Indonesia
NovelToon NovelToon
3 NASIB YANG SAMA

3 NASIB YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Balas Dendam
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Kal Ipah

tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri




#bl
#bxb

yang gak suka gak usah baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Di kediaman utama keluarga Grayson, seluruh anggota keluarga besar sedang berkumpul di ruang tengah. Atmosfer di ruangan mewah itu terasa begitu dingin dan mencekam.

"Apa dia belum mau pulang juga?" tanya seorang pria paruh baya yang masih terlihat sangat tampan dan gagah, Martin Grayson.

"Dia tidak mau pulang," sahut Maria Grayson, wanita paruh baya yang juga masih terlihat cantik menawan.

"Cari dia! Kalau dia tetap menolak, paksa dia untuk pulang!" perintah pria yang paling dituakan di kediaman itu, Kakek Johan, dengan nada mutlak.

Maria mendengus sinis sembari melipat kedua tangannya di dada. "Biarkan saja dia. Untuk apa dicari? Toh, selama ini tidak ada dia di rumah ini malah aman. Tidak ada suara menjijikkan dan suara tangisan lebay dari dia lagi."

"Kenapa sih, Mom? Mommy itu sepertinya sangat membenci Elvian, padahal Elvian itu anak kandung Mommy sendiri! Dan apa Mommy lupa? Gara-gara sikap Mommy juga El pergi dari rumah! Bisa-bisanya Mommy bicara seperti itu sekarang," protes Kavian Grayson dengan nada kecewa yang mendalam pada ibunya.

"Mom, Dad... kemarin aku bertemu dengan Elvian," sela Luna menunduk, mencoba mengalihkan perdebatan.

"Di mana kamu bertemu dengan Elvian, Lu?" tanya Martin cepat.

"Di kafe. Elvian sekarang bekerja menjadi pelayan di kafe milik Kak Tian," jawab Luna pelan.

"Lalu kenapa tidak kamu bawa dia pulang sekalian?!" Martin menatap tajam ke arah putri kandungnya itu.

"Aku sudah menyuruh dia pulang, Dad. Tapi... El malah menatap Luna dan Mas Bastian dengan tatapan penuh kebencian dan kemarahan," ucap Luna mengadu, membuat Bastian yang duduk di sebelahnya hanya bisa terdiam bersalah.

Kavian langsung mendecih pelan, menatap sinis ke arah adik perempuan dan adik iparnya. "Wajar saja dia melihat kalian berdua seperti itu! Orang kalian telah mengkhianati dia dengan sangat kejam! Sudah tahu Bastian itu pacarnya Elvian, tapi kamu malah menikahi Bastian, Lu! Dan kamu, Bastian! Sudah tahu kamu masih berpacaran dengan Elvian, tapi kamu malah mengkhianatinya demi menikahi Luna!"

Kavian menjeda kalimatnya dengan napas memburu, matanya menatap tajam kedua orang di depannya. "Kalau saya jadi Elvian, sudah saya habisi kalian berdua!"

"Kavian!" Kakek Johan membentak keras, menatap tajam ke arah cucu tertuanya itu untuk menyuruhnya diam.

"Kakek mau marah? Silakan, aku tidak peduli lagi! Gara-gara ego kalian semua, adikku pergi dari rumah dengan perasaan hancur! Dan gara-gara Kakek yang memaksakan perjodohan bodoh itu, adikku menderita! Sampai kapan pun, saya tidak akan pernah memaafkan kalian semua di ruangan ini!"

Setelah menumpahkan seluruh kemarahannya, Kavian langsung berbalik dan melangkah lebar meninggalkan ruang tengah tanpa memedulikan panggilan keluarganya. Mereka semua terdiam seribu bahasa, tertampar oleh kebenaran dari perkataan Kavian.

"Kavian benar... ini semua salah kita. Seharusnya sejak awal kita tidak menikahkan Luna dan Bastian," gumam Martin dengan gurat penyesalan di wajahnya.

"Mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Tidak mungkin mereka berdua dipisahkan sekarang hanya demi membuat Elvian kembali," bela Maria tetap keras kepala.

"Aku juga tidak mau berpisah dari Mas Bastian, Dad! Aku sangat mencintai Mas Bastian, lagipula kami sekarang sudah memiliki anak," isak Luna sembari menggenggam erat tangan suaminya.

Sementara itu, di dalam kamarnya yang sepi...

Kavian duduk di tepi ranjang sembari memandangi sebuah foto di dalam bingkai kecil. Di foto itu, tampak dirinya dan Elvian sedang tersenyum sangat manis ke arah kamera.

