Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Hujan, Halte, dan Gengsi yang Luntur
Kabar tentang buruknya mood sang kapten basket menyebar lebih cepat dari wabah flu di musim pancaroba.
Baru jam istirahat kedua, gosip itu sudah sampai ke telinga anak-anak kelas XI.
"Kalian tahu nggak? Tadi anak-anak basket disuruh push up lima puluh kali gara-gara Kak Alfian ngamuk," bisik Maya heboh.
Gadis itu baru saja kembali dari kantin dengan sebungkus siomay di tangannya.
"Ngamuk kenapa? Tumben banget," tanggap Rara yang sedang sibuk menyalin PR matematika milik teman sebangkunya.
"Nggak tahu pasti," Maya mengangkat bahu, menarik kursi dan duduk menghadap meja Amira.
"Kata si Rio sih, Kak Alfian tiba-tiba gagal fokus terus passing bolanya meleset terus," lanjut Maya antusias.
"Akhirnya dia uring-uringan sendiri."
Amira yang sedang asyik membaca novel terjemahan di mejanya, sama sekali tidak menoleh.
Tapi di dalam hati, ia bersorak kemenangan.
Rasain. Makanya jangan sok jadi cowok paling berkuasa sedunia, batin Amira puas.
Misi pura-pura buta dan tuli yang ia jalankan tadi pagi ternyata membuahkan hasil yang manis.
Amira mengulas senyum tipis di balik buku novelnya.
Mulai sekarang, begitulah cara ia akan menghadapi Alfian Pratama: menganggap cowok itu tidak pernah eksis di muka bumi.
Namun, rencana manusia memang sering kali hancur lebur oleh kehendak alam.
Bel pulang sekolah berbunyi tepat saat awan hitam pekat menggulung langit SMA Dirgantara.
Tanpa basa-basi, hujan badai turun dengan sangat deras seolah langit sedang ditumpahkan dari atas.
"Yah, hujan deras banget lagi!" keluh Rara sambil memayungkan tasnya di atas kepala.
"Gue dijemput bokap pakai mobil nih. Kalian mau bareng nggak?" tawar Maya menatap kedua temannya.
"Gue mau! Searah kan kita," seru Rara kegirangan.
Amira menggeleng pelan sambil merapatkan jaket rajutnya.
"Nggak usah, May. Arah rumahku kan beda banget, nanti papamu malah muter jauh," tolak Amira halus.
"Beneran nih? Lo mau nunggu di halte depan?" tanya Maya memastikan, wajahnya terlihat khawatir.
"Iya, tenang aja. Paling bentar lagi hujannya reda, terus aku pesen ojol mobil," jawab Amira berusaha meyakinkan.
Setelah berpamitan, Amira berlari kecil menerobos rintik air hujan menuju halte besar di depan gerbang sekolah.
Halte itu cukup sepi karena sebagian besar murid memilih menunggu di lobi dalam yang lebih hangat.
Amira duduk di ujung bangku besi yang dingin, memeluk tas punggungnya erat-erat.
Angin kencang berhembus, membawa tampias air hujan yang mengenai seragam dan sepatunya.
"Brrr... dingin banget," gumam Amira sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.
Ia merogoh saku roknya, berniat mengeluarkan ponsel untuk memesan taksi online.
Namun, belum sempat layar ponselnya menyala, suara derap langkah kaki tergesa terdengar mendekat ke arah halte.
Tap, Tap, Tap!
Seseorang ikut berteduh di bawah atap halte, mengibaskan jaket varsity hijau tuanya yang sedikit basah.
Amira mendongak, dan napasnya seketika tercekat.
Alfian.
Dari ratusan murid di SMA ini, kenapa harus cowok kulkas ini yang terjebak di halte yang sama dengannya?!
Alfian menyisir rambut hitamnya yang sedikit basah ke belakang dengan jari-jarinya.
Sebuah gerakan sepele yang entah kenapa membuat cowok itu terlihat seratus kali lipat lebih tampan dari biasanya.
Amira buru-buru memalingkan wajah, mengalihkan pandangannya ke jalanan yang tergenang air.
Pura-pura buta, Amira. Ingat, pura-pura buta! rapalnya dalam hati seperti mantra.
Alfian menoleh, menyadari ada orang lain di halte itu.
Alis cowok itu langsung bertaut tajam saat mengenali wajah cewek berjaket rajut yang duduk di ujung bangku.
Suasana canggung mendadak menyelimuti halte kecil itu.
Hanya terdengar suara gemuruh hujan dan deru mesin kendaraan yang melintas sesekali.
Lima menit berlalu seperti lima jam bagi Amira.
Ia terus menatap lurus ke depan, sesekali berpura-pura sibuk mengetik sesuatu di ponselnya yang layarnya bahkan belum ia buka kuncinya.
