Indonesia
NovelToon NovelToon
SHADOWS OF THE THRONE

SHADOWS OF THE THRONE

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Iblis / Tamat
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: IΠD

Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Truth

Sepeninggal Liini, kesunyian yang mencekam kembali menyelimuti halaman belakang Gereja Shima. Begitu bayangan wanita berambut putih itu hilang di balik tikungan, ketegangan yang sempat mencengkeram udara seketika menguap, menyisakan keheningan yang berat.

​Goto langsung membuang napas berat, melangkah cepat mendekati sosok yang bersimpuh di tanah. Pria itu berlutut, merengkuh tubuh Miyura yang basah kuyup dan gemetar hebat ke dalam dekapannya.

​"Rin..." panggil Goto dengan suara berat yang dipenuhi rasa khawatir, menopang tubuh gadis itu agar tidak kembali merosot ke tanah.

​Miyura mendongak pelan, menatap wajah pria yang baru saja mempertaruhkan segalanya untuk melindunginya. Bibirnya bergetar, mencoba membentuk sebuah senyuman tipis penuh kelegaan di tengah sisa-sisa air matanya.

​"Kak... Goto..." bisik Miyura sangat lirih, suaranya hampir tak berdaya melawan dingin yang menusuk tulang. "Terima kasih... kau datang..."

​Belum sempat Goto membalas perkataan itu, manik mata Miyura perlahan-lahan kehilangan fokusnya. Beban fisik yang luar biasa dari pukulan, siraman air dingin, ditambah tekanan mental yang menghantamnya bertubi-tubi, akhirnya meruntuhkan sisa-sisa pertahanan terakhirnya. Dalam dekapan hangat sang pemuda, Miyura memejamkan matanya rapat-rapat, lalu terkulai lemas dan pingsan.

​"Rin! Hei, bangun, Rin!" seru Goto panik, mengguncang pelan tubuh gadis itu dengan cemas.

​Pria itu menepuk-nepuk pipi Miyura yang lebam dan dipenuhi noda lumpur, berusaha mengembalikan kesadaran gadis tersebut.

​"Buka matamu, Rin. Jangan pingsan seperti ini!" teriak Goto lagi, suaranya kini bergetar dibalut kepanikan yang nyata. Ia menempelkan telinganya ke dada Miyura, memastikan deru napas gadis itu masih ada, meski terasa begitu lemah dan tersengal-sengal.

​Namun, tidak ada respons apa pun. Miyura tetap terkulai tak berdaya di dalam pelukannya, terlelap dalam kegelapan akibat kelelahan yang teramat sangat.

​Melihat kondisi Miyura yang semakin mengkhawatirkan, Goto tanpa berpikir panjang langsung menyelipkan tangannya di bawah lutut dan punggung gadis itu. Dengan sekuat tenaga, ia mengangkat tubuh Miyura dalam gendongannya, bangkit berdiri dari tanah basah, dan bergegas melangkah cepat meninggalkan halaman gereja untuk membawanya pulang mencari pertolongan medis.

Di dalam dimensi alam bawah sadarnya yang sunyi, Miyura merasakan hawa hangat yang asing menyelubungi kesadarannya. Saat ia membuka mata, wujudnya telah berubah menjadi seorang anak kecil bersurai hitam. Di hadapannya, berdiri sesosok pemuda tegap dengan punggung yang begitu familier—Aragoto, kakak laki-lakinya yang telah lama hilang dari sisinya.

​"Kak... Kakak!" panggil Miyura kecil dengan suara riang berbalut rindu yang teramat dalam.

​Tanpa membuang waktu, ia langsung berlari kecil mencoba menyusul sosok Aragoto yang berdiri membelakanginya. Namun, secepat apa pun kakinya melangkah, jarak di antara mereka seolah tidak pernah terpangkas. Kakaknya terus berada beberapa langkah di depan, tak tergapai.

​Mendengar suara tangis tertahan dan langkah tergesa-gesa itu, Aragoto perlahan menghentikan langkahnya. Pria itu menolehkan sedikit kepalanya, lalu menggelengkan kepala pelan dengan senyuman lembut di wajahnya.

