Aku Assasin Terkuat yang tak terkalahkan, bahkan setelah menjadi seorang kakek tua, tidak ada yang bisa membunuh ku.
"Hidup ku bosan. aku harap... aku bisa bertemu dengan musuh yang lebih kuat dari ku..."
Tenyata keinginan ku Terkabul!
Setelah aku mati oleh serangan jantung, Aku di hidup kan kembali di dunia Murim... di dunia yang banyak sekali Petarung yang sangat kuat.
ini perjalanan ku sebagai Assasin Terkuat di dunia modern, sekarang hidup di dunia murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bonggiw01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
WUUSSH! WUUSSH! WUUSSH!
Tiga sosok bayangan melesat cepat, lalu mendarat di bawah pohon besar.
Sadel menyapu pandangannya ke sekitar, “Tarya… Jadi kau juga menerima misi ini dari pemimpin?” suaranya penuh nada tidak senang.
Tarya menyeringai tipis, kedua tangannya terlipat di dada. “Kenapa? Kau kira hanya kau saja yang dipercaya oleh pemimpin?”
“Sial. Padahal aku tidak suka bekerja satu tim denganmu,” balas Sadel, wajahnya kaku.
“Kalian berdua cukup.” Ucap Calvin yang berdiri di antara mereka. “Kita ke sini bukan untuk bertengkar. Kita datang untuk memenuhi panggilan. Jadi yang terpenting saat ini adalah menemukan Pemimpin.”
Tiba-tiba, sebuah suara terdengar dari atas mereka.
“Bagus… kalian datang tepat waktu.”
Mata ketiganya langsung mendongak.
Ryan berdiri di atas cabang pohon, tubuhnya nyaris menyatu dengan kegelapan.
'Bagaimana bisa dia ada di atas sana?! Sejak kapan?! Bahkan aku tidak bisa merasakan hawa keberadaannya sama sekali! Bahkan insting pembunuhnya tidak terdeteksi sama sekali, Ryan... dia memang monster!' pikir Sadel
Tarya juga merasakan hal yang sama. 'Dia benar-benar tak terdeteksi. Bahkan naluriku tidak bisa merasakan nya...'
Calvin langsung menunduk dalam-dalam, lalu berlutut satu kaki, tubuhnya condong ke depan.
“Salam Pemimpin Ryan… Kami datang untuk menjalankan misi!” Suaranya lantang, penuh penghormatan. Tarya dan Sadel pun mengikuti gerakan itu.
Ryan melompat turun dengan ringan, mendarat tanpa suara.
Tatapannya menyapu mereka satu per satu.
“Baiklah, Aku mendapatkan misi dari komandan Risman untuk membantai semua orang yang ada di cabang Clan Taring Naga itu.”
“A-Apa?!” Tarya terbelalak. “Apa Pemimpin yakin? Membantai semua yang ada di cabang Clan Taring Naga itu?! Mereka bukan clan remeh! Mereka adalah salah satu dari tujuh clan besar di benua ini! Meski hanya cabang, tapi kekuatan mereka tidak main-main! Mereka sangat kuat!”
Calvin menimpali. “Benar, Pemimpin. Apakah misinya benar-benar membantai semua? jumlah pendekar yang ada di dalam sana bisa mencapai tiga ribu hingga lima ribu orang. Dan itu belum termasuk para penjaga tingkat menengah.”
Sadel menatap tajam ke arah Ryan. “Pemimpin, apa sebenarnya tujuan misi ini?”
Ryan hanya terdiam sesaat. 'Aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada mereka… tentang adanya pengkhianat di dalam Kultus. Bisa saja pengkhianat itu ada di antara salah satu dari mereka bertiga'
Ia mendongak lagi, tatapannya tenang. “Ini hanyalah pembantaian biasa. Komandan Risman ingin aku melenyapkan mereka semua dalam satu malam demi keamanan informasi, itu saja.”
Ketiganya saling pandang. Mereka tidak bisa menyembunyikan keraguan yang memenuhi benak masing-masing.
Calvin maju selangkah. “Tapi Pemimpin… apakah misi ini mungkin dilakukan? Dengan jumlah musuh sebanyak itu, ditambah kekuatan mereka yang tidak bisa diremehkan… menurutku, kita perlu memanggil semua anggota agar ikut bergabung.”
