Indonesia
NovelToon NovelToon
Pewaris Dalam Sangkar Emas

Pewaris Dalam Sangkar Emas

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:21.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.

​Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.

​Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 30

***

Cahaya fajar berwarna keemasan menerobos celah-celah gorden sutra kamar utama, mengikis kegelapan malam yang sarat akan aroma amis darah dan penderitaan. Di tepi ranjang king-size, Kenzo duduk membelakangi Alana dengan tubuh tegapnya yang sedikit membongkok. Punggungnya yang kokoh kini tertutup rapat oleh lapisan kasa tebal dan perban putih yang melilit rapi hingga ke dada—hasil ketelatenan jemari Alana selama berjam-jam melewati malam yang panjang.

Alana memotong gulungan perban terakhir dengan gunting kecil, menyematkan perekat medis di samping iga suaminya. Tangannya yang dingin tersentuh kulit hangat Kenzo, membuat pria itu merinding tipis, namun tidak sedikit pun bergeser dari posisinya.

"Sudah selesai, Mas," bisik Alana pelan. Suaranya terdengar jernih, membawa ketenangan ganjil yang tak pernah hadir di dalam kamar ini sebelumnya.

Kenzo memutar tubuhnya secara perlahan, menahan ringisan perih di punggungnya agar tak nampak di hadapan istrinya. Pria itu meraih kemeja hitam berbahan katun lembut yang longgar, mengenakannya dengan hati-hati, lalu memasang kancingnya satu per satu. Sorot mata hitam Kenzo menatap Alana yang sedang merapikan botol antiseptik di meja nakas. Perut Alana yang membuncit halus di balik gaun terusan longgar berwarna krem nampak anggun di bawah pijar matahari pagi.

Kenzo melangkah mendekat, mengulurkan tangannya yang hangat. "Kamu sudah siap, Alana?"

Alana menatap jemari Kenzo yang terulur. Tanpa ada keraguan yang tersisa, ia menyambut genggaman itu, meremas jemari tegap suaminya dengan kehangatan yang telah lama padam. "Saya siap, Mas. Mari kita akhiri semuanya hari ini."

Langkah kaki mereka bergema teratur di sepanjang koridor marmer lantai dua. Kenzo tidak berjalan di depan atau di belakang; ia berjalan sejajar di samping Alana, menuntun dan menopang langkah istrinya dengan cengkeraman tangan yang begitu erat dan protektif. Setiap gesekan kain di punggungnya memicu rasa terbakar yang luar biasa, namun Kenzo menyembunyikannya di balik rahang yang mengeras tegap dan pandangan mata yang memancarkan keberanian mutlak.

Di ruang makan utama Mansion Elard, suasana keanggungan yang kaku menyelimuti meja kayu mahoni raksasa. Kakek Hendra duduk di ujung meja di atas kursi rodanya, memegang cangkir teh porselen dengan wajah dingin. Di samping kirinya, Ayah Bramantyo sedang membaca koran bisnis pagi, sementara Nyonya Helena mengoleskan selai pada sepotong roti dengan raut wajah anggun yang dibuat-buat.

Denting sendok dan garpu seketika terhenti saat gema langkah kaki Kenzo dan Alana memasuki ruangan tersebut.

Kakek Hendra mengangkat wajahnya, menatap cucunya yang melangkah masuk bergandengan tangan erat dengan Alana. Pria tua itu menyunggingkan senyum sinis penuh cemooh.

"Akhirnya kamu turun juga, Kenzo," tegur Kakek Hendra dengan suara berat dan parau yang penuh keangkuhan. "Kakek kira kamu sudah mati membusuk di kamarmu akibat cambukan semalam. Bagus kalau kamu sudah sadar. Duduk dan makan sarapanmu. Mulai pagi ini, Kakek sudah menyiapkan tim pengacara baru untuk mengurus berkas perceraianmu dan membatalkan sisa transaksi keluarga Adhijaya!"

