Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.

​Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.

​Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31.Percikan cemburu

Pertanyaan Arka yang dilontarkan dengan nada tenang namun berbobot itu menggantung sejenak di udara dapur penthouse. Mata hitam Arka menatap lurus ke dalam iris mata Aira, menantikan jawaban dari istri mudanya.

Aira mengedipkan matanya polos, lalu menyendokkan sepotong daging ayam mentega ke piring Arka sebelum menjawab.

"Dion itu dulu ketua OSIS di SMA Aira, Mas. Kami cuma sebatas teman satu organisasi waktu acara pementasan seni sekolah. Dulu dia memang sering bantu Aira waktu Aira kesulitan pelajaran matematika, tapi setelah lulus dan Aira fokus merawat Ibu yang sakit, kami sudah hilang kontak sama sekali."

Arka memperhatikan raut wajah Aira dengan saksama. Tidak ada keraguan, kebohongan, atau binar tersembunyi di mata gadis sembilan belas tahun itu. Aira menjawabnya dengan sangat jujur dan polos.

Namun, sebagai pria dewasa berusia 39 tahun yang sudah makan asam garam kehidupan, Arka bisa membaca maksud terselubung dari pesan teks tersebut. Pria bernama Dion itu tidak sekadar ingin 'bersilaturahmi'—cara pria itu menanyakan status pernikahan Aira dan meminta bertemu secara pribadi memancarkan sinyal ketertarikan yang jelas.

"Lalu, kamu mau balas pesan ini?" tanya Arka seraya meletakkan ponsel Aira kembali ke atas meja, gestur tubuhnya tetap santai walau ada ketegangan halus di rahang tegasnya.

"Nggak tahu, Mas..." Aira menggeleng pelan.

"Aira merasa agak aneh aja. Tiba-tiba dia dapat nomor Aira dari mana, ya? Padahal Aira sudah lama nggak ikut grup alumni SMA."

"Papa! Ayam Elano habis! Mau lagi!" jerit Elano memotong pembicaraan dua orang dewasa itu. Bocah lima tahun itu menyodorkan piring plastiknya yang sudah bersih ke arah Arka tanpa sabar.

Arka mendesah pelan, menekan dalam-dalam kecemburuan kecil yang mulai tumbuh di dadanya. Pria itu mengambilkan sepotong ayam lagi untuk putranya. "Ini. Makan yang benar, jangan berantakan."

"Makasih Papa ganteng tapi galak!" sahut Elano jahil sebelum kembali mengunyah makanan dengan lahap.

Aira tersenyum geli melihat interaksi ayah dan anak itu. Namun Arka kembali menatap Aira, meraih jemari ramping istrinya di atas meja dan meremasnya lembut.

"Kalau kamu tidak nyaman, tidak usah dibalas, Sayang," ujar Arka penuh dominasi namun tetap hangat.

"Tapi kalau kamu penasaran dan memang ingin tahu ada keperluan apa dia me-WhatsApp kamu, balas saja secara sopan. Ingatkan dia dengan tegas kalau kamu sudah bersuami."

Aira menyunggingkan senyum manis, mengangguk patuh. "Iya, Mas Arka. Aira paham kok. Bagi Aira, masa lalu SMA itu sudah selesai. Sekarang hidup dan masa depan Aira cuma buat Mas Arka dan Elano."

Kata-kata tulus Aira berhasil meluluhkan sedikit rasa dingin di dada Arka. Pria itu mengecup punggung tangan Aira lama, membiarkan kehangatan ikatan pernikahan mereka menepis keraguan yang sempat melintas.

Siang harinya, setelah makan siang dan membiarkan Elano tidur siang bersama Bi Inah, Arka kembali ke ruang kerjanya. Pria itu menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya, menatap layar monitor yang menampilkan perkembangan terkini kasus pencurian data oleh Dania dan Kevin Wijaya.

Sesuai dugaan Arka, kementerian resmi menolak berkas penawaran dari Wijaya Corporation karena ditemukannya ketidaksesuaian analisis risiko finansial yang sangat fatal. Berita tersebut mulai menjadi rumor panas di kalangan pengusaha ibu kota.

Pintu ruang kerja Arka terketuk pelan, lalu Raymond melangkah masuk membawa map dokumen tebal.

"Pak Arka, tim hukum kita sudah melayangkan gugatan resmi terhadap Kevin Wijaya dan Dania atas tuduhan peretasan dan pencurian rahasia dagang," laporkan Raymond dengan sigap.

"Pihak Wijaya Corporation saat ini sedang panik luar biasa karena saham mereka mulai turun akibat isu manipulasi data ini."

