Indonesia
NovelToon NovelToon
BLACK AND WHITE

BLACK AND WHITE

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Chicklit / Enemy to Lovers
Popularitas:407
Nilai: 5
Nama Author: Bubble🫧

Pout for Me, Little Mouse.

Keylana Reinhardt, Putri seorang raja perbankan lokal Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang Miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.

Setelah disatukan, mereka tinggal bersama di Berlin, Kota kelahiran Julian. Tidak ada satu hari pun tanpa perdebatan. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal, memanggil Julian dengan nama depannya.

Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan Perasaan yang dianggap tidak penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubble🫧, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gruber Penthouse

Kegelapan malam tiba di berlin dengan kilau cahaya lampu dari gedung-gedung tingginya seperti bintang begemerlap di permukaan bumi.

Di sebuah Apartemen penthouse, Leon Gruber Melangkah keluar dari lift ke lounge pribadinya. Disana ada lebih dari lima gadis yang akan menemaninya sedang duduk di sofa panjang sedang menunggu dengan penampilan menawan.

Wajah mereka berbinar saat Leon mendekat dengan jas yang disampaikan ke satu Lengan, tersenyum sambil melonggarkan dasi.

"Pak Gruber,"

Suara asistennya yang muncul tiba-tiba terdengar tegas dan mendesak saat melangkah keluar dari ruang kerja yang seketika menghentikan langkah Leon ke sofa.

Leon mengangkat alis dan menoleh lalu berbelok untuk berjalan ke arahnya.

"Sudah mendapatkan sesuatu?" Tanyanya dengan tidak sabar.

Asistennya mengangguk, Kekesalnya berubah menjadi pengampunan lalu Ia menoleh sejenak pada wanitanya.

"Hanya sebentar, Ladies."

Dengan itu mereka masuk ke dalam ruang kerja dan menutup pintu di belakangnya, membawa mereka ke dalam ruang privasi yang menegangkan. Leon duduk di kursinya di belakang meja mahoni besar yang dipoles.

"Jadi, apa yang berhasil kau dapat?"

Leon bersandar mempersilahkannya bicara, Asisten itu menyesuaikan kacamatanya mulai membaca berkas yang ia pegang dengan nama; Fraülein Keylana

"Ini dia, Tuan." Dia memulai

"Nama lengkapnya Keylana Maria-Charlotte Reinhardt, Dua puluh tahun. Mahasiswa fakultas hukum semester lima di UH. Anak ke tiga dari lima bersaudara. Riwayatnya menyebutkan dia bersekolah di sekolah menengah wanita di Munich."

Leon menyimak dengan seksama setiap detail pribadi Keylana sambil menyangga dagunya dengan tangan, matanya menatap ke arah pulpen di atas meja.

"Lingkaran pertemanannya cukup dibatasi untuk sementara tapi dia aktif dalam klub atau pertemanan dengan teman sebaya seperti ikut dalam relawan pendamping Literasi, Anggota Cheerleader, Juga tergabung dalam klub olahraga bisbol dan bulu tangkis Kampus."

Asisten itu menggeser halaman untuk membacakan bagian berkas lain yang berisi hal yang lebih pribadi.

"Yang ini, Kami mendapat informasi ini dengan cukup... rumit pak. Kami menemukan mantan staf Julian Donnersmarck tapi orang itu tidak bersedia membeberkan informasi yang kami inginkan berapapun uang yang kami tawarkan."

Katanya membawa nada frustasi sebelum melanjutkan dengan nada profesional.

"Jadi, kami melakukan... metode Anda."

Dia mendorong kacamata di pangkal hidungnya, Leon sedikit mengangkat alis sambil tersenyum puas meletakkan satu kaki di atas kaki lainnya.

"Lanjutkan,"

"Baik." Dia mulai membaca lagi.

"Saat ini, Fraülein Keylana tidak sepenuhnya terus-menerus berada dalam lingkungan Julian. Dia sering tinggal di dalam asrama Kampus."

