Indonesia
NovelToon NovelToon
Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.

Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?

#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Hari itu benar-benar kacau bagi Tira. Sejak tiba di kantor, pikirannya tidak bisa diajak bekerja sama. Berkali-kali ia membaca ulang dokumen yang sama tanpa memahami isinya. Tangannya sudah mengetik beberapa kalimat, lalu dihapus lagi. Bahkan ketika teman di sebelahnya bertanya sesuatu, Tira sampai harus meminta pertanyaan itu diulangi dua kali. Pikirannya hanya tertinggal pada satu hal, wajah Fahri pagi tadi. Diamnya. Tatapannya. Kalimatnya yang begitu tenang tetapi berhasil membuat hati Tira berantakan.

Di tempat lain, Fahri juga mengalami hal serupa. Ia duduk di depan komputer, tetapi pekerjaannya tidak banyak bergerak. Beberapa kali ia membuka dokumen, kemudian menutupnya lagi. Seorang rekan sempat bertanya apakah ia sedang sakit. Fahri hanya menggeleng. “Kurang tidur,” jawabnya singkat. Padahal yang membuatnya tidak bisa berkonsentrasi bukan kurang tidur, melainkan pikirannya sendiri.

Ia tidak ingin mencurigai Tira. Ia percaya kepada istrinya. Namun kehadiran Dimas yang terus menerus mencari jalan untuk menghubungi Tira membuat hatinya tidak tenang. Ia takut. Bukan takut Tira kembali kepada Dimas, tetapi takut dirinya datang terlambat ke hati seorang perempuan yang pernah mencintai lelaki lain selama delapan tahun. Menjelang makan siang, Fahri akhirnya mengambil keputusan. Ia menghubungi Tira. [Kamu makan siang di mana?]

Tira membalas singkat. [Di kantor.]

Beberapa menit kemudian pesan Fahri masuk lagi. [Tunggu saya.]

Tira mengerutkan kening. [Abang mau ke sini?]

[Iya.] Tidak lama kemudian Fahri benar-benar datang ke kantor Tira.

Mereka memilih tempat makan sederhana tidak jauh dari kantor. Tira duduk berhadapan dengan Fahri, tetapi sejak tadi tidak menyentuh makanannya. Di hadapannya ada sepiring nasi dengan udang goreng kesukaannya. Biasanya makanan itu sudah cukup membuat wajahnya cerah. Hari ini tidak. Ia hanya menatap piring.

Fahri memperhatikannya. “Kenapa nggak dimakan?”

Tira menggeleng. “Nggak selera.”

“Kamu dari pagi belum makan.”

“Nanti.”

Fahri mendorong piring itu sedikit lebih dekat. “Makan sedikit.”

Tira mengambil satu udang. Ia memasukkannya ke mulut, mengunyah sebentar, lalu tiba-tiba matanya berkaca-kaca.

Fahri langsung tahu ada yang tidak beres. “Tir?”

Tira meletakkan sendok. Air mata yang sejak pagi ditahannya akhirnya jatuh. Satu tetes. Lalu semakin banyak. “Aku nggak suka suasana seperti ini, Bang.” Fahri diam. Tira mengusap air matanya dengan tangan. “Bahkan udang goreng kesukaanku rasanya pahit. Sepahit pare.” Bibirnya bergetar. “Sudahlah.” Tangisnya pecah.

Beberapa orang di meja sebelah sempat menoleh. Tira tidak peduli. Untuk pertama kalinya ia tidak ingin menjaga penampilan. Ia tidak peduli jika orang melihat seorang perempuan menangis di depan suaminya. Ia hanya ingin rasa sesak di dadanya hilang.

Fahri segera berpindah tempat duduk ke samping Tira. Tanpa banyak bicara, ia memeluk istrinya. Tira langsung menangis di dadanya. “Maafkan saya,” bisik Fahri.

Tira menggeleng. “Enggak. Abang nggak salah.”

Fahri mengusap punggungnya pelan. “Saya yang terlalu banyak berpikir.”

“Bukan...” Tira menarik napas di sela tangisnya. “Dimas yang salah.”

Fahri terdiam.

Tira mengangkat wajah. Matanya merah dan basah. “Aku nggak suka dia, Bang.” Fahri menatapnya. “Aku benar-benar nggak suka dia.” Suaranya semakin emosional. “Aku sekarang cuma cinta sama Abang!” Fahri tidak langsung menjawab. Tira kembali menangis. “Aku sudah capek sama dia. Delapan tahun itu sudah cukup. Aku sudah selesai. Kenapa dia masih datang terus? Aku sudah menikah. Aku sudah punya Abang.”