"Bagus. Biarkan mereka sibuk mengurus pengacara dan kehancuran reputasi mereka," balas Arka dingin.

Namun, bukannya langsung menyuruh Raymond keluar untuk melanjutkan tugas korporasi, Arka justru berdehem pelan. Pria itu menegakkan posisi duduknya, menatap asisten pribadinya dengan intonasi suara yang mendadak berubah.

"Raymond."

"Ya, Pak Arka?"

"Cari tahu latar belakang seseorang bernama Dion," perintah Arka dengan raut wajah yang sangat serius.

Raymond berkedip bingung sejenak, alisnya bertaut.

"Dion? Dion siapa, Pak? Apakah dia salah satu pemegang saham dari pihak rival?"

Arka menggerakkan jemarinya di atas meja, ada guratan tipis rasa tidak tenang yang sangat jarang terlihat di wajah sang presiden direktur.

"Bukan. Dia teman SMA Aira. Katanya dulu bekas ketua OSIS di sekolah Aira di kampung. Dia baru saja mengirim pesan ke ponsel Aira."

Raymond yang sudah bekerja bertahun-tahun dengan Arka seketika paham. Asisten kepercayaan Arka itu berusaha keras menahan senyum geli di bibirnya.

Arka Danuartha—pria dingin yang sanggup meratakan konsorsium bisnis bernilai triliunan rupiah tanpa berkedip—kini tampak begitu terganggu dan cemburu hanya karena seorang pemuda dari masa lalu istrinya.

"Baik, Pak Arka. Saya akan minta tim intelijen mencari data pribadi, riwayat pendidikan, pekerjaan saat ini, dan rekam jejak hubungan pria bernama Dion tersebut di Jakarta," sahut Raymond profesional.

"Pastikan kamu dapat data lengkapnya sebelum nanti malam," tegas Arka tanpa kompromi.

"Saya tidak suka ada pria asing yang mencoba masuk ke dalam lingkaran kehidupan istri saya."

"Siap, Pak. Segera diproses."

Sementara itu, di sebuah kedai kopi bergaya modern di daerah Tebet, Jakarta Selatan.

Seorang pria muda berusia dua puluh dua tahun duduk di dekat jendela seraya menatap layar ponselnya berulang kali. Pria itu mengenakan kemeja kotak-kotak yang rapi, berwajah bersih dan tampan dengan gaya khas mahasiswa tingkat akhir yang cerdas. Dialah Dion.

Dion menggoyangkan cangkir kopinya yang mulai dingin. Sudah tiga jam berlalu sejak ia memberanikan diri mengirim pesan ke nomor WhatsApp Aira—nomor yang berhasil ia dapatkan setelah membujuk teman dekat Aira sewaktu SMA dulu.

Mata Dion menatap foto profil WhatsApp Aira yang baru saja diperbarui: foto Aira yang tersenyum manis mengenakan gaun simpel namun sangat elegan, dipeluk hangat dari belakang oleh seorang pria dewasa berjas mewah yang memiliki aura sangat intimidatif dan berkelas.

Dion mengepalkan tangannya pelan di atas meja. Dada pemuda itu bergemuruh oleh rasa tidak rela dan penyesalan yang mendalam.

Dulu, saat masih duduk di bangku SMA, Dion adalah sosok yang paling mengagumi Aira. Kepolosan, kecerdasan, dan kebaikan hati Aira telah mencuri hatinya sejak lama.

Namun dulu Dion terlalu ragu untuk menyatakan cintanya secara langsung karena fokus pada ujian masuk perguruan tinggi. Begitu lulus sekolah, Aira mendadak menghilang dari lingkungan pertemanan karena ibunya jatuh sakit dan keluarganya dililit utang besar.

Dion baru saja menyelesaikan pendidikannya di salah satu universitas negeri di Jakarta dan mulai menata karirnya. Selama bertahun-tahun ini, nama Aira tidak pernah memudar dari pikirannya.

Dion selalu berharap suatu hari nanti ia bisa bertemu lagi dengan Aira saat ia sudah sukses, lalu melamarnya secara terhormat.

Namun, kabar yang ia terima dari teman-teman alumni minggu lalu benar-benar menghancurkan impiannya. Aira dirumorkan telah menikah dengan seorang pria kaya raya yang usianya jauh lebih tua—seorang duda anak satu bernama Arka Danuartha.

"Nggak mungkin Aira menikah cuma karena cinta..." gumam Dion pelan pada dirinya sendiri, matanya memancarkan ketidakpercayaan.

"Aira pasti terpaksa. Dia pasti dijebak atau tertekan karena masalah utang ayahnya dulu... Pria tua itu pasti memanfaatkan kesulitan ekonomi Aira."

Ting!