Ryan menggeleng pelan. “Tidak perlu. Misi ini sudah cukup dengan kita berempat.”
Mata Tarya membelalak semakin lebar. 'Dia benar-benar gila… Apa dia pikir dirinya seorang dewa perang?'
“Pemimpin,” ucap Tarya hati-hati, “di dalam sana pasti ada banyak pendekar tingkat tinggi. Mungkin bahkan komandan kelas atas. Aku rasa ini mustahil. Kita harus bicara kembali dengan Komandan Risman dan meminta arahan baru—”
“Tidak perlu" potong Ryan. "kita berempat bisa melakukannya, ini bukan misi yang sulit hingga harus memanggil semua orang.” Ryan terdengar yakin.
Ketiganya terdiam.
“Baiklah,” Calvin akhirnya berkata. “Aku ingin mendengar rencana Pemimpin secara jelas.”
Ryan menatap mereka tajam, lalu mulai berbicara dengan tenang. “Dengarkan aku baik-baik. Aku memanggil kalian ke sini bukan untuk ikut bertempur. Aku hanya khawatir ada orang yang mencoba kabur saat aku menyerang cabang itu.”
Ia mengangkat tangan, menunjuk ke arah benteng besar Clan Taring Naga yang tampak samar di kejauhan.
“Kalian bertiga akan menjaga tiap sisi. Siapa pun yang mencoba melarikan diri… bunuh mereka. Tidak peduli apakah itu pendekar, wanita, anak kecil, atau pelayan. Jangan biarkan seorang pun keluar hidup-hidup.”
Ketiganya terdiam, menyerap kalimat kejam itu.
Calvin mengerutkan kening. “Pemimpin… Apa maksudmu? kau akan menyerang cabang itu sendirian?”
“Benar.” Ryan mengangguk ringan. “Aku akan menyerang mereka sendiri. Tugas kalian hanya memastikan tidak ada yang lolos.”
Mulut Tarya terbuka, tapi tak ada kata yang keluar. 'Dia benar-benar gila! Seorang manusia biasa tak mungkin bisa menghadapi ribuan pendekar sekaligus. Apa dia berpikir dirinya seorang dewa perang sungguhan? Atau… mungkin dia memang bukan manusia biasa?!'
Sadel akhirnya berbicara. “Baiklah, Pemimpin. Meski misi ini terdengar mustahil… kami akan menuruti perintahmu. Kami akan menjaga tiap sisi, memastikan tidak ada yang keluar hidup-hidup.”
Calvin mengangguk, menatap Ryan dengan penuh rasa hormat. “Jika itu perintah Pemimpin… maka demikianlah adanya. Kami akan melaksanakan nya.”
Tarya hanya mendengus pelan, meski hatinya masih penuh keraguan.
Ryan menatap langit, bulan purnama bersinar terang, seakan menjadi saksi malam ini. “Bagus. Kita akan melakukan penyerangan malam ini. kita harus memastikan semua nya berjalan baik"
Ketiganya mengangguk, aura membunuh mulai terpancar dari tubuh mereka.
Malam itu, di bawah cahaya bulan, empat bayangan berdiri di depan cabang Clan Taring Naga.
Sebentar lagi, darah akan membasahi tanah itu.
-----------
Di luar tembok, Sadel, Calvin, dan Tarya sudah berada di posisi masing-masing.
Mereka berdiri dengan wajah tegang, mengamati keheningan yang terlalu mencurigakan.
Sementara itu, Ryan justru berjalan santai menuju gerbang depan, seakan tidak peduli bahaya yang menanti.
‘hmm… ini sangat aneh, tidak ada penjaga yang menjaga gerbang? Dan gerbangnya terbuka lebar? Apa-apaan ini? Apa semudah ini masuk ke dalam markas clan Taring Naga?’ pikir Ryan sambil terus melangkah, matanya menyapu sekeliling dengan tenang.
Saat melewati pintu gerbang yang tinggi, ia tidak melihat satu pun manusia.