Alfian yang berdiri di sisi lain halte, diam-diam melirik ke arah Amira.
Cowok itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket.
Rasa kesal yang tadi pagi belum tuntas, kini kembali muncul ke permukaan.
Bukan karena kehadiran Amira, tapi karena cewek itu benar-benar mengabaikannya seolah ia adalah patung tak kasat mata.
Bagi cowok sepopuler Alfian, diabaikan adalah sebuah penghinaan besar.
"Nggak usah sok sibuk sama HP yang layarnya gelap," sindir Alfian tiba-tiba.
Suara baritonnya menembus suara bising hujan, terdengar sangat jelas di telinga Amira.
Amira terkesiap, tapi ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Jangan dijawab. Anggap aja itu suara angin kentut, batin Amira keras kepala.
Ia memiringkan tubuhnya, membelakangi Alfian, dan mulai mengusap layar ponselnya asal-asalan.
Melihat reaksi itu, rahang Alfian mengeras.
Cowok itu melangkah maju dua tindak, memperpendek jarak di antara mereka.
"Gue ngomong sama lo, Lily," panggil Alfian, sengaja menggunakan nama yang paling dibenci Amira jika diucapkan dengan nada meremehkan.
Amira masih bungkam.
Telinganya panas, tapi ia memaksakan diri memasang earphone ke telinganya meski kabelnya belum terhubung ke ponsel.
Tindakan itu benar-benar menguji batas kesabaran Alfian yang memang setipis tisu.
Sret!
Dengan gerakan cepat, Alfian menarik sebelah earphone dari telinga Amira.
"Eh! Apa-apaan sih?!" bentak Amira refleks, akhirnya menoleh dengan mata melotot garang.
Topeng pura-pura butanya hancur seketika.
"Akhirnya lo bisa ngomong juga," ucap Alfian dengan senyum miring yang sangat memuakkan.
"Gue kira lo tiba-tiba bisu permanen sejak di depan gedung olahraga tadi."
Amira merampas earphone-nya kembali dari tangan Alfian dengan kasar.
"Kalau iya kenapa? Masalah buat lo?!" sungut Amira ngegas, saking kesalnya ia sampai lupa menggunakan panggilan aku-kamu.
Alfian menunduk sedikit, menatap mata bulat Amira yang memancarkan api permusuhan.
"Nggak masalah. Cuma aneh aja," balas Alfian santai, tapi nadanya sengaja memancing keributan.
"Kemarin ada cewek yang histeris neriakin masa lalu, sekarang cewek itu mendadak amnesia dan sok bisu. Drama lo murahan banget."
Cesss!
Amira langsung berdiri dari duduknya, tak peduli meski ujung sepatunya terkena tampias hujan.
"Drama kamu bilang?!" Amira menunjuk tepat di depan dada Alfian.
"Asal kamu tahu ya, aku berhenti peduli karena aku sadar aku salah orang! Kamu itu bukan dia!"
Suara Amira melengking, beradu dengan suara guruh yang menggelegar pelan di langit.
Alfian menyipitkan matanya, menatap telunjuk Amira lalu kembali menatap wajah cewek itu.
"Baguslah kalau lo udah sadar," sahut Alfian dingin.
Cowok itu maju satu langkah, menepis telunjuk Amira dari depan dadanya.
"Terus kalau lo udah sadar gue bukan orang yang lo cari, kenapa lo masih pasang muka penuh dendam gitu ke gue?" tanya Alfian tajam.
"Karena kamu nyebelin! Arogan! Sombong! Nggak punya simpati!" cecar Amira bertubi-tubi, meluapkan semua unek-uneknya.
"Kamu pikir mentang-mentang kamu kapten basket, kamu bisa seenaknya nginjek-nginjek harga diri orang lain di depan umum?!"
Dada Amira naik-turun menahan emosi.
Matanya tanpa sadar mulai memanas lagi, tapi ia menahannya sekuat tenaga agar tidak terlihat lemah di depan musuh bebuyutannya ini.
Alfian terdiam.
Tatapannya yang tadinya tajam mengintimidasi, perlahan sedikit meredup.
Melihat kilatan air mata yang ditahan di pelupuk mata Amira, ada sesuatu yang aneh berdenyut di kepalanya.
Sebuah rasa nyeri yang tumpul, tapi cukup mengganggu.
"Gue nggak pernah minta dipedulikan," suara Alfian kini berubah sedikit lebih pelan, meski masih terdengar dingin.
"Lo sendiri yang datang bawa cerita konyol. Salah gue kalau gue merasa terganggu?"
"Ya seenggaknya kamu bisa ngomong baik-baik!" bantah Amira tak mau kalah.
