Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.
Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.
Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGAKUAN DOSA DAN MANSION TANPA JIWA
Mobil sedan hitam yang menjemputku melaju cepat membelah kemacetan sore Jakarta.
Di sepanjang perjalanan, pikiranku terus berkecamuk.
Berbagai kemungkinan buruk berputar-putar di dalam kepala, namun tidak ada satu pun yang sanggup menyiapkan batinku menghadapi kenyataan yang sedang menungguku di balik pintu apartemen.
Begitu melangkah masuk ke dalam unit penthouse, aku mendapati ruang tengah sudah dipenuhi oleh koper-koper mahal berukuran besar yang berjejer rapi.
Di tengah ruangan, Ibu sedang berdiri di depan kaca besar, mematut dirinya yang mengenakan gaun sutra berwarna merah menyala.
Riasan wajahnya sangat tebal, dan di lehernya melingkar sebuah kalung berlian yang berkilau sangat menyilaukan perhiasan baru yang jelas belum pernah kulihat sebelumnya.
"Bu... apa-apaan semua koper ini?" tanyaku dengan suara tertahan, menunjuk tumpukan barang yang siap diangkut.
"Ibu mau membawa aku ke mana lagi?
Dan kalung itu... dari mana Ibu dapat perhiasan semahal itu?"
*PENGAKUAN YANG MEMATIKAN*
Ibu berbalik perlahan, menyunggingkan senyuman lebar yang penuh kebanggaan.
Tidak ada sedikit pun raut rasa bersalah atau duka di wajahnya.
Wajah yang beberapa bulan lalu meratapi kebangkrutan itu kini tampak begitu berseri-seri, seolah hidupnya baru saja memenangkan lotre triliunan rupiah.
"Simpan pertanyaan konyolmu itu, Rissa," ucap Ibu manis, melangkah mendekatiku dengan gestur anggun yang dibuat-buat.
"Hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidup kita.
Mulai malam ini, kita tidak akan tinggal di apartemen yang sempit ini lagi.
Kita pindah ke rumah baru kita yang sebenarnya."
"Rumah baru?" Keningku berkerut semakin dalam.
Tanganku terkepal erat di samping tubuh.
"Ibu dapat uang dari mana untuk membeli rumah baru?
Ibu bahkan tidak punya pekerjaan!"
Ibu tertawa pelan, sebuah tawa manja yang membuat dadaku mendadak terasa sesak oleh firasat buruk.
"Siapa bilang Ibu yang membeli rumah itu?
Suami Ibulah yang menyediakannya untuk kita."
Kata 'suami' yang keluar dari mulut Ibu menghantam kesadaranku bagaikan petir di siang bolong.
Kakiku mendadak terasa lemas, seolah lantai marmer di bawahku runtuh seketika.
"S-suami?" bisikku parau, menatap wanita di depanku dengan tatapan tak percaya.
"Maksud Ibu apa?
Ayah baru meninggal beberapa bulan yang lalu, Bu!
Ayah bahkan belum dingin di dalam kuburnya!"
"Jangan sebut-sebut pria lumpuh dan tak berguna itu lagi!" potong Ibu cepat, nada suaranya mendadak berubah tajam dan dingin.
Ia mengibaskan tangannya santai.
"Ibu sudah menikah lagi kemarin lusa.
Ibu sengaja tidak memberitahumu karena kamu pasti akan bersikap dramatis seperti ini."
Darah di dalam tubuhku seolah membeku seketika.
Seluruh pasokan udara di dalam ruangan ini serasa tersedot habis.
Ayah yang berjuang mengayuh kursi roda di tepi jalan raya, menahan sakit komplikasi ginjal dan diabetes yang menggerogoti tubuhnya, serta jerat kemiskinan yang membunuh Ayah secara perlahan semua gambaran penderitaan itu berkelebat hebat di dalam ingatanku.
"Ibu menikah lagi?" Suaraku bergetar hebat, air mata kemarahan yang amat sangat mulai merebak di pelupuk mataku.
"Jadi... apartemen mewah ini, uang kuliahku di Universitas Nusantara, semua tas dan perhiasan mahal yang Ibu beli selama ini... itu semua dari pria itu?"
Ibu tersenyum tanpa rasa malu sedikit pun, membenarkan posisi kalung berliannya.
"Tentu saja.
Kamu pikir bagaimana lagi kita bisa bertahan hidup?
Ibu tidak ditakdirkan untuk hidup melarat, Rissa.
Pria ini sangat kaya raya, jauh lebih kaya daripada ayahmu sewaktu masih di puncak kejayaannya dulu."
"Ibu berselingkuh!" jeritku histeris, tak lagi mampu menahan gejolak amarah yang membakar dadaku.
"Ibu berselingkuh di saat Ayah sedang sakit parah!
Di saat Ayah bertaruh nyawa jualan snack di tepi jalanan berdebu demi memberi Ibu uang makan, Ibu malah bersenang-senang dengan pria lain di belakang Ayah!
Ibu yang membunuh Ayah secara perlahan!"
PLAK!
Tamparan keras sekali lagi mendarat di pipiku, jauh lebih keras dan menyakitkan daripada yang pertama.
Suara sabetannya bergema di seluruh ruangan penthouse yang luas itu.