Nyonya Helena melirik Alana dengan tatapan merendahkan, meletakkan pisau rotinya. "Iya, Kenzo. Mama juga sudah menyuruh pelayan membereskan barang-barang wanita ini. Setelah melahirkan bayi perempuan itu nanti, dia akan langsung dipindahkan ke kediaman luar kota agar tidak mengganggu fokus bisnismu di kantor pusat."

Kenzo tidak bergerak menuju kursi makan. Ia menghentikan langkahnya tepat dua jengkal di hadapan meja utama, berdiri menjulang membentengi Alana di sampingnya. Pandangan mata Kenzo menyapu berturut-turut wajah kakek, ayah, dan ibunya dengan rasa jijik yang tak lagi ditutup-tutupi.

"Terima kasih atas perhatian kalian yang luar biasa," cetus Kenzo dengan nada suara yang begitu dingin, tenang, namun sarat akan intimidasi yang membekukan udara. "Tapi sayangnya... kalian tidak perlu repot-repot menyiapkan pengacara atau membereskan kamar siapa pun lagi."

Kenzo merogoh saku dalam jas hitamnya. Dengan satu gerakan tegas, ia melemparkan seberkas amplop cokelat tebal bersegel resmi dan sebuah kunci emas bermotif ukiran lambang keluarga Elard ke atas meja makan.

Brak!

Amplop dan kunci emas itu menghantam porselen meja, menggeser cangkir teh Kakek Hendra hingga cairan hangatnya memercik keluar.

Bramantyo melipat korannya dengan dahi berkerut murka. "Apa-apaan ini, Kenzo?!"

"Itu adalah surat pengunduran diri mutlak saya dari posisi Direktur Utama Elard Corporation," tegas Kenzo, suaranya menggelegar lantang memecah keheningan ruang makan. "Beserta surat pelepasan seluruh kepemilikan saham pribadi saya atas anak perusahaan, dan kunci utama dari mansion neraka ini."

Nyonya Helena membelalakkan matanya panik, berdiri refleks dari kursinya. "Kenzo! Kamu gila?! Kamu melepaskan jabatan CEO dan semua sahammu cuma demi... demi wanita ini?!"

"Saya tidak gila, Mama," potong Kenzo tajam, menatap ibunya tanpa kedipan. "Saya justru baru saja pulih dari kegilaan yang dipelihara oleh keluarga ini selama puluhan tahun."

Kakek Hendra menghentakkan tongkat peraknya ke lantai marmer dengan murka yang meledak dahsyat. Wajah tuanya merah padam, matanya membelalak lebar memancarkan kegelapan yang mengerikan. "Keparat kamu, Kenzo! Kamu pikir kamu bisa menggertak Kakek dengan surat sampah itu?! Kamu dibesarkan untuk menjadi penguasa dinasti ini! Kamu dibentuk oleh darah dan keringat Elard Corp!"

"Saya dibentuk oleh cambukan dan manipulasi biadab kalian!" bentak Kenzo membalas amukan sang Kakek. Suara baritonnya bergema menggetarkan lampu kristal di atas meja. "Kalian membendung jiwa saya, mengajari saya menjadi monster tanpa nurani, dan menjadikan wanita yang saya cintai sebagai tumbal bisnis! Cukup! Mulai detik ini, saya menolak menjadi puppet dan mesin pencetak uang kalian lagi!"

Bramantyo berdiri tegap, menunjuk wajah putranya dengan rahang mengeras rapat. "Dengar, Kenzo! Tanpa nama besar Elard, kamu bukan siapa-siapa di kota ini! Begitu kamu melangkah keluar dari rumah ini, Kakek dan Ayah akan membekukan seluruh asetmu, mencabut akses perbankanmu, dan memastikan tidak ada satu pun perusahaan yang berani menerimamu bekerja! Kami akan menghancurkan hidupmu sampai kamu merangkak memohon di kaki Kakekmu!"

Ancaman pemiskinan dan penghancuran hidup itu berhamburan sangat kejam di udara.

Namun Kenzo justru tertawa—sebuah kekehan sinis dan penuh kebebasan yang belum pernah terdengar sepanjang hidupnya.