"Maafkan Abang, Dek. Seharusnya dulu Abang bisa menghalangi pernikahan sialan itu, tapi Abang tidak berdaya. Kamu tahu sendiri kan seperti apa Kakek kalau sudah mengeluarkan perintah?" Kavian mengusap permukaan foto adiknya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Kamu tahu, Dek? Bukan cuma kamu saja yang harus mengalah dan menderita di rumah ini. Abang juga terpaksa harus mengalah dari Ferdy. Kekasih Abang... dipaksa menikah dengan Ferdy, Dek. Keluarga ini benar-benar sangat egois," bisik Kavian dengan air mata yang akhirnya luruh membasahi pipinya. "Hiks... hiks... Abang ingin ketemu kamu, Dek... hiks... Abang rindu..." Kavian mendekap foto itu erat-erat ke dadanya, menangis dalam keheningan malam.

Di saat yang bersamaan, di dalam kamar apartemen yang sederhana...

Elvian sedang berbaring telentang memandangi langit-langit kamarnya dengan perasaan yang campur aduk.

"Gue kangen banget sama Bang Kavian. Sekarang Bang Kavian sedang apa ya?" gumam Elvian lirih.

Dia meraih ponselnya, lalu membuka galeri untuk menatap foto dirinya bersama sang kakak laki-laki yang sedang tersenyum lebar. Mengingat kembali bagaimana perlakuan keluarganya, pertahanan Elvian akhirnya runtuh.

"Hiks... hiks... Bang, gue kangen sama elo... hiks... Hanya elo yang selalu bela gue saat orang-orang di rumah itu menghina gue, Bang... hiks... hiks..."

Ceklek.

Pintu kamar terbuka perlahan. "Elo kenapa menangis, El?" tanya Revangga yang langsung masuk dan duduk di samping Elvian dengan gurat khawatir.

Elvian segera bangkit dari rebahannya, lalu menyandarkan kepalanya di pundak nyaman Revangga tanpa ragu. "Gue kangen sama Abang gue, Van..." ucap Elvian dengan suara sengau pasca-menangis.

"Kalau elo memang kangen sama Abang elo, kenapa gak diajak bertemu saja?" tanya Revangga lembut sembari mengusap bahu sahabatnya.

"Gue malas kalau harus berurusan lagi dengan keluarga itu, Van. Keluarga yang tidak pernah menganggap gue ada dan tidak pernah menyayangi gue. Cuma Bang Kavian yang selalu ada buat gue. Cuma dia yang tulus sayang sama gue," tutur Elvian dengan nada pilu.

"Elo masih punya nomor ponsel Abang elo, kan?" tanya Revangga lagi.

"Punya. Kenapa emang?" Elvian mendongak menatap Revangga.

"Gini saja, elo hubungi Abang elo itu sekarang. Ajak dia ketemuan, tapi secara diam-diam tanpa sepengetahuan keluarga elo yang lain," usul Revangga memberi solusi.

Elvian menghela napas berat. "Gue sebenarnya mau saja, Van. Tapi Kakek tua bangka itu punya banyak mata-mata di mana-mana. Gue takut kalau gue bertemu Bang Kavian, mata-matanya bakal tahu lalu menyeret gue pulang paksa. Gue gak mau hal itu sampai terjadi."

"Kan elo sekarang punya pacar seorang bos mafia besar? Minta bantuan dia saja buat melindungi elo dari mata-mata Kakek elo itu," celetuk Brian yang baru saja melangkah masuk ke dalam kamar Elvian.

"Ogah! Yang ada nanti dia makin kepedean dan mengira gue beneran suka sama dia kalau gue sampai minta bantuan begitu," tolak Elvian ketus.

"Yaelah, apa salahnya coba dicoba dulu? Si Max itu kan kelihatan bucin banget sama elo. Pasti dia bakal melakukan apa saja demi melindungi kamu, walaupun sekarang kamu belum cinta sama dia," goda Brian merayu.

Elvian tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap bergantian ke arah Revangga dan Brian dengan pandangan intens, membuat kedua pemuda itu menjadi salah tingkah dan bingung sendiri.

"Kenapa elo lihatin kita berdua kayak begitu?" tanya Revangga heran.

Elvian tiba-tiba menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada dengan mata berbinar memohon. "Kalian berdua saja ya yang bantuin gue buat ketemu sama Bang Kavian? Tolong yaaa?"

Revangga tersenyum hangat lalu mengangguk. "Baiklah, nanti gue bantu pantau situasinya."

