluruh peserta bersiap melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju kawasan hutan yang menjadi lokasi ujian akhir sekaligus jalur pendakian.

Langkah kaki pun mulai terdengar beriringan memasuki jalur tanah berumput yang mulai menanjak perlahan. Namun di antara langkah kaki yang tegap dan penuh semangat itu, langkah Kristin tampak berbeda. Ia berjalan dengan perasaan yang hampa dan pikiran yang melayang tak tentu arah. Sering kali ia melamun, menatap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat apa yang ada di hadapannya. Akibatnya, tak jarang kakinya tergelincir di atas tanah yang licin karena dedaunan basah, atau lengannya tersangkut dan tergores duri tanaman liar yang tumbuh rimbun di sisi jalur pendakian. Kristin sama sekali tidak peduli dengan rasa perih itu. Pikirannya terlalu jauh melayang, terjebak dalam kekhawatiran yang tak kunjung usai.

Ari yang berjalan tak jauh dari belakangnya tentu saja menyadari hal itu. Melihat Kristin yang tampak tak fokus dan beberapa kali hampir terjatuh, Ari segera mempercepat langkahnya hingga berjalan sejajar di samping gadis itu. Dengan nada lembut namun tegas, Ari berkata, "Berjalanlah dengan hati-hati. Biarkan aku berjalan di sisimu dan menjagamu. Jangan sampai kau terluka lebih parah hanya karena pikiranmu sedang berada di tempat lain."

Kristin menoleh dan menatap Ari dengan tatapan yang masih kosong, lalu mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih. Sejak saat itu, Ari terus berjalan di sebelah Kristin, sesekali memegang lengan gadis itu ketika jalur mulai terjal dan licin, memastikan Kristin tidak tergelincir atau terluka lagi. Perjalanan menuju kawasan hutan yang menjadi lokasi tujuan mereka memakan waktu sekitar enam jam berjalan kaki, jauh lebih lama dan jauh dibandingkan jarak tempat mereka berkemah pertama kali. Namun perjalanan yang panjang itu terasa seakan berlangsung dalam diam bagi Kristin, yang seakan berjalan tanpa jiwa di antara keramaian rombongan tersebut.

 

Di tempat lain, tepatnya di rumah tempat Doni tinggal sendirian, suasana tampak jauh lebih tenang namun penuh dengan ketegangan yang tak terucap. Doni terlihat sedang duduk santai di ruang tamu, bersandar pada sandaran sofa sambil memegang sebatang rokok yang menyala di jari-jemarinya. Asap tipis mengepul pelan dari bibirnya yang tertutup senyum tipis, sementara tangan lainnya memegang sebuah buku novel yang sedang dibacanya dengan tenang. Wajahnya tampak begitu tenang, seakan tidak ada sesuatu pun yang terjadi padanya.

Tak lama kemudian, pintu depan terbuka dan Adit melangkah masuk membawa beberapa kantong belanjaan. Namun langkah kaki Adit seketika terhenti di ambang pintu saat melihat pemandangan di hadapannya. Matanya membelalak tak percaya melihat Doni yang duduk santai sambil merokok, seakan tidak ada yang pernah terjadi pada dirinya. Adit pun segera melangkah mendekat dengan wajah penuh kekhawatiran sekaligus kekesalan.

"Bisa-bisanya kau malah merokok?" tegur Adit dengan nada suara yang terdengar cukup keras. "Bukannya beristirahat dan memulihkan kondisi kepalamu yang terluka parah, kau malah duduk santai seperti ini! Apa kau tidak punya rasa takut sama sekali?"

Doni hanya menghela napas pelan, lalu menoleh sejenak ke arah Adit sebelum kembali menatap halaman buku di tangannya. "Kau ini terlalu berisik," ucap Doni dengan nada datar dan tenang. "Kepalaku justru terasa semakin berputar dan pening jika aku terus berbaring diam di atas tempat tidur terlalu lama. Lebih baik aku duduk seperti ini."

Adit meletakkan barang-barang yang dibawanya ke meja dengan kasar, lalu menatap tajam ke arah Doni. "Pikirkan kesehatanmu dulu, Doni! Kepalamu saja sudah bocor dan terbentur keras, malah sibuk merokok sambil duduk santai seakan kau sedang berlibur di tepi pantai! Apa kau tidak menyadari betapa beruntungnya kau masih bisa bernapas dan berjalan seperti ini?"