"Lakukan!" tantang Kenzo tanpa rasa takut sedikit pun, memajukan dadanya yang terbalut perban di balik kemeja hitam. "Bekukan semua rekening saya! Sita semua mobil dan rumah saya! Hancurkan reputasi saya di pasar bursa! Saya tidak takut dimiskinkan! Karena harta paling berharga yang saya miliki dalam hidup saya... berada tepat di samping saya detik ini!"

Kenzo mengangkat genggaman tangannya yang melilit jemari Alana, memamerkannya di depan mata Kakek Hendra dan Bramantyo.

Alana merasakan jantungnya berdegup kencang di dalam dada. Ibu jarinya meremas punggung tangan Kenzo yang hangat dan sedikit gemetar. Air mata haru dan kepiluan menggenang di pelupuk matanya, menatap profil samping suaminya yang berdiri bagaikan benteng tak tertembus di hadapannya. Untuk pertama kalinya sejak hari mereka mengikat kontrak pernikahan... Alana merasakan dengan teramat nyata bahwa Kenzo pas badan, mempertaruhkan seluruh takhta, harta, dan nyawanya demi melindungi dirinya dan bayi perempuan di dalam rahimnya dari ancaman monster-monster berkedok keluarga ini.

Kakek Hendra bernapas memburu hebat, dadanya naik turun menahan gumpalan amarah yang mencekik tenggorokannya. Pria tua itu memajukan kursi rodanya, menatap Kenzo dan Alana dengan pandangan benci yang paling mutlak.

"Dengar baik-baik, Kenzo Elard..." desis Kakek Hendra dengan suara parau yang sarat akan ancaman dingin. "Jika kaki kalian melangkah keluar melintasi pintu gerbang mansion ini hari ini... maka detik itu juga namamu akan dicoret dari silsilah keluarga! Kamu bukan lagi cucu Elard! Dan jika suatu hari nanti kamu kelaparan, menderita, atau anak perempuanmu itu sakit sakaratul maut di jalanan... jangan pernah bermimpi untuk kembali merangkak menyentuh gerbang rumah ini!"

Atmosfer ruang makan membeku bagaikan es di dasar samudra.

Kenzo menatap Kakek Hendra lurus tanpa ada setitik pun keraguan di matanya. Pria tegap itu menyunggingkan senyuman tipis yang amat tegas.

"Saya tidak akan pernah sudi kembali ke neraka ini, Kakek," sahut Kenzo dengan nada suara yang sangat jernih dan mantap. "Simpanlah seluruh harta, saham, dan keangkuhan dinasti ini untuk dibawa ke dalam kubur kalian. Saya dan keluarga kecil saya... tidak akan pernah membiarkan bayangan kalian menyentuh kami lagi."

Tanpa menunggu balasan dari Kakek Hendra yang mematung kaku atau teriakan histeris Nyonya Helena, Kenzo memutar badannya perlahan. Pria itu merengkuh pinggang Alana dengan amat protektif, menuntun istrinya melangkah membelakangi meja makan utama.

Langkah kaki Kenzo dan Alana terdengar mantap menapaki lantai marmer ruang depan. Mereka melangkah melewati deretan pelayan dan pengawal yang menunduk kaku dalam keheningan yang mencekam, terus berjalan menuju pintu ganda kayu jati yang terbuka lebar di ujung selasar.

Di luar, sinar matahari pagi menyiram halaman Mansion Elard dengan cahaya keemasan yang hangat. Angin sepoi-sepoi berembus menyejukkan, membawa aroma tanah basah dan kelopak bunga yang menyegarkan—sebuah kontras sempurna dari udara menyiksa di dalam mansion.

Alana melangkah keluar melintasi ambang pintu. Saat kakinya menyentuh anak tangga luar, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes hangat membasahi pipinya yang tirus. Namun kali ini... itu bukanlah air mata penderitaan atau keputusasaan, melainkan air mata pelepas dahaga dari jiwa yang akhirnya menemukan kemerdekaan.

Kenzo menghentikan langkahnya di samping mobil pribadi sederhana yang telah ia siapkan tanpa pengawalan keluarga. Pria itu berbalik, menatap Alana yang sedang menyapu air matanya.

