“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”
Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.
Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suaranya sangat mirip : 09
Tidak terdengar langkah kaki, tak pula terdeteksi indera penglihatan Hamima, tiba-tiba sebuah suara menyapanya dengan nada rendah, dalam.
“Ini, Nyonya ….”
“Jangan berca —” kalimatnya menggantung, tidak ada siapapun disana selain ia dan bayinya.
Pori-pori lengan Hamima membesar, rasa hangat menyebar ke seluruh tubuh. Gemuruh dada terdengar olehnya, ini bukan sekedar takut, lebih dalam dari itu.
“Guntur,” panggilnya nyaris berbisik dengan wajah memucat. Tidak ada sahutan dari dalam kamar berjarak sekitar sembilan meter.
“GUNTUR!” Teriakan Hamima mengejutkan Pujiara yang berbaring baru saja diturunkan dari gendongan.
Tangisan bayi tak lantas membuat suasana dingin mencekam berganti sunyi tidak menakutkan.
Lengkingan serak suara tangis Pujiara belum cukup ampuh menurunkan rasa takut wanita yang duduk dengan punggung tegak, bola mata melihat lekat pintu kamar terbuka lebar, namun tidak bisa mengintip ke dalamnya.
Pujiara merangkak, wajahnya merah padam, bukan mendekati sang ibu, melainkan menuju sesuatu yang lebih menenangkan jiwa tengah terkejut.
“Guntur jangan menakuti Ibu!” Mima menjerit, kehilangan kesabaran, dan kesadaran jika putrinya tidak ada ditempat. Entah kemana.
Arghhh!
“Tolong … akhh … toooolongg ….”
Suara yang sama seperti seseorang memanggil nyonya, persis nada bicara Guntur, tetapi lebih dalam nan rendah.
Teriakan minta tolong bergema, bersahutan dengan suara wanita seperti tengah menahan sakit luar biasa.
“Guntur!” teriakannya melengking, dia seperti kehilangan kemampuan bergerak, hanya bisa menjerit.
Dari pintu depan, hembusan angin masuk kedalam, melewati sisi samping wanita yang langsung menegang. Menahan napas.
Sekelebat bayangan hitam bak sosok manusia melangkah mantap tanpa menjejak lantai, mendekati pintu kamar utama.
Hamima terbelalak, tenggorokannya tercekat. Naluri keibuannya menyeruak, dan alarm bahaya berbunyi nyaring dalam otak kecilnya.
"Jangan! Aku mohon jangan sakiti putraku!" Tangannya terulur, air mata menetes membasahi celana bagian paha.
Bayangan itu berhenti, hanya sedetik, kemudian menembus dinding tembok kamar.
"Lari, Nak! Lari Guntur!" Mima bak orang mengalami lumpuh kaki total. Bahkan anggota gerak bagian bawah seperti dipaku mati!
Tak tak tak ....
Teramat lambat, seperti gerakan slow motion, wajah Hamima mendongak, pupil membesar menatap plafon putih pucat.
Awalnya tidak ada yang aneh, sampai garis-garis retak bak kilat halilintar membelah langit hitam pekat, memenuhi plafon.
Arah pandang Mima mengikuti garis zig-zag dari tempatnya duduk sampai menyebar ke seluruh ruangan terbuka.
Tes, tes ....
Suara noda merah pekat seperti bunyi air hujan turun membasahi bumi.
Setiap buliran sebesar ujung kuku menggumpal pada plafon, netra Hamima tak berkedip menatap lekat mengikuti hingga tetesan terjatuh dilantai tanpa berkedip.
Tidak ada suara lain yang terdengar, selain gemericik tetesan air sedikit mengental berwarna merah, mengeluarkan bau asam layaknya besi berkarat.
Oek ... oek ....
🎶 Lingsir wengi sliramu tumeking sirno (Menjelang malam, dirimu akan lenyap/mati)
Ojo tangi nggonmu guling (Jangan bangun dari tempat tidurmu)
Awas jo ngetoro (Awas jangan menampakkan diri)
Aku lagi bang wingo wingo (Aku sedang dalam kemarahan besar)
Jin setan kang tak utusi (Jin dan setan yang kuperintah)
Dadyo sebarang (Jadilah apa saja / perantara)
Wojo lelayu sebet (Untuk mencabut nyawa / merobek kain).
