Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.
Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:
Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.
Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.
Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.
Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Ulang Tahun Tetangga dan Misi Sandi Rahasia
Senin sore, suasana kompleks Griya Indah Permai tampak lebih semarak dari biasanya. Rumah nomor 14B—tepat di sebelah rumah keluarga Leonhart—dipenuhi balon warna-warni dan pita berkerlap-kerlip. Bu Tini, tetangga mereka yang ramah, sedang menggelar pesta ulang tahun ke-5 untuk anaknya, Rian.
Lala berdiri di depan cermin kamar dengan gaya super sibuk. Hari ini ia memakai gaun mini bertema panda lengkap dengan bando telinga panda yang bisa bergerak-gerak jika dipencet tombolnya.
"Panda, kamu harus tampil tampan ya," bisik Lala pada boneka pandanya seraya memasangkan dasi kupu-kupu mungil buatan sendiri. "Hari ini kita punya misi penting: menghabiskan kue cokelat pesta!"
Di ruang tamu, Chiko dan Mila sudah bersiap. Chiko tampak canggung dengan kemeja polo warna krem yang rapi, sementara Mila terlihat sangat cantik dan anggun dengan gaun terusan simpel berwarna biru muda.
"Pah, hadiah untuk Rian sudah dimasukkan ke tas?" tanya Mila lembut sambil merapikan tatanan rambutnya.
"Sudah, Bunda. Papa beli mainan mobil-mobilan remot kontrol yang aman," sahut Chiko polos. Remot kontrol yang sudah modifikasi frekuensinya agar tidak mengganggu sinyal terenkripsi rumah kita, batin Chiko menambahkan.
"Ayo berangkat! Lala sudah tidak sabar mau makan kue!" seru Lala sambil berlari keluar kamar dan melompat gembira. Puk-puk-puk!
Pesta di rumah Bu Tini sangat meriah. Banyak anak-anak kecil berlarian di halaman belakang, sementara para orang tua berkumpul di teras sambil menikmati hidangan kue dan teh hangat.
"Aduh, Jeng Mila dan Mas Chiko, terima kasih ya sudah datang!" sapa Bu Tini ramah. "Lala lucu banget sih pakai bando begitu!"
"Sama-sama, Bu Tini. Selamat ulang tahun untuk Rian ya," balas Mila dengan senyuman paling hangat khas ibu rumah tangga berkelas.
Sementara Chiko dan Mila bergabung dengan bapak-bapak dan ibu-ibu tetangga di teras, Lala langsung bergabung ke meja hidangan anak-anak. Matanya membelalak lebar menatap kue ulang tahun tiga tingkat berselimut cokelat pekat di tengah meja.
‘Wah... kandungan glukosa dan kebahagiaannya mencapai 99 persen!’ analisis Lala di dalam hati dengan mata berbinar-binar.
Namun, di tengah gelak tawa pesta, pendengaran tajam ketiga anggota keluarga ajaib ini menangkap hal yang tidak biasa.
Di sudut pagar luar rumah Bu Tini, dua pria berpakaian jaket hitam dengan masker kain berdiri berpura-pura menjadi petugas pengantar paket. Namun, gerak-gerik mereka sangat mencurigakan.
Melalui lensa kontak pintarnya, Chiko memindai dua pria itu dari kejauhan. Pindaian wajah cocok dengan daftar buronan sindikat perampok rumah mewah. Mereka memanfaatkan keriuhan pesta ini untuk menyusup dan mencuri dokumen berharga milik suami Bu Tini yang seorang pejabat bank.
Chiko menghela napas pelan. Aduh... kenapa orang-orang jahat ini suka sekali mengganggu hari santai keluarga kami?
Di sisi lain meja teras, Mila yang sedang mengobrol soal resep kue dadar gulung juga menyadari bahaya tersebut.
Penglihatan peripheral sang Viper menangkap kilatan logam di balik jaket salah satu perampok. Pistol jenis Revolver rakitan. Amatir sekali. Kalau mereka merusak pesta ulang tahun anak-anak ini dan membuat Lala ketakutan, akan kulemparkan mereka ke dalam selokan.
Mila dan Chiko saling melirik secara terselubung. Masing-masing memikirkan cara untuk melumpuhkan kedua perampok itu tanpa membongkar rahasia diri sendiri di depan para tetangga.
Sementara itu, lencana panda di dada Lala bergetar lagi. Bzz-bzz.
‘Duh, ada dua paman jahat di dekat pagar!’ batin Lala gemas. ‘Kalau paman jahat itu bikin kaget orang-orang, acaranya bubar dan Lala gagal makan kue cokelat!’
Lala memutuskan untuk mengambil alih situasi dengan cara yang paling konyol dan menggemaskan!