Tidak ada murid, tidak ada penjaga, bahkan pelayan sekali pun.
‘Ini benar-benar mencurigakan. Seharusnya di jam seperti ini, benteng tetap ramai. Tapi, kali ini terlihat sepi.’ Ryan menatap ke segala arah.
'Kemarin, aku sudah memantau tempat ini. Banyak orang masuk ke tempat ini… tapi tidak ada yang keluar, seharus nya mereka masih ada di dalam sini' Ryan semakin yakin.
Tiba-tiba, ia menghentikan langkahnya. Aura tajam membungkus tubuhnya.
‘Sialan! Sepertinya informasi misi ini bocor lagi! Ada yang memberitahu tentang kedatanganku. Ini jebakan!’
WUUSSH! WUUSSH! WUUUUSHHH!
Tanpa aba-aba, ribuan anak panah melesat dari segala arah seperti hujan
Ryan menarik katana dari pinggangnya dengan gerakan ringan. Matanya menyipit.
BRAAK! BRAAK! BRAAK!
Tangannya bergerak seolah menebas ribuan kali hanya dalam hitungan detik.
Bayangan pedang berkedip-kedip di udara, cepatnya melampaui pandangan mata biasa. Lalu...
BRAAAAK!
Detik berikutnya, semua anak panah itu hancur berkeping-keping di udara, jatuh bagai hujan kayu dan besi. Tidak satu pun menyentuh tubuh Ryan.
PROK! PROK! PROK!
Tepuk tangan seseorang terdengar.
Dari balik kegelapan, muncul seorang pria tua dengan jubah panjang, rambut putihnya terurai, wajahnya penuh kerutan namun matanya menyala seperti naga.
Dialah Tetua Qiwel, pemimpin cabang Clan Taring Naga.
“Hahaha… Jadi informasi yang kudapat itu benar” ucap Qiwel sambil menyeringai. “Seorang bocah dari Kultus Iblis berani datang ke wilayahku. Tapi aku tak menyangka… kau memilih masuk dari pintu depan dengan santai.”
Ryan menurunkan pedangnya, menatap lurus. “Aku tidak punya alasan untuk bersembunyi. Karena malam ini, aku akan membantai kalian semua.”
Qiwel tertawa keras, suaranya bergema ke seluruh benteng. “Hahaha! Anak muda yang sombong selalu jadi hiburan favoritku. Ekspresi mereka saat kepalanya terpisah dari tubuh benar-benar memuaskan!”
Ryan menyeringai kecil. “Aku juga suka melihat wajah tua renta yang sadar ajalnya sudah dekat. Mereka biasanya punya ekspresi menarik sebelum mati.”
Senyum Qiwel memudar, diganti tatapan tajam. “Berani sekali kau, bocah! Kalau begitu, mari kita lihat... Apa kau mampu bertahan atau tidak. Cobalah untuk keluar dari tempat ini hidup-hidup… kalau bisa.”
BRAAAAK!
Suara pintu-pintu besar terbuka.
Dari segala arah, ribuan pendekar melompat keluar, memenuhi halaman benteng.
Cahaya pedang mereka berkilau di bawah bulan, berjumlah lebih dari tiga ribu orang, mengelilingi Ryan rapat-rapat.
Sadel, Calvin, dan Tarya yang berjaga di luar tembok bisa merasakan aura membunuh yang bergemuruh dari dalam benteng.
“Menarik…” Ryan mengangkat katana, wajahnya tenang, matanya berkilau liar. “Aku hampir lupa rasanya membantai ribuan orang dalam semalam. Tapi kondisi tubuhku sekarang sedang sangat bagus… jadi ayo kita lakukan.”
Qiwel mengangkat tangannya tinggi. “Semua! Habisi bocah ini! Bawa kepalanya padaku!”
"UURRRRRRRAAAAAA!!"
Ribuan pendekar berteriak bersamaan, suara mereka mengguncang udara.
WUUSSH!
Mereka berlari dari segala arah, pedang terhunus, aura membunuh menutup langit malam.
Ryan memasang kuda-kuda lebar, pedangnya siap digunakan. Senyum dingin merekah di bibirnya.
“Bagus… Mari kita mulai pembantaian ini.”