Mendengar itu, Doni perlahan menurunkan bukunya. Tangannya bergerak perlahan menyentuh bagian kepalanya yang seluruhnya dibalut rapi dengan perban putih tebal. Raut wajahnya sedikit berubah seketika ketika jari-jemarinya menyentuh bagian yang terluka itu. Saat kecelakaan itu terjadi, kepala bagian kirinya terbentur aspal dengan kekuatan yang luar biasa. Tulang pelipisnya retak dan kulit kepalanya robek lebar sehingga mengeluarkan banyak sekali darah. Demi keperluan pemeriksaan dan penanganan luka, rambut di seluruh bagian kepala Doni terpaksa dipangkas habis. Tidak sehelai pun tersisa, menyisakan kulit kepala yang kini tertutup perban putih tebal, menyembunyikan luka yang mengerikan di baliknya.

Adit terdiam sejenak melihat gerakan tangan Doni yang begitu pelan dan hati-hati. Namun rasa penasaran sekaligus kekaguman bercampur keheranan di hatinya tetap tidak bisa ia tahan. Ia kembali menatap Doni lekat-lekat, lalu bertanya dengan nada penuh keraguan, "Katakan padaku... Apakah kau benar-benar manusia biasa atau bukan?"

Doni menatap Adit tepat di kedua matanya, lalu menjawab singkat dengan suara yang tenang dan dalam, "Aku memang manusia."

Adit menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak ada manusia yang sekuat dirimu. Tidak ada manusia yang bisa tetap berdiri dan berjalan setelah mengalami benturan sekeras itu. Aku mendengar semuanya dari Raka, temanmu. Malam itu, saat kau hendak pulang dalam keadaan mabuk yang sangat parah, Raka sudah memperingatkanmu agar jangan berkendara dulu. Dia memintamu menunggu hingga sadar sepenuhnya atau membiarkan dia yang mengantarkanmu pulang. Namun kau marah besar mendengarnya. Kau langsung bergegas menaiki motor sport milikmu, menghidupkan mesinnya dengan kasar, lalu melaju dengan kecepatan tinggi seakan tidak takut pada maut. Tak lama setelah kau pergi, terdengar suara benturan yang sangat keras dari arah jalan yang kau lewati. Suara tabrakan besi yang menghantui malam itu."

Adit berhenti sejenak, seakan menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan ceritanya yang membuat bulu kuduk merinding. "Raka dan teman-temanmu yang ada di sana langsung merasa firasat buruk. Mereka segera berlari menyusul ke arah sumber suara itu. Dan yang mereka lihat sungguh membuat mereka merinding ketakutan... Motor sport milikmu hancur parah tak berbentuk di jalan raya. Namun yang paling mengerikan adalah saat itu, kau terlihat berdiri tegak di pinggir jalan yang gelap itu. Kau berjalan perlahan dengan langkah yang berat namun tetap tegak, menuju tepi jalan raya. Kepalamu dan sebagian wajahmu tertutup darah yang mengalir deras membasahi seluruh tubuh dan pakaianmu. Raka dan yang lain mengira mereka sedang melihat hantu atau mayat hidup. Kau berjalan seakan tidak merasa sakit sedikit pun, seakan darah yang menetes dari kepalamu itu bukan darahmu sendiri. Itulah yang dilihat dan diceritakan Raka kepadaku."

Adit menatap Doni lekat-lekat, lalu menyimpulkan dengan suara yang bergetar, "Itulah sebabnya aku sempat berpikir... apakah kau benar-benar manusia biasa? Siapa yang bisa tetap berdiri dan berjalan dengan tenang setelah kepalanya terbentur keras dan berdarah-darah begitu? Manusia biasa pasti sudah tak sadarkan diri dan tergolek lemah di tempat kejadian."

Doni hanya terdiam sejenak mendengar penuturan panjang Adit. Matanya menatap lurus ke depan, seakan sedang menatap kembali peristiwa mengerikan itu dalam benaknya sendiri. Tidak ada rasa takut yang terlihat di matanya, hanya keheningan yang dalam. Tak lama kemudian, Doni kembali menatap Adit dan berkata dengan tenang, "Besok pagi... kita akan berangkat menyusul kelompok mereka."

Adit tertegun sejenak mendengar pernyataan itu. Ia segera mengerutkan kening dan bertanya dengan nada tidak percaya, "Apa kepalamu sudah benar-benar pulih dan kondisimu sudah fit sepenuhnya? Jangan memaksakan diri hanya karena gengsi atau hal lain, Doni."

Doni kembali tersenyum tipis, lalu menjawab dengan tegas namun tenang, "Kau tidak perlu khawatirkan hal itu. Aku tahu batas kemampuanku sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!