Mata leon berkilat penuh kemenangan serta perhitungan mendengar itu seolah menemukan jalan setapak rahasia menuju brangkas penyimpanan berlian. Asisten itu melanjutkan,

"Fraülein juga tidak terlalu damai dengan Julian. Staf itu menyebutkan bahwa mereka sering berdebat dan terkadang memicu penghancuran barang."

"Jadi, mereka bertengkar... apa yang mereka ributkan?"

Leon mengangkat alis mendengar informasi baru tak terduga itu.

"Sebagian besar adalah perbedaan pendapat, terkadang adalah masalah kecil yang merambat menjadi perselisihan Dan mereka tidak saling mengalah satu sama lain menurut kesaksian, pak. Itu yang saya dapatkan."

Leon sedikit menyesuaikan posisi duduknya sambil berpikir penuh. Baginya, Keylana adalah ikan dengan corak cantik yang telah melubangi jaringnya sehingga dia butuh pukat harimau untuk menangkapnya.

Tapi di saat yang sama Ikan itu bisa digunakan untuk melawan pukat raksasa Julian dengan cara paling efektif dan licik alih-alih sebagai kesenangan pribadi.

Asisten itu Menutup berkasnya, meletakkannya di meja dekat Leon perlahan. Bertanya dengan penuh kehati-hatian.

"Ada perintah lain, Pak?"

"Tidak, Kau bisa keluar."

Leon melambaikan tangannya acuh tak acuh, Asisten itu membungkuk sedikit dan pergi meninggalkannya di tengah ruangan. Setelah pintu tertutup, Leon berdiri perlahan dan berjalan menuju jendela menyaksikan lampu-lampu kota.

"Keylana Reinhardt... Kau lebih menarik dari sekadar penampilan cantik..." Gumamnya.

"Jika saja kau sesuatu yang mudah. Jika saja..."

Ia terus memikirkan strategi demi strategi, Seorang gadis dengan latar belakang berpengaruh tapi sangat terisolasi. Ramah tapi berduri jika disentuh sedikit.

Bagaimana cara menerobos dinding itu, Apalagi dibelakangnya adalah Julian Donnersmarck. Musuh bebuyutannya sejak mahasiswa.

Leon kembali berjalan ke mejanya dan duduk, Ia membuka kembali Berkas di meja. Informasinya bahkan masih kurang lengkap menyangkut anggota keluarga, teman dan alamat. Namun jika keberadaannya sudah dipastikan, maka hanya dibutuhkan sedikit ketelitian juga kesabaran untuk menemukannya. Leon tidak punya kesabaran.

"Leon, Apakah kamu sibuk sekarang?"

Seorang gadis dengan nada manja dan kecewa membuka pintu perlahan ragu-ragu, Salah satu yang duduk menunggu di sofa tapi sepertinya mulai tidak sabar menunggunya.

Leon tersenyum pada gadis itu, Menutup berkas dan menepuk pangkuannya, "Kemarilah." gadis itu berbinar dan mendekat dengan cepat.

Leon membalikkan berkas itu hingga tulisan nama Keylana menghadap ke bawah. Wanita itu menempel erat duduk di pengakuannya sambil memeluk lehernya.

"Leon, Apakah kamu sungguh sibuk? apakah aku mengganggumu..."

Dia melirik berkas warna hitam itu lalu Leon yang tersenyum sambil membelai dirinya.

"Hanya beberapa urusan kecil. Sebaiknya–"

Gadis itu mencoba membalikkan halaman dan Leon dengan cepat membanting telapak tangannya ke atas berkas mencegahnya terbuka menyebabkan suara dentuman keras.

Gadis itu terperanjat dengan wajah ketakutan segera menarik tangannya, menatap wajah Leon yang fokus pada berkas itu, Memeriksa apakah pria itu marah.