"Oke, oke, gue juga bakal bantuin elo, walaupun sebenarnya malam ini gue lagi mager maksimal," timpal Brian pasrah.

"Aaaah! Kalian memang sahabat terbaik gue! Dah ah!" seru Elvian kembali ceria.

Brian memutar bola matanya malas. "Sekarang buruan elo hubungi Abang elo itu, biar jelas besok mau ketemuan di mana."

Elvian langsung mencari kontak abangnya di ponsel dan menekan tombol panggil. Tidak butuh waktu lama bagi sambungan telepon itu untuk terhubung.

"Halo? Maaf, ini dengan siapa ya?" tanya suara berat di seberang sana.

"Bang... Bang Vian... ini El, Bang..." ucap Elvian dengan bibir yang mendadak bergetar menahan tangis.

Di seberang sana, terdengar suara helaan napas terkejut yang disusul nada panik. "El?! Astaga, ini beneran kamu, Dek? Abang kangen banget sama kamu! Kamu apa kabar? Sekarang kamu tinggal di mana?!" tanya Kavian bertubi-tubi tanpa jeda.

Elvian terkekeh pelan di sela hidungnya yang tersumbat. "Tanyanya satu-satu, Bang. El juga kangen banget sama Abang. El baik-baik saja kok di sini. Sekarang El tinggal bersama sahabat-sahabat El, Bang."

"Syukurlah... Abang senang sekali mendengarnya," ucap Kavian dengan nada lega yang teramat sangat.

"Bang, kita... bisa ketemuan tidak?" tanya Elvian hati-hati.

"Bisa! Tentu saja bisa! Di mana kamu mau ketemuan, Dek?" tanya Kavian bersemangat.

"Di kafe tempat El kerja, namanya kafe Selalu Happy. Abang tahu kan tempatnya?" ucap Elvian sengaja mengganti nama kafenya agar terdengar manis.

"Abang tahu tempatnya. Abang sering lewat sana kalau mau ke kantor," sahut Kavian.

"Kita ketemu di sana besok siang saja ya, Bang," tutur Elvian menentukan waktu.

"Iya, Dek. Besok siang Abang pasti datang."

"Ya sudah, kalau begitu sampai ketemu besok ya, Bang. Abang harus jaga kesehatan di rumah, jangan kerja melulu! Cepat cari istri, Bang, jangan cuma cari uang terus. Uang kan tidak dibawa mati," canda Elvian mencoba mencairkan suasana haru.

Suara tawa Kavian terdengar renyah dari seberang telepon. "Hahaha! Iya, iya, cerewet banget kamu, Dek. Masih sama seperti dulu. Ya sudah, besok Abang ke sana."

"Dadaaa, Abang!"

"Dadaaa, Adek kesayangan Abang."

Elvian memutuskan sambungan teleponnya dengan senyum lebar yang terukir di wajah manisnya.

"Gimana? Abang elo mau diajak ketemuan?" tanya Revangga memastikan.

"Mau! Dia setuju buat ketemuan di kafe Kak Tian besok siang, jadi gue bisa sekalian bekerja," jawab Elvian riang.

"Cie, cieee... yang besok mau ketemuan sama Abang tersayang nih ye! Cieee!" goda Brian mencolek dagu Elvian sengaja memanas-manasi.

"Hiiiy! Apa sih elo ini, Bri! Orang mau ketemu Abang kandung sendiri, bukan ketemu pacar juga!" ketus Elvian menepis tangan Brian.

"Sama saja atuh, Neng," sahut Brian dengan logat bercanda.

"Neng, Neng, matamu! Emangnya gue cewek dipanggil Eneng?! Elo aja tuh yang dipanggil Eneng! Rambut elo kan panjang kayak cewek, jadi lebih pantas elo yang jadi Eneng!" cerocos Elvian tidak terima.

Brian langsung tidak terima. "Heh! Rambut gue tidak panjang ya! Noh, lihat si Revangga! Rambutnya panjang banget sampai sepinggang begitu, lebih mirip cewek!" tuduh Brian mengalihkan target.

Elvian beralih menatap rambut hitam lebat milik Revangga yang memang terurai indah. "Van, emangnya elo tidak merasa gerah ya punya rambut sepanjang itu?"

Revangga hanya mengedikkan bahunya santai sembari tersenyum polos. "Tidak kok. Lagipula, rambut panjang ini sudah gue pelihara dari kecil, jadi rasanya sudah biasa saja."

1
fakhri
Lanjutkan, semangat berkarya 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!