"Rian! Teman-teman! Ayo kita main Sembunyi Panda dan Petak Umpet Raksasa!" teriak Lala nyaring dengan suara anak-anaknya yang melengking riang.
Anak-anak kecil di pesta itu langsung bersorak gembira. "Mauuu!"
"Aturannya gampang!" seru Lala sambil memegang mikrofon mainan anak-anak. "Semua orang harus tiup peluit mainan keras-keras dan lempar bola-bola plastik ke arah pagar luar!"
Lala dengan cerdik membagikan peluit dan bola-bola plastik dari keranjang mainan pesta kepada belasan anak kecil.
"Satu... dua... tiga... SERANG MONSTER PAGAR!" jerit Lala memimpin pasukan anak-anak.
PRRRREEEEEEEET! PRRRRRRRT!
Suara lengkingan puluhan peluit mainan mendadak menggema memekakkan telinga! Di saat bersamaan, puluhan bola plastik warna-warni melayang menembus udara, menghujani kedua perampok yang sedang mengintai di balik pagar!
Kedua perampok itu kaget setengah mati. Matanya tertutup lemparan bola dan telinganya berdengung hebat akibat suara peluit massa anak-anak.
Melihat momen emas itu, Chiko dan Mila bertindak secara bersamaan dari dua arah!
Chiko berpura-pura tersandung kaki meja pesta secara canggung. "Aduuuh! Maaf, maaf!"
Saat tubuhnya meluncur jatuh secara dramatis ke arah pagar, tangan Chiko dengan sangat presisi mematikan saklar kabel listrik utama pompa air di dekat pagar, membuat semprotan air bertekanan tinggi lepas dan menyembur deras tepat ke wajah kedua perampok! SHHHHHHH!
"Aaaargh! Air apa ini?!" jerit perampok itu kebasahan dan kebingungan.
Di saat yang sama, Mila berpura-pura berlari menghampiri Chiko dengan raut panik. "Papah! Hati-hati!"
Saat berlari melintasi meja hadiah, tangan halus Mila menyenggol botol minyak kayu putih dan deretan kelereng mainan dengan ketepatan posisi luar biasa. Kelereng dan minyak itu menggelinding ke bawah kaki kedua perampok yang sedang kebasahan.
GUBRAK! JEBLAG!
Kedua perampok itu terpeleset hebat, jatuh terlentang secara tragis, dan kepala mereka terantuk tiang pagar hingga pingsan seketika!
Seluruh kejadian itu berlangsung hanya dalam waktu belasan detik di tengah riuhnya suara peluit anak-anak. Para tetangga yang melihatnya justru tertawa terbahak-bahak, mengira kedua pria itu hanyalah dua orang konyol yang tersiram air dan terpeleset kelereng mainan anak-anak.
"Aduh, Mas Chiko sama Jeng Mila ada-ada saja deh, sampai tersandung begitu!" tawa Bu Tini geli. "Petugas paketnya juga aneh banget, masa terpeleset kelereng sampai pingsan!"
Chiko duduk di tanah sambil membetulkan kacamatanya yang miring, menyeringai polos. "Hehehe... maaf ya Bu Tini, Papa memang suka ceroboh."
Mila membantu Chiko berdiri sambil tersenyum sangat manis. "Iya nih, Papah kalau jalan suka tidak lihat-lihat."
Di dekat meja kue, Lala berdiri sambil menepuk-nepuk tangannya riang. Bando telinga pandanya bergoyang-goyang gembira.
‘Papa menyemprot pakai air, Bunda menjatuhkan pakai kelereng, dan Lala yang memimpin pasukan peluit!’ batin Lala puas luar biasa. ‘Kerja sama tim yang sangat sempurna!’
Lala lalu melangkah mendekati meja kue, mengambil piring plastik kecil, dan memotong sepotong besar kue cokelat dengan cengiran paling manis di dunia.
"Misi selesai! Waktunya makan kue!" seru Lala gembira, melahap kue cokelatnya sampai pipinya yang tembam penuh dengan krim.
Chiko dan Mila melangkah menghampiri Lala, duduk di samping putri kecil mereka. Melihat wajah Lala yang belepotan cokelat, Chiko tertawa renyah sementara Mila menyapu krim di pipi Lala dengan tisu secara lembut.
Di sore yang penuh tawa dan kehangatan itu, meski bahaya selalu mengintai di balik bayangan, keluarga Leonhart membuktikan bahwa tidak ada musuh atau masalah yang tidak bisa mereka selesaikan bersama—tentu saja, di balik topeng kepura-puraan mereka yang lucu dan penuh kasih sayang.
Bersambung...