Kepalaku terlempar ke samping, rasa panas menyengat memenuhi kulit pipiku, namun rasa sakit di hatiku jutaan kali lebih menghancurkan.
"Tutup mulutmu yang kurang ajar itu, Clarissa!" bentak Ibu dengan mata melotot murka, napasnya naik turun menahan emosi.
"Aku melakukan semua ini demi menyambung hidup!
Demi kamu juga!
Kamu pikir kamu bisa kuliah di kampus mahal dan pakai baju-baju bagus itu kalau bukan karena uang dari dia?!
Jangan sok suci di depanku!"
Aku memegang pipiku yang berdenyut panas.
Air mata menetes deras melintasi pipiku, tetapi mataku menatap Ibu dengan tatapan benci yang sangat dalam.
Semua teka-teki ganjil, pertengkaran malam hari, dan kata-kata terakhir Ayah sebelum hembusan napas terakhirnya kini sudah terjawab sepenuhnya.
Ayah tahu.
Ayah tahu bahwa wanita yang dicintainya sepenuh hati telah menjual harga dirinya demi kemewahan semu.
Satu jam kemudian, kami berada di dalam sebuah mobil limusin mewah yang membawa kami keluar dari kawasan pusat kota menuju area perumahan paling eksklusif dan tertutup di pinggiran Jakarta.
Sepanjang perjalanan, aku hanya diam membisu, memandang keluar jendela dengan tatapan kosong, memeluk erat foto Ayah yang sengaja kusembunyikan di dalam tas tanganku.
Mobil itu akhirnya melambat dan memasuki sebuah gerbang besi tempa berukuran raksasa yang terbuka secara otomatis.
Di balik gerbang itu, terhampar halaman rumput yang sangat luas dengan air mancur bergaya klasik di tengahnya.
Di ujung jalan setapak berlapis batu alam, berdiri sebuah bangunan megah sebuah mansion raksasa berarsitektur modern minimalis dengan dominasi warna hitam, abu-abu, dan kaca tebal.
Mansion itu berdiri anggun, dingin, dan memancarkan kekuasaan yang mutlak.
"Selamat datang di rumah baru kita," bisik Ibu dengan nada penuh kemenangan, merapikan gaun merahnya sebelum pintu mobil dibukakan oleh seorang pengawal pribadi berseragam serba hitam.
Aku melangkah keluar dari mobil, menatap megahnya mansion di depanku.
Rumah ini luar biasa indah, tetapi tidak memiliki jiwa.
Bangunan ini terasa seperti sebuah sangkar emas yang dingin dan mematikan.
Beberapa pelayan berseragam rapi berdiri berjejer di sepanjang tangga masuk, membungkuk hormat saat kami melintas.
Ibu melangkah dengan dagu terangkat tinggi, menikmati perlakuan layaknya seorang ratu di istana baru.
Namun, yang membuat dadaku mendadak sesak adalah kenyataan tentang siapa pemilik tempat ini sebenarnya.
Sepanjang perjalanan tadi, Ibu dengan bangganya memamerkan siapa sosok suami barunya.
Pria itu baru berusia 35 tahun tiga puluh lima tahun!
Ia tiga belas tahun lebih muda dari Ibu, dan hanya berjarak lima belas tahun denganku.
Pria itu adalah pemilik konglomerasi tambang emas terbesar, seorang konglomerat muda yang namanya selalu berada di papan atas pengusaha paling berpengaruh di dunia.
Ibu melangkah menuju ruang tamu utama yang berdinding kaca raksasa, memperlihatkan pemandangan kolam renang infinity yang membentang luas di bagian belakang mansion.
"Di mana dia, Bu?" tanyaku dengan suara dingin tanpa ekspresi, berdiri beberapa langkah di belakang Ibu.
"Suamiku sedang ada rapat darurat dengan jajaran direksi dari luar negeri di ruang kerjanya," jawab Ibu penuh kebanggaan, memutar tubuhnya sambil memandangi interior mansion yang menakjubkan.
"Dia pria yang sangat sibuk, Rissa.
Tapi malam ini dia menyempatkan waktu untuk makan malam bersama kita, menyambut kepindahan kita ke rumah ini."
Aku memandangi bayangan diriku sendiri di kaca tebal ruangan tersebut.
Di balik gaun simpel yang kukenakan, tubuhku yang tinggi semampai dengan lekuk bagai gitar Spanyol tampak berdiri tegap.
Rasa sakit atas kematian Ayah dan pengkhianatan Ibu kini melebur menjadi satu cairan racun yang sangat pekat di dalam nadiku.
Ibu ingin menikmati kemewahan di atas penderitaan dan darah Ayah.
Ibu berpikir ia telah memenangkan permainan ini dengan menikahi pria kaya raya yang jauh lebih muda darinya.
'Kamu salah besar, Bu,' bisikku dalam hati, jemariku mengepal begitu kuat hingga kuku-kukuku menancap di telapak tangan.
'Aku akan membuat Ibu merasakan penderitaan yang sama seperti yang Ayah rasakan.
Aku akan merebut satu-satunya alasan yang membuat Ibu merasa menang.'
Rasa dendam itu kini bukan lagi sekadar amarah yang membakar, melainkan sebuah ikrar dingin yang siap menelan siapa saja termasuk diriku sendiri.