Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Hadiah Uang Ulang Tahun
Bisikan Dion di balik pintu kamar mandi membuyarkan sisa-sisa kehangatan yang sempat tercipta di antara Rendy dan Clarissa. Dengan napas yang masih tersengal, Clarissa buru-buru merapikan gaun tidurnya, sementara Rendy menurunkan tubuh istrinya secara perlahan. Sorot mata Rendy meredup, kembali menjadi tatapan dingin yang dipaksakan menahan amarah.
Ketika kunci grendel diputar dan pintu dibuka, Dion berdiri di lorong dengan senyum culas yang menghiasi wajahnya. "Bagus," cibir Dion sambil bersedekap. "Ternyata kalian cuma sibuk bermesraan di kamar mandi saat jam tanganku hilang. Dengar ya, urusan ini belum selesai. Hari ini ulang tahun Ibu, jadi aku tidak mau membuat keributan besar di depan tamu. Tapi awas saja kamu nanti, Rendy."
Dion berbalik dan melangkah pergi tanpa memedulikan tatapan tajam Rendy. Hari itu, keributan mengenai jam tangan memang diredam sementara oleh Ibu Rosma. Bukan karena percaya pada Rendy, melainkan karena ia tidak ingin merusak momen pesta ulang tahunnya yang ke-55 yang telah dipersiapkan secara mewah di restoran ternama kota.
Malam harinya, suasana ballroom restoran kelas menengah itu tampak semarak. Lampu kristal memancarkan cahaya keemasan, memantul di atas meja-meja yang tertata rapi dengan taplak putih dan hiasan bunga segar. Ibu Rosma duduk di meja utama seperti seorang ratu, mengenakan kebaya payet merah terang dan perhiasan emas yang mencolok di leher dan jemarinya.
Di sampingnya, Hendra—menantu kesayangannya—tampak semringah setelah baru saja menyerahkan sebuah kado berbungkus kertas emas tebal.
"Ibu, ini kado dari Hendra dan Mbakyu," ujar Hendra dengan suara cukup keras agar terdengar oleh sanak saudara yang berkumpul di sekitar meja. "Hanya kalung berlian kecil dan tas kulit keluaran terbaru. Semoga Ibu suka."
Rosma membuka kado tersebut dan matanya langsung berbinar. "Aduh, Hendra! Ini kan mahal sekali! Terima kasih banyak, ya. Memang cuma kamu menantu Ibu yang paling perhatian dan membanggakan!" ucap Rosma penuh penekanan, matanya melirik sinis ke arah sudut meja tempat Rendy dan Clarissa duduk.
Para kerabat yang hadir memberikan tepuk tangan riuh, memperkeruh suasana canggung di ujung meja. Clarissa menyikut lengan Rendy pelan. Ia tahu betapa sulitnya posisi suaminya malam ini.
"Rendy," panggil Rosma tiba-morrow dengan nada meremehkan dari kursi utamanya. "Kamu berdiri dari tadi di sana, tidak bawa kado apa-apa untuk Ibu? Atau setidaknya amplop uang seperti yang biasa orang beradab berikan?"
Seluruh pandangan mata di ruangan itu mendadak tertuju pada Rendy. Clarissa hendak berdiri untuk membela suaminya, namun Rendy menahan bahu istrinya dengan lembut. Rendy maju dua langkah, merogoh saku celana kainnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil berukir sederhana yang diikat pita kain merah.
"Selamat ulang tahun, Bu," kata Rendy seraya menyerahkan kotak itu dengan kedua tangannya secara sopan. "Ini minyak kayu cendana alami murni. Saya dapat dari teman yang memproduksinya langsung. Sangat bagus untuk menghangatkan badan dan membantu tidur nyenyak."
Rosma menerima kotak kecil itu dengan dua jari, seolah-olah benda itu tercemar kuman. Ia mendengus napas pendek. "Minyak kayu? Kamu pikir Ibu ini sudah jompo yang kerjanya cuma bisa pakai minyak angin?!"
Tanpa ragu sedikit pun, di hadapan belasan mata sepupu, ipar, dan tamu undangan, Rosma melempar kotak kayu itu ke arah tempat sampah stainless di samping meja makan. Brak! Kotak kecil itu menghantam pinggiran tempat sampah sebelum jatuh tergeletak di atas tumpukan sisa makanan dan tisu kotor.
Gumam kaget dan tawa kecil terdengar bersahut-sahutan di antara para kerabat. Dion tertawa paling keras, sementara Hendra hanya tersenyum tipis sarat kemenangannya.
"Malu-maluin saja!" bentak Rosma dingin. "Daripada kamu kasih kado sampah begini, lebih baik tidak usah datang sekalian! Bikin hilang selera makan saja!"
Dada Clarissa serasa dihantam batu besar. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan lagi. Ia tidak bisa menyaksikan suaminya dihina sedemikian rupa hanya karena sebuah kado sederhana. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Clarissa meraih jemari Rendy dan menariknya keluar dari ballroom restoran tersebut, meninggalkan riuh rendah pesta yang terasa begitu menyakitkan.
Sesampainya di rumah kontrakan sempit mereka, suasana malam berubah menjadi begitu sunyi. Perjalanan pulang dipenuhi keheningan panjang yang membekukan udara.
Rendy duduk di tepi kasur busa mereka di kamar tidur, menundukkan kepala seraya mengusap wajahnya yang lelah. Luka memar di punggung tangannya masih terasa nyut-nyutan, namun rasa perih di hatinya jauh lebih mendominasi. Bukan karena hinaan Rosma, melainkan karena ia melihat betapa banyaknya air mata yang harus ditumpahkan Clarissa demi dirinya.