​"Belum waktunya, Miyura," ucap Aragoto dengan suara tenang yang menggema lembut di ruang hampa tersebut. "Jangan terburu-buru menyusulku ke tempat ini. Kau masih memiliki jalan yang panjang di depan sana."

​Miyura berhenti berlari, dadanya naik turun menahan sesak. "Tapi Kak... aku sudah tidak kuat... aku lelah membawa semua dosa ini sendirian..." rintihnya lirih.

​Aragoto menghela napas sabar, menatap adiknya dengan sorot penuh kasih sayang seorang kakak. "Ingatkah kau, apa pesan terakhirku untukmu sebelum semuanya hancur, Miyura?"

​Miyura menundukkan kepalanya, menggigit bibirnya pelan sebelum menjawab dengan suara bergetar, "I-ingat... Kakak berpesan agar aku... harus terus hidup demi Kakak..."

​"Benar," balas Aragoto sambil mengangguk pelan membenarkan. "Tapi, ada satu hal lagi yang harus kau tambahkan mulai sekarang, Miyura. Selain hidup demi aku... kau juga harus belajar menerima diriku, menerima takdirmu, dan yang paling penting... memaafkan dirimu sendiri atas segalanya."

​Mendengar kalimat itu, pertahanan terakhir di hati Miyura runtuh. Air mata kelegaan meleleh dari sudut matanya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia kembali berlari menerjang ke depan, dan kali ini, sosok Aragoto berbalik menyambutnya.

​Miyura berhasil menubruk tubuh kakaknya, memeluk pinggang Aragoto erat-erat, membenamkan wajahnya di dada sang kakak seraya terisak lega. "Kak... hiks... aku mencintaimu..."

​Namun, tepat saat Miyura mendongakkan kepalanya, berniat untuk menatap wajah kakaknya secara langsung untuk yang terakhir kali, sebuah pendar cahaya putih yang begitu menyilaukan tiba-tiba memancar dari tubuh Aragoto. Cahaya itu semakin terang, menembus kelopak matanya hingga memaksa kesadarannya tertarik kembali ke dunia nyata.

​Miyura mengerjap-ngerjapkan matanya berulang kali. Aroma rempah kedai dan bau kayu tua langsung menyapa indra penciumannya. Ia tidak lagi berada di halaman gereja yang dingin atau ruang hampa bawah sadar, melainkan berbaring di atas tempat tidur yang empuk di kamar lantai atas.

​"Eungh..." rintih Miyura pelan, merasakan kepalanya masih sedikit pening dan pipinya yang lebam berdenyut nyeri.

​"Oh, syukurlah... kau sudah sadar, Nak," sebuah suara lembut yang sangat familier terdengar di samping pembaringannya.

​Miyura menolehkan kepalanya perlahan. Di sisi ranjang, Ibu Goto duduk sambil memegang sebuah mangkuk kecil berisi air hangat dan handuk basah. Wanita paruh baya itu menatapnya dengan pancaran mata yang dipenuhi kelegaan luar biasa bercampur sisa-sisa kekhawatiran.

​Miyura berusaha bangkit, namun tubuhnya masih terasa lemas. Dengan dibantu topangan lembut dari Ibu Goto, ia bersandar di kepala ranjang. Mengingat kejadian mengerikan di belakang gereja tadi, manik mata ungunya langsung mengedar ke seluruh ruangan, mencari sosok pria yang telah mempertaruhkan nyawanya.

​"I-Ibu..." panggil Miyura dengan suara parau dan serak. Ia menatap Ibu Goto penuh tanya. "Di mana... di mana Kak Goto?"

​Ibu Goto tersenyum simpul, mengusap lembut puncak kepala Miyura untuk menenangkan kegelisahan gadis itu.

​"Jangan khawatirkan anak bodoh itu," jawab Ibu Goto dengan nada lembut menenangkan. "Dia ada di bawah, sedang membereskan kedai dan melayani beberapa pelanggan yang datang sore ini. Biarkan dia bekerja, karena sejak tadi, sejak dia menggendongmu pulang dalam keadaan basah kuyup dan pingsan, dia mondar-mandir tidak tenang di kamar ini sebelum kuusir turun untuk bekerja."