Fahri mengusap air mata di pipinya. “Saya tahu.”

“Nggak, Abang nggak tahu.” Tira menggeleng. “Makanya Abang tadi pagi seperti itu. Aku takut Abang berpikir aku masih sayang sama dia.” Ia menarik napas panjang. “Aku nggak pernah mau kembali. Sedikit pun nggak.”

Fahri memandangnya lama. Ada penyesalan di wajah lelaki itu. “Saya minta maaf.”

Tira menggeleng lagi. “Abang nggak perlu minta maaf.”

“Saya tetap salah karena membuat kamu menangis.” Tira terdiam. Fahri kembali memeluknya. Kali ini lebih erat. “Saya percaya kamu, Tir.”

Tira memejamkan mata. Tubuhnya perlahan mengendur dalam pelukan itu. Seharian ia menahan rasa takut bahwa Fahri akan menjauh darinya. Sekarang, mendengar kalimat itu, dadanya terasa lega. “Iya,” bisik Tira. “Abang juga harus percaya sama aku.”

“Saya percaya.”

“Jangan diam seperti tadi pagi lagi.”

Fahri tertawa kecil. “Baik.”

“Kalau Abang marah, bilang. Kalau Abang takut, bilang. Jangan bikin aku nebak-nebak.” Tira mengusap hidungnya yang memerah. “Aku juga akan cerita kalau ada apa-apa.”

Fahri mengangguk. “Itu yang saya mau.”

Beberapa saat mereka hanya diam dalam pelukan. Restoran kecil itu tetap ramai, tetapi bagi Tira dunia seolah mengecil menjadi hanya mereka berdua.

Setelah tangisnya sedikit reda, Fahri mengambil tisu dan menyerahkannya. “Sekarang makan.”

Tira menatap piringnya. “Udangnya sudah dingin.”

“Pesan lagi.”

Tira akhirnya tersenyum sedikit. “Abang ini...”

Fahri ikut tersenyum. “Daripada kamu menangis lagi karena udangnya.”

Tira tertawa kecil di sela air matanya. Untuk pertama kalinya sejak pagi, dadanya terasa lebih ringan. Ia mengambil satu udang lagi. Kali ini rasanya tidak pahit.

Fahri memperhatikannya sambil tersenyum. “Enak?”

Tira mengangguk. “Enak.” Tira menatap suaminya. “Sekarang sudah manis.”

Fahri tertawa. “Makan saja.” Tira ikut tertawa. Salah paham yang sejak pagi membuat dua orang itu tidak bisa bekerja akhirnya perlahan mencair di meja makan sederhana itu. Tidak ada kata-kata besar. Cuma dua orang yang sedang belajar menjadi suami istri, belajar saling percaya, dan belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dirasakan, cinta juga harus dijaga dengan keterbukaan.

***

Malam itu, Tira dan Fahri pulang seperti biasa. Motor berhenti di depan rumah ketika mereka melihat seorang perempuan paruh baya berdiri di dekat pagar sambil membawa sebuah wadah makanan yang ditutup rapat. Perempuan itu tampak seperti sudah cukup lama menunggu.

Tira yang baru saja turun dari motor langsung menoleh kepada Fahri. “Bang, siapa?”

Fahri menggeleng. “Nggak tahu.”

Mereka kemudian berjalan mendekat. Perempuan itu tersenyum begitu melihat keduanya. “Nah, ini pasti pasangan yang baru pindah ke sini, ya?”

Tira tersenyum sopan. “Iya, Bu. Maaf, Ibu siapa?”

“Saya tetangga sebelah.” Perempuan itu menunjuk rumah di samping mereka. “Rumah saya yang itu.”

Tira langsung merasa tidak enak. Selama beberapa hari tinggal di sana, ia dan Fahri memang belum sempat berkenalan dengan tetangga. Berangkat pagi, pulang sore, lalu mengurus rumah sampai malam. “Aduh, maaf banget, Bu. Kami belum sempat mampir.”

“Nggak apa-apa. Saya juga maklum. Anak muda sekarang pulangnya sudah capek.” Perempuan itu kemudian menyerahkan wadah makanan kepada Tira. “Ini saya bawakan sedikit makanan. Tadi saya masak banyak.”

Tira menerimanya dengan kedua tangan. “Wah, terima kasih banyak, Bu. Jadi merepotkan.”

“Tidak merepotkan. Namanya tetangga.”

Tira membuka sedikit tutup wadah itu. Aroma masakan langsung keluar. “Wah, enak sekali kelihatannya.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!