Pintu kamar mandi terbuka pelan. Clarissa melangkah keluar dengan canggung.
Malam ini, Clarissa tidak mengenakan gaun tidur katun lusuh seperti biasanya. Ia mengenakan gaun tidur bahan satin tipis berwarna hitam menerawang dengan potongan rendah di bagian dada dan paha. Cahaya lampu kamar yang temaram menembus kain halus itu, mencetak jelas siluet lekuk tubuh indah Clarissa yang sempurna.
Rendy mendongak, matanya sedikit membesar menatap penampilan istrinya yang tak biasa.
Clarissa melangkah mendekati kasur, kedua tangannya yang gemetaran saling bertaut di depan perut. Wajah cantiknya memerah padat oleh campuran rasa malu dan ketegangan mendalam. Ia berlutut di atas kasur, merangkak perlahan mendekati Rendy hingga jarak mereka terangkas habis.
"Mas..." bisik Clarissa dengan suara serak yang bergetar emosional. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Rendy, meremas pelan bagian samping kaos suaminya. "Maafkan Ibu... Maafkan aku yang tidak bisa memberimu kehidupan yang layak dan dihormati."
"Sa, ini bukan salahmu—"
"Ini salahku, Mas," potong Clarissa tegas. Ia menengadahkan wajahnya, menatap langsung ke dalam manik mata Rendy. Dari jarak sepdekat ini, aroma wangi vanila dan kehangatan tubuh Clarissa mengusap indra penciuman Rendy. "Malam ini... biarkan aku memanjakanmu. Aku ingin Mas melupakan semua penderitaan hari ini."
Clarissa meletakkan jemari lentiknya di dada Rendy, perlahan mendorong tubuh pria itu hingga berbaring telentang di atas kasur. Tanpa ragu, Clarissa menaikkan tubuhnya dan duduk di atas paha Rendy. Kain satin tipis yang dikenakannya terangkat, memperlihatkan jenjang paha mulusnya yang bergesekan langsung dengan celana kain Rendy.
Desir panas seketika menjalar cepat di sepanjang tulang belakang Rendy. Gairah yang sempat meredup akibat peristiwa di restoran tadi kini membakar hebat. Rendy menatap mata istrinya yang dinaungi kilatan kehangatan dan kepasrahan penuh.
Clarissa menundukkan badannya, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lembut namun dipenuhi rasa lapar akan ketenangan. Sapuan bibirnya yang hangat bergerak perlahan, berpindah menelusuri rahang Rendy, menyusuri lehernya, hingga hinggap di tulang selangka suaminya. Desahan halus lolos dari celah bibir Rendy saat jemari halus Clarissa menyusup ke balik kaosnya, mengelus kulit dadanya dengan sentuhan yang membakar gairah.
Rendy melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Clarissa, membalikkan posisi tubuh mereka hingga kini ia berada di atas istrinya. Gaun tidur satin yang licin itu tersingkap lebih tinggi saat jemari Rendy mengusap paha mulus Clarissa hingga ke pinggulnya. Gesekan kulit mereka di bawah temaram lampu kamar menciptakan gelombang gairah yang kian memuncak. Napas Clarissa memburu, dadanya naik turun teratur saat ciuman Rendy semakin menuntut dan intim, membawa mereka berdua dalam pusaran cinta yang mengaburkan sejenak kenyataan pahit di luar sana.
Mereka tenggelam dalam dekapan hangat hingga larut malam.
Beberapa jam kemudian, jam dinding menunjukkan pukul dua malam.
Clarissa sudah tertidur lelap di sampingnya dengan napas teratur, menyelimuti tubuh polosnya menggunakan kain tipis. Rendy perlahan melepaskan pelukannya agar tidak membangunkan istrinya, lalu beranjak dari tempat tidur. Suasana kamar yang dingin membuat tubuhnya membutuhkan penutup ekstra.
Rendy melangkah menuju gantungan baju di sudut kamar, tempat jas hitam lamanya tergantung—jas yang sudah hampir dua tahun tidak pernah ia sentuh sejak ia memutuskan memulai penyamarannya.
Saat meraba kain jas yang agak berdebu itu untuk mengenakannya, jari-jari Rendy menyenggol sesuatu yang tebal dan keras di dalam saku bagian dalam jas tersebut.
Rendy mengerutkan dahi. Dengan pelan, agar tidak menimbulkan suara berisik, ia merogoh saku dalam jas hitamnya. Jemarinya menarik keluar sebuah amplop cokelat tebal berlogo embos keemasan yang sangat ia kenal: lambang keluarga besar Pradipta Group.
Dengan jantung yang tiba-tiba berdegup lebih cepat, Rendy membuka segel amplop tersebut di bawah remang lampu meja.
Di dalam amplop cokelat itu, terdapat sebuah lembaran kertas cek bernilai fantastis dari Bank Sentral yang sudah ditandatangani oleh pemegang otoritas tertinggi Pradipta—lengkap dengan sebuah catatan kecil bertuliskan tangan rapi:
“Waktu penyamaranmu sudah hampir usai, Presdir Rendy. Dana darurat ini siap mencairkan puluhan miliar rupiah kapan pun Anda memutuskan untuk kembali bertakhta.”
Rendy membeku di tempatnya, menatap angka nol yang sangat banyak tertera di atas cek tersebut. Di saat yang sama, langkah kaki seseorang terdengar berderit dari arah luar pintu kamar.