​Miyura mendengarkan penjelasan itu dengan dada yang bergemuruh hangat. Air mata haru kembali menggenang di pelupuk matanya, namun kali ini bukan karena keputusasaan, melainkan karena ia menyadari bahwa di tempat ini, di pelukan keluarga Gotos, ia benar-benar memiliki alasan untuk memaafkan dirinya sendiri dan melanjutkan hidup.

Tangis Miyura yang tadinya hanya berupa isakan kecil perlahan pecah menjadi ratapan yang memilukan. Ia menangkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya yang lebam, membiarkan air matanya tumpah membasahi jemarinya. Rasa bersalah yang teramat pekat, beban masa lalu sebagai putri tiran, serta ketakutan akan penolakan bercampur aduk di dalam dadanya.

​"Maafkan aku... hiks... maafkan aku..." racau Miyura berulang kali di sela tangisannya yang tersengal-sengal, suaranya pecah dan penuh siksaan batin. "Aku bukan gadis baik-baik... aku membawa dosa besar... maafkan aku..."

​Mendengar pengakuan jujur dan ratapan pilu itu, Ibu Goto dan Ayah Goto—yang rupanya sudah menyusul naik dan berdiri di ambang pintu—hanya bisa terdiam. Tidak ada amarah ataupun tatapan jijik di mata mereka; yang ada hanyalah kehangatan, kelegaan, serta senyuman tipis penuh rasa kasihan melihat betapa tersiksanya jiwa gadis muda di hadapan mereka.

​Sementara itu, di balik dinding luar kamar lantai atas, Goto yang baru saja naik dari kedai sempat tertegun mendengar suara tangisan tersebut. Langkah kakinya terhenti persis di dekat pintu kamar yang sedikit terbuka. Ia mendengar setiap isakan dan pengakuan tentang siapa Miyura sebenarnya. Namun, alih-alih masuk atau menunjukkan keterkejutannya, Goto justru memilih berdiam diri di balik pintu. Pria itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, meresapi setiap kepedihan yang tengah ditanggung oleh gadis yang baru saja ia bela di pelataran gereja.

​Di dalam kamar, Ibu Goto perlahan mendekati ranjang, lalu duduk di tepi kasur. Dengan penuh kelembutan, wanita paruh baya itu merengkuh tubuh Miyura yang bergetar hebat ke dalam dekapannya, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya di bahunya.

​"Sudahlah, Nak... sudah," bisik Ibu Goto menenangkan, mengusap punggung Miyura dengan penuh kasih sayang seorang ibu. "Masa lalu biarlah berlalu. Apapun yang terjadi di sana, itu bukan lagi beban yang harus kau pikul di sini. Kau tidak perlu memikirkan masa lalu yang menyiksa itu lagi."

​Miyura terisak semakin kencang di pelukan Ibu Goto, merasa begitu tidak layak menerima kebaikan sebesar itu.

​Ibu Goto melonggarkan pelukannya sejenak, lalu menatap manik mata ungunya yang basah dengan tatapan teduh. "Jika kau mau, dan jika itu bisa membuatmu merasa lebih tenang untuk memulai lembaran baru... gunakanlah nama 'Rin' itu mulai sekarang. Hiduplah sebagai Rin, bukan lagi sebagai bayangan masa lalu yang menyakitkan."

​Miyura mengerjap pelan, air matanya menetes saat mendengar tawaran penuh ketulusan tersebut.

​Ibu Goto tersenyum hangat, lalu mengelus pipi Miyura yang lebam dengan sangat hati-hati. "Oh, iya... ada satu hal yang harus kau tahu," lanjut Ibu Goto dengan nada suara yang sedikit menggoda untuk mencairkan suasana. "Tadi, sedari kau masih pingsan dan belum sadarkan diri, anakku—si Goto itu—terus-menerus memanggil namamu di samping tempat tidur ini... dan tahukah kau apa nama yang dipanggilnya berulang kali?"

​Miyura menengadah perlahan, menatap Ibu Goto dengan rasa penasaran di tengah sisa-sisa isakannya.