"Nggak perlu pakai gebrak meja dan maki-maki! Emangnya kamu kira aku seneng dikira orang gila satu sekolahan?!"
Suara Amira mulai bergetar.
Ia membuang muka, menatap ke arah jalan raya karena tidak sanggup menatap wajah Alfian lebih lama lagi.
Hening kembali menyelimuti mereka berdua.
Hanya suara hujan deras yang mengisi kekosongan di halte tersebut.
Alfian membuang napas panjang.
Kepalanya semakin berdenyut nyeri.
Ia memijat pelipis kanannya dengan telunjuk dan ibu jari, kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap kali rasa sakit itu datang.
"Kenapa lo yakin banget gue orang yang lo cari waktu itu?" tanya Alfian tiba-tiba.
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya, tanpa bisa dicegah oleh gengsinya sendiri.
Amira menoleh kaget.
Ia menatap Alfian dengan dahi berkerut, heran dengan pertanyaan yang mendadak serius itu.
"Wajah," jawab Amira pelan, suaranya sudah tidak segalak tadi.
"Wajah kamu, suara tertawa kamu, sorot mata kamu... semuanya sama persis sama Sky."
Alfian terdiam kaku.
Ada memori samar yang kembali berusaha mendobrak masuk ke dalam otaknya.
Bayangan seorang anak perempuan kecil yang menangis, sebuah pohon besar, dan suara tawa yang asing.
Argh.
Rasa sakit di kepala Alfian semakin menusuk hebat.
Cowok itu memejamkan matanya kuat-kuat, giginya terkatup rapat menahan rintihan agar tidak keluar.
Amira yang menyadari perubahan raut wajah Alfian, perlahan menurunkan sikap defensifnya.
"Kamu... kenapa?" tanya Amira ragu-ragu, melihat wajah Alfian yang mendadak sedikit pucat.
"Bukan urusan lo," desis Alfian kasar, membuang muka ke arah lain.
Cowok itu bersandar pada tiang halte, berusaha keras menetralkan napasnya.
Amira terdiam.
Melihat cowok jangkung dan arogan ini tiba-tiba terlihat kesakitan, rasa kesalnya mendadak menguap entah ke mana.
Tiba-tiba, sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam menepi di depan halte.
Kaca penumpang belakang terbuka, memperlihatkan wajah seorang pria paruh baya berseragam sopir.
"Den Alfian! Maaf Bapak telat, macet parah di pertigaan depan!" seru sopir itu menerobos suara hujan.
Alfian membuka matanya, menatap mobil jemputannya tanpa ekspresi.
Cowok itu membenarkan kerah jaketnya, kembali memasang topeng datarnya yang sempurna.
"Gue duluan," pamit Alfian singkat pada Amira, suaranya kembali dingin seperti sedia kala.
Namun, tepat saat Alfian hendak melangkah menerobos hujan menuju mobilnya, langkahnya terhenti.
Cowok itu menoleh kembali ke arah Amira yang masih berdiri memeluk tasnya kedinginan.
"Lo mau nunggu di sini sampai karatan?" sindir Alfian pelan.
Amira mengerjap bingung. "Maksudnya?"
"Masuk," perintah Alfian singkat, dagunya menunjuk ke arah pintu mobil yang sudah dibukakan dari dalam.
"Hah? Nggak usah! Aku nunggu ojol aja!" tolak Amira panik, gengsinya kembali meronta.
"Hujan badai kayak gini ojol mana yang mau nerima order-an dari halte terpencil ini?" cibir Alfian tajam.
"Masuk sekarang atau gue tinggal, dan lo bisa nikmatin flu lo besok pagi."
Tanpa memberi waktu Amira untuk berpikir dua kali, Alfian langsung masuk ke dalam mobil.
Amira berdiri bimbang selama beberapa detik.
Angin dingin kembali berhembus, membuat tubuhnya merinding hebat.
Dengan berat hati dan harga diri yang sudah diinjak-injak sampai pipih, Amira akhirnya berlari menerobos hujan dan masuk ke kursi penumpang di sebelah Alfian.
Pintu ditutup rapat, memutus suara bising badai dari luar.
Di dalam mobil yang hangat itu, mereka duduk berjarak, saling membuang muka ke arah jendela yang berbeda.
Tidak ada yang membuka suara, tapi di kepala masing-masing, sebuah pertanyaan besar mulai tumbuh dan mengakar.
Kenapa cowok ini nyebelin, tapi nggak bisa ditebak? batin Amira kesal.
Sementara Alfian, diam-diam menatap pantulan wajah Amira dari kaca jendela basahnya.
Sky... nama macam apa itu? Kenapa rasanya nggak seasing yang gue kira? batin Alfian dalam diam.