Dada Hamima terasa menyempit, lirik lagu ini bukan lagi tentang kerinduan melainkan kemarahan, dan dendam.
Suara wanita yang tengah bernyanyi, terdengar jernih tanpa menunjukkan gejolak emosi.
Tangisan bayi terhenti, tergantikan gemuruh angin menerbangkan gorden jendela samping.
Brak!
Daun pintu terbanting, tertutup kuat hingga menggetarkan kacanya.
Jendela kayu berayun lalu menutup dan terdengar suara grendel di geser. Mengunci.
Gelap, hanya ada kegelapan serta bau amis. Dada Hamima kembang kempis, tangannya meraba-raba tanpa bisa bergeser barang seincipun.
Tap, tap, tap ....
Kepalanya menoleh mencari sumber suara di petang tanpa cahaya. 'Suara itu seperti derap kaki menuruni anak tangga, tapi dimana?'
Telapak tangan Hamima meraba lantai, belum juga menyentuh keramik, jemarinya sudah terasa lengket, berlendir.
"Apa yang kusentuh ini?" suaranya tak lebih keras dari sebuah bisikan dengan napas memburu.
Hueg .... "Baunya amis sekali?"
HAH!
Hamima terperanjat — sekelebat cahaya putih terbang melewati atas kepalanya.
Pakan namun pasti, asap putih tak berbentuk, perlahan-lahan mulai menyatu menyerupai siluet wanita mengenakan kemben bertali tipis melebar pada bahu berkulit pucat.
Sangat jelas perubahan terlihat oleh mata telanjang wanita yang kehilangan kemampuan berpikir, hanya bisa menyaksikan dengan badan gemetaran, wajah berkeringat, dan air mata berlinang.
Sosok telah sempurna terlihat dari arah belakang, memutar badan dalam sekali gerakan sangat cepat.
Bola matanya pecah, tiba-tiba keluar dari rongga lalu terjatuh dan menggelinding ....
Akhhh!
"Ibu, Bu, Ibu!" Guntur menjerit sejadi-jadinya.
Ibunya tergeletak di lantai, badannya sangat dingin. Mata membelalak hanya memperlihatkan warna putih.
Jemari kedua tangan Hamima menekuk. Kakinya mengejang dengan punggung terangkat sampai kepala menekan lantai.
Pujiara entah di mana, padahal bayi cantik itu tengah sakit.
"Tolong ibuku! Tolong!" Guntur takut beranjak, takut ibunya hilang seperti adiknya.
Tadi dia merasa hanya sebentar masuk ke dalam kamar untuk mengambil bantal serta selimut, begitu keluar — ibunya sudah kejang-kejang di atas lantai, dan Pujiara hilang.
"Ayah! Pulang, Yah!" remaja kehilangan rasa takut disebabkan lebih mengkhawatirkan sang ibu, memanggil sosok pahlawannya.
Di desa ini tidak ada alat komunikasi melalui udara, hanya mengandalkan suara teriakan, gerakan anggota badan mencari bantuan.
Tidak ada cara lain, Guntur berlari keluar dari dalam rumah. Menjerit keras.
"Tolong ibuku! Tolong!" Dia berlari kencang tanpa menggunakan alas kaki. Menuruni bukit berniat menuju rumah tetangga.
Guntur menjerit sambil menangis seraya menahan sakit pada telapak kaki yang menginjak bebatuan berujung sedikit lancip.
Begitu sampai di rumah tetangga paling dekat, dia segera mengetuk pintu kayu.
Detik pun berganti menit, tetapi tidak ada orang yang membukakan pintu.
Guntur berlari lagi ke bawah bukit, dia sampai pada hunian kedua. Pun sama, tidak ada siapa-siapa di sana.
"Kalian manusia bukan sih? Kenapa pada gak ada yang mendengar jeritan minta tolong?!" suaranya menggeram.
Remaja yang bajunya basah oleh keringat, wajah bernoda tanah sebab tadi terjerembab, berlari lagi naik ke atas bukit.
Dia tidak sampai hati meninggalkan ibunya yang seperti orang kerasukan, serta berniat mencari adiknya.
.
.
Bersambung.
👻👻👻👻👻
🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️
aku yakin Ara mau dijdikan tumbal tu
Krang ajar skli bapak nya
itu pasti tu kumpulan juragan sarkam yg mengamuk karna gagal
nth apa yg ada di otak Sigalih itu