Ponsel Dion bergetar. Layar ponselnya menampilkan balasan pesan teks dari nomor Aira:

> 'Halo Dion. Maaf baru balas. Iya, ini Aira. Alhamdulillah aku sudah menikah dan sekarang tinggal di Jakarta. Ada keperluan apa ya kamu menanyakan kabarku?'

>

Dion menatap balasan yang begitu formal dan berjarak tersebut. Senyuman tipis terukir di bibirnya, namun niat di hatinya justru makin membara. Dion merasa Aira membalas pesan itu dengan sangat kaku karena mungkin sedang diawasi oleh suami dudanya.

Dion dengan cepat membalas pesan tersebut:

> 'Aira, syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Aku cuma mau memastikan keadaanmu. Aku dengar dari anak-anak dulu kamu sempat mengalami masa-masa sulit karena masalah keluarga. Jujur, Aira... aku sangat khawatir sama kamu. Bolehkah kita ketemu sebentar saja di kafe dekat kampusku? Cuma minum kopi dan cerita-cerita sebentar sebagai teman lama. Aku janji nggak akan lama.'

>

Di penthouse, sore hari mulai menjelang.

Aira duduk di sofa ruang tengah seraya membaca balasan pesan dari Dion tersebut. Gadis muda itu mengerutkan dahinya. Nada tulisan Dion terdengar sangat mengkhawatirkannya, seolah-olah Aira sedang berada dalam bahaya atau menderita.

Aira merasa tidak enak jika harus menolak secara kasar, namun ia juga tahu batas dirinya sebagai seorang istri dari Arka Danuartha.

Saat Aira sedang menimbang-nimbang balasan apa yang harus ia ketik, langkah kaki Arka mendekat dari arah belakang sofa. Pria itu duduk di samping Aira, merengkuh pinggang ramping istrinya dan meletakkan dagunya di bahu Aira.

"Pesan dari Dion lagi?" bisik Arka serak di dekat telinga Aira, matanya melirik layar ponsel yang dipegang Aira.

Aira tidak mencoba menyembunyikan ponselnya. Ia justru menyandarkan kepalanya di pipi Arka. "Iya, Mas. Dia minta ketemu sebentar di kafe katanya cuma mau memastikan keadaan Aira karena dia khawatir dengar cerita masa sulit Aira dulu."

Mata Arka menyipit dingin saat membaca kata 'sangat khawatir' dan ajakan bertemu dari Dion. Kecemburuan pria dewasa itu makin nyata. Bagi Arka, kekhawatiran Dion adalah bentuk kelicikan pria muda yang mencoba mengusik kebahagiaan rumah tangganya.

"Kamu mau datang?" tanya Arka dengan nada suara rendah yang sangat datar, menguji reaksi istrinya.

Aira menoleh, menatap mata hitam suaminya. Aira bisa menangkap adanya kilatan cemburu dan protektif yang begitu pekat di mata Arka. Bukannya takut, Aira justru merasa hatinya hangat—mengetahui bahwa pria sehebat Arka Danuartha sangat peduli dan cemburu padanya.

"Aira cuma mau datang kalau Mas Arka izinkan dan Mas Arka ikut menemani Aira," jawab Aira dengan senyuman manis dan tulus.

"Aira nggak akan pernah mau bertemu pria mana pun di belakang Mas Arka."

Arka menatap Aira beberapa detik. Kejujuran dan kepatuhan Aira seketika meredakan sebagian amarah di dadanya.

Pria berusia 39 tahun itu menyunggingkan senyum tipis yang beracun, mengusap bibir bawah Aira dengan ibu jarinya.

"Baik," bisik Arka serak, mendaratkan ciuman posesif di bibir Aira yang membuat gadis itu terkesiap pelan. "Kita akan menemui teman SMA-mu itu besok siang. Mas sendiri yang akan mengantarmu dan menyambut kekhawatirannya."

_Bersambung

1
Penulis kentang🍠
apaan dahhhh busett
gurucantik
😍😍😍😍😍
sago
🤣🤣🤣🤣🤣
sago
nak😍😍
sago
uhuyyy
sago
sini aku bantu make kartunya🤣
sago
😍😍😍😍
sago
💪💪💪💪💪🙏
sago
🤣🤣🤣
sago
lucu banget elano
sago
😂tulahh
sago
iyaa ihhh
Saintz Gold
gasabarrrr
Saintz Gold
cemburuuuu
Saintz Gold
🤭🤭🤭
Saintz Gold
😍😍😍😍
Pendi Gudung
lanjuttt
Pendi Gudung
asik naga ajaaa
Rif Qi
up Thor jangan lama lama
Rif Qi
lnjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!