Indonesia
NovelToon NovelToon
Petualangan Mayanza

Petualangan Mayanza

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:721
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali...

Pagi-pagi sekali Nuy mengajakku pergi sebelum Melati bangun.

Prem menjaga Melati dirumah.

Kami berjalan ke Rumah di ujung kampung, melewati rumah Tetua.

Setelah bernegosiasi aku ditinggal berkerja memetik buah tomat dan timun di kebun.

Orang-orang melihatku seperti curiga, berbisik-bisik.

Aku hanya diam mengamati sambil menyelesaikan perkerjaan memetik.

Siang ini, kami disuguhkan bubur nasi sedikit abon dan air putih.

Perkerjaan belum selesai.

“Sepertinya nona dari utara tidak terbiasa dengan perkerjaan ini,” kata seorang kepadaku.

Aku hanya tersenyum.

“Kulitnya saja putih, seputih salju, perkerjaan berat ini tidak akan sanggup dilakukan sampai sehari” kata yang lain tertawa.

Sore hari, Nuy dan Melati datang.

Aku menerima dua perak uang upahan kerja harian.

Kami pulang,

Aku menyerahkan uang upahanku pada Nuy, tapi Nuy menolak dia bilang simpan saja sebagai bayaran menumpang ke kota.

Malam ini kami makan bubur nasi lagi,

Aku berbaring di bale-bale, membayangkan apa yang dilakukan Ibu dan Ayah disana.

Berharap mereka baik-baik saja.

Tubuhku terasa sakit berkerja seharian di lapangan.

**

Hari kedua berkerja di kebun, aku terbiasa memotong buah dari dahannya denga pisau khusus.

Warga mulai terbiasa,

“Betul Nuy, bilang kamu mau ikut ke kota untuk mengantar buah” kata Pemilik Kebun memastikan kembali sore hari setelah memberi upah harian.

“Betul” kataku menunduk.

“Baiklah, besok subuh kau ikut di gerobak belakang” kata Pemilik kebun.

Aku mengangguk.

Pulang dari kebun aku mampir ke warung membeli selonjor roti, kubayar dengan 1 keping perak, mereka mengembalikan uangku dengan 3 keping uang kepeng dari perunggu.

Aku tidak tau berapa nilai uang disini, yang penting bisa membeli makanan membantu Nuy dirumah.

Aku berjalan kerumah, perapian masih hidup.

Nuy dan Melati duduk di belakang rumah.

“Ini roti” kataku

“Kamu tidak perlu repot-repot uang itu akan kamu perlukan di perjalanan ke kota” kata Nuy.

“Tidak apa, kalian sudah banyak membantuku” kataku.

Prem datang menjelang malam, dengan obornya dia datang membawa ranting kayu di punggungnya.

“Berapa harga ranting kayu sekali terjual?” kataku membantu Prem menurunkan tumpukan ranting dari punggungnya.

“Lima keping perunggu” kata Prem.

Aku mengambil dua keping perak menyerahkan ke tangan Prem, “Jangan ditolak, ini untukmu, simpan…” kataku

Prem memandang Nuy ibunya, ibunya menangguk.

Malam ini aku menyiapkan barang-barangku kembali ke Istana Zink.

Kugunting pakaian sutra biru yang sudah banyak sobek menjadi sebuah bungkusan tempat menyimpan barang.

Pagi sekali Nuy bangun mengantarku ke gerobak buah, aku berpamitan dan memeluk Nuy.

“Simpan ini”, kataku memasukan Konde emasku yang dibungkus kain sutra biru ke sakunya.

“Ini bisa kau jual, boleh kau buka dirumah” kataku, Nuy menolak dan aku melarang dia membukanya sekarang.

**

Kami tiba di sebuah kota di luar gerbang istana, mereka bilang ini gerbang Istana Utara.

Aku turun dan berpisah dengan gerobak penjual buah.

Berhenti membeli bakcang seharga 1 perak.

Uang yang tersisa di sakuku 3 koin perunggu.

Dan meminum air putih gratis.

Perutku kenyang aku berjalan kearah gerbang Istana yang tertutup.

Gelang giok yang kutaruh di saku ku pasang kembali tertutup lengan baju yang panjang.

Ketika aku mendekat, ada pasukan berkuda datang masuk ke gerbang, aku tidak sempat melihat masuk kedalam.

“Hei…apa yang kau lakukan disitu?”tanya pengawal.

Aku berbalik arah.

Tidak ada yang menengalku.

Saat aku berbalik, aku melihat Swanzi dalam tandu dengan jendela terbuka masuk ke Istana.

Aku memastikan apa yang kulihat baru saja.

Swanzi terlihat berbeda, apa dia sudah sembuh? Dimana mereka bertemu?

Terlalu banyak pertanyaan di otakku.