Kenzo mengulurkan tangannya, menyeka pipi lembut Alana dengan ibu jarinya secara perlahan. "Jangan menangis lagi, Alana... Neraka itu sudah berada di belakang kita."

Alana menatap iris mata hitam Kenzo yang dipenuhi rasa cinta yang murni. Wanita itu menyunggingkan sebuah senyuman—senyuman tulus yang pertama kali terukir dari lubuk hatinya tanpa ada topeng kepatuhan dingin di balik bibirnya.

"Saya tidak menangis karena sedih, Mas Kenzo..." bisik Alana pelan, memegang telapak tangan Kenzo yang berada di pipinya. "Saya menangis... karena akhirnya anak kita memiliki seorang ayah yang berani melindunginya."

Kenzo mengepalkan jemarinya lembut, memeluk Alana dengan kehangatan penuh kejujuran di bawah pendar sinar matahari pagi. Di balik gerbang besi Mansion Elard yang perlahan tertutup di belakang mereka, sebuah kehidupan baru yang penuh ketidakpastian namun kaya akan harapan telah menanti keluarga kecil mereka di luar sana.

Bersambung...

1
imel
makasih buat cerita kerennya😍
Mia Camelia
puas 😊 akhirnya happy ending.
thor sklian dong bikin cerita nya Kalila x lucas 🤭😂
Gita ayu Puspitasari
cerita Lukas sama Kalila dong kak
Anonim
crazy up thor
merry
mereka Alana dan kenzo bnr bnr membangun rumh tangga yg manis tnp ada kebohongan,, keegoisan dan sm sm berjuang dan berakhir indah,,,
Heresnanaa_: 😚❤️❤️🫶
total 1 replies
merry
asal Damai, tenang saling suport mky mslh berat pun terasa ringan,,, kejayaan di kejar gk bkln hbs di msa tua yg plg penting menikmati msa tua dengan tenang
aku
penisirin sama mantan kluarga alana tor kyk mana 😖
aku
oke, bikin pengalaman, baca novel mending malam aja 😌😌 gk siang2 gini 😭😭😭
Heresnanaa_: kenapa kak ?😭
total 1 replies
merry
ya tamat hrs ya jgn dulu🤭🤭🤭soalnya blm liat aki aki itu nyesel ap lg ank ken kembar cwo lg blm liat lila yg polos lucu gemes pintar ngoceh gt,,, blm minta maaf sm Alana jg atas perbuatan y,, blm lg di mutiara itu blm tau x gmn dulu Alana yg dijual orgtua ya
Gita ayu Puspitasari
ada extra part ga kak, trs kbr kakek Kenzo gmn
merry
akhirnya bhgia mrk tnp di gangu sm aki aki,, moga al hamil lg ank cwo 🤭🤭🤭
guest1053527528
Akhirx thor semoga bahagia selalu dan sukses thor mereka
merry
pengen suatu saat di Muti Muti itu tau kenyataan pahit bhwa al tdk seperti pikiran picik ya klo untuk orgtua kn dh tau y krn mrk tukang bhong,, moga Helena ksh tau
merry
syukur bgtt y tu nenk sihir dh sdr trs aku aku gk gangguin usha mrk justru tnp kenzo perusahaan kebanggaan mrk mulai runtuh, gantian tu aki aki yg sujud sm ken dan al
Mia Camelia
kapan lahirannya thor🤭🤭🤭
aku sih berharap baby nya berubah jadi cowo🤣🤣🤣
guest1053527528
ngitundoong hehehe
Mia Camelia
suka banget ngliat mereka berdua bahagia😍😍😍
Heresnanaa_: kann, author aja happ kaliii🤭😚
total 1 replies
merry
moga berkembang kue y Alana dan pyn tko kua jg,,
merry
yg plg penting komunikasi semua mslh yg terasa berat pun psti jdi ringan,, cm takut dech ush klian tu atau al y bkln diganggu sm aki aki tua bangka dan nenek lampir,, cb pindah ajj keluar kota gt alana
Gita ayu Puspitasari
tambah dong kak🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!