​"Dia terus memanggilmu 'Rin', bukan Miyura," bisik Ibu Goto lembut, menyunggingkan senyuman penuh arti. "Sejak awal, bagi kami dan terutama bagi Goto, kau adalah Rin... gadis yang kami kenal dan sayangi, bukan orang lain."

​Mendengar penuturan tersebut, pertahanan Miyura sepenuhnya runtuh. Kehangatan yang teramat sangat menyelimuti relung hatinya yang selama ini membeku. Tanpa mampu menahan haru, ia kembali meneroboskan tubuhnya ke dalam pelukan Ibu Goto, membiarkan dekap hangat itu menyembuhkan luka-luka di jiwanya.

Meskipun kehangatan dekapan Ibu Goto telah meresap ke dalam hatinya, rasa bersalah yang teramat pekat masih mencengkeram nurani Miyura. Gadis itu perlahan melepaskan pelukannya, menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu menggelengkan kepalanya dengan lemah sembari menggigit bibirnya.

​"Tidak... Ibu tidak mengerti," suara Miyura terdengar parau dan bergetar hebat, menolak untuk dimaafkan begitu mudah. "Aku tidak bisa terus membohongi diri sendiri... aku adalah Miyura... putri dari kerajaan Hikari yang keji, orang yang membiarkan kehancuran terjadi dan membiarkan saudaraku menanggung semuanya..."

​"Rin..."

​Sebuah suara berat yang tegas namun sarat akan kelembutan memotong ucapan Miyura.

​Pintu kamar yang tadinya hanya terbuka sedikit perlahan terdorong lebar. Goto melangkah masuk ke dalam kamar dengan langkah tenang, mengenakan jubah hariannya yang sedikit berdebu. Sorot mata pria itu tampak teduh, menatap lurus kepada gadis yang tengah bersimpuh di atas ranjang dengan tatapan penuh keyakinan.

​Miyura terperanjat kecil saat melihat kehadiran Goto. Seketika itu juga, ia terdiam kaku, memilih menundukkan kepalanya semakin dalam ke pangkuannya sendiri karena merasa malu dan tidak pantas menatap mata pria yang telah menyelamatkannya itu.

​Goto berjalan mendekati sisi ranjang, berdiri tepat di sebelah ibunya. Pria itu menghela napas pendek, lalu berbicara dengan nada suara yang mantap dan menenangkan.

​"Nama itu... nama Miyura yang kau sebut-sebut sebagai putri keji itu sudah mati, Rin," ucap Goto tegas, merendahkan sedikit tubuhnya agar sejajar dengan pandangan gadis tersebut. "Nama itu sudah kubur dalam-dalam bersama masa lalu, tepat saat saudara kembarmu mengorbankan dirinya sendiri di tiang pancung dengan membawa nama Miyura, kan?"

​Miyura menahan napasnya. Bahunya bergetar hebat mendengar ucapan telak namun penuh makna dari Goto.

​Goto terdiam sejenak, lalu mengangkat sebelah tangannya, menepuk pelan puncak kepala gadis itu dengan penuh kehangatan—gerakan yang sama seperti yang ia lakukan di jalanan kota tadi pagi.

​"Mulai sekarang, berhentilah menghukum dirimu atas nama yang sudah tiada itu," lanjut Goto dengan suara lembut yang menghujam langsung ke lubuk hati Miyura. "Masa lalu telah merenggut segalanya darimu, tapi hari ini... di tempat ini, nama yang kau miliki dan yang kami akui adalah Rin. Hiduplah sebagai dirimu yang sekarang."

​Miyura terdiam seribu bahasa. Air matanya kembali menetes, bukan lagi karena keputusasaan atau rasa takut, melainkan karena kelegaan luar biasa yang meruntuhkan benteng pertahanan terakhir di jiwanya. Ia tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas, ia hanya bisa terus menunduk sambil meresapi ketulusan yang diberikan kepadanya.

​Di sisi lain ranjang, Ibu Goto dan Ayah Goto berdiri berdampingan, memandang Miyura dengan pancaran mata yang dipenuhi oleh kasih sayang yang tulus tanpa syarat. Tidak ada keraguan, tidak ada kebencian; yang ada hanyalah kehangatan sebuah keluarga yang siap merangkul jiwa yang lelah untuk pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!