Aku kembali berjalan ke samping gerbang, duduk di bawah pohon.

Kulihat beberapa kereta masuk ke istana mengantar bahan makanan.

Aku menyusup ke dalam kereta, kuikuti dan ketika kereta berhenti aku masuk ke dalam kereta pengantar bahan makanan.

**

Aku masuk ke Istana,

Istana tampak tenang, saat aku melangkah kearah Istana Timur, berencana ke kamarku, aku berhenti di sisi tembok istana.

Panglima melewati lorong, Panglima yang bersama rombongan lain masih hidup.

Aku menahan diri di tempatku agar tetap aman.

Tidak ada yang mencurigaiku ketika berpapasan karena pakaian kumalku sama dengan pakaian pembawa bahan makanan yang sedang banyak mengangkut bahan makanan ke area dapur.

Iring-iringan Payung menuju Aula Istana Raja Yuko dan Pengawal terlihat hidup dan sehat tidak kurang satu apapun, sementara kupandangi tangan, pakaian dan tubuhku yang sakit sangat terasa menyedihkan.

Apakah begitu teganya mereka mengorbankan aku melawan makhluk jahat di hutan itu, membayar berapa banyak teratai yang kupetik.

Aku tertawa sendiri akhirnya, aku menyadari aku memang tidak dicari, air mataku pun menetes, tiba-tiba hari yang cerah berubah gelap.

Mereka semua pulang sendiri ke Istana.

Tanpa mencari aku di desa terdekat.

**

Aku berjalan ke Istana Selatan.

Angin bertiup, cuaca berubah.

Aula istana terlihat sangat megah mulai tertutup awan hitam sementara gerimis mulai turun.

Aku bergegas masuk ke mobilku yang tertutup jerami.

Merapalkan mantra membuka gerbang untuk pulang dan kembali ke jalan raya.

**

Aku memarkirkan mobil di depan rumah.

“Mayanza, kamu sudah pulang lebih cepat” kata Ibu.

“Ya” kataku masuk ke rumah memeluk Ibu.

“Apakah ada masalah selama aku tinggal beberapa hari?” tanyaku.

“Tidak, baik-baik saja. Ayah dan Ibu sehat” kata Ibu

 “Ayah kemana?” tanyaku

“Ayahmu berangkat berkerja” kata Ibu.

“Ibu bagaimana kabarnya Paman Yuko?” kataku

“Baik, dia baik-baik saja di luar negeri” kata Ibu.

“Bukankah Paman Yuko bukan Ayah Judith?” kataku

“Darimana kau tau?” kata ibu padaku.

“Paman Andrew” kataku.

“Yuko hanyalah Ayah angkat Judith” kata Ibu.

Ibu keheranan melihatku dari atas sampai bawah, menyentuh pakaianku, kulitku juga kusam.

“Aku belum mandi” kataku berlari ke kamar atas.

Aku mandi dan berganti pakaian.

Membuka Aplikasi Kantor,

"Cuti ditolak"

Akupun tertawa untuk pertama kalinya setelah kembali, namun tertawa karena marah dengan keadaan.

**

Bersambung...

Epilog

Aku bersandar di dinding Istana.

Kulihat Dayang memayungi Raja Yuko yang terlihat baik-baik saja.

Diluar matahari sangat terik.

Di sisi lain ada tandu datang mendekati Aula, Swanzi turun dengan riasan yang tidak seperti biasa, menggunakan pakaian berwarna putih dipadu padan merah jambu, wajahnya terlihat segar, menggunakan hiasan rambut bunga-bunga plum yang cantik.

Mereka melangkah bersama masuk ke Aula Istana.

Aku berjalan jauh ke Istana Selatan dari Aula Istana.

Menyelinap ke Mobilku yang terparkir sebelumnya di bawah pohon samping istana selatan.

Sebelumnya telah kuletakan Gelang Giok Putih berlilitkan akar emas berujung bunga melati terbungkus kain sutra biru navi di pintu kediaman Raja Yuko.

Agar Raja Yuko menemukannya.

Aku selamat.

1
Tory Ambay Satu
Mantap👍👍
Tory Ambay Satu
👍👍
Tory Ambay Satu
Semakin seru ceritanya👍
Novita Tory: terima kasih, dukung dan baca juga ceritaku yang lainnya ya🤭
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Seru banget ya, Raja Yuko😍
Novita Tory: /Chuckle/🙏
total 1 replies
Novita Tory
🤭Aku memikirkan nasib ayam berwarna putih😅🥲
Tory Ambay Satu
Bagus banget alur ceritanya 👍
Novita Tory: Makasih...
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Mantapp banget ceritanya👍
Novita Tory: makasih😊selamat membaca..
baca juga karyaku yang lain ya...
total 1 replies
Novita Tory
Lanjut untuk episode selanjutnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!