"Leon... ap–apakah aku salah?"

Leon menghela nafas perlahan sambil berdiri perlahan mengusap rambut pirangnya, wanita itu berdiri dengan gugup.

"Tidak ada, ini hanya sangat pribadi. kembali ke sofa dan tuangkan sampanye untukku."

Leon menyimpan berkas itu ke sebuah laci sambil tersenyum pada wanita yang langsung berbinar kembali itu.

"Pergilah."

"Baiklah,"

Leon melihatnya berjalan keluar dengan bersemangat, ia memandang jendela untuk terakhir kalinya lalu mengikuti keluar pintu.

Di apartemen lain Julian, Urusannya dengan para wanita itu selesai. Ia telah berganti pakaian dengan Kemeja hitam dan celana panjang.

Ia barusaja mandi dan menghilangkan semua jejak pengkhianatan dengan parfum dan sabun sementara di belakangnya dua wanita itu sedang mandi dengan celotehan yang berisik.

Julian membuka ponselnya memeriksa rekaman Penthouse sejak ia meninggalkannya siang ini.

Terlihat Lana tidur sampai sekitar pukul tiga, Ia bangun dan menonton televisi sambil makan camilan dan yogurt untuk waktu yang lama, Setelahnya ia terlihat mandi cukup lama lalu pergi ke ruang baca membawa laptopnya.

Julian memandangi layar dimana Lana belum keluar sampai waktu ini. Dia berdiri dan mengambil kuncinya, meninggalkan apartemen yang ribut dengan suara pancuran dan suara wanita itu tanpa berpamitan.

Di perjalanan, Julian merasakan dirinya sudah menemukan kepuasannya tapi tak bisa berhenti mencari Lana.

Ia berniat pergi semalaman tapi memikirkan tidur di samping Lana terasa lebih menarik dan penuh dengan antisipasi.

Saat ia keluar dari lift penthouse, Ia mendengar suara Lana sedang berbicara di telepon. Asal suara itu adalah dari dapur dimana ia melihatnya menempelkan ponsel ke telinga dengan satu tangan memegang secangkir susu sambil berceloteh.

Julian berdehem sambil meletakkan kuncinya sembarangan tapi Lana hanya meliriknya dan kembali fokus pada pembicaraan.

Julian merasa tidak senang diabaikan, Alisnya berkerut kesal. Ia berjalan ke mini bar menuangkan Scotch ke gelas sambil melirik Lana yang sedang menelpon temannya.

Julian duduk di kursi sarapan menyesap minumannya, beberapa saat kemudian Lana mengatakan goodbye dan menutup telpon meminum susu di cangkirnya.

"Kau bicara dengan siapa?"

Julian menyelidiki, Lana meletakkan gelas dan duduk berhadapan dengannya.

"Brooklyn, Temanku."

"Yang mana?"

Julian mendesak sambil mencoba mengingat nama itu, Brooklyn adalah teman lama dari Munich yang kebetulan belajar di Berlin saat ini.

"Ahh.. Yang rambutnya di cat perak?"

"Mhm!"

Lana menyesap cangkirnya hingga habis, Bibirnya sedikit ternoda susu coklat. Dia sedang mengenakan sweter longgar dan celana pendek.

Lana mendongak dan melihat wajah Julian yang segar setelah mandi dimanapun itu yang jelas tidak Lana ketahui. rambutnya sedikit basah

"Kau darimana?"

"Gym,"

Jawab Julian dengan mudah, Lana hanya mengangguk dengan acuh dan berjalan turun dari kursi.

Julian melihatnya pergi dan menghilang dari tangga, Ada sedikit rasa bersalah melihatnya. Lana yang pergi tanpa sedikitpun rasa curiga atau pertanyaan lebih lanjut membuatnya seperti sebuah dosa terburuk, seperti mencuri dari orang yang menderita.

1
Jordin Yanti
semangat